Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : I'M OKE, BECAUSE OF YOU


__ADS_3

Nara menarik nafasnya sedikit kasar, "oh, oke. Kayanya disini cuma gue yang ngga kenal siapa Kirana." Dipandangi langit malam yang sudah gelap, benar-benar gelap berteman cahaya lampu rumah warga di kejauhan, bulshittt kalau orang bilang malam hari bintang bertaburan kaya meses, karena buktinya meski di dataran tinggi, bintang seolah enggan menemani Nara malam ini.


"Ra, gue harap apapun nanti jawaban Rama, ngga akan ngebuat hubungan lo sama Rama renggang," ucap Gilang kemudian ia berdiri dan meninggalkan Nara.


"Maksudnya?" gumam Nara menoleh, tapi Gilang tak berniat menjawab atau kembali. Nara kembali melihat langit, dimana langit sudah mulai menggelap.


"Lang!" panggil Nara mencebik, tapi ia kembali duduk sendirian.


"Bang Akhsan kok lama banget!" berulang kali ia melirik jam di pergelangan tangannya.


"Sejak kapan kamu mengenal Kirana?"


Bukan suara Gilang ataupun Akhsan, tapi sesosok pemuda lain duduk di samping Nara.


"Di luar sendirian ngga takut ada yang nyolek? Pacarnya kemana?" ia nyengir dan terkekeh khas Rama.


"Pacar aku tukang boong. Sengaja di luar mau nungguin abang buat jemput. Lagi merenung juga, kenapa pacar aku tega boongin aku---" jawab Nara menatap penuh nyalang.


"Sorry, aku bener-bener nyesel sampe bikin kamu kecewa. Bisakah kamu maafin aku?" tanya Rama penuh harap, berlatarkan suara binatang nocturnal yang mulai berkeliaran.


"Kalo ketauan bisanya bilang nyesel, coba kalo ngga ketauan pasti ngga akan bilang---"


Rama menunduk, ia memang salah membuat noda kekacauan untuk pertama kalinya di dalam hubungan bersama Nara.


"Aku tau benteng kecewa kamu masih sulit aku hancurkan, dengan kata maaf sekalipun, ngga apa-apa---aku tau ini buah yang harus kuterima atas kebohonganku," jawab Rama.


"Udah beberapa minggu yang lalu aku kenal Kirana," balas Nara menjawab pertanyaan Rama yang tadi.


"Oke, mungkin udah saatnya kamu tau. Aku kira masalah ini udah bener-bener hilang, tapi ternyata malah bikin runyam masa depanku," senyumnya pada Nara.


"Dulu aku sama Willy temenan, Ra," tatapannya lurus ke arah tembok belakang villa, tapi Nara tau sorot matanya jauh menembus itu. Tampak kecewa, sedih, getir dan menyayangkan.


"Aku--- Gilang, Willy, Abay, Ridwan itu temenan. Ya...boleh dibilang deket lah, kaya kita sekarang. Sampai seorang siswi baru bernama Kirana datang." Rama masih mengingat bagaimana Kirana tersenyum memperkenalkan diri di kelas dengan terang-terangan ia menghampiri bangku, dimana Rama cs duduk, gadis itu cukup berani mengulurkan tangannya meminta berkenalan.


Hay, namaku Kirana!


"Willy suka Kirana, tapi Kirana hanya menganggap dia sebatas teman biasa, Kirana suka sama cowok lain---"


"Dan cowok itu kamu," sambung Nara, diangguki Rama.


"Sebenernya dulu Willy tidak sama dengan Inggrid, Dea dan Gibran. Bahkan Willy sering menginap di rumah, tapi semenjak kejadian...."


Rama, aku suka sama kamu sejak pertama masuk. Aku sayang kamu Ram, kembali Rama mengingat potongan kenangan dulu.


Willy melihat Kirana menyatakan cintanya pada Rama di lapang saat pelajaran olahraga.

__ADS_1


"Disaat yang bersamaan, ayah Kirana dinyatakan sebagai terduga korupsi dana bantuan daerah. Sebagai seorang teman, aku cuma bisa dukung, liat dia dibully temen lain, liat dia sedih dengan kondisi orangtuanya. Dan hal itu juga yang membuat kesalahpahaman makin menjadi," lanjut Rama.


"Sudah coba di jelaskan?" tanya Nara.


"Berpuluh-puluh kali, tapi nyatanya itu percuma. Willy lebih mendengarkan ego dan apa yang dilihatnya," angguk Rama.


"Aku tau kalo dia tau, hal itu cuma salah paham, tapi rupanya gengsi dan irinya lebih mendominasi untuk mengakui. Seringkali apa yang kita lihat tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, am i wrong?" tanya Rama kini meminta persetujuan Nara, mungkin Nara pun sedikit tersentil dengan pertanyaan itu, pasalnya itu juga yang terjadi pada keduanya kini, membuatnya menunduk kali ini.


"Dan sekarang kejadian lalu terulang kembali, tapi bedanya kali ini aku beneran jatuh cinta sama cewek yang disukai Willy, dan aku jadian sama dia." Rama membawa tangan Nara dan menggenggamnya.


"Kalo gitu, kedatangan aku memperburuk hubungan kamu sama Willy?" tanya Nara menatap nyalang.


Rama menggeleng, "engga. Hubungan aku sama Willy memang sudah rapuh dan buruk sejak lama, sebelum kamu datang. Ada kamu atau tidak, ya akan tetap seperti itu---dia terlalu angkuh dan dengki," jawab Rama.


Nara membawa tangan Rama dan menempelkan di pipinya, "are u ok?"


"I am oke, because of you..." jawabnya.


"Aku sayang kamu, Ra." matanya bertemu dengan manik mata Nara, seperti sedang memohon agar Nara percaya.


"Itu kenapa... saat aku dikeroyok Willy dan preman suruhannya---aku ngga bilang sama kamu. Karena menurutku itu dendam lama yang ngga tau sampai kapan akan berakhir. Aku juga ngga mau kamu semakin ngga suka sama Willy, bikin mereka semakin berfikir kalau aku racunin otak kamu buat benci sama mereka, biarlah itu jadi urusanku dengan Willy."


"Kamu ngga lawan mereka?" tanya Nara.


"1 lawan 6 ngga seimbang cantik, kecuali aku superman," tawa renyah Rama.


Drrrttt....


Obrolan itu harus terjeda oleh getaran ponsel Nara, "sebentar," pintanya.


"Bang Akhsan?" gumam Nara. Gadis itu berdiri dari duduknya untuk menerima panggilan telfon.


"Hallo abang?"


(..)


"Oh gitu, ya udah ngga apa-apa. Nara balik besok bareng temen-temen aja." Jawabnya, terdengar oleh Rama, pemuda itu tersenyum geli.


"Sorry yank---" gumamnya pelan.


Nara mematikan sambungan telfonnya dengan Akhsan dan kembali.


"Bang Akhsan kenapa?" tanya Rama.


"Engga tadi itu--apa," Nara menggaruk keningnya tak gatal.

__ADS_1


"Aku kan minta jemput. Tapi ternyata bang Akhsan ngga bisa, dia lagi di kost-an ka Titus ngerjain tugas kampus," jawab Nara.


"Kok pulang, kamu kan pergi bareng aku. Kalo kamu minta jemput bang Akhsan apa kata mama, papa sama bang Akhsan?" tanya Rama sedikit sewot.


"Ya---tadi kan aku marah sama kamu!" jawabnya sengit.


"Makanya tabayyun, apa-apa tuh di omongin dulu, di musyawarahin dulu. Jangan maen telfon orang aja, belum denger aku jelasin kamu udah ngambek duluan. Kamu bilang apa sama bang Akhsan tadi?"


"Minta jemput, aku sakit."


"Ck!" Rama membawa kepala Nara ke dadanya.


"Ucapan adalah do'a---" ujarnya.


"Iya emang sakit, sakit hati---" kekeh Nara.


"Lagian suruh siapa boong, siapa juga yang ngga marah kalo diboongin cobak!" Nara memukul dada Rama pelan dan menegakkan kepalanya.


Rama nyengir, "iya--iya!" pemuda itu mengacak rambut Nara, "masuk yuk! Udah malem dingin!" ajaknya.


"Kamu kalo marah serem yank, ngga mukul kaya biasanya. Baik-baik tapi nikam jantung!"


Nara tertawa, "kalo marah-marah bikin capek. Mana abis outbond tadi," jawab Nara kembali masuk ke dalam villa bersama Rama.


"Cieee! Baikan nih yeee!" lirik Vina dari ruang tamu.


"Yang mau balik ngga jadi nih?!" tanya Ridwan.


"Ngga jadi! Laki tamvannya masih disini! Katanya takut di colek Kirana," jawab Rama.


Bukkk! Nara kembali memukul lengannya kini ditambah pelototan.


"Kirana saha?" tanya Merry.


"Dulu waktu smp,"


"Mantan si Rama!" tawa Bayu berkelakar membuat Nara mendelik, apa Rama berbohong lagi. Sadar akan reaksi Nara, Abay tertawa.


"Boong atuh Ra, maksudnya mantan gamonnya Rama!" tawa Bayu kembali pecah.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2