Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : PASANGAN GILA TAHUN INI


__ADS_3

"Kamu duluan aja, nanti aku nyusul. Mau ke babeh dulu sebentar," setelah sampai di depan gerbang sekolah dan menurunkan Nara, Rama membelokkan motornya ke sebrang sekolah, sedikit agak ke arah samping kanan dimana warung kopi babeh berada. Dari netranya saja, Nara dapat melihat suasana warung babeh dimana sudah ada beberapa anak MIPA 3 dan IPS.


"Iya," Nara menyerahkan helm yang baru saja dilepasnya dan merapikan rambut, memutar tubuh untuk masuk ke dalam sekolah. Baru ia berjalan beberapa langkah dari parkiran suara perempuan meneriaki namanya.


"Nara ! "


Dea bersama Inggrid setengah berlarian menghampiri Nara.


"Dea, Ing? Kenapa?" Nara mengerutkan alisnya tegang, entah kenapa jika berhubungan dengan dua gadis ini bawaannya hati jadi curigaan.


"Sini---sini bentar," kedua gadis itu menarik Nara agar diam di tempat yang lebih jauh dan tertutup sedikit.


Alis Nara semakin bertaut, wajah-wajah mencurigakan.


"Ra, denger-denger lo kenal sama Kenzi kan, anak baru?! Boleh kali dikenalin lebih deket," Inggrid menaik turunkan alisnya dan memainkan rambut Nara dengan lembut bersama raut wajah senyam-senyum kaya orang kena setrum, gerakan mencurigakan itu kini terjawab.


"Bukannya dia sekelas sama lo berdua ya?" tanya Nara.


Mereka mengangguk, "tapi kalo di kelas dia cuek banget sumpah! Diajak kenalan dingin persis es potong," dumel Dea menggerutu.


"Aaaa! Gue suka pake banget kaya oppa-oppa gitu, gue denger dia tajir mana anak pejabat juga!" seru Inggrid heboh.


"Pleaseee! Comblangin dong Ra!" Dea memohon dengan mengguncang-guncangkan tangan Nara, meski tak sekuat guncangan gempa tapi tetap saja membuat Nara risih lalu meminta mereka menghentikkan aksinya.


"Kita bersaing secara sehat ya De..." ucap Inggrid memicing pada Dea.


"Oke! Deal ya?!" jawabnya menatap tak kalah mendelik, Nara hanya menjadi penonton saja ketika keduanya memperebutkan Kenzi.


Lalu tatapan berharap mereka lemparkan pada Nara, "gimana, Ra?"


Nara menghela nafas panjangnya malas. Apapun yang berhubungan dengan Kenzi ia merasa itu perlu dijauhi. Tapi kemudian otaknya berputar seperti gasing biar jadi win-win solution, siapa tau Kenzi kepincut atau jadi dengan salah satu dari mereka lalu menjauhinya. Netra Nara yang kecoklatan kini bergantian menatap Dea dan Inggrid, "oke deh, nanti aku atur biar bisa deketan, tapi ngga janji ya!" jawab Nara. Wajah keduanya terlihat sumringah.



Rama mencari-cari keberadaan Nara, sejak pamit untuk istirahat duluan, gadis itu belum terlihat lagi bahkan aroma-aromanya saja tak terendus.



"Vin--vin---liat Nara?" tanya Rama seraya celingukan siapa tau pacarnya itu tiba-tiba muncul kaya hantu.



"Tadi sih ke toilet, tapi sampe sekarang belum balik," jawab Vina.



Rama berohria, ia berinisiatif untuk duluan memesan makanan ke kantin.



"Ram!" sapa anak lain. Langkahnya berlawanan arus dengan langkah beberapa anak, terkadang ia harus berhenti dan menyamping demi membiarkan beberapa siswa yang berlarian.


__ADS_1


*Dugh*!



Karena sama-sama tak fokus, Rama bertubrukan bahu dengan seseorang, sebenarnya ini hal yang biasa namun karena orang yang sedang ada di hadapannya adalah orang yang menjadi biang masalah di hati masing-masing sekarang, keduanya saling menatap dengan sorot mata tak dapat dijelaskan.



"Sorry," Rama meminta maaf duluan meski bernada datar. Sorot matanya pun tetap mengawasi penuh ancaman.



Kenzi mengunggingkan senyuman miring penuh merendahkan, menepuk-nepuk bahunya yang tadi bertubrukan dengan Rama seolah Rama adalah kotoran yang perlu dia hempas.



Matanya melihat dengan meneliti Rama dari atas hingga bawah membuat Rama menautkan alisnya melihat apa yang dilakukan si anggota boyband KW itu.



"Jadi ini cowo yang sering nempelin Nara?" ucapnya sinis.



Rama tertawa mendengus tak kalah sinis mendengar kata nempelin.




Kenzi terlihat mengepalkan tangannya, rahangnya pun sudah mengeras. Wajahnya mulai memanas terlihat dari urat-urat menonjol tegang.



"Bang sadhh," ucapnya meloloskan umpatan, namun Rama tak mendengarkan ia lebih memilih pergi meninggalkan Kenzi dan kemarahan nya daripada harus melayani.



"Lo liat aja, Nara cuman punya gue apapun yang gue mau harus jadi milik gue!" ia mengepalkan tangan dan memukul-mukul tembok yang tak bersalah dihadapan nya demi meluapkan amarah.



"Ra!" gadis itu memutar ke belakang saat namanya dipanggil.


"Hey, kok nyusulin, lama ya? Maaf ya...barusan abis dari toilet dulu!"


Rama menggeleng dan malah mengacak-acak rambutnya, "iya ngga apa-apa, yuk ke kantin," ajak Rama tanpa menceritakan kejadian barusan.


Nara sedikit berpikir apakah Rama harus tau atau tidak dengan rencananya, "Ram---eh ngga jadi deh!" ucapnya ragu.


"Kenapa?"


"Engga jadi--" geleng Nara ragu.

__ADS_1


"Hayooo, kenapa?" bujuk Rama mencolek hidung Nara.


"Engga jadi, takut kamu marah," jawab Nara.


"Ya engga atuh, sok bilang aja--" Rama memposisikan dirinya jadi di hadapan Nara menghentikkan langkah si gadis cantiknya itu lalu membungkuk agar wajahnya sejajar, "bilang, nanti aku ngag bisa tidur karena penasaran---ujungnya jadi nemenin po cong yang mati penasaran?" Nara tertawa, "jadi temennya po cong?!"


"Bestie! Kalo dia mati karena penasaran, kalo aku begadang karena saking penasaran sama omongan kamu," angguk Rama.


Nara menghela nafasnya, "tadi pagi, pas kamu ke warung babeh...Inggrid sama Dea nyamperin aku, mereka minta dikenalin sama Kenzi biar bisa lebih deket. Soalnya aku kenal Kenzi di luar, aku....iyain tapi aku ngga janji," ucap Nara meringis takut salah memberi keputusan. Raut wajah senang itu kemudian berubah datar.


"Kenapa? Ngga boleh ya?! Kamu marah ya, tuh kan!"


"Ngga apa-apa," Rama menggeleng. "Ya udah! Yuk, nanti batagornya keburu abis di borong---" ajak Rama menarik tangan Nara untuk kembali berjalan menuju kantin.


"Diborong siapa?"


"Patrick star!" jawab Rama, sontak saja dihadiahi pukulan di punggung oleh Nara, "ih! Aku udah serius juga!" manyunnya.


Rama terkekeh menoleh, "yakin nih mau langsung serius," godanya.


"Ramaaa!" kembali ia memukul punggung Rama, total sudah 2 kali selama kurang dari 5 menit Nara memukul pemuda itu.


"Iya sayang?" Nara berdecak memukul kembali punggungnya, "doyan amat mukul neng, udah 3 kali nih, selamat! Kamu dapet gelas kopi abah haji!" serunya.



"Aku mau ketemu abah dulu ya, baru anter kamu ke tempat les?! Gimana, ngga akan telat lah! Nanti aku jalanin motornya kaya si Valentino---" ujarnya memasang helm.



"Ya jangan ngebut juga, Ram! Kena tilang atau celaka baru tau rasa," Nara naik ke jok belakang motor.



"Ngga apa-apa telat dikit, ngga bikin aku jadi bo do seumur hidup kan?!" jawab Nara membuat Rama tertawa, "ha-ha-ha, pacar aku ketularan gila euy!"



"Kan siapa dulu gurunya, Ramadhan!" balas Nara.



"Sip!" Rama memberi jempol membuat Bayu, Ridwan dan Gilang yang berada di situ juga ikut tertawa, "*pasangan gila tahun ini*!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2