
"Hangout yuk! Ajep-ajep!" ajak Inggrid seraya menikmati dimsum miliknya di kantin, meski mukanya masih terdapat luka bekas tindakan kasar Kenzi pada Inggrid tempo hari, setidaknya gadis itu sudah bisa kembali ke mode Inggrid yang seperti biasanya. Jujur saja, ia sempat terguncang dan menghilang beberapa waktu, kini Inggrid ingin menyembuhkan luka. Kenzi memang psycho, selama berpacaran dalam kurun waktu kurang lebih 3 minggu saja Inggrid sudah merasakan di tampar dan di pukul, belum lagi tindakan kriminalnya yang berusaha menyekap Nara dan memfitnah Ramadhan.
"Boleh--boleh! Ajak anak lain boleh ngga nih?!" tanya Willy, Gibran melirik Dea, pasalnya diantara mereka hanya Gibran yang mengetahui jika Dea memiliki penyakit asma, ia sangat tau jika Dea selalu memaksakan agar Inggrid dan Willy tak tau.
"Siapa, Wil?"
"Si Kiki kelas IPS 2, Jayadi MIPA 1, gue juga mau bawa seseorang!"
"Anjayyy, ada Kiki? Si ganteng kalem? Kuy--kuy!" seru Inggrid.
"Gimana, De? Lo boleh ngga sama tante Ratna?"
"Yok De, demi gue nih!" desak Inggrid.
"Boleh! Kapan? Yuk-yuk! Suntuk nih!" tanya Dea seolah tak menghiraukan tatapan Gibran.
"Malam ini, gue traktir cocktail lo semua, buat merayakan kembalinya Inggrid!" ujar Willy.
"Kuy!" jawab Dea meneguk air mineralnya.
"Gib?" tanya Willy memandang Gibran.
"Gue mah ayok aja,"
Inggrid bertepuk tangan, "banyak cowok the mostnya ini mah, eh gue juga mau bawa temen smp gue cewek..dia sekarang ikutan ajang gadis sampul loh!"
Dea hanya bisa diam, bukankah pergaulan ini yang dulu di damba-dambakannya? Lelah dengan pembullyan karena ia yang dianggap lemah, penyakitan, lantas sekarang semua ia dapatkan meski harus mengorbankan sesuatu, memang begitu seharusnya!
Inggrid dan Willy berjalan di depannya seraya bertukar nomor ponsel teman demi memasukkan nomor-nomor anak-anak hedon ex kawan semasa smp menjadikannya satu grup wa.
Gibran melihat kesempatan untuk bicara dengan Dea, ia menarik lengan gadis itu untuk berhenti dan tepat di belokan perpustakaan mereka terhenti.
"De! Lo yakin?! Mereka ngga tau lo punya.....udah pasti asep rokok bakalan ngebul sampe putih?! Lo belum pulih bener, belum lagi mau lo siram tenggorokan lo sama cocktail?!"
"Asma?! Lo mau bilang itu kan Gib, iya gue ada asma, tapi itu ngga akan mampu halangin gue buat ikut gabung, biasanya juga gitu kan...no problem buat gue,"
"De! Ini tuh ngga sepadan sama kesehatan lo, apa yang mau lo cari?! Gue tulus temenan sama lo! Kita ini tetangga,"
"Lo ngga ngerti gimana gue dulu di kucilkan! Lo ngga ngerti gimana sakit hatinya gue Gib, sekarang semua udah gue dapetin, bukankah di bumi ini berlaku hukum rimba? Siapa yang kuat dia yang bertahan, kalo lo lemah lo dikucilkan dan diinjek orang? Dan gue ngga mau balik lagi jadi Dea yang cupu, kuper dan ngga tau pergaulan! Gue Deanada Kharisma!!" teriak Dea pada Gibran.
"Ngga ngerti gue, terserah lah....gue ngga ikut tanggung jawab kalo lo kambuh disana, gue juga ngga bisa jamin kalo nanti anak-anak tau,"
Gibran melangkah dengan kasar dari sana meninggalkan gadis itu sendiri, Dea rela menggadaikan kesehatannya hanya untuk sebuah pengakuan dan decakan kagum untuknya. Circle anak-anak hedon bisa mendongkrak popularitas, setidaknya itu yang ia bayangkan, ia bisa membuktikan pada mantan anak-anak yang dulu pernah membullynya dia mampu jadi lebih populer.
"Ada harga yang harus gue bayar, Gib."
Gibran masih berjalan meski sudah jauh di depan, tapi kini tangan Dea tertahan oleh seorang Rifal, ternyata sejak obrolan mereka tadi pemuda ini mendengarkan bersama Vian.
"Vi, lo duluan. Gue mau ngomong bentar sama nih cewek k-pop!" ujar Rifal tanpa mengalihkan tatapan tajam bak tengkulak lada pada Dea. Vian tau jika sedang dalam mode begini, itu artinya Rifal tak ingin diganggu dan dibantah.
"Jangan pergi!"
Dea mengerutkan dahinya, terkadang tatapannya mengedar ke sekeliling takut jika ada siswa lain yang melihat mereka berdua dan menjadikan ini bahan gosip.
"Kamu ngomong apa sih?" tawa Dea garing.
"Aku tau kamu mau kemana, kamu mau ngapain, apa yang mau kamu cari Dea, apa yang mau kamu buktiin? Kamu cuma nyiksa diri sendiri?!" wajah suntuk Rifal adalah ciri khas dari pemuda itu, terlihat seperti orang mengantuk namun ia penuh dengan ketajaman dan ancaman. Dea bukannya memperhatikan dan menyimak ucapan Rifal, ia justru memperhatikan penampilan semrawut Rifal yang terkesan tak bersolek, rambutnya basah namun macam tak sisiran, acak-acakan walaupun masih good looking.
"Kamu ngga sisiran di rumah?" Dea menyisir rambut Rifal ke belakang dengan jemarinya, aroma strawberry lemon menguar menusuk penciuman Rifal. Ia menikmati sentuhan Dea, padahal jika di tela'ah hubungan mereka ini tanpa status jelas.
"De," tegur Rifal kembali menatap Dea.
"Ada harga yang harus kubayar Fal, sebagai pembuktian kalo aku bisa lebih populer dari anak-anak yang pernah bully aku dulu.. Aku tau mereka tau aku sekarang....from zero to hero...from freaky to beauty..." jawab Dea.
Rifal menggeleng tak setuju, "kamu beauty, tanpa harus jadi orang lain!"
Dea tersenyum miring, "tapi mereka bilang aku aneh, aku cupu, kuper, penyakitan..."
"Mereka yang to lol!" jawab Rifal.
"Tapi kita hidup diantara orang to lol," balas Dea tak mau kalah.
"Aku bisa tangani ini, ngga perlu khawatir...udah sering kok!" angguk Dea pasti.
"Kamu bukan peminum yang baik," tatapnya tak mau melepaskan Dea.
"Udah bel, nanti aku wa kalo udah di rumah, aku masuk dulu takut pada nyariin." Dea mengusap dan menepuk rahang tegas Rifal meninggalkannya dengan senyuman manis.
__ADS_1
Rifal menghembuskan nafas kasarnya, "jangan salahin aku De, kalo aku bakalan bikin kamu sport jantung. Kamu yang milih cara sulit, kamu yang udah bikin aku ngerasain lagi vibesnya, maka kamu harus tanggung semua keposesifanku," Rifal menyeringai lantas berlalu ke arah kelas MIPA 3.
Dea sudah siap dengan stelan jumpsuit jeans pendek cardigan berwarna merah muda dan tas selempang.
"Janjian dimana nih?" tanya Inggrid melompat-lompat gembira, ia tak melewatkan satu menit pun untuk touch-up biar penampilannya tetap paripurna.
"Langsung di tkp, yuk! Mereka juga udah otewe," Willy menggandeng seseorang membuat ketiga lainnya termasuk Dea melongo.
"Hay,"
"What?!!! Lo bawa dia Wil?" seru Inggrid kencang membuat Dea mengulum bibirnya ingin tertawa melihat ekspresi Inggrid.
"Anak pejabat korup ini?" tunjuk Inggrid.
"Gaes, gue harap kalian bisa terima Kirana," Willy memijit tengkuknya mendadak pegal, sementara Inggrid masih menatapnya sengit, meneliti Kirana dari atas hingga bawah kembali ke atas.
"Ing...udah lah," Dea menangkap tangan Inggrid yang ingin kembali menunjuk Kirana dan menyemburkan hujatan pedasnya, ia tau siapa Inggrid dan berapa level kepedasan mulut Inggrid.
"Yuk, udah masuk yuk!" Gibran menggiring Inggrid dan Dea ke jok belakang, membiarkan Kirana duduk di jok samping Willy. Mereka akhirnya pergi berlima dari rumah Willy.
"*Aku udah terlanjur masuk ke circle ini Fal*,"
"*Kamu bisa keluar, ada keluarga MIPA 3 yang bakal terima kamu, ada temen-temenku, ada aku*..."
"*Aku belum siap, sorry*."
Lamunan Dea buyar seketika, saat dengan tiba-tiba Willy menghentikan mobil secara mendadak.
"Kadal! Kadal! Apaan sih!" liptin yang dikenakan Inggrid sampai melebihi batas garis bibirnya.
"Ihhh, Willy!"
"Aduh, apaan sih?"
"Kenapa Will?"
Willy menunjuk ke arah depan mobilnya dengan dagu, dimana segerombol pemuda memotong dan menghadang lajur mobil.
__ADS_1
"Apa-apaan nih?!" Gibran berujar sengit.
"Oke, jangan panik. Jangan ada yang keluar dari mobil!" pinta Willy, Kirana dan Inggrid sudah panik dan histeris.
"Ini gimana?!"
Dea tak bisa memastikan mereka siapa, pasalnya diantara mereka tak ada yang dikenalnya, bahkan beberapanya memakai buff, slayer hitam dan helm.
*Buk*!
Kap mobil Willy di pukul dengan tongkat kasti, "turun!" bentak mereka.
"Will, telfon polisi aja lah!"
"Mana gue tau nomor polisi!"
"Aduhhh!"
"Dilibas aja gimana Will? Kalaupun dilibas ngga akan sampe mati kayanya, cuma luka-luka doang?" usul Dea.
"Ngga bisa De," Willy menggeleng, "mereka banyak.."
"Gue turun sama Gibran, kalian tetep disini...kalo ada apa-apa telfon seseorang, De...tancap gas!" Dea mengangguk, saat Willy dan Gibran keluar, Dea langsung berpindah ke kursi pengemudi.
Suasana hening sejenak di dalam ketegangan, "itu mereka siapa sih, mau ngapain?" tanya Kirana.
"Mana gue tau, ini kayanya ada hubungan sama lo kali! Ngga biasanya kita dicegat preman gini...lo sih bawa si al!" sarkas Inggrid pada Kirana.
"Enak aja! Yang ada lo banyak musuhnya! Banyak orang ngga suka sama sifat centil, jelalatan, sama nyebelin lo!"
"Shhh, aduh udah deh! Bisa pada diem ngga sih?" ujar Dea menengahi keduanya. Gibran dan Willy sesekali melirik ke arah belakang, dan Dea begitu merasa jika lirikan keduanya dan si ketua preman itu adalah ke arahnya.
"Tunggu! Tunggu! Itu mereka nyuruh kita keluar bukan sih?" tunjuk Inggrid.
"Lo berdua tunggu aja, kayanya itu ke gue deh..." Dea memberanikan diri untuk keluar.
.
.
.
.
__ADS_1