Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : LO JUAL GUE BELI


__ADS_3

"Preman suka permen? Biasanya suka rokok--minuman keras, sama narkotika," tak sadar Nara sudah melingkarkan tangannya di pinggang Rama dan memiringkan kepalanya demi mengobrol lebih dekat dengan Rama.


"Aku mah sukanya kamu---" balas Rama tertawa, membuat Nara melepaskan pelukannya, lalu memukul setengah mendorong punggung Rama.


"Gombal terus ngga seru!"



Bu Diah sudah membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk melakukan debat hasil diskusi berkelompok.



Untuk pelajaran kali ini Rama berada di lain kelompok dari Nara.


"Pa! Dedek ikut pa!"



"Udah pas cup! Gue 4! Noh sama Rifal,"



"Cup! Bareng gue aja---" teriak Tian.



"Wokeh om buto!" Yusuf mengokei.



"Si-alan kamvrettt," desis Tian.



"Ya udah lo sini!" ajak Andi.



"Ayang tiiii---" ia melambaikan tangannya lalu mencolek dagu Mutiara saat melintasi bangkunya.



"Cupidddd!" ia segera berlari dan melesak memaksa masuk bangku Tian.



*Bughhhh*!


Mutiara memukul punggungnya, dan pemandangan ini sudah biasa untuk mereka disini, drama pengagum ngebet Yusuf pada Mutiara.



"Hajar aja Ti, dia mah anak buangan ini kok!" tawa Vina.



"Colak-colek dikira gue sambel!" sewot Mutia menggerutu.



"Yusufff---duduk," pinta bu Diah sedikit mendayu, bu Diah ini macam bu Hilda si wali kelas--baik-baik satu frekuensi. Entah ilham apa yang datang pada bu Hilda sampe mau-maunya jadi wali kelas MIPA 3. Baginya keusilan anak-anak begini adalah bentuk hiburan dan karakter sahaja.



Diskusi dan pengerjaan tugas berlangsung 20 menit, "waktunya selesai! Sok mau kelompok mana dulu yang maju?!" tanya bu Diah.



Jika sudah begini dapat dipastikan mereka akan saling lempar, lain halnya kalau makanan yang akan saling berebut macam gerombolan ikan mas.



"Kelompok papa Rama dulu bu!"



"Enak aja! Lo aja dulu," sewot Ridwan.



"Kelompok Cupid aja bu," tunjuk Tasya.



"Kelompok si boncel bu!" lawan Tian.



Melihat mereka yang saling melempar terpaksa bu Diah yang memilih sendiri, "mau kelompok Tama atau Nara?"



Kelompok Nara dan Tama saling lirik dan melempar senyum layaknya lagi nyaleg.



"Suit aja suit!" teriak Vian.



"Boleh silahkan!"



"Nih, anak baik MIPA 3 lagi pada suit!" ujar Yusuf.



"Lah itu anak dak jal lagi ngomong!" sahut Rifal ditertawai yang lain.



"Nyinggg---Pa! Liat om fal pa! Minta di guyur sambel geprek!" balas Yusuf.



"Berisik Cup!" timpal Rama.

__ADS_1



Nara dan Tama melakukan batu, gunting, kertas dan akhirnya kelompok Nara yang maju.



"Nara dulu bu," ucap Nara pada bu Diah.



"Oke, silahkan!"



"Wohhh mama!" teriak yang lain, Nara mengerutkan dahinya, sejak kapan ia jadi ibu dari anak-anak gesrek ini.



"Semongkoh ma!" teriak Yusuf.



"Cahyoooo!" teriak Rio.



"Chaiyo bandrek! Bukan cahyo," sarkas Dian dari bangkunya.



"Wihhh, pacar gue tuh!" teriak Rama lebih heboh.



"Pacar khayalan, pa?" tanya Andi.



"Bangunin sono papa, takut ditolak nanti sakit sampe ke du bur!" sahut Fajar.



"Astagfirullah," bu Diah menggelengkan kepalanya prihatin namun ia pun ingin tertawa.



Nara cukup lancar menjelaskan materi dan hasil diskusi kelompok, meski sesekali Rama dan yang lain mengganggu konsentrasi dan jalannya pemetaan.



"Bagi kelompok lain, silahkan untuk mengajukan pertanyaan, namun tertib,"



"Siap bu!"



Beberapa dari mereka menunjukkan tangannya termasuk Rama. Bu Diah sampai mengernyit tak percaya, "Rama, tumben kamu angkat tangan?" bu Diah mengangkat alisnya sebelah bagaimana beliau tidak keheranan selama ini Rama tidak pernah ingin bertanya ataupun menyanggah saat pelajaran dimana ada materi debat.




"Oke silahkan Rama, ibu mau dengar pertanyaan mu," ucap bu Diah.



"Denger nih ya! Vin catet nih pertanyaan sakti!" pintanya.



"Iya ih bawal!" sarkas Vina.



"Bawelll!" ralat yang lain, memang kelas ini tak ada yang waras dari kegesrekan muridnya.



"Ekhm! Baik, saya Ramadhan dari kelompok 3 ingin bertanya pada Narasheila," ia berdiri seperti orang yang akan berorasi.



"Mengapa iklim di bumi bisa berbeda-beda meski dalam satu waktu yang sama?" tanya nya mulai serius.



Nara sampai berunding bersama kelompoknya, lalu menentukan jawaban.



Nara melemparkan jawaban kelompoknya, sudah pasti benar, bu Diah saja sampai tersenyum puas.



"Bagaimana Rama?" tanya bu Diah.



Jawaban Rama justru membuat mereka mengerutkan dahinya, "salah bu."



"Apa atuh sok!" tantang Mita sampai ikut bereaksi.



"Karena yang sama cuman perasaan saya sama Nara sama-sama cinta dalan satu waktu yang sama," jawabnya tanpa rasa bersalah.



"Huu! Papa aku pada-NYA pa!" sorakan semua siswa


bu Diah menggeleng kan kepalanya " Rama--"gumam pelan bu Diah.


__ADS_1


"Tuh kan, ngga akan bener kalo dia yang nanya mah!" timpal Rika.



Nara manyun menatap Rama dan membuat gerakan mulut tanpa bersuara, "ngga tau malu!"



"Ta, ke kantin yuk!" ajak Nara.


"Boleh!"


"Hay bebs!" sapa Inggrid dan Dea. Raut wajah sumringah Nara dan Mita meredup, entah kenapa bawaannya jika berhadapan dengan anak komplek tuh, mendung.


"Hay," balas Nara.


Tanpa permisi dan aba-aba keduanya menggeser posisi Mita dan menggandeng Nara untuk duduk di kantin.


"Kita tuh kangen tau! Udah berapa lamu lo ngga keliatan, ngehindar apa gimana sih?!"


"Engga, kan udah aku bilang kalo sekarang tuh bang Akhsan suka anter jemput ke sekolah, jadi ngga bisa bareng. Disini juga jarang ketemu juga kan," Nara celingukan mencari Mita yang sudah tak di sampingnya.


"Mit," panggil Nara. Gadis itu mengekor di belakang ketiganya.


"Ups! Sorry ngga liat ada lo sih!" ucap Inggrid, semua pun tau ucapan ini hanyalah cibiran.


"Ck, kalian---" belum Nara menuntaskan kekesalannya, Dea sudah memotong ucapannya.


"Ra, kenapa kamu nolak Willy? Sayang banget tau. Banyak loh disini yang mau jadi pacar Willy. Willy tajir, cakep, kurang apalagi coba?"


"Gue engga---"


"Eh duduk yuk!" potong mereka lagi menarik Nara, sementara Mita masih saja mengekor tanpa berani menyela, ia hanya bisa mengerutkan dahinya, oh---Nara nolak Willy? Mita terkekeh tanpa suara.



Willy dengan perasaan yang sudah menggebu-gebu berjalan menuju kelas Rama, bersama Gibran ia ingin menemui bekas kawan lama-nya itu.



Dari kejauhan saja kelas yang bak warung kopi itu sudah terlihat keramaian dari para penghuninya.



"Sut! Ram!" senggol Bayu.



"Ram!" panggil Willy dingin. Rama mendongak melihat keduanya.



"Heh! Preman kampung, gue tau alasan Nara nolak gue karena ada campur tangannya sama lo. Ngga nyangka aja Ram, sepicik itu lo, dulu Kirana sekarang Nara! Apa mau lo, Ram!" ucap kasar Willy, kilatan kemarahan begitu terlihat di matanya saat ini, kenangan pertemanan keduanya dulu--apakah tak ada bekas di hati Willy?



"Weits! Ada apa nih Ram sama yang mulia? Sampe nyamperin kita kemari?" sergah Gilang. Mereka yang awalnya berjongkok kini bangkit menjadi pendukung Rama.



"Emang kenapa sama Nara, apa dia berubah jadi menyebalkan kaya lo?" tanya Rama menyeringai.



"Kurang aj ar," sentak Gibran, tangannya terangkat hendak meninju Rama. Tanpa mengerjap Rama menahan tangan Gibran.



"Sebaiknya lo simpen tangan lo ini buat makan siang atau mau gue pelintir disini?" bisik Rama pada Gibran lalu menghempaskan tangan pemuda itu.



"Gue tantang lo main basket! Kalo sampai lo kalah lo jauhin Nara," tantang Willy.



"Apa?! Dikira si Nara tuh barang dijadiin barang taruhan, Gilak!" decak Bayu.



"Deal!" jawab Rama, jika ini yang Willy mau untuk akhir sebuah pertemanan maka Rama akan mengabulkannya.



"Lang! Ian---pemanasan, kita olahraga bentar sebelum masuk!" ucap Rama pada Gilang dan Tian.



"Siap," jawab Tian mematikan game onlinenya dan menitipkan ponsel pada Yusuf.


"Titip Cup,"



"Jual aja ya Ian?" kekeh Yusuf.



"Koplak!" Andi menoyor pelan kepala Yusuf.



Rama dan kawan-kawan memang tidak pernah menunjukkan bakatnya bermain basket di sekolah, atau keikutsertaan mereka pada kegiatan organisasi siswa. Dulu sempat ia dan beberapa siswa lain di kelas MIPA 3 mengikuti OSIS tapi hanya untuk beberapa lama saja atas usulan wali kelas demi partisipasi memajukan program sekolah, namun itu tak bertahan lama mengingat mereka yang kurang menyukai dengan hal-hal berbau OSIS.



Jika dijabarkan dengan hitungan logika, kecil kemungkinan Rama cs menang. Secara, Willy adalah kapten tim basket putra sekolahnya, namun tak ada yang menyangka jika papa-nya MIPA 3 ini jago bermain basket.



" 3 lawan 3!" ujar Willy memperpendek jaraknya dengan Rama, sorotan mata mereka saling menunjukan bahwa mereka tidak mungkin akan berbaikan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2