Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : MERASA BERSALAH


__ADS_3

Tak ada yang bicara sepanjang jalan, jika Inggrid, Dea, dan Gibran memilih sibuk dengan ponselnya. Nara lebih memilih melihat pemandangan di luar jendela. Sibuknya jalanan saat jam pulang sekolah.


...INDO WISATA PERMATA/THR.IR.H.DJUANDA ⬆️...


...DIPATIUKUR/UNPAD/GD.SATE/CICAHEUM ➡️...


...⬅️TAMANSARI/SABUGA/CIUMBULEUIT...


Nara bahkan menghafal papan jalan yang ia lihat saat melintas. Rupanya mereka sudah memasuki kawasan Dago, pantas saja cuaca jadi sedikit sejuk, karena disini area yang masih banyak pepohonan besar, akan ia ingat itu.


Mobil Willy semakin melaju jauh dari papan jalan, lampu sen-nya berkedip saat di depan sana terdapat cafe. Dan benar saja, mobil masuk ke dalam parkirannya.


Cafe berkonsep Retro dipilih oleh mereka sebagai tempat nongkrong. Sengaja Nara memilih tempat yang berada di dekat jendela agar ia bisa melihat kondisi di luar yang menurutnya menyejukkan mata.


"Pesen aja dulu, gue ke toilet sebentar!" ijin Dea.


"De--ikutttt! Gue juga kebelet," Inggrid menaruh tasnya begitu saja di kursi lalu mengekori Dea ke kamar mandi. Nara menggidikkan bahunya acuh seolah tak ada yang patut dicurigai. Tapi tak berselang lama, Gibran pun melakukan hal yang sama, oke---sepertinya mereka kebelet berjamaah.


Kini tersisa Nara dan Willy saja di meja, jika Nara memilih melihat daftar menu yang diberikan pelayan cafe tadi sementara Willy ia sudah bergerak gelisah dan berdehem tak nyaman kaya orang bisu lan.


"Ra, cinta tidak datang dari persahabatan yang lama, tapi cinta merupakan kecocokan jiwa, cinta adalah roh yang ditiupkan ke dalam jiwa seorang makhluk yang disebut manusia,"


Nara yang mendadak be go karena serangan Willy hanya bisa melongo. Pemuda itu tiba-tiba meraih tangan Nara yang sedang memegang buku menu dan melafalkan sebait kalimat puitis, bukannya terharu atau merona, gadis itu malah tertawa garing, "apa sih Will?" pasalnya ia tau jika bait itu adalah salah satu bait puitis milik Kahlil Gibran.


Jangan tanyakan mengapa Nara bisa tau, Akhsan memiliki beberapa buku milik penyair terkenal itu di kamarnya, terkadang Nara mengambil dan membacanya di saat si empunya kamar sedang tak di tempat. Meskipun terbilang ganteng, tapi jika urusan cinta dan wanita, Akhsan tak seluwes Rama.


"Ra---" Willy menarik nafas panjang kaya mau nyelam, tangannya sudah terasa dingin kaya lagi di kutub, menandakan bahwa ia tengah dilanda kegugupan.


"Kamu mau ngga jadi pacarku?" pertanyaan itu lolos dari mulutnya begitu saja membuat Nara makin kebingungan menatap Willy.


Lamunannya buyar ketika tiga teman yang lain keluar dari toilet dengan membawa sekotak coklat, sebuket bunga dan spanduk kecil bertuliskan i love you.

__ADS_1


"Terima---terimaaa!" seru mereka, otomatis tindakan mereka ini memancing perhatian pengunjung cafe lainnya.


Nara semakin dilanda kebingungan, dan dilema. Sungguh ia tak menyangka Willy akan begini, alisnya mengernyit menatap Willy seolah bertanya, why ? Kenapa harus aku?


Tak dapat Nara pungkiri jika ia sama sekali tak ada niat untuk menyukai Willy, it's bad idea. Jangankan menyukai, menatapnya dengan penuh debaran pandangan pertama saja tidak. Jadi, apa yang harus Nara lakukan sekarang? Terlintas di pikiran Nara ucapan Mery tentang mereka yang suka bertindak seenak jidat pada siswa lain, juga mereka yang selama ini sudah menerimanya, ditambah kondisi saat ini Willy sedang mempertaruhkan harga dirinya di depan semua pengunjung cafe.


"Ayo baby! Terima, ngga usah lama-lama!" seru Inggrid pada Nara, sementara Willy sendiri sudah terlihat harap-harap cemas melihat Nara.


Gadis itu malah membuang muka ke arah kaca cafe kebingungan, matanya membola dan menatap nyalang ke arah sebrang cafe.


"Rama?" gumamnya tanpa suara.


Bukan hanya siluet atau sekilas saja, tapi itu memang benar-benar Rama bersama teman-temannya. Bahkan tatapan mereka sempat bertemu, Rama melemparkan senyuman miringnya pada Nara, dan percayalah gadis itu sudah seperti merasakan hujaman di jantungnya, sakit.


Sejak kapan dia disana?


Mata Nara mengerjap mendapati Rama yang memilih memajukan sepeda motornya bersama yang lain dan pergi dari sana, hal itu pula yang membuat Nara tiba-tiba saja tergerak keluar dari cafe. Sebut Nara adalah gadis pengecut, tak tau diri, ratu tega. Ia menarik tangannya dari genggaman Willy.


"Eh, kok!" mereka bukan lagi kaget, tapi syok dunia akhirat.


"Ra! Nara!" pekik mereka.


"Kang!" Nara menyetop angkutan umum, dari depan cafe. Untung saja ada angkutan umum dengan rute ke arah jalan pulang yang langsung berhenti.


Dapat Nara lihat dari tempat duduknya kini, jika keempat teman kompleknya itu melihat ke arah angkot yang sedang ia tumpangi, dapat ia lihat wajah kaget dan kecewa keempatnya terutama Willy, Nara menundukkan kepalanya. Pikiran gadis itu kacau, entah apa yang ia rasakan sekarang. Ia merasa jahat. Ia menolak Rama dan jalan dengan Willy, tapi ia pun menolak Willy di depan orang banyak karena hatinya berkata lain tentang Rama.


Hembusan angin jalanan menelusup masuk lewat celah jendela kaca angkot yang dibuka separuh, menerpa punggungnya yang tertutup jaket menimbulkan sensasi dingin. Meniup rambutnya hingga terbang dan bergerak bebas.


"Stop di depan kang!" ujarnya sedikit berteriak saat jalanan menuju gerbang komplek sudah terlihat jelas.


Nara menunduk dan melangkah membungkuk demi bisa keluar dari mobil angkot. Nara berjalan bersama pikiran yang sedang kacau.

__ADS_1


Ia masih harus berjalan jauh, karena angkot hanya menjangkau sampai depan jalan arteri saja. Sebenarnya ada pangkalan ojek disana, namun Nara memilih untuk berjalan saja, berharap langkahnya ini bisa mengurai sedikit beban pikiran yang sedang ia alami sekarang.


"Sendiri aja neng?" suara seseorang membuyarkan lamunan Nara, gadis yang tengah sibuk melamun sambil berjalan itu mengedarkan pandangannya.


"Rama," benaknya berbicara. Tanpa menjawab gadis itu menautkan alisnya, bukannya tadi Rama pergi bersama teman-temannya? Lantas sekarang, ia sudah berada disini, apakah ia makhluk sejenis jelangkung? Datang tak dipanggil, pulang tak diusir.


"Kalau di jalan itu jangan melamun, nanti kalau ada orang jahat atau didatengin setan gimana?" ujarnya lagi melengkungkan senyuman, Nara masih diam membisu.


"Kok diem, lagi bisu ya?" tanya nya terus.


"Neng mau naik ojek ?" tanya salah seorang akang ojek menawari Nara jasa tumpangan nya. Tapi baru saja Nara akan membuka mulut, Rama sudah menjawabnya.


"Engga kang, maaf! Si neng nya lagi bisu, jangan diajak ngomong," jawab Rama setengah berteriak, lalu diokei si akang ojek, "sip!"


"Dih, Rama!" decaknya angkat bicara seraya mencubit pinggang pemuda itu yang telah menyebutnya bisu.


"Lagian aku juga udah didatengin setan kok!" galaknya.


"Mana?" Rama celingukan.


"Lah, ini! Yang lagi ngomong sama aku," jawab Nara.


"Aku?" tunjuk Rama pada dirinya sendiri, Nara mengangguk.


Rama mengeluarkan tawa kecil, "masa setan gantengnya kebangetan! Nanti neraka penuh sama kaum hawa atuh neng, kalo setannya seganteng aku," balasnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2