
Dan mimpi buruk MIPA 3 tentang apa yang dikatakan Dea benar semuanya, tak ada yang luput dari semua yang disampaikan. Menyesal tak percaya? Penyesalan memang selalu datang di akhir bukan? Tapi ini bukan akhir segalanya.
"Telfon Dea!"
Beberapa kali Rifal mencoba menghubungi Dea tapi tak diangkat, lalu kemanakah ia? Terakhir kali ia menemui Dea, saat gadis itu mengatakan semua informasi dan membeli roti bakar, ia bilang akan pergi ke Ciwidey bersama keluarganya.
"Dea pergi ke Ciwidey sama keluarganya, dia ada bilang sama gue ijin sekolah beberapa hari...katanya," Rifal mengingat jelas setiap kata yang diucapkan gadis itu. Gue ngga mau liat Inggrid sama yang lain waktu jahatin Rama sama Nara.
Itu kenapa Dea mematikan ponselnya, agar Inggrid cs tak menghubunginya. Dea tak ingin ikut terlibat dalam kriminalitas.
🍃🍃🍃🍃
Gadis itu menghirup nafas dalam-dalam, udara disini masih terasa sejuk di pagi hari bagus untuk kesehatannya, "tumben Gibran ngga ada krang--kring--krang---kring? Biasanya si centil juga udah jenger De, De...Lo dimana?!" tanya mama menirukan gaya bicara Inggrid yang mama Dea sebut si centil.
Dea menggeleng, "engga ma, orang hapenya Dea matiin. Pusing lah kalo yang diomongin itu-itu wae, pengen istirahat dulu...biar nanti sekolah bisa pulih lagi,"
Mama yang ingin kembali ke dapur melirik Dea sekilas, "kupluk siapa? Kamu beli baru?" tanya mama meneliti kupluk yang selalu dipakai Dea.
"Ayo tebakkk, tebak-tebak buah manggis!" tawanya berseloroh memeluk pinggang mama.
"A Huda kapan sampe ma? Terus acara jam berapa?" tanya nya masuk meninggalkan teras belakang, meninggalkan sejenak pikirannya tentang Inggrid, Gibran, Willy, Nara, Rama....Rifal.
2 hari, kepala Rifal selalu refleks menatap ke arah MIPA 2 berharap jika gadis k-pop itu bersekolah. Gadis yang kini ia percaya memang baik.
*De, aku kangen*...
Kembali Rifal merasakan rindu yang sudah lama tak pernah ia rasakan lagi selepas kepergian Hana. Disaat kebingungan rupanya Nara mendapat kabar dari nomor ponsel tak diketahui dan itu rupanya Deanada.
"Lang!" Nara berbicara bersama Gilang, Rifal ikut bergabung.
"Dea ada telfon kemaren sama gue, kasih tau semua rencana Inggrid sama Kenzi, dan ini rencananya... gue mesti ikut rencana Inggrid sama Kenzi buat ikut ke mall, terus sengaja be go dengan ngikut Inggrid ke rumah Kenzi, biar disana dapet bukti buat bantu Rama keluar dari kantor polisi atas tuduhan kasus narkoba...nanti gue minta Gilang sama yang lain buat ikutin dan awasin juga gue, sebagian ke kantor polisi dan stay disana."
.
.
.
Dea meloloskan nafas panjang dan lelah, entah apa yang sedang terjadi di sekolah sana, bagaimana nasib Inggrid, Gibran dan Willy, atau Nara dan Ramadhan, ia hanya berdo'a semuanya akan baik-baik saja. Dea mengusap ponsel hingga layar mulus itu bersih berbayang mengembun. Ia tau Inggrid dan Gibran memang minus akhlak, tapi mereka adalah orang-orang pertama yang mau menerima seorang Deanada Kharisma meskipun Dea harus melakukan perubahan di dirinya terutama sifat angkuh dan centilnya itu.
Dea memutuskan menghidupkan kembali ponsel saat ia sudah akan kembali pulang. Ia siap diserbu dengan rentetan chat dan panggilan dari teman-temannya, termasuk puluhan kali panggilan tak terjawab dari Rifal. Satu yang Dea tau, Rama sudah keluar dari kantor polisi, bergantian Kenzi dan Inggrid yang kini masuk.
"Gimana Inggrid?" tanya Dea melakukan panggilan.
__ADS_1
Sebagai seorang teman yang selalu ada di kala susah, sepulang dari Ciwidey...Dea langsung meluncur menuju kantor polisi, dimana Inggrid masih menjadi saksi pelaku.
"Inggrid,"
"De!" gadis itu menghambur memeluk Dea seraya menangis. Dea membalas pelukan Inggrid, "lo sekarang tau kan gimana Kenzi, lo ngga apa-apa kan? Gue takut lo di apa-apain Kenzi, Grid..."
"Kenzi sakit tau ngga! Dia tuh psycho, terobsesi sama Nara! Dia ngga sayang gue De, cuma manfaatin gue doang," hardik Inggrid seraya menangis memeluk Dea.
"Iya Ing, sabar ya...cowok masih banyak." Jawab Dea melirik Gibran dan Willy yang juga disana.
"Janji sama gue, lo jangan pernah pacaran sama anak begundal-begundal De, yang keliatannya baik aja kaya gitu, apalagi yang begundal!" omel Inggrid membuat Dea mengernyit.
"Apa sih Ing, kayanya nih anak udah ngigo deh karena stress pacarnya penyakit mental!" Dea tertawa.
"Udah sehat kan lo, De?" tanya Gibran.
"Besok masuk dong De?" Willy ikut mengusap punggung Dea. Dea mengangguk pasti.
Titt!
Gadis itu berlari dan mencomot roti juga menyeruput susu, "pelan-pelan atuh neng, nanti keselek!"
"Udah telat ma, Dea pergi dulu! Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, inhaler awas lupa!" mama mengingatkan, gadis itu menoleh dan mengangkat jempolnya di udara.
"Dea! Buru!" Gibran masuk ke jok depan, samping pengemudi.
"Iya!" Teriak Dea, ia pun masuk ke jok belakang duduk bersama Inggrid.
"Jangan lupa, bilang maaf sama Nara, baby..." Dea mengingatkan pada Inggrid, sontak saja bibir gadis itu langsung mengerucut, "ck! Tapi Nara doang, ogah sama si Rama! Orang gue ngga salah apapun kok sama dia,"
"Iya, serah lo."
"Haduhhh, gue ogahlah masuk MIPA 3! Lo berdua aja," decak Gibran yang masih merasa gengsi untuk bertemu dengan kelas rival.
__ADS_1
"Biar gue temenin," jawab Dea.
"Lo kenapa De, abis sakit otak langsung kesetrum ya? Tumben amat baik?" tanya Gibran mengehkeh.
Dea menggeleng, "engga. Sekolah kan bentar lagi, apa iya masih mau punya dendam sama orang?"
Willy tertawa, "weheyyy kayanya ada yang abis insyaf?!"
"Cih, si alan!" Dea mendorong kepala Willy.
Rifal bisa tersenyum pasalnya saat ia melintasi kelas MIPA 2, wajah si cantik manis itu sudah kembali bisa ia lihat. Dan beruntungnya ia, di jam istirahat Inggrid dan Deanada menyongsong ke arah kelas MIPA 3.
"Apes banget gue, kenapa pas lagi ngumpul gitu sih?!" ujar Inggrid hampir membalikkan badan mengurungkan niatan meminta maafnya.
"Eits! Kemana? Nara satu komplek, masa iya nanti lebaran ngga mau salaman?" ujar Dea.
"Sutt!" Tian menyikut Rama dan Gilang melihat kedatangan Inggrid dan Dea. Rifal yang kala itu ada disana ikut berbinar, "aya Jenny Blackpink!" tawa Rio.
"Ekhem! Mau ngapain, ngajakin ke kantor polisi?! Atau ke villa si koko," cibir Andy. Inggrid sudah mengepalkan tangannya.
"Sorry gue mau ketemu Narasheila, bukan mau berantem," tukas Dea memotong bibit-bibit perselisihan, ia memilih untuk tak melihat Rifal, karena jujur saja ia tak mau jika sampai tiba-tiba saja pipinya merona atau teman-teman curiga kalau ia dan Rifal....
"Dea?" sapa Nara yang menghampiri keluar kelas.
"Hay Ra,"
"Ra, gue..." Inggrid menarik Nara untuk lebih jauh dari Rama cs.
"De, thanks..." cicit Rama.
"No problem, gue tau lo semua orang baik. Gue cuma pengen Inggrid sadar, tapi kayanya sampai kapanpun dia ngga akan pernah sadar..." Dea tertawa sumbang.
"De! Buru, ngapain sih lama-lama disitu, gatel! Jangan sampe lo ketularan Nara juga ya, deket-deket sama anak sini, BIG NO DEA...GUE NGGA IKHLAS !" teriak si centil Inggrid dengan nada sewot. Nara tertawa kecil mendengar omelan si centil Inggrid.
"Naon atuh neng, kenapa emangnya kalo deket kita, kita-kita mah bukan ulet bulu?!" seloroh Fajar dan Vian tertawa menggoda Inggrid. Sementara Dea menatap Rifal nyalang begitupun Rifal yang tak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Dea.
I'm so sorry, Fal...
I always waiting...
Mata keduanya sudah berbicara, Inggrid menarik Dea kasar untuk menjauh.
"Iya Ing---Iya..." jawab Dea.
Nara menepuk Rifal, "tantangan berat om Fal," gadis itu masuk kembali ke kelas.
"Sayang ngamar yuk! Eh ngantin!" teriak Rama.
.
.
.
.
Note :
__ADS_1
* Jenger : memekakkan telinga.