Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : DAN SEMUA INI KARENA---


__ADS_3

Rifal menyesap batangan rokok, sementara Vian dan Tian menyesap vape beraromakan capuccino, diantara arena outbond yang tak terjamah oleh guru.


"Wayauuuu!" Gilang dan Ridwan mengejutkan ketiganya, yang ikut tergelonjak kaget, Gilang dan Ridwan tertawa lepas melihat reaksi ketiga temannya yang terkejut.


"Bank kee!" umpat Rifal.


"Ketauan lagi rokok'an disini!?!" mereka ikut duduk bergabung.


"Dingin Lang, butuh kehangatan!" jawab Rifal, pemuda ini jomblo memang atas kehendaknya---kehendak yang memutuskan tak mau move on, ada kisah manis namun tragis yang menimpanya. Cewek mah ngantri, tapi ia lebih memilih menutup diri dan hatinya, demi mengobati rasa sedih ditinggal meninggal oleh Eka.


"Rama mana?" tanya Rifal.


"Lagi nemenin Nara dulu, ntar kalo yang cewek udah masuk masuk villa lagi baru kita sikat Willy cs."


"Ini laki-laki MIPA 3 pada kemana, kaya hilang ditelan bumi cuma ada Tama, Rio sama Fajar doang?" Dian mengernyitkan dahinya. Ia baru saja kembali dari dapur ke kamar tempat Nara, Vina, Rika dan Mita tidur, kini anak-anak perempuan MIPA 3 tengah berkumpul disana sambil maskeran dan sekedar mengistirahatkan tubuh yang lelah selepas kegiatan outbond, tak ubahnya Rama, kini dimana pun Nara berada, mereka seperti menjadikan Nara adalah induk MIPA 3.



"Pantesan aga sepi, cuma ada kelas IPS," tambah Mita membubuhkan masker teh hijau di wajahnya dengan cermin kecil di sebelah tangan.



"Geser dikit ih!" pinta Dian kembali duduk melantai di atas karpet plastik yang sengaja di gelar di lantai kamar agar cukup duduk atau rebahan rame-rame.



"Iya, di luar cuman ada Tama, Rio sama Fajar, sama kelas IPS 1," sahut Rika berguling seraya memainkan ponsel.



Nara bangkit kemudian meraih sebotol air mineral di nakas samping ranjang lalu meneguknya, "tadi sih Rama pamitnya ke villa sebelah, anak kelas IPS 4 ada yang sengaja bawa ps. Kan di ruang tamu ada tv, mumpung guru-guru masih pada ngurus anak lain di arena outbond--" jawab Nara, karena itulah alasan yang dikemukakan Rama tadi padanya.



"Oh," Dian berohria. Sebenarnya Nara sedikit takut, karena villa sebelah kan basecamp-nya Willy cs, tapi Rama meyakinkan Nara jika Willy tak akan berani macam-macam disana.



"Ahh, udah ngga aneh tante Di---anak MIPA 3 mah kemana-mana abring-abringan wae, apalagi kalo bukan game!" ujar Tasya yang mengakui jika Tian-lah pelopor maniak game di kelasnya.



"Tau lah yang kecengannya maniak game!" tawa Merry, Muti dan Nara hanya melipat bibirnya, sepintar-pintarnya menyimpan bangkai toh akan tercium juga.



"Ih, engga lah! Gue sama Tian?! Yang bener aja!" tolak Tasya mentah-mentah meski wajahnya terlihat jelas sedang gugup.



"Masa?!" senggol Muti menggoda lalu mencolekkan masker itu di lengan Tasya.



Gadis itu sukses membuat Tasya berdecak, "ck!"



"Iyalah masa iya si Tasya sama Tian. Yang ada bumi ancoorrr!" sahut Vina.



"Hati-hati, yang pada benci bisa jadi sayang---" Nara menjatuhkan badannya di ranjang.



"Cie, pengalaman Ra?!" tawa Vina.


__ADS_1


"Heem," Nara mengangguk dan ikut bergabung di bawah, ia melongokkan pada mangkuk berisi masker teh hijau tanpa ada niatan untuk memakainya.



Bu Hilda masuk ke dalam bangunan villa, ia mencari anak muridnya tapi tak menemukan mereka di arena outbond.



"Nah, ini dia ternyata." Bu Hilda mendengus lega mendapati Tama sedang duduk di sofa bersama Fajar dan Rio.



"Tama, kemana yang lain? Ibu kirain masih di arena outbond. Kalo mau pada balik ke villa tuh laporan dulu," kesalnya pada sang ketua kelas.



Tama cukup terkejut dibuatnya, "eh bu. Maaf! Tadi Tama udah bilang sama pak Marwan bu, soalnya ibu lagi arung jeram sama guru lain. Anak MIPA 3 memisahkan diri jadinya Tama ikut yang paling banyak, bu. Siswi kelas MIPA 3 lengkap di kamar sebelah bu," tunjuk Tama ke kamar Nara.



"Terus sisa lainnya lagi ke villa sebelah ketemu sama anak IPS bu," untuk kali ini Tama merasa berdosa telah berbohong pada semuanya terlebih bu Hilda sang wali kelas. Meskipun ia tak sepenuhnya berbohong, sisa anak MIPA 3 memang ke villa sebelah namun yang mereka lakukan adalah melabrak kelas lain.



"Oh, ya sudah. Kalau gitu ibu bersih-bersih dulu ke kamar," pamitnya kini sudah dapat tersenyum lega.



"Iya bu," angguk Tama. Mata Fahar dan Rio pun mengikuti sampai sosok bu Hilda hilang di balik tangga.



"Fiuhhh! Selamet!" ujar Rio.



"Ck! Ini yang gue ngga terlalu suka, saking kompaknya boong sama bandel aja mesti satu kelas!" sahut Tama mencebik.



Tangan Tian, Rifal dan Gilang begitu erat mencengkram kaos Willy---Gibran.


Tepat di belakang pabrik teh mereka membawa keduanya.


Brukkk!


Badan kedua pemuda itu dilempar begitu kasar oleh ketiganya.


"Woyyy! Apa-apaan nih?!" ujar Gibran sewot, sementara Willy hanya diam dan melemparkan tatapan tajam.


Rama turun dengan melompat dari atas tembok benteng pembatas antara kebun dan bagian belakang pabrik.


"Sikat aja Ram, udah gemes gue!"


Rama tak sedikit pun melihat Gibran, sejak tadi ia hanya melihat Willy yang diliputi kebencian padanya.


"Kesalahpahaman udah bikin mata lo buta, Will! Ini yang lo mau, maka gue kabulkan!" Rama mengepalkan tangan kuat, san melayangkannya ke arah Willy tapi tepat beberapa inci di depan wajah Willy kepalan tangan itu terhenti, hati nuraninya berbicara.


Willy yang memejamkan matanya sontak melihat Rama, "kenapa lo berenti? Pukul gue! Bukannya itu yang sejak kemaren pengen lo lakuin? Balas gue Ram, bukannya untuk itu lo ngajak temen-temen lo ini buat gusur gue sama Gibran?!"


"Heh, pecundang!" dengus Gibran pelan.


Bukkk!


Tinjuan keras mendarat mulus di perut mengarah ke ulu hati pemuda itu, hingga Gibran terkapar.


"Emhhh, mamposs lu!" Yusuf mengumpati.


"Gue paling benci sama cowok kompor yang cuma bisanya koar-koar. Cowok manja yang bisanya sombong sama harta ortu!" ujar Rifal menyeringai setelah meninju Gibran keras.

__ADS_1


"Bangun lu ngga usah manja!" Bayu dan Andi membantu Gibran bangkit secara kasar. Yang mereka lakukan sekarang tak ada apa-apanya dengan yang sudah dilakukan mereka pada Rama kemarin. Dengan tak berperasaannya mereka menyewa preman sepaket balok kayu dan alat lain untuk menghajar Rama.


Rama berbalik dan lebih memilih menghantamkan kepalannya ke arah batang pohon pisang yang ada disana hingga pohon itu hampir tumbang dalam sekali pukulan. Gibran sampai terhenyak, begitupun yang lain ikut terkejut namun malah terkekeh melihat reaksi Gibran.


Bughhh! Krekkk! Pohon itu seketika cekung di bagian yang dipukul dan miring ke kiri, tanah yang semula menopang hidup sang pohon bukan lagi gembur.


"Lo tau bukan gue ngga mampu buat remukin rusuk lo. Tapi karena gue bukan orang sin ting yang make kekerasan buat menunjukkan kekuatan!" ujar Rama dingin nan datar.


Rama meraih dan mencengkram kerah baju Willy, "buka mata lo, sampai kapan lo menyangkal kalo gue ngga pernah main-main sama yang namanya pertemanan, ngga pernah ada sedikit pun rasa lebih dari pertemanan buat Kirana, karena gue tau lo suka sama dia. Apa pernah lo liat gue jadian sama Kirana? Lo suka sama cewek tapi ngga gini cara lo, rasa suka lo itu udah bikin mata hati lo buta, Will!" lanjutnya.


"Dan lo----gue tau lo udah tau gue suka Narasheila, tapi kenapa lo masih kejar dan sekarang?" balas Willy.


"Dulu Kirana yang lo rebut, sekarang lo juga ambil Nara!"


"Ralat ucapan lo! ! Gue ngga pernah rebut siapapun dari siapapun. Kirana suka gue tapi gue anggap dia ngga lebih dari teman. Tapi Nara....gue akui jika dengan Nara, gue memang bener sayang---gue suka Nara!! Tapi apa lantas gue salah? Toh dia juga udah nolak lo kan?" ucap Rama di depan wajah Willy.


"Dan karena itu gue ngga suka! Selalu cewek yang gue suka itu suka sama lo!" teriak Willy berusaha melepas cengkraman Rama.


"Wah, kalo gitu lo yang punya sifat dengki sama orang. Sesat lo!" sela Yusuf menyahut.


"Lepaskan Nara, maka gue anggap semuanya baik-baik aja!" ucap Willy langsung menatap retina mata Rama. Rama menyeringai, "Nara-nya gue bukan barang jaminan bro. Rasanya gue ngga perlu mengorbankan apapun yang gue punya cuma buat ngejar temen lak nat macam lo." Rama melepaskan cengkramannya dengan kasar.


"Orang kaya dia, selamanya akan selalu egois Ram. Mau lo jelasin sampe mulut lo kapalan juga nih orang otaknya udah mentok di dengki!" ujar Ridwan.


"Dan ingat baik-baik di pikiran lo. Gue ngga pernah menyesal kenal lo atau Kirana, karena lo berdua yang mengajarkan jika pengkhianatan dan rasa sakit itu ada! JANGAN PERNAH USIK HUBUNGAN GUE DAN NARA,"


Willy terlihat mengeraskan rahangnya saat Rama membalikkan badan, dengan segera ia mengepalkan tangannya dan memukul Rama, tapi pemuda itu seolah berbadan baja hanya tersentak saja. Rama kembali menyeringai, ia balas memukul Willy hingga keduanya kini terlibat adu jotos.


"Willy ! Stoppp!" Inggrid dan Dea yang mencari keberadaan keduanya dikejutkan dengan perkelahian Rama dan Willy, bahkan Gibran tengah di cekal Tian disana.


Rama dan Willy jelas bukan lawan seimbang, Willy sudah kepayahan melawan Rama meskipun ia sudah berkali-kali melayangkan tinjunya.


"Ram--Ram--udah, tahan! Tuh anak orang bisa masuk UGD kalo lo terusin," Gilang menarik dan menahan Rama sementara Andy menahan Willy.


"Ini apa-apaan lo semua main keroyokan gini?! Gue laporin guru!" ancam Inggrid berlari kecil mendekati Willy dan mendorong Andy untuk menyingkir, "awas!"


Andy bergidik melepas tangannya, sementara Dea melakukan hal yang sama dengan Gibran, tapi Rifal dan Tian bukannya menyingkir dan melepas Gibran melainkan membentak Dea, "lo diem! Kalo ngga mau ikut kena!"


"Laporin aja, paling nanti pak Marwan usut kasus Rama ilang kemarin, sekalian lapor ke polisi biar nanti kita liat siapa yang bakal ditangkap atas dugaan penculikan, pengeroyokan, percobaan pembunuhan!" ujar Tian.


Inggrid dan Dea melotot, "apa. Lebay banget pembunuhan!"


"Emang lo semua rencanain nyulik Rama terus bawa dia ke rumah ngga berpenghuni buat digebukin kan? Kalo Rama sampe ngga selamet, apa namanya kalo bukan percobaan pembunuhan?!" tantang Bayu membuat mereka seketika tak bisa membalas.


"Bay, mulut betina gitu ngga usah dilayanin lah, percuma." sahut Gilang.


"Abisnya gue lama-lama gemes juga. Nih cewek 2 mulutnya astagfirullah!" jawab Bayu.


"Rujak aja Bay, rujak bareng cingur!" tawa Vian.


Tanpa mereka sadari di balik tembok tempat mereka bertengkar ada dua orang yang melihat dan mendengar semuanya, Vina menatap Nara nanar, "Ra-" ia menyentuh pundak Nara.


"Gue ngga apa-apa Vin," jawab Nara.


Nara meloloskan nafas beratnya berkali-kali, entah bagaimana perasaannya sekarang ini, dengan seluruh kegugupan dan kegetiran ia muncul dari balik tembok, di susul Vina di belakangnya.


"Tian, tadi Tasya nyariin---" ucapnya membuat semua yang ada disana seketika menoleh.


"Nara?!"


Gadis itu tak berani melihat siapapun disana, ia lebih memilih menunduk, "kalo gitu gue duluan, kayanya lo semua lagi punya urusan, sorry ganggu."


"Ra---" Rama segera menyusul dengan langkah besarnya.


"Ra, tunggu!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2