Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
TIAN-TASYA : BIAR SEMUA TAU, AKU YANG LEBIH DULU JATUH HATI


__ADS_3

"Morning everybodyyy!" sapa Dian, gadis ini datang dengan menyampirkan jaket di pundaknya. Seperti biasa mereka hanya menoleh singkat lalu kembali pada kegiatannya masing-masing. Di sudut meja Mutia, beberapa anak mengeluarkan uang demi membayar uang kas.


"Morning Di," gumam mereka.


"Eh, mama Nara sakit ya? Ngga masuk hari ini?!" tanya Muti lantang, lebih tepatnya sih ngasih pengumuman.


"Oh iya gitu?" Dian yang baru saja menaruh tasnya ikut membalikkan badan dan bergabung.


"Coba tanya di grup deh,"


"Sehati banget, Rama ngga masuk gara-gara kena skors, Nara sakit..." jawab Dian.


"Emang kurang ajar aja si Kanjii, mau kita obrak-abrik MIPA 2 apa gimana nih?! Tuman!" Rio berujar.


"Janganlah Yo, bentar lagi mau kenaikan kelas. Jangan dulu cari gara-gara," jawab Tama tapi ia menjeda perkataannya, "kalo saran gue mending kita abisin aja di luar, jangan di sekolah!" ia menaik turunkan alisnya diantara kacamata bulat lalu kembali sibuk mengerjakan tugas. Di balik bingkai kacamata itu ada keabsurdan dan ke-bar-bar'an yang hakiki. Si mantan anak emas guru yang terbuang ini mengulas senyuman smirk.


"Ha-ha-ha! Njayyy, ketkel kita emang juara!" tawa Fajar ditertawai yang lain.


"Tante Mer mana? Biasanya bareng," tanya Muti.


"Tuh, dia mah belok dulu buat gosipan di MIPA 2...kan ada tuh memetnya si Aira."


"Gimana guys, baliknya mau nengok ke rumah Nara?" tanya Tama menutup buku PR hari ini yang baru saja dikerjakannya, memang badass ketkel disini, jabatan tak menutup keminusannya. Bagaimanapun Tama tetaplah anak manusia yang sering khilaf dan memiliki sifat buruk.


"Nengok dong, masa engga!" jawab Dian tersenyum penuh arti.


"Oke, share di grup!" imbuh Tama.



Tian menghentikkan motornya di depan warung lebih jauh dari warung kopi babeh saat Tasya menepuk pundaknya.



"Ian disini aja,"



"Masih jauh ay, kamu kalo jalan lumayan..."



Namun Tasya memaksa turun, "ngga apa-apa, mumpung sepi." Gadis itu turun dari jok belakang motor Tian.



"Ya udah sok kamu duluan, aku liatin dari sini," Tian mematikan sejenak mesin motor dan duduk disana demi mengawasi Tasya.



"Iya."

__ADS_1



Gadis itu berjalan, sedikit demi sedikit mulai menjauhi posisi Tian. Tian menaruh tumpukan tangannya di atas speedometer motor dan memandang punggung Tasya yang berjalan, "boncel---boncel, tutorial mempersulit hidup sendiri," ia mendengus. Gadis itu menoleh ke belakang dan menautkan jarinya ke arah Tian dan mengerlingkan mata membuat pemuda itu tertawa kecil, begitu menggemaskannya Tasya, memang benar si cupid bilang mereka pasangan abnormal sukanya berantem tau-tau pacaran, postur tubuh yang berbeda justru jadi hal unik untuk keduanya. Jika melihat wajah dan badan Tasya, gadis itu seperti anak kelas 2 smp bukan 2 sma. Ia memang sudah jatuh hati pada gadis itu...



Setelah dirasa cukup jauh, Tian kembali menyalakan mesin motor dan melajukan si kuda besi menuju sekolah.



"Ian!" panggil Zaidan. Pemuda itu berlari ke arah Tian yang belum sampai ke parkiran, mencegatnya di depan pos satpam.



"Oy?"



"Bisa ngobrol sebentar ngga? Enaknya parkirin dulu motor weh," kata Zaidan meminta.



"Oke, sebentar." Zaidan mengekor ke arah dimana Tian memarkirkan motornya lalu membuka helm.



Suasana pagi semakin ramai, anak-anak mulai berdatangan entah itu yang ngangkot, bawa kendaraan sendiri, ataupun yang diantar jemput.




Tian menimbang-nimbang, pemuda itu menggosok-gosok dagunya seraya berpikir, "yakin mau make gue? Kang Eza tau?" ia mengulas senyuman miring, bukan mengejek Zai namun mengejek pihak-pihak yang telah membuangnya.



"Pasti! Justru karena mandat dari kang Eza kita disuruh rekrut lo sama Rama, tadinya mau si Gilang, tapi kita cuma butuh 2...antara Rama sama Gilang, kata kang Eza sih si Rama lebih masuk ke permainan," Zai menepuk pundak bongsor kesayangannya Tasya.



"Oh ya, Rama kemana? Belum datang? Gue juga mau ajak Rama!"



"Dia ijin,"



"Oh, berarti gue mesti ke rumahnya atuh euy..." tanya Zai, Tian mengangguk, "nanti gue bilangin deh, soalnya nanti gue mau kesana, kapan babak penyisihan?"


__ADS_1


"Minggu depan, ntar kita latihan pemantapan dulu deh barang sekali dua kali biar klop, ngga miskom sama atur strategi..." Zai berlalu sambil melambaikan tangannya.



"Sip!" Tian mengacungkan jempolnya di udara dan lantas berjalan menuju kelas.



Alisnya terangkat sedikit terjengkat kaget, untung saja gerak refleksnya bagus dapat menghindar dari tipe-x yang dilempar Tasya.


Ternyata gadis itu kesal pada Yusuf dan melemparinya dengan tipe-x.


"Cupid ih! Ganggu lagi, nih sepatu gue melayang!" teriak Tasya dengan mata yanh berfokus pada buku sementara tangan menulis.


Rupanya gadis itu lupa dengan pr dan kini sedang menyalin jawaban milik Dian.


"Udah, gue bilang juga ngga usah dikerjain Sya. Cuma setengahnya lagi mah paling nilai 5 lah kalo bener semua itu juga, mendingan jujur ae...gue aja cuma diisi 2, no problemo!" jawab Yusuf.


Tasya tertawa mendengus, "kalo bisa nyontek kenapa mesti dihukum?! Lagian Dian juga ikhlas kasih contekan."


Tian masuk, tidak langsung ke bangkunya ia malah duduk di depan bangku Tasya, memperhatikan apa yang sedang dikerjakan gadis itu.


"Nah Ian, bini lo tuh!" ia memungut tipe-x milik Tasya dan membawa serta ke arah Tasya dan Tian.


"Sejak kapan jerry jadi bini Tom?!" Dian melengkungkan bibirnya, mustahil. Mata Tasya mengilat pada Yusuf yang ember, ia lupa jika tidak semua tau dengan hubungannya dan Tian. Sekali lagi si mungil galak ini melempar Yusuf dengan pulpen yang dipegangnya sebagai peringatan, tapi Yusuf berhasil menghindar. Tian menatap Tasya dan meloloskan hembusan nafas sedikit lebih panjang, mau sampe kapan ngelak.


"Langsung ujan badai," tawa Fajar.


"Apa?!" sengak Tasya pada Tian, ia kembali ke mode rival jika di dalam kelas.


"Gue bilangin sama guru kalo lo nyontek," jawab Tian.


"Lo bilang tangan lo gue gigit!"


"Gigit aja, toh hati gue udah lo makan semuanya," jawaban Tian bikin syok, bukan hanya Tasya tapi para penghuni kelas MIPA 3 yang belum mengetahui hubungan keduanya. Mereka bukan tidak sempat curiga, hanya saja sikap mereka yang selalu bertolak belakang dan bertengkar mematahkan semua tebakan.


Tasya menatap Tian dengan alis bertaut.


Kalau ngga ada yang mau ngalah, sampai kapan mau kaya gini. Toh cepat atau lambat semua bakalan tau. Biar semua tau, aku yang duluan jatuh cinta...


Tian memutus kontak mata lalu melengos melewati Tasya ke arah bangkunya.


.


.


.


.


Note :

__ADS_1


* butut : jelek.


Sepertinya level karya bulan ini bakal turun guys 😅, tapi ngga apa-apa, karena mimin sadar jarang update terkendala masalah real life, semua konsekuensinya mimin terima ketimbang harus dilabeli tamat dulu biar safe level karya, takutnya hal itu masuk tindakan kecurangan dan mimin ngga mau itu. So, untuk penyemangat mimin cuma minta jempol dan komennya ya guys sebagai dukungan, semoga ke depannya mimin bisa konsisten update 🙏


__ADS_2