
Dea menelan salivanya sulit, ia menghitung ada sekitar 7 orang disana, dari sudut manapun ia dan para penghuni mobil Willy tak akan menang melawan mereka. Jalannya sedikit merapat karena takut.
"De, lo punya utang ke siapa?!" tanya Gibran mendesis tertahan.
Dea sendiri hanya bisa melongo ditanya seperti itu, "gila aja! Masa gue punya utang sama orang, buat apaan ogeb!" sewot Dea dengan nada sarkasme.
"Lo yang namanya Dea?!" ujar si preman satu dengan anting yang berjejer di daun telinga, wajahnya glowing berminyak saat ia menurunkan slayernya.
"Kenapa emangnya?!" seperti biasa, gadis ini akan angkuh jika menghadapi orang asing.
"Gini deh bro, sorry...ada urusan apa kalian sama Dea? Kita selesain aja sekarang sama gue," Willy memang selalu bertindak paling dewasa disana. Dea bahkan merapatkan badan menempel di badan Gibran dan Willy karena takut, tanpa ia sadari diantara preman itu ada yang memperhatikannya dengan seringaian di balik slayernya sambil menyenderkan pan tat di jok motor.
"Oke, yang namanya Deanada Kharisma, lo bisa disini. Dan yang lain balik!"
Para preman itu diberi aba-aba untuk memisahkan Dea dari Willy dan Gibran membuat situasi mendadak chaos.
"Eh!"
Willy dan Gibran bukan tak melawan, tapi mereka kalah dalam jumlah, di dalam sana Kirana dan Inggrid sudah terjerit-jerit, lantas seorang preman tadi mendekati Dea dan mendekap Dea dari belakang memisahkan mereka dari situasi chaos ke arah motornya, "eh! Eh!" Dea berontak dengan menyikutnya juga menggoyangkan kaki sekuat mungkin, "woyyy! Lepasin gue!"
"Lo tuh siapa sih?!!"
"Ada urusan apa sama gue?!"
"Gue ngga ngerasa ada salah sama geng preman begini!!!"
"Dea!"
"Dea!"
"Kamu ikut aku sekarang," seraya mengeluarkan pisau lipatnya dan menodongkan itu pada Dea.
Deg !
Seketika Dea langsung diam, ia merasa kenal suara itu. Pemuda itu menaruh Dea di jok motornya, ditatapnya mata si pemuda yang membawanya itu tanpa melakukan lagi perlawanan, meskipun samar dan begitu jelas karena tertutup slayer, ia merasa mengenal suara itu.
***
"Dea!"
"Woy! Lo mau apa, kita kasih! Asal lepasin Dea!" teriak Willy dari sana.
"Temen lo ngga akan kita apa-apain! Cuma kita pinjem sebentar!"
"Ya tapi ngga usah ditodong piso segala dong!"
"Kalo sampe Dea kenapa-napa gue inget muka lo semua!" tunjuk Gibran dan Willy berapi-api, sempat kena bogeman mentah pula oleh mereka dan sedang di pegangi oleh beberapa diantaranya.
"Pegangan," pinta si pemuda tadi pada Dea, gadis itu menurut saja meski masih mencoba mencerna semuanya.
Mesin motor dihidupkan dan Dea semakin menjauh dari keramaian. Tanpa banyak bertanya Dea merapatkan pegangannya di jaket samping pemuda yang mulai membawanya menembus jalanan malam.
"De, lo minta pertolongan kalo ngerasa terancam!" teriak Gibran, Dea mengangguk pelan dari sana.
Gerakan lihainya seperti sedang melakukan balapan. Dea tau jalanan ini, ia dibawa ke kawasan Setiabudhi, kawasan yang selalu ramai di jam pulang kantor dan selepas magrib. Motor berbelok ke arah kanan menelusuri perumahan yang rimbun ditumbuhi pepohonan besar, ia sedikit merapatkan cardigan tipisnya karena dirasa udara semakin menusuk kulit, hingga satu rumah dengan keramaian menyadarkan Dea, jika ternyata ia diajak ke sebuah rumah layaknya markas club.
...'Thunderbolt Brotherhood'...
Dengan lambang geer motor dan kilat terbingkai oleh bentuk segi enam merah dan hitam.
Jantungnya kembali berdegup kencang manakala melihat dari luar saja begitu banyak pemuda yang penampilannya seperti begundal, namun disana juga ada sosok perempuannya. Tapi memang disitulah mereka berhenti. Beberapa diantaranya memanjangkan leher keluar demi melihat kedatangan Dea, yang di luar sudah sedari tadi memperhatikan Dea dan si pemuda.
"Bawa target, brad?!" kekehnya sumbang menyeringai, dibalas dengan diangkatnya jempol di udara oleh si pemuda.
"Turun," perintahnya, Dea menggeleng, "nggak!!"
Pemuda itu akhirnya memilih turun duluan tanpa mau membuka slayer dan helmnya.
__ADS_1
"Turun!" sentaknya lagi, tapi semakin keras ia memerintah, semakin keras kepala pula Dea, gadis itu merapatkan duduk dan memegang stang motor.
"Nih cewek nantangin," kekehnya.
"Kenapa? Mau keluarin lagi piso? Tusuk aja!" tantang Dea melotot sengit, seolah mengusir jauh-jauh rasa takut meskipun tetap saja wajah itu tak dapat berbohong kalau ia takut.
Pemuda itu membuka helmnya dan menurunkan slayer hitam yang sejak tadi setia menutup wajah. Seketika tatapan Dea menjadi nyalang. Cukup lama Dea melihat Rifal, hingga lama-lama matanya mulai berkaca-kaca.
Buk!
Buk!
Kepalan-kepalan kecil kini disarangkan bertubi-tubi di dada Rifal, membuat pemuda ini tertawa kecil.
"Kamu ngapain sih mesti kaya gini?! Kalo tiba-tiba asma ku kambuh di depan orang gimana tadi? Geb lek banget!" omelnya menunduk, Dea lega akhirnya dugaannya benar...jika dia Rifaldi.
"Kenapa harus pake piso lipet segala!"
Rifal menempelkan dadanya menyentuh kepala Dea yang menunduk dan memeluknya, mengusap dari pucuk hingga ke tengkuk.
"Aku kangen kamu, De..." gumamnya beradu dengan suara jangkrik dan obrolan para manusia di teras rumah.
"Udah kubilang kan aku ngga ijinin kamu buat pergi ke club malam," ucap Rifal mewakili semua jawaban dari semua pertanyaan yang ada di benak Dea, termasuk penilaian Dea tentangnya, Rifal adalah pemuda posesif dan nekat.
"Kenapa harus aku, Fal? Kalau cuma karena kasian, sumpah aku ngga perlu rasa kasian dari kamu..." Dea mendongak.
"Bisa ngga, pikiran kamu ngga usah sempit gitu De? Aku bukan tipe pemuda yang gampang kasian sama orang, kamu bisa liat kan tadi, aku bisa sadis sama kamu,"
Dea mengerjap memutus kontak mata dengannya, "kalo kangen kenapa chat aku ngga kamu bales?" tanya Dea.
Rifal tersenyum miring dan malah mengajak Dea turun untuk berkenalan dengan teman-temannya.
"Sini aku kenalin sama yang lain," ajak Rifal menggenggam tangan Dea.
"Ini Fal, kecengan teh?"
"Weheyyy, om Fal! Bawa si k-pop" tidak lain dan tidak bukan Vian.
Namun tatapan sinis mendelik ditujukan oleh sesosok gadis yang duduk di pojokan, ia meneliti Dea dari atas sampai bawah seperti sedang membandingkan entah dengan siapa.
Dea merasakan jika gadis itu aga tak suka padanya, padahal keduanya baru saja bertemu, bahkan bertegur sapa saja belum, tapi sepertinya begitu cepatnya ia memiliki nilai sendiri untuk Dea.
Tapi dia adalah Deanada Kharisma, tak peduli dengan mereka yang tak mengenalnya.
"Duduk De," Vian menggeser duduknya mempersilahkan Dea sementara Rifal sendiri melengos ke luar lagi, entah kemana.
"Oh ini...." gadis itu mendengus seolah meremehkan.
"Jauh banget sama Hana," ia mendelik dan keluar dari ruangan itu. Sontak saja Dea mengerutkan dahinya, "dih situ sehat?" gumamnya pelan mencebik.
"Ngga usah ditanggepin, ngga jadi ya ke club malam buat ajo jing?!" kekeh Vian seperti itu adalah sebuah godaan.
"Gara-gara temen lo," jawab Dea, Rifal kembali dengan membawa se kresek makanan, bukan kresek putih khas swalayan, tapi kresek hitam khas warung sembako. Dari luar saja ia sudah bagi-bagi cemilan persis anak lagi ultah membuat suasana seketika riak.
Awalnya kresek itu penuh, hingga ia menghampiri Dea hanya tersisa setengah berisi jus buah kemasan, air mineral, ciki kentang dan biskuit waktu terbaik.
"Cocktailnya diganti bua vita aja," ucapnya membuat Vian tertawa, "gue mana, Fal?!"
"Beli!" tukas Rifal duduk di sofa samping Dea dengan mengangkat kedua kakinya ke atas.
"Kamu nodong aku pake piso, gebukin Willy sama Gibran terus culik aku cuma buat diajakin minum bua vita apel?" tanya Dea, salah satu teman Rifal tertawa tergelak mendengarnya.
"Iya," jawab Rifal dengan santainya.
"Badasss! Hebat kan De, MIPA 3 mah ketularan absurdnya si Rama," ujar Vian. Dea menggeleng, terdengar suara riuh mesin motor berbagai jenis dari luar seperti orang lagi touring, dan ternyata anak-anak yang tadi menghadang mobil Willy telah kembali.
"Gimana mas bro?! Diterima ngga? Udah belum nembak teh?!" tiba-tiba saja pertanyaan itu lolos dari si pemuda yang tadi mengancam Willy.
__ADS_1
"Ehhh, atuh jangan buka dulu kartu, Jang!" imbuh yang lain, dirasa Dea tak nyaman dengan suasana di dalam sini, Rifal mengajaknya ke luar, tepat di tembok pembatas teras.
"Sini," tariknya. Dea tertarik membawa serta bua vita di tangan yang sedang ia sedot.
"Apa maksud dia Fal?" tanya Dea.
Rifal berdehem, tetap tak melepaskan sebelah tangan Dea, "De...kamu mau jadi..."
Belum apa-apa Dea sudah menggeleng, "jangan Fal, kalau kamu niat nembak aku...aku ngga mau, aku ngga akan pernah terima kamu."
Rifal mengerutkan dahinya tak mengerti, setelah apa yang mereka lalui, Dea tak mau menjalin hubungan dengannya, apakah gadis ini bercanda, apakah ia tak tau bagaimana sikap Rifal jika keinginannya tak tercapai?
"Aku menolak patah hati...untuk kesekian kalinya," lanjut Dea.
"Aku menolak adanya perpisahan, pertengkaran, yang nantinya bikin aku nyesek..."
"Lebih baik seperti ini. Kamu tau aku ngga bisa memprioritaskan siapapun, aku ngga bisa memilih antara kamu atau Inggrid sama yang lain... Please ngerti,"
Rifal melepaskan tangan Dea, dan benar saja, ia telah meninju tembok tiang yang berada di belakangnya demi melampiaskan kekesalan.
"Sampai kapan De ?! Bilang sampai kapan aku harus nunggu.. kata aku, kamu jadi kita?"
"Apa kamu punya trauma dengan yang sebelum-sebelumnya?" tanya Rifal.
"Aku ngga kaya gitu, apa yang mesti kamu takutin?! Apa karena kehidupanku yang kaya gini?! Apa karena keluargaku, MIPA 3? Atau karena cs toxic kamu?"
"Kamu bisa nerima siapalah itu pemuda luar tapi kenapa aku engga? Apa karena kesan pertama? Apa sepenting itu kesan pertama buat kamu? Buka pikiran kamu Deanada!" emosi Rifal meluap-luap membuat Dea mundur dari posisinya. Kilasan balik kejadian di rumah Rifal terbayang jelas di otak Dea, apakah kini Rifal akan meluapkan semua emosi pada dirinya?
"Argghhh!" Rifal mengerang dan kembali menghantam tembok, sikapnya itu memancing teman-teman Rifal keluar termasuk Vian. Yang pertama Vian lakukan adalah membawa Dea ke belakang badannya.
"Santai bro! Kenapa?!"
Rifal menggeleng, dadhanya yang masih naik turun ia atur dengan menghembuskan nafas panjang dan meraup nafas sedalam mungkin.
"Engga, gue ngga apa-apa," Rifal melirik jam, "udah malem...aku anter kamu pulang," ucapnya pada Dea.
"Maaf, kalo bikin kamu jadi makin ilfeel..." lanjutnya menatap Dea.
"Gue anter Dea balik dulu," imbuh Rifal pada yang lain diiyakan, Dea mengangguk pada Vian sebagai tanda pamit, matanya tak sengaja jatuh pada gadis tadi yang menatap Dea jengah.
Rifal tak sungkan memakaikan jaket miliknya di badan Dea sebelum mereka memulai perjalanan pulang.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam tanpa mau berkata-kata, hingga gerbang komplek perumahan Dea terlihat masih tak ada kata terucap.
Seperti biasa, Rifal akan memutari blok lain hingga mereka memasuki blok rumah Dea dari nomor belakang dan berhenti di beberapa rumah sebeluk rumah Dea.
"Thanks,"
"Langsung tidur," jawab Rifal dingin.
"Kamu langsung pulang kan?" tanya Dea khawatir.
Rifal melihat gadis itu lama, "aku mau balapan." Rifal segera pergi dari sana tanpa senyuman seperti biasanya.
Maaf, aku sayang kamu Rifaldi Elvan Januar.....
.
.
.
.
.
Ekhem, ngiklan sebentar๐ Dea sama Rifal makin seru ya? Tapi sayangnya hanya sampai disini, coz mereka nantinya punya rumah sendiri, slebewwww ๐๐ Berhubung cupid, udah ngga sabar buat action jadi kita sudahi om Fal sama neng Dede...next kita bikin rumah Rifal-Dea dan tentunya bakalan banyak kejutan disana, see you dear๐๐
__ADS_1