
Gadis itu menghabiskan pesanannya dengan hening, mirip-mirip mengheningkan cipta. Melihat Rama yang marah bikin nyalinya menciut sekecil beras.
Niat hati pengen makan enak kok berakhir eneg, fix kalo gini caranya lebih baik makan di warung baso aja, benak Nara.
"Pulang yuk! Berasa lagi di atas kompor!" keluh Nara tapi ia tak berani menatap Rama, padahal disana Rama sudah melipat bibirnya ingin tertawa gemas.
"Ya udah, tapi pamit dulu."
Nara mengiyakan, kan lumayan ketemu lagi si ganteng kalem teduh-teduh kaya payung, setidaknya ada sisi positifnya datang kesini.
Rama membawa Nara berjalan menuju meja kasir, selain untuk membayar makanan ia pamitan. Dilihatnya kang Rasya tengah mengobrol seraya melihat laptop dengan salah satu karyawannya disana.
"Kang pamit ya! Makasih kopinya,"
"Loh, kok dibayar?!" Rasya mengerutkan dahinya saat Rama menerima struk pembayaran dari kasir.
"Ya iya atuh kang, namanya juga orang jualan masa digratisin terus?!" kekeh Rama. "Bisnis mah is bisnis!"
"Eh, jangan atuh! Biar aja kan ngga tiap hari," ujar Rasya.
"Rejeki buat istri sama pegawai kang!" Rama menjawabnya.
"Thanks Ram, mampir kapan aja kalo mau! Jangan takut dimintain bayaran," Rama tertawa, "wah jangan bikin gue seneng kang!" kelakarnya.
"Yang lain mana, biasanya anta kesini tuh bawa pasukan mujahid?" tanya Rasya.
"Mereka di rumah, ini habis anter jemput si neng cantik sambil pacaran!" Rama menaik turunkan alisnya melihat Nara.
Rasya tersenyum, "hati-hati anta. Kelewat batas tercebur berdua---"
"Dikit kang, sun kening--pipi..." Rasya menggeleng tertawa, "sun anta bikin dijilat lidah api Ram, nanti tuh pipi si neng jadi luka bakar, mau?"
Rama menggeleng, sementara Nara hanya bisa menyimak saja, sebenarnya Rasya ini siapa? Sepertinya Rama begitu segan.
"Kalau sudah tidak sabar, disegerakan--- tapi harus dengan tanggung jawabnya,"
"InsyaAllah kang lagi proses belajar, belajar akademik sekaligus belajar bertanggung jawab," kata Rama.
"Anta masih ngawulang?" (mengajar)
"Masih kang, ini---udah anter doi mau langsung ngawulang,"
"Oh, alhamdulillah. Semoga tetap istiqomah dan tawakal ya, Ram--- insyaAllah, berkah...oh iya, kapan-kapan mainlah ke Cirebon, atau kalo mau anta sama yang lain sekalian mondok," senyumnya bikin cewek klepek-klepek kaya belut di lumurin pasir.
"Aamiin, insyaAllah kang kalo ada waktu, kalo gitu kita pamit kang. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Ram. Jangan terlalu mepet tuh! Jok anta kecil," tawanya.
Nara membungkuk sopan meski tak rela pemandangan seger mirip selada bo kor baru dipanen terus dicuci, ngga rela kalo harus berakhir sampai disitu saja.
Rama merangkul Nara keluar dari dalam cafe, "yang tadi tuh siapa, kok kayanya kamu akrab banget?" tanya Nara akhirnya buka suara, setelah menahan gatal di bibirnya selama di dalam.
"Dia anaknya yang punya pondok pesantren di Cirebon. Bundanya, bunda Priscil sih orang sini--- jadi dia sering main kesini dan buka usaha juga disini, karena memang orangtuanya pun punya usaha di Bandung. Percaya ngga kalo bundanya itu Priscillia Adnan Prawira?" tanya Rama membuat Nara seketika berpikir siapakah dia? Gadis itu menggeleng, "ngga kenal!"
"Gitaris band-band Indie yang cukup dikenal pada jamannya, tapi sekarang beliau sudah hijrah." Lanjut Rama lagi mengambil kunci motor dan memasukkannya ke dalam lubang kunci.
"Woww," Nara mengangguk paham.
Laju motor membuat angin jalanan menerpa para pengendara motor termasuk Rama, "Ra, kira-kira kita jodoh ngga ya?" tanya nya berandai-andai, hanya sebagai candaan. Tapi rupanya candaan itu mampu membuat Nara salah tingkah, bagaimana tidak Rama berandai-andai yang bikin cewek tremor.
Angin cukup kencang menerpa wajah tapi tak cukup mendinginkan permukaan kulit yang menghangat, "ngga tau, cuma Allah yang tau," jawabnya, lantas ia berdehem mengusir rasa gugup yang naik ke tenggorokan macam asam lambung.
"Kalo seandainya nanti kita masih lanjut pacaran sampe lulus, kamu mau ngga aku lamar?"
Mendadak wajah Nara pias, tangannya berkeringat dan hanya bisa diam tak menjawab apapun.
"Kok diem?" tanya nya saat lama tak terdengar jawaban Nara.
"Ya udah lah, ngga usah dipikirin, masih berandai-andai juga kan," jawabnya tersenyum garing.
"Ya, kalo memang jodoh dari Allah, why not? Aku mah ayo-ayo aja. Berdo'a aja semoga-----" Nara menjeda ucapannya.
"Semoga ngga jodoh!" tawanya demi mencairkan suasana lagi.
"Ngga aamiin kalo gitu!" Rama menggeber sepeda motornya tergelak membuat Nara mengeratkan tautan tangannya di perut Rama, "Rama!!"
Masih terlalu jauh untuk memikirkan hal itu, dan pernikahan tidaklah se simple, semudah yang dibayangkan. Ada banyak faktor dan poin-poin yang harus betul-betul matang dipikirkan, biarlah masa muda ini dinikmati tanpa harus dipusingkan dengan sebuah ikatan dan tanggung jawab. Mereka masih remaja----masih banyak hal indah dan seru yang akan dilalui, Nara dan Rama tersenyum dengan pemikirannya masing-masing.
...Yang jelas! Akan kunikmati masa mudaku bersamamu....
...Narasheila___Ramadhan...
"Nara!" pekik seseorang memanggil Nara, saat Nara bersama siswi MIPA 3 lainnya tengah berada di kantin. Bukan hanya penghuni meja Nara saja yang menoleh, tapi pun seluruh penghuni kantin.
__ADS_1
"Girls, ada *koko* di sekolah ini dong," ujar Tasya.
"Kenal Ra?" tanya Vina.
"Berasa lagi kedatangan personil *boys over flower* ngga sih?!" tawa Mutiara lalu membuat gerakan tangan seperti sebuah mik sambil berjoget, "*almost paradise*----"
Mita sampai tersedak dibuatnya, rupanya virus sengklek memang menular satu kelas.
"Dia murid baru, Kenzi kalo ngga salah namanya pindahan dari SMA Angkasa. MIPA 2 sekelas sama Inggrid cs," jawab Mery diangguki Dian.
"Widihhh, tante Mer tau? Kok gue ketinggalan info sih?" ujar Tasya.
"Tau, tadi kata IPS 1---kalo cowok ganteng mah pasti cepet kabar tersebarnya!"
"Gilaaaa---berendem pake susu apa? Kulitnya putih banget," decak Vina lalu ia melihat kulit tangannya sendiri membuat yang lain tertawa melihat aksi Vina yang minder.
"Busettt, itu alis bagus banget! Di sulam ngga sih?" Dian ikut memperhatikan.
"Kenalan ah!" ujar Muti diangguki Tasya, "setuju!" mereka bertos ria.
"Ha-ha-ha! Oy, si Tian mau dikemanain?"
"Tunggu deh, SMA Angkasa sekolah swasta elite kan, wajar sii---isinya orang tajir sama cakep semua!" angguk Rika.
"Nara!" sekali lagi Kenzi memanggil Nara membuat gadis itu tak dapat lagi mengelak karena kini semua mata ikut tertuju padanya. Nara sempat celingukan takut jika Rama tiba-tiba datang ke kantin seperti hantu, padahal saat ini ia sedang berada si warung babeh, memang Rama lebih sering istirahat disana.
"Ma, kenal? Tuh di panggilin dari tadi malah ngga jawab?!" senggol Tasya.
"Hoo ih, masa ngga denger?!" ujar Muti.
"Kenal gue, dia temen bimbel!"
"Hay!" Nara nyengir dan tertawa garing pada Kenzi yang kini malah semakin mendekat dan menghampiri Nara. Berbeda reaksi dari yang lain, jika mereka saling senggol senang, lain hal dengan Nara yang memang sudah dapat SP dari Rama kemarin. Kini pemuda itu sudah berada di depan mereka, "hay Kenzi!" sapa mereka.
"Hay!" jawabnya tersenyum membuat matanya menyipit tampan, "aduhhh ngga kuat gue. Dia senyum sampe merem gitu, kok gue yang deg-degan!" ujar Rika ditertawai Vina, "lo punya penyakit jantung kalii, deg-degan ngga jelas!"
"Katanya mau anterin gue keliling sekolah?" pintanya menagih janji Nara kemarin.
"Waduhhh, papa mana pa---" goda Muti.
"Sama aku aja atuh Ken, dikasih tour gratis plus teh gelas sama keripik singkong!" tawar Muti yang sontak mendapat hadiah dorongan kepala dari Tasya, Kenzi tertawa mendengar celoteh siswi MIPA 3.
__ADS_1
"Kalian sekelas sama Narasheila?" tanya Kenzi.
"Yoi!" jawab Vina.
"Oh iya Ken, kenalin ini Vina, Rika, Mita,Tasya, Mutiara, Dian, Merry..." mereka berebut berjabat tangan Kenzi.
"Ayo Ra, keburu masuk. Soalnya aku belum tau semua sudut sekolah ini," pintanya mendesak padahal Nara benar-benar berat hati. Bukan MIPA 3 namanya jika tak mengerti dengan kondisi hati *mama-nya*. Melihat gelagat Nara saja mereka tau, jila gadis ini sedang menolak dengan cara halus. Nara memandang teman-temannya dengan sorot mata memohon.
"Oke guys! Sebagai perwakilan sekolah dan MIPA 3, kita ajak koko Kenzi tour keliling sekolah gratis rame-rame biar seru!" ucap Muti diangguki mereka.
"Setuju! Yukkk!" Merry mendorong badan Kenzi agar berjalan duluan seiring dengan beranjaknya siswi MIPA 3 lain. Kenzi mengatupkan bibirnya, tak sempat protes karena sikap mendadak anak-anak perempuan MIPA 3.
"Yuk buruan nanti keburu bell! Yuk ayukkk, jalan rapi-rapi anak-anak!" seru Vina, Nara terkekeh melihat Kenzi yang tak bisa berkutik dengan sikap emejing siswi MIPA 3.
"Thanks girls!" ucap Nara berbisik pada mereka.
Pada akhirnya Kenzi malah berjalan di didampingi oleh teman-teman Nara yang heboh menunjukkan setiap sudut sekolah, hingga ke lubang-lubang semut sekalipun.
"Nah ini toilet koko Ken! Kalo mau buang hajat atau buang orok disini!" tunjuk Vina ditertawai yang lain.
"Saravvv buang orok!"
"Maksud gue orok cicak, orok kecoa terus abis itu disiram gitu, belum juga selesai udah diprotes!" ralat Vina, memang dasarnya kelas sengklek mereka malah menjadikan Kenzi korban ke sengklekan mereka.
"Nah yang ini ruang buat ekskul musik, mau dangdutan, mau main band mau nyanyi-nyanyi monggo asal jangan main hati---" ujar Muti, kembali mereka tertawa, belum selesai itu Tasya menarik lengan Kenzi dan menunjukkan ruangan lab. Bahasa.
"Yang ini lab. Bahasa! Kalo ada pelajaran bahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahasa sunda sama bahasa kalbu paling-paling guru ngajaknya kesini, bukan ke pelaminan----" ia terkekeh.
"Njirrr ih! Ketularan sab lengnya si cupid sama kaum adam MIPA 3!" tawa Merry tergelak.
Nara tertawa di belakang sementara Kenzi berkali-kali menoleh ke belakang tak fokus dengan penjelasan mereka. Kedatangan Kenzi kemari bisa menjadi sebuah kerikil tajam untuk hubungan Nara dan Rama. Mereka berjalan lagi menyusuri ruang kelas seraya bertegur sapa dengan teman kelas lain. Tak semua jalanan lurus, terkadang mereka berbelok, naik dan turun tangga.
Karena tak fokus Nara sempat tersandung dan jatuh, *dughh*!
"Aduh!"
"Ra?" Kenzi tiba-tiba nyelonong menyingkirkan teman-teman Nara dan berjongkok di depan Nara melihat bagian lutut Nara, ia dengan sigap membuat gerakan meniup luka yang membuat lutut Nara lecet. Bukan hanya Nara yang terkejut dengan sikap Kenzi tapi pun mereka.
"Perih ngga?" tanya nya.
"Nara?!"
.
.
.
__ADS_1
.