
Mutia pulang dengan jemputan ojek langganan ibunya.
"Cup, ngafe dulu?" tanya Tian menuju parkiran dengan menggandeng Tasya.
"Ada siapa?" tanya nya.
"Cuma Rama sama Nara. Sambil ngerjain tugas Kimia," Yusuf mengangguk tak harus berpikir 2 kali jika hanya papa-mama kelas MIPA 3 saja.
Disinilah mereka berada, sebuah cafe bergaya retro di bilangan Braga.
"Ck--ck! Ngga nyangka gue, cupid ternyata horangg kayaaa! Penipu ulung!" decak Tasya menyedot ice coffee miliknya, berteman kentang goreng, maccaroni schotel, dan chessecake.
Yusuf yang memakai topi dengan pad ke belakang itu menyenderkan badannya, "gue ngga ada niat nipu, Sya. Cuma pengen dapet temen yang tulus aja," jawabnya mengeluarkan jati dirinya di depan Tasya dan Nara.
"Si Tulus mah lagi konser di ibukota, Cup." Nara tertawa menyendok kue miliknya ke dalam mulut, bergantian pada Rama.
"Gue mau daftar akmil Ian," celetuknya membuat mereka terkejut.
"Apaan? Akmil?" tanya Tian.
"Edyannn! Pejuang cinta sejati, tos!" Rama mengepalkan tangan ke arah Yusuf untuk bertos ria.
"Yang bener Cup, jangan cuma gara-gara Mutia dijodohin sama tentara lo jadi kelojotan pengen jadi tentara. Mesti dari tekad dan hati..." imbuh Nara.
"Tul!" Tasya mengangguk, "lagian daftar akmil susah cup, gue kasih tau ya...kata om gue, adeknya papa yang sekarang nugas di Sorong, jadi tentara tuh ada 3 jalur, yang pertama tingkatan terendah tamtama, terus bintara, baru akmil, kalo tamtama sih biasanya buat lulusan smp, kalo bintara sama akmil baru tuh sma tapi pendidikan sama pelatihannya beda, bintara ngga selama akmil dan ngga sesulit akmil. Kalo akmil nih, calon-calon perwira, butuh 4 tahun tapi nanti lo bakalan punya gelar, semacam gelar sarjananya gitu deh...persyaratannya pun bukan main!" jelas Tasya, Yusuf semakin tertantang dan excited, dia suka tantangan.
"Lo tau Sya?" tanya Yusuf antusias, ia menegakkan badannya.
"Tau lah, omnya dia perwira matra darat, Cup! Lagi nugas di Sorong sekarang,"
Yusuf langsung menggeser kursinya dan membalikkan kursi Tasya berikut tubuh gadis mungil itu dan duduk bersimpuh di depannya.
"Eh, apa-apaan lo!" Tasya berseru terkejut membuat Nara dan Rama tertawa dengan tingkah konyol Yusuf, pasalnya ini di cafe yang merupakan tempat umum, dan pemuda ini malah duduk bersimpuh kaya lagi sungkem sama eyang kakung.
"Ampun gue, cup...cup! Ni cewek gue emang ringan cup, tapi jangan digusur juga!" omel Tian.
"Sya, bantuin gue! Gue pengen masuk akmil!" mohonnya.
"Gue beliin apapun yang lo mau deh, tas, sepatu? Merk apa? Nike, adidas, Hermes, channel, atau seperangkat komputer gamers, gue beliin!"
"Itu mah lo salah sasaran, bukan si Tasya. Tapi buat lakinya!" kekeh Rama menggelengkan kepalanya.
"Apa-apaan sih lo, om gue belum tentu maua bantuin...itu namanya curang, lagian kalaupun bisa emangnya ortu lo bakal kasih ijin? Mesti ada surat ijin orangtua/wali Cup, terus lo'nya mumpuni ngga nih? Karena bukan apa-apa, oke kalo om gue bantuin sampe pintu gerbang tapi waktu jadi taruna lo bakalan kesiksa kalo ngga bisa ngimbangin taruna lain..."
"Gue pastiin bisa!" jawabnya yakin membuat Tasya mengangkat sebelah alisnya julid, apa iya?
"Gue sih ngga yakin, anak sultan kaya lo bisa masuk, cup. Paling lo bisanya berantem doang," cibir Tasya.
"Kalo gitu tantangan terberat lo yang pertama om sama tante dulu, cup!" tambah Tian.
"Nah tuh, lo jangan jadi anak durhakim cup. Restu ortu tuh bisa nganterin kita sukses," sahut Rama mengunyah kentang goreng.
"Otak aja pas-pas'an pengen jadi perwira. Kalo mau tuh raport dari sekarang udah mesti diperbaiki cup, soalnya nanti diliat nilai-nilai lo harus sesuai standar mereka..."
Yusuf melirik Nara yang tengah minum dengan senyuman jahil, "apa?" tanya Nara.
"Ma, bantuin dedek belajar!"
"Bini gue lagi!" ujar Rama melempar kentang pada Yusuf yang sejak tadi terkekeh nyengir kuda.
"Fisik juga mesti kuat cup!" Tasya mengangguk, kini beralih mencomot maccaroni schotel, terang saja ia rakus nyemil...toh semua ini gratisan dari Cupid.
"Ada om bongsor sama paRam!" jawabnya jumawa seolah traktiran kali ini tak akan berujung sia-sia, anggaplah ia sedang merayu keempatnya untuk membantu.
"Lo sampe segininya banget cup, lo seriusan pengen jadi tentara nih?" tanya Tian menatap sobatnya itu lekat.
Dengan anggukan pasti, Yusuf meyakinkan diri untuk menapaki sesuatu yang baru, lebih menantang, lebih seru, lebih segalanya ketimbang kehidupan monoton yang sedang dijalani sekarang, menjadi seorang pebisnis di belakang meja komputer sungguh membuatnya ingin melemparkan semua kertas file perusahaan hingga berserakan, sejak kecil ia dicekoki dengan kehidupan menjadi pengusaha sungguh memuakkan bikin gumoh, ia ingin menjadi seorang pejuang seperti cita-citanya saat kecil, jadi polisi... ngga salah? Ya engga, berhubung si seragam coklat suka banget nilang cupid di jalan, jadinya pemuda ini mengurungkan cita-citanya jadi polisi dan malah menyumpahi agar para seragam coklat ini ngga doyan lagi duit sampe kiamat. Akhirnya ia merubah jalan ninjanya ke seragam loreng.
Ia mencangklok tasnya di sebelah pundak dan masuk ke dalam ruangan sepi nan sunyi. Selalu seperti ini keadaan rumah, tak ada siapapun selain asisten rumah tangga yang berjumlah 3 tapi mereka lebih memilih berada di bagian belakang rumah.
Secarik kertas note tertempel di kulkas dengan magnet ice cream sebagai penahannya.
*Mama arisan, papa keluar kota*.
__ADS_1
Ini yang ia benci, kedua orangtuanya terlalu sibuk dengan dunia sendiri, ia merasa sendiri meski tak benar-benar sendiri.
Ia menscroll nama Mutia di ponselnya, berniat mengajak gadis itu keluar demi mengusir rasa bosan. Ia juga mendadak rindu, melihat Tian bersama Tasya, Rama bersama Nara sementara ia sendiri?
***Yusuf***
*Yank, yuhuuu😍 jalan yuk*!
***Mutia***
*Apa sih Cupid, maksudnya jalan kaki*?
***Yusuf***
*Masa jalan kaki, naik motor lah! Keliling Bandung, biar ngga dikira sombong sama bapak gubernur*.
***Mutia***
*Jajan ngga nih*?
***Yusuf***
***Mutia***
*Oke 😌 untung aku baik, jadinya mau-mau aja sama cowok ngga bermodal kaya kamu*.
Yusuf terkekeh renyah melihat balasan dari Mutiara, seandainya gadis itu tau kalau ia memiliki uang lebih dari 50 ribu, bahkan 50 juta saja ia jabanin. Tapi gadis itu memanglah tulus dekat dengannya, tidak seperti cewek kebanyakan.
Ia kemudian melempar ponselnya begitu saja ke atas ranjang, dan lebih memilih untuk segera mengganti pakaiannya.
Pintu lemari kayu berwarna hitam itu terbuka lebar, deretan jas dan kemeja tergantung rapi lengkap berbalut plastik laundry tak diliriknya, yang ia raih hanya t shirt hitam saja.
Tak butuh waktu lama untuknya bersiap-siap, hanya dalam 15 menit saja ia sudah siap meluncur ke rumah Mutiara.
"Eh, ada Yusuf...mau pada kemana nih? Kerja kelompok?" tanya ibu Mutia yang sedang berada di teras.
"Iya bu, mau keluar..." jawabnya, ada sedikit hati getir karena ibu Muti hanya menganggapnya teman sekelas Muti, padahal sudah sering antar jemput dan mengajak Mutia keluar, sungguh tak peka. Tapi apakah salah? Antara ia dan Muti kan memang tak ada hubungan apapun, selain hubungan gelap, gelap karena masa depan belum terlihat hilalnya.
__ADS_1
"Hay Cup! Udah lama nunggu?" tanya Mutia, gadis itu keluar dengan stelah jeans skinny dan blouse merah muda.
"Oh engga baru.. Mau sekarang?"
"Neng, jangan lama-lama. Indra mau ke rumah.." pesan sang ibu, jujur saja ucapan singkat itu kini membuat keduanya saling melemparkan tatapan canggung.
"Ih mama, jangan bawa-bawa mas Indra lah. Bikin empet," jawabnya manyun.
"Jangan gitu atuh neng," balas mamanya.
"Ya abisnya mama, meni ngga ada lagi yang diomongin teh...udah ah pergi dulu! Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam."
Mutia menerima helm dari Yusuf, "mari tante..." pamitnya.
Mama Mutia melemparkan senyumannya.
Tak ada obrolan selama mereka keluar dari komplek rumah Muti, "maaf ya, mama..."
"Ngga apa-apa,"
Seolah keduanya memiliki pikiran yang sama, namun tertahan di pangkal lidah. Degupan jantung tak beraturan terkesan cepat dan kencang mirip dentuman meriam.
"Mut,"
"Cup,"
Keduanya tertawa bersama, "ladiest first..." ucapnya.
"Kamu dulu aja,"
Keduanya mengobrol dengan nada tinggi karena beradu dengan angin.
"Cup, sebenernya...hubungan kita tuh apa sih?"
.
.
.
.
.
__ADS_1