Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA- NARA : SAKIT


__ADS_3

"Iya lah, bohong. Kamu ngga sadar lagi dibohongin? Pacar macam apa yang tega bohongin pacar sendiri?"


"Ra," Gilang menghampiri keduanya sepaket tatapan menukik pada Kenzi.


"Gue kira lo di kantin sama yang lain," terlihat Gilang yang kini waspada terhadap Kenzi, melemparkan sorot mata penuh ancaman.


"Iya, barusan ada kelupaan mau nyari buku di perpus. Kenapa emangnya Lang?" tanya Nara.


"Ngga apa-apa, Rama ngasih amanah sama gue Ra, buat jagain lo kalo dia lagi ngga ada," jelas Gilang, tapi jelas disini maksud Gilang adalah menjaga Nara dari pemuda macam Kenzi.


Kenzi kembali tertawa sumbang, "oh, jadi ini kacung nya Ramadhan?" tunjuknya sekilas pada Gilang.


"Heh, jaga ngomong lo!" Gilang yang langsung emosi memangkas jaraknya dengan Kenzi.


"Lang, santai dulu." Nara menarik tangan Gilang, tak mengerti kenapa Gilang bisa seemosi ini melihat Kenzi.


"Ngga usah di dengerin Lang," lanjut Nara.


"Ken, please ! Aku minta sama kamu, disini kamu murid baru stop cari masalah Ken," pinta Nara pada Kenzi yang terlihat tersenyum puas. Seolah sorot mata Gilang dan Kenzi sedang bertengkar di depan Nara sekarang.


Kenzi dengan tanpa menurunkan sorot matanya menatap Gilang dengan senyuman smirk, "gue rasa lo juga tau, kenapa Ramadhan hari ini dan 3 hari kedepan ngga bakalan ada di sekolah," tatapan dan senyuman Kenzi seperti sedang menyerang Gilang.


Nara mengerutkan dahi, "3 hari ke depan? Kenapa kamu tau," Nara berganti menatap Gilang, "Lang, ada apa?"


Tapi dari kedua pemuda itu tak ada yang menjawab pertanyaan Nara, hingga akhirnya Nara kesal sendiri merasa tak diindahkan.


Nara melihat Kenzi dan Gilang bergantian, "kalo kalian mau tatap-tatapan besok aku ajuin proposal sama kepsek buat diadain lombanya!" ujar Nara sengit.


"Waw, jadi kalian sengaja ngga ngasih tau Nara? Hey jo ngos, Nara nanya tuh, nah lo jelasin deh tuh! Ra, aku balik ke kelas ya. duluan!" pamit Kenzi memutus kontak mata Gilang, dengan gaya angkuh ia berlalu meninggalkan Nara dan Gilang.


"Lang bisa jelasin, ada apa ini sebenarnya?"


"Gini deh, takutnya gue salah ngomong. Ada baiknya lo tau sendiri dari Rama, nanti balik sekolah Rama ada jemput kan?"


Nara mengerutkan dahinya tak percaya, lantas gadis itu meninggalkan Gilang dengan perasaan dongkol dan kecewa. Seolah ia orang paling naif dan tak dibutuhkan, ditambah rasa panas dingin di tubuhnya juga pusing yang semakin mendera.



"Ra, ijin aja atuh." Bisik Mita, berkali-kali ia menempelkan punggung tangannya di kening Nara, lalu berpindah ke leher.



"Ngga apa-apa Ta, aku masih oke kok. Toh bentar lagi juga pulang," jawab Nara. Mita tampak saling melempar tatapan dengan Vina dan Rika.



"Kenapa?" tanya Vina tak bersuara.



"Sakit," jawab Mita.



Bel pulang berbunyi.



"Wah pulang oy! Pulang!" seruan mereka.



"Mari pulang! Marilah pulang, marilah pulang bersama-sama!"



"Berisik ih! Meni kaya anak Tk!"



"Gilang sipatu Bayu! Gilang Si Rama, Ridwan," Yusuf bernyanyi bahkan membuat mereka melemparkan sampah padanya.



"Anak durjana!" tawa Tian.



Satu persatu anak MIPA 3 sudah keluar dari kandangnya

__ADS_1



"Kalian duluan aja, gue pengen ke toilet sebentar," dengan gerakan menutup resleting tas, Nara meminta yang lain duluan.



"Mau gue anter ngga, Ra?" tanya Vina khawatir, melihat gadis ini sudah bermandikan keringat dingin.



"Engga, ini cuma gerah aja,"



Vina, Rika dan Mita saling lirik.


"Beneran?" tanya mereka diangguki Nara.



"Lang, duluan aja!" pinta Nara.



"Oke, gue tunggu di parkiran. Atau di warung babeh?" tanya Gilang.



"Warung babeh aja, Lang."



"Ra, duluan kalo gitu!" teriak mereka.



Gilang menarik tangan Vina agar menahannya sebentar, membiarkan teman-teman yang lain duluan.



"Sat, eh---" umpatnya refleks, ia langsung nyengir meringis.




"Iya. Kenapa?"



"Pulang dulu sama yang lain, atau mau tunggu? Kalo kelamaan pulang aja duluan, kasian Nara---kayanya lagi ada masalah sama Rama," ujar Gilang.



"Ck, kenapa lagi sih. Kenapa ngga bilang aja atuh sama Nara kalo Rama teh diskors gara-gara si koko?!" sewot Vina.



"Ngga tau. Ya udah cepet. Tuh ditinggal!" tunjuk Gilang.



"Ish iya ah!" tanpa banyak basa-basi atau berdadah manja, Vina berlari menyusul Rika dan Mita meninggalkan Gilang.



Nara merogoh ponselnya yang bergetar



*Rama memanggil*....



"Rama udah nunggu kayanya," sengaja gadis itu tak berniat mengangkat panggilan Rama dan lebih memilih memasukan ponsel ke dalam tas, sebagai tindakan pembalasan karena sudah berbohong, ia bahkan mematikan ponselnya sebelum dimasukkan.



Nara mengambil buku perpus yang tadi ia simpan di bawah bangku. Baru saja ia hendak beranjak dari bangku, mendadak penglihatannya buram dan redup, kepalanya terasa berputar bak gasing.

__ADS_1



Ia kemudian mendudukan diri terlebih dahulu sejenak.



"Lemes banget badan gue ini," seketika pandangannya kabur dan gelap, yang ia rasakan saat ini ketika badannya terkulai lemas, ia tidak terjatuh ke lantai.



Berulang kali Rama menghubungi Nara, ia sudah berada di warung babeh sejak sejam yang lalu. Bersama dengan anak pemilik warung ia malah bermain playstation.


"Ini Nara kemana?" gumamnya.


Gilang terlihat datang bersama yang lain dari arah sekolah.


"Nara mana, Lang?" tanya Rama to the point.


"Tadi mah nyuruh duluan,"


"Ke toilet dulu Ram," jawab Vina yang tak sengaja melintas.


"Tapi kayanya Nara sakit deh Ram," imbuh Mita.


"Hooh lah, pantesan mama diem! Mama ucup sakit," sahut Yusuf.


"Oh, Nara sakit?" tanya Bayu mencomot gorengan dingin yang ada di baki warung.


"Balik lagi atuh, takut kenapa-napa," timpal Ridwan.


"Kenapa ditinggalin atuh?!" sengit Rama langsung beranjak dari duduknya menaruh stick PS.


"Sorry Ram, sorry!" Gilang yang baru saja sampai di warung kini kembali ke area sekolah bersama Gilang, menyisir setiap sudut menuju kelas.


Perasaan khawatir menggelayuti Rama.


"Tadi pamit ke toilet,"


"Di kelas dulu lah, nyarinya..." jawab Rama berlari bersama Gilang.


Belum sampai ke depan kelas MIPA 3, langkah mereka terhenti melihat Kenzi menggendong Nara keluar dari kelas MIPA 3.


"Nara?!" Rama mengeraskan rahangnya, tatapannya sengit ke arah pemuda itu.


"Lepasin Nara, biar gue aja yang bawa!"


Nara terlihat tak sadarkan diri di dalam gendongan Kenzi.


"Kalo lo ngga bisa jaga pacar sendiri, biar gue yang jaga Nara. Kalo lo pacar yang baik, Nara ngga akan sampe di tangan gue sekarang," ia tersenyum miring.


"Lepas Nara atau gue pastikan lo ngga akan nemu hari esok lagi, Ken." Ujar Rama tak main-main dengan sorot mata menajam pada Kenzi, "lo tau siapa gue Ken."


Rama mengambil alih paksa Nara dari tangan Kenzi bersama Gilang lalu segera membawa gadis itu ke uks.


"Bu,"


"Ya Allah, ini kenapa?" tanya petugas UKS yang hampir saja menutup pintu ruangan kesehatan itu.


"Masuk deh masuk!" kembali ia membuka kunci pintu dan membiarkan Rama membawa Nara ke dalam.


Wajah pucat Nara bersatu dengan keringat yang mulai mengering.


"Kenapa kamu ngga bilang kalo sakit, Ra."


Petugas penjaga uks membawa botol minyak kayu putih dari dalam lemari dan segera membuatkan teh manis hangat.


Ia menempelkan punggung tangannya di kening Nara, "lagi sakit ini kayanya ya,"


Rama refleks ikut meniru aksi petugas uks, "panas Lang," tandasnya khawatir.


"Coba dikasih ini dulu biar sadar," ia menyerahkan botol kecil berwarna hijau ke tangan Rama.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2