Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : THE NEXT KAHLIL GIBRAN


__ADS_3

Nara sampai membawa rambut ke belakang telinganya, menjernihkan pendengaran kali aja kotoran telinga terlalu banyak ngendap jadi ia salah dengar. Tau sih, sesama manusia harus saling tolong menolong, khatam! Ada kok di pelajaran PKN dari kelas 1 SD sampe SMA, tapi apakah kehadirannya dianggap nyamuk aedes disini?


Nara mengalihkan pandangannya ke arah Rama, dengan santainya pemuda itu mendekati motor Kirana.


"Oh iya, kempes tuh! Sebentar," ucap Rama sambil merogoh sakunya demi mengambil ponsel.


Sekitar 3 menit kedua gadis ini mengernyit dengan ekspresi berbeda, Kirana dengan senyuman lebarnya dan Nara sudah manyun nan kecut, "assalamu'alaikum, kang Wan! Bisa minta tolong, ini depan pos satpam komplek Permata Biru. Biasalah, ban motor bocor !"


(..)


"Oke lah kang, diantos! (ditunggu) assalamu'alaikum."


Rama mengakhiri telfonnya dan menatap kedua gadis yang masih sibuk bengong melihatnya, senyum Kirana pudar macam tatto temporer, sementara Nara kini mengulum bibir. Keputusan Rama diluar dugaan siapapun saat ini.


"Ram, kenapa ngga bantuin bawa motornya ke bengkel aja sih?! Biar lebih efisien!" ucap Kirana sedikit memaksa, mata Nara langsung meng-elang mendengar permintaan Kirana yang terkesan meminta tolong tapi memaksa.


Tapi dengan santainya Rama menjawab dengan mengulas senyuman tipis, "lagi jaga perasaan pacar soalnya."


Nara sampai menutup mulut dengan sebelah tangan merasa specchless apalagi melihat reaksi syok Kirana, yang sudah merasa diatas angin namun ia jatuhkan.


Raut wajah Kirana tertunduk sendu, ia tersenyum namun terlihat jelas senyuman menahan luka.


Kurang lebih 15 menit mereka menunggu, dengan Rama dan Nara yang saling melempar candaan, membuat Kirana bak obat nyamuk, "Kang!" pekik Rama melambaikan tangannya kepada laki-laki dengan usianya sekitar 20 tahunan datang menggunakan sdpeda motor bebek, membawa sepaket perlengkapan tambal ban.


"Ini kang motor yang bannya bocor. Nah kalau memang perlu dibawa ke bengkel ente bawalah, ane sibuk. Mau pacaran..." kekeh Rama seraya menggandeng tangan Nara.


"Cih, gayana! Emangnya ente punya pacar ? Perasaan selama ane kenal ente. Antum ngga pernah punya pacar !" goda kang Wawan.


"Ini yang disebelah," tunjuknya pada Nara.


"Cantik ngga ?" bisiknya lirih.


Kang wawan mengangguk seraya terkekeh, "cantik lah, bisaan cari pacarnya mah!"


"Cantik ya, malaikat aja sampe minder kang! Katanya silau sama cantiknya---"


"Dasar gila," Nara justru mendesis dengan pujian berlebihan itu.


"Budak cina---eh cinta! Hati-hati neng, dia mah kadal!"


"Situ kan bapaknya," timpal Rama.

__ADS_1


"Nara," Nara memperkenalkan dirinya.


"Wawan, just Wawan ngga pake Budiawan, apalagi jutawan!" balasnya berkelakar.


"Ya udah atuh kang Wan, ditinggal dulu ya! Kalau ada apa-apa sama motor dia kabari aja...." ia menjeda saat memasangkan helm di kepala Nara.


"Bapaknya dia atuh, masa kabari saya!" tunjuk Rama pada Kirana, dan Nara benar-benar menyemburkan tawanya atas aksi konyol Rama yang berhasil membuat Kirana manyun sampai seperti lokomotif kereta, kayanya nanti sesampainya di rumah gadis itu akan mewek guling-guling.


Nara melirik sekilas ke arah Kirana, wajahnya telah memerah bak kepiting rebus.


"Kita jalan dulu Kirana, kang Wan. Hati-hati berdua-duaan yang ketiga---odgj! Assalamu'alaikum...." salamnya, sementara Nara tak henti-hentinya tertawa.


"Wa'alaikumsalam...."


"Kamu ih!" tepuknya di pundak Rama.


"Eh kenapa? Ketawa sendiri, terus tiba-tiba mukul, jadi ngeri!" ucap Rama sesekali ia menengok ke kanan melihat Nara.


"Ngga apa-apa," Nara menyudahi tawanya.


"Ram, boleh aku nanya?" gadis itu mengeratkan pelukannya di perut Rama sambil menaruh dagunya di bahu pemuda ini, sepertinya posisi ini akan menjadi tempat favorit Nara.


"Apa ?"


"Ih, udah dibilangin juga aku lagi jaga perasaan pacar. Lagian, emang kamu yakin mau ditinggal, kalo aku sih ngga apa-apa ya, atau kita mau puter balik nih buat nolong Kirana?" tawarnya menghentikan laju motor.


Sontak Nara langsung menegakkan posisinya, "dihhh engga, coba aja kalo berani aku timpuk pake sepatu mama yang ada haknya!" Rama cengengesan mendengar penolakan cepat Nara.


"Nah itu kamu tau jawabannya, daripada nanti kepalaku yang benjol mendingan aku suruh orang lain aja yang bantu ...."


"Segitu juga aku udah bantu loh! Bantuin nelfon kang Wawan... bantu sesama itu memang kewajiban tapi jaga perasaan orang yang disayang juga penting, balasannya masa depan dan keselamatan. Kalo kita ngga bijak bisa-bisa besok aku udah terkapar di rumah sakit gara-gara benjol!" godanya.


"Dih, masa iya cuma benjol aja sampai masuk rumah sakit, lebay amat!" protes Nara.


Rama kembali melajukan motornya menembus jalanan kota Bandung yang memang selalu sibuk.


"Ram," Nara kembali memeluk dan kini menyandarkan kepalanya di punggung yang sandarable.


"Hm,"


"Kenapa kamu bisa suka sama aku, dan milih aku buat jadi pacar kamu?" tanya Nara, bila mengingat Kirana tadi, gadis itu cukup cantik, mengenal Rama lebih lama ketimbang dirinya.

__ADS_1


Motor berhenti di sebuah parkiran sebuah taman, "turun dulu. Kita diem dulu disini lah ya?!" ucapnya.


"Boleh!" Nara mengedarkan pandangan ke sekitar. Setelah memarkirkan motornya, pemuda itu membawanya duduk di salah satu undakan tangga yang tersedia di taman kota.


"Jawab dulu kek, jangan digantung ini hati orang bukan jemuran," sindir Nara.


Rama melengkungkan bibirnya, "aku gak suka sama kamu," jawabnya datar.


"Terus ?"


"Iya aku ngga suka sama kamu, tapi sayang, cinta---" jawabnya.


"Sama aja dodol !" jawab Nara.


"Beda lah, kalo suka mah cuman seneng aja bisa kenal atau bisa deket, suka mah....aku sama semua orang sekitar ku juga suka. sama tukang batagor aku suka, sama ibu kantin aku suka, satpam sekolah aku suka, kalo aku macarin kamu cuman karena suka kenapa ngga sekalian aja aku macarin tukang batagor sama tukang cilok yang aku pun suka?!" jawabnya. Nara menggaruk kepalanya tak gatal jadi ikut-ikutan berpikir, yang ia katakan ya memang benar juga, tapi kok ya ikut-ikutan sableng.


"Kalo sayang atau cinta?" tanya Nara lagi .


"Cinta itu ketika kamu bersama dia kamu ngga bisa mengontrol merah merona diwajah kamu karena dia, ngga bisa mengontrol vibes yang sering melanda di hati kamu saat bareng dia, sayang itu---ngga mau dia sampe kenapa-napa, seneng kalau dia seneng, sedih kalau dia juga sedih---" jelas Rama menatap manik mata Nara dalam, membuat kedua pasang mata mereka saling pandang dalam ombak kasih sayang. Masa muda----masa bernuansa warna pink, semuanya indah dan hangat.


Nara mengerjap beberapa kali meraup kesadaran sepenuhnya, "terus alasan kamu cinta sama aku apa ?" tanya Nara lagi, yang masih belum menemukan jawaban.


Rama kembali menarik nafas dan membuangnya mirip ibu yang mau melahirkan, sepertinya memang benar wanita itu makhluk paling ribet...mereka selalu menginginkan sebuah pernyataan agar merasa lega, tak cukup dengan bukti, tapi harus diperkuat dengan lisan.


"Emangnya cinta butuh alasan? Emangnya mencintai seseorang harus memiliki alasan?" bukannya menjawab tapi Rama malah balik bertanya.


Nara terdiam karena ia pun tak tau jawabannya.


"Nah kan! Kamu aja ga tau," kekehnya melihat kebingungan Nara yang menurut nya terlihat menggemaskan. Ia mencubit kedua pipi Nara pelan.


"Cinta itu tak butuh alasan dan tidak pula bersyarat, alasannya cuma hati kita aja yang tau ...." dengan menepuk-nepuk dadanya pelan, brotherhood.


"Cih, puitis---the next Kahlil Gibran nih yeee!" cibir Nara.


"Nanti deh aku tanyain sama hatiku kenapa dia bisa cinta sama kamu? Kenapa dia cuma deg-degan kalo liat kamu, kenapa dia marah kalo liat kamu ketawa dan deket sama laki laki lain." tambahnya lagi.


"Udah ah! Aku cape ngomong terus cari makan yuu! Ngomongin beginian bikin perut langsung kosong," ajaknya meraih tangan Nara demi mencari gerombolan pedagang kaki lima.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2