Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : KEMBALINYA RAMA


__ADS_3

Nara berjalan sepaket dengan ssmua kebingungannya, pikiran dan otaknya terus berputar kaya gasing, tentang dimana Rama. Hujan sudah mulai mereda, hingga suara Mita yang berteriak terdengar begitu jelas di pendengaran memanggil namanya, "Ra! Nara!"


"Rama udah balik, Ra!"


Nara terkejut sekaligus lega, ia berlari kecil masuk ke halaman villa tempatnya menginap.


"Gimana, gimana?" sampai-sampai Nara tak percaya dengan yang diucapkan Mita tadi, pasalnya wajah Mita bukan senang melainkan terlihat panik, ia menarik tangan Nara, " Rama dah balik, tapi----ah liat aja lah sendiri!" ucapnya frustasi.


Nara berjalan cepat ke arah kamar Rama yang sudah dipenuhi anak MIPA 3, disana juga ada bu Hilda dan pak Marwan.


"Kamu darimana, Ra? Rama balik barusan ditolong sama Gilang dan yang lain," Vina terlihat membawa serta kotak P3K. Alis Nara sampai berkerut mendengarnya, ditolong dari apa?


"Misi," Nara meminta anak-anak yang lain menyingkir. Langkahnya terhenti saat melihat orang yang sepanjang sore hingga malam ini di cari-carinya sedang terduduk di ranjang dengan luka robek dan lebam di hampir sekujur tubuhnya ditambah noda da rah dan tanah di pakaiannya.


"Ya Allah, Rama!" lirihnya melihat Rama sedang diobati oleh bu Hilda. Ia sedikit meringis saat bu Hilda membersihkan kotoran dari luka-lukanya dengan handuk kecil dan air hangat bersama Rika yang memegang baskomnya.


"Aduh Rama, kenapa bisa sampai gini Ram," tanya bu Hilda.


Sementara pak Marwan sedang mengobrol dengan Gilang dan anak MIPA 3 lain.


"Harus diusut kayanya," ujar pak Marwan.


Mereka menoleh pada Nara, "Ra, aku ngga apa-apa. Kamu darimana? Udah makan?" tanya nya yang masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan Nara.


"Bu, udah bu ngga apa-apa biar sama temen-temen aja, udah malem, ibu istirahat aja," ucapnya pada bu Hilda.


"Yakin? Ini tinggal ibu pakein plester sama obat merah---ke rumah sakit ya Ram?" ujar bu Hilda nampak khawatir.


"Yakin bu, segini mah luka kecil buat saya." Ia malah terkekeh seolah-olah hanya luka bekas irisan pisau saja.


"Ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja. Pak Marwan, apa besok dibawa saja ke rumah sakit?" tanya bu Hilda melirik pak Marwan.


"Boleh, takut kenapa-napa," jawabnya.


"Ngga usah pak, bu---saya cuma butuh istirahat aja!" Tukas Rama.


"Ya sudah kalau begitu, tapi kalau terjadi sesuatu langsung ke klinik terdekat ya." Pinta pak Marwan diangguki Rama.


"Karena ini sudah malam baiknya semua istirahat. Bubar-bubar !" pinta pak Marwan pada semua siswa yang melihat. Para siswa membubarkan diri terutama yang kamarnya bukan disini.


"Kalian kenapa masih bengong disini?" tanya pak Marwan menurunkan kacamata sebatas pangkah hidung melihat Nara, Vina, Rika dan Mita.


"Ah si bapak, kan filmnya belum udahan. Kan belum tau Rama kenapa!" jawab Vina, sontak saja ditertawai Rika dan Mita, tapi tidak dengan Nara yang tatapannya jatuh pada Rama sampai tak berkedip.


"Dasar, udah bubar. Sana masuk kamar masing-masing, besok masih ada kegiatan lain."


"Ah bapak ngga asik!" ujar Muti.


"Bubar yank! Yuk kuanter ke kamar pengantin!" kelakar Yusuf.


"Huu!" Tian mendorong kepalanya.


"Nara,"


"Iya pak," Nara mengalihkan pandangannya dan hendak pergi.


"Pak, bisa biarin Nara disini dulu sebentar. Ngga cuma berdua kok pak. Ditemenin yang lain pintunya dibuka---ada perlu sebentar," pinta Rama.


"Ngga bisa besok aja?" tanya bu Hilda.


"Takut lupa," jawabnya singkat, pak Marwan dan bu Hilda saling pandang, "ingat jangan berduaan---jangan terlalu malam," jawab pak Marwan.


"Siap pak, bu!"

__ADS_1


"Yang lain silahkan istirahat di tempat masing-masing!" kedua guru itu keluar dari kamar.


"Bro, bisa minta waktunya sebentar?" pinta Rama pada beberapa yang masih di dalam kamar.


"Ngerti lah, kita di gawang pintu aja. Takut ada setan masuk!" jawab Ridwan.


"Oke!" balas Rama. Nara duduk di tepian ranjang samping Rama tanpa berkata-kata, tangannya terulur mengambil handuk kecil di dalam baskom lalu menyapukannya ke seluruh permukaan kulit tangan dan wajah Rama yang masih terdapat noda darah dan tanah.


Nara mengoleskan salep dan obat merah pada luka-luka Rama, memasangkan plester di beberapa luka kecil dan kain kasa di luka besar.


"Vina, bisa minta tolong ambilin air minum?" pinta Nara, pandangan Rama tak lepas dari Nara yang merawatnya seperti sosok ambu.


"Oke," jawab Vina dari ambang pintu beranjak.


"Anget ya!" tambah Nara.


"Hm, udah siap jadi calon istri yank?" kekehnya mendapat sorotan tajam dari Nara.


"Gue kira lo tepar Ram," senyum miring jelas tercetak dari bibir Rifal yang duduk bersandar di dinding kamar dekat ambang pintu kamar.


"Hm, ngga ada sejarahnya Rama tepar!" jawab Rama jumawa seraya cengengesan.


Nara mencubit pinggang Rama, "aw! Yank,"


"Jangan dicubit, Ra! Tampol aja sekalian sampe Jogja," ucap Vina ikut kesal dengan Rama, ia menyerahkan segelas air putih hangat.


"Jauh amat ke Jawa mau apa?" tanya Ridwan.


"Mau jajan bakpia," kekeh Bayu.


Nara menatap sengit Rama, "kamu tau ngga, aku nyariin kamu dari tadi sore?! Baru tadi sore kamu janji bakal kasih kabar kalo pergi, tapi kamu boong. Aku cari kamu sepanjang sore sampe malem tapi pulang-pulang kamu kaya gini, masih sempetnya cengengesan lagi!" cecar Nara.


"Iya maaf yank," balasnya.


"Abis ngapain?"


"Kenapa bisa kaya gini?" Nara memberondongnya dengan pertanyaan.


"Satu-satu atuh yank, nanya nya."


Gadis itu menghela nafasnya, "kamu abis darimana?" tanya Nara mengulang, sepertinya memang menghadapi Rama harus memiliki kesabaran seluas samudra.


"Dari---kebun teh," jawabnya bernada seperti menjawab kuis berhadiah.


"Ngapain?"


"Abis ketemu venom," kekehnya bercanda. Anak-anak yang berada di gawang pintu tak kuat menahan tawa.


"Ihhh, Ramadhan!" Nara melotot, bola matanya seperti ingin keluar dari tempatnya.


Gilang dan teman yang lain tau Rama mempunyai alasan kenapa ia tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya pada Nara, mereka begitu mengenal satu sama lain.


"Kenapa bisa kaya gini?" tanya Nara lagi, matanya bahkan sudah menatap tajam pada Rama.


"Dihajar venom, terus jatoh di kebun teh, guling-guling kaya Rahul sama Anjeli," ucapnya lagi. Mereka kembali tertawa mendengarnya.


Sudah cukup! Nara meletakkan kotak obat dan beranjak dari ranjang, wajahnya sudah benar-benar keruh.


"Iya---iya maaf. Tunggu atuh, mau kemana ih! Jangan marah," ia menahan tangan Nara, namun Nara menghempaskannya.


"Udah lah, aku ngantuk!"


Ia berusaha bangkit mengejar Nara, "kamu tega apa ninggalin aku lagi sakit gini," ucapnya lagi menahan Nara.

__ADS_1


"Aku tau kamu marah yank, maaf! Tadi emang aku dari kebun teh. Aku abis dikeroyok, anak MIPA 3 yang nolongin aku," ucap Rama dengan tatapan penuh harapan meminta kepercayaan dari Nara.


"Dikeroyok sama siapa ?" Nara bertanya namun Rama hanya diam.


Nara beralih pada mereka yang sedang di ambang pintu, "siapa, Lang? bilang sama aku?"


"Fal! Siapa? Tian, Rama dikeroyok siapa?!" tanya Nara menyentuh Tian, dan Gilang.


"Yang, jangan pegang-pegang Gilang," ucap Rama meraih tangan Nara.


"Bukan mahrom-nya...."


"Terus ini apa?" tanya Nara menunjuk tangan Rama yang memegang tangannya.


"Kan kamu mah calon mahrom aku," jawabnya.


"Baru calon kan?" tanya Nara, ia terkekeh. Nara tau jika Rama sedang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Lang?" Nara kembali menatap Gilang, tapi mereka seolah bisu berjamaah.


"Udah lah yank, ngga usah bawa-bawa yang lain, mereka ngga tau apa-apa, tanya aja aku!" ucapnya.


"Tapi jangan venom lagi jawabannya!" ketus Nara.


"Oke, kalo gitu temennya joker... " jawab pemuda itu, Gilang dan yang lain tak bisa untuk tidak tertawa.


Ingin rasanya Nara hantam lagi kepala pacarnya itu pake kursi. Melihat wajah tak bersahabat dari Nara, Rama langsung mencubit pipinya pelan," iya kamu jokernya!" sarkas Nara, mereka kembali tertawa.


"Yank, siapapun yang ngeroyok aku ngga penting, selama aku masih selamat dan ada disini. Biar masalah ini jadi urusan aku sama yang lain. Ngga usah kamu pikirin," ia mengacak rambut Nara gemas.


"Udah malem, aku juga cape banget, temenin sebentar mau ngga? Kelonin!" mohonnya seperti anak kecil.


"Hemmm, modusnya!" ejek Vina.


"Ram, liat atuh Ram...jiwa kejombloanku meronta-ronta!" ujar Vian dan Tian.


Nara duduk di tepian ranjang, memposisikan bantal senyaman mungkin layaknya seorang suster. Rama yang terkikik sendiri kini naik ke atas kasur dan merebahkan badannya.


"Aku ngga bisa lama-lama, nanti bu Hilda sama pak Marwan balik lagi. Kamu istirahat, lain kali jangan gini lagi!" ia mengusap rambut Rama layaknya seorang ibu pada anaknya dari samping ranjang.


"Siap yank,"


Hingga tak lama pemuda itu benar-benar tertidur.


"Liat Rama merem gitu gue jadi ngantuk lah!" ujar Tian.


"Gue balik ke kamar lah," timpal Vian.


Diliriknya jam yang menunjukkan pukul setengah sebelas malam, Nara beranjak dari sana, Gilang juga nampak terantuk-antuk di bawah sana meskipun Ridwan dan Bayu masih terjaga.


Kakinya sempat menginjak jaket Rama yang teronggok di bawah ranjang secara sembarang, dipungutnya jaket itu menampakkan noda da rah dan bekas kotor, ada pula bekas robekan disana. Nara menaruhnya diatas tas milik Rama yang ada di pojokan kamar.


"Bay, Wan---gue balik ke kamar ya!"


"Oke Ra," mereka menutup pintu setelah Nara keluar.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2