
Nara menaruh tas miliknya di kursi meja makan yang kebetulan menyatu dengan dapur, dan Rama melengos menuju tangga ke arah lantai dua untuk mengganti pakaiannya di kamar.
"Ini dipake dulu, cik punteun ! (coba tolong) Takut nanti baju seragamnya kotor!" Nara merentangkan tangannya melebar saat ambu memasangkan appron untuk melapisi seragam di badannya.
"Neng Nara suka bantu mama masak?" tanya ambu.
"Jarang ambu, kalo liatin sering. Dibanding mama, papa lebih jago masak sih--soalnya punya rumah makan," jawab Nara.
"Oh gitu, enak atuh!" balasnya.
"Kalo cuma motongin sayuran bisa ambu, sini Nara yang kupasin!" pinta Nara ikut melongokkan kepalanya saat ambu membongkar kresek belanjaan.
"Boleh sok," balasnya mengeluarkan satu persatu sayuran.
"Ambu, masa kata Rama--kalau ambu ngga dibawain sesuatu ambu bakal ngamuk. Ngamuknya tuh ngacak-ngacak sampah,"
"Astagfirullah," ucapnya namun ia tertawa.
"Ada-ada aja da si borokokok mah!" ambu berkacak pinggang lalu kembali tertawa, "dia juga sering cerita sama ambu tentang Nara...."ambu mengambil beberapa siun bawang untuk bumbu di keranjang bumbu miliknya.
"Cerita apa Ambu?" tanya Nara seraya mata yang bergantian melihat antara saturan yang dikupas dan ke arah ambu.
"Ambu nanya, kenapa Rama suka sama Nara ? Katanya Nara itu unik, kalau istirahat sukanya makan orang, giginya bertaring, suka ngisep darah. Suka malak juga katanya, masa sih anak secantik kamu kaya gitu asa ngga percaya ambu mah!"
"Masa ambu?!"
"Rama bilang gitu?!" lanjutnya bertanya, ambu mengangguk geli--sadar jika mereka berdua sedang dikerjai Rama kedua perempuan ini tertawa.
"Ampun da!" ujar ambu.
Ternyata di atas tangga sana, Rama memperhatikan Nara dan ambu dari sambil tersenyum, ia turun selangkah demi selangkah, "ekhem! Aduh---aduh, ibu-ibu pantes aja kuping aa panas, dari tadi lagi diomongin," ucap Rama.
Keduanya kompak menghentikkan kegiatan dan menoleh.
"Seneng lah liatnya, berarti mertua dan menantu bermasalah itu cuma di sinetron yang sering ambu tonton, buktinya ini akur-akur aja iya kan?"
Rama berjalan menghampiri keduanya, tanpa di duga ambu menjewer kupingnya pelan, "nikah aja yang di pikirannya! Kuliah dulu, kerja dulu, ini anak gadis orang mau dikasih makan apa? Cinta? Emangnya bakal kenyang dikasih cinta?" sewotnya sengak.
"Ampun mbu," aduhnya membuat Nara tersenyum. Baru kali ini Nara ssnang melihat seseorang merintih.
Sampai berkeringat, Nara memperhatikan ambu di depan kompor, akhirnya masakan matang juga. Jam di tangannya menunjuk ke angka 4.
"Di taruh saja di sini neng," pinta ambu, Nara mengangguk paham. Sesuai intruksi ambu ia menghidangkannya di atas sebuah piring.
Bersamaan dengan itu abah dan Rania juga pulang.
"Wah, ada teh Nara!"
"Iya, makan bareng yuk! Nara bantuin ambu masak loh!" ajak Nara, Rania memang cepat akrab--begitupun Nara yang mulai menerima kehadiran orang lain.
Hari sudah benar-benar sore, Nara memutuskan memberi kabar pada Akhsan, karena mungkin ia akan pulang terlambat.
Rama sudah bersiap dengan sarung hitam dan aksen ungu yang melingkar di pinggang dan kemeja kokonya senada, meskipun anting hitam tempelan tak pernah luput dari telinganya, ia tetap terlihat keren, lebih keren malahan, Nara sampai mengerjap melihatnya. Apakah ini benar Rama?
"Aku mau siap-siap buat solat jama'ah di masjid, kamu nunggu disini dulu sama Nia gimana?" tanya Rama.
Nara mengangguk, "iya."
__ADS_1
"Bah! Cepet atuh!" teriak Rama, abah terlihat keluar kamar dengan pakaian yang sama dan songkok hitamnya. Keduanya keluar dari gerbang rumah menuju masjid kampung.
Rania yang awalnya berada di kamar kini turun,
"Teteh mau solat, pake aja mukena punya aku, di kamar aku aja!" Nara mengangguk.
Ia mengekori Nia menuju lantai atas, "teteh aja dulu yang solat nanti Nia," ujarnya malah menjatuhkan badan di kasur empuknya.
"Oke," jawab Nara. Hanya 10 menit saja Nara selesai. Melihat Nara yang sudah salam dan selesai Nia duduk bersila.
"Teh, teteh beneran pacaran sama aa? Aa kan kaya gitu orangnya?" tanya Nia, wajahnya meringis seolah tak percaya.
"Kaya gitu gimana emangnya?" tanya Nara merapihkan mukena lalu menyisir rambutnya dengan jari dan ikut duduk di tepi ranjang Rania.
"A Rama kan orangnya usil, gayanya kaya preman---emang sukanya maen di pasar bantuin abah sama pedagang-pedagang pasar," akui Nia.
Nara mengerutkan alisnya, "emangnya kenapa? Dia baik, dia humoris, ngga apa-apa sukanya gaul di pasar---" Nara menjeda ucapannya.
Dia mengangguk-angguk, "tapi dia baik kok teh, walaupun ngga ganteng--ganteng amat, lumayan lah tampangnya ngga malu maluin buat diajak jalan ke emooll! Lagipula dia juga sholeh kok, insyaAllah!" tambah Rania.
"Kirain teteh mau karena kepaksa, atau teteh nerima aa pas lagi mabok!" tawa Rania.
"Mabok---mabok cinta!" tawa Nara ikut berseloroh,
"Teteh ih!" Rania melemparkan bantal kecil berbentuk love pada Nara, dan dibalas Nara.
"Nia, kira-kira Rama pulangnya jam berapa ya, ini udah lama loh? Dia lama-lama di masjid ngapain aja?"
"Biasanya aa pulang abis isya teh, dia ngajar ngaji anak-anak di masjid dulu kayanya teh," jawab Rania membuat Nara tersedak salivanya sendiri tak percaya, "ngaji?!" Rania mengangguk. Diliriknya jam yang sudah pukul setengah tujuh malam lebih. Nara jadi penasaran dengan kegiatan Rama.
"Ran, anter teteh ke masjid mau ngga?" pinta Nara.
"Mau apa teh?" Rania menautkan alisnya.
"Mau liat Rama ngajar ngaji," jawabnya.
"Boleh, sebentar ya! Aku ganti baju dulu," jawabnya langsung turun dari kasur ke arah lemari.
__ADS_1
Abah dan Ambu sudah pulang dari masjid dan kini sedang berada di sofa ruang tengah, "neng mau pada kemana ini teh?" tanya Abah dan ambu melihat Nara dan Rania turun.
"Mau ke...."
"Mau cari angin abah, ambu!" potong Nara memegang tangan Rania seolah bahasa isyarat untuk tak mengatakan alasan sebenarnya.
"Oh iya sok atuh!"
"Ih, teteh malu ya!" goda Rania saat sudah berada di luar rumah. Gadis itu menutup pintu.
"Ihhh Nia tau aja!" balas Nara, keduanya tergelak.
"Ini masjid tuh tinggal belok ke kanan teh!" tunjuk Nia. Hingga tiba langkah mereka terhenti karena cahaya yang berpendar dari teras masjid, berikut suara riuh anak-anak yang sedang membaca surat-surat pendek. Nara dan Nia mengintip dari balik tembok.
Terlihat di netranya, Rama yang sedang membimbing anak-anak sekitar mengaji iqro, dan membaca beberapa surat pendek diselingi candaan. Ada senyuman lebar di wajah Nara, melihatnya. Rama benar-benar sudah mengubah pandangan Nara akan dirinya, semua penilaian awal Nara keliru.
"Waduh teh, jangan begitu liatnya belum jadi mahrom! "goda Rania menyenggol Nara, membuyarkan lamunannya.
"Becanda teh," tawa Rania. Nara juga melihat Gilang, Bayu, dan Ridwan disana.
Baru saja reda dari keterkejutannya oleh Rania, Nara sudah kembali dikejutkan dsngan suara Vina yang menyapa dari kejauhan.
"Nara!!!" pekik Vina
Teriakan itu sontak membuat yang berada di dalam masjid menoleh ke arah luar. Nara memejam, wajahnya sudah benar-benar merah karena malu, ketauan sedang mengintip malunya sampai ke ubun-ubun.
"Waduh ketauan nih teh," bisik Rania.
"Nara,"
Rama menyunggingkan senyumnya merasa di atas awan, "sok diterusin bacanya, sebentar ya!" Rama bangkit dari duduknya ke arah luar masjid demi memastikan itu Nara.
"Ra, kamu ada disini? Sejak kapan, tau gitu ke rumah aku Ra," imbuh Vina.
"Hay teh Vin!" sapa Nia.
"Oh sama Nia, lagi ngapain?"
"Mau--- mau cari warung, mau jajan, iyakan Nia?!" tanya Nara sedikit melotot pada Rania dan merangkul lengan nya.
Rama melipat kedua tangannya di dada dan berdiri diambang pintu melihat Nara yang salah tingkah.
"Oh, tapi kan ini masjid bukan warung, " jawab Vina polos, tapi sejurus kemudian ia melihat Rama yang berada di teras masjid, senyum usilnya terbit, "ahhh, tau lah! Warungggg--ya--ya!" ejeknya.
"Iya tadi mampir dulu, mau liat anak-anak ngaji," tukas Nara menelan saliva sulit.
Vina semakin tersenyum mengejek, "emmh, liat anak-anak ngaji atau liat gurunya?" goda Vina membuat Nara malu setengah mati lalu bergegas menarik Rania untuk menjauh.
"Heyyy ukhti!" pekik suara yang terdengar begitu keras, menghentikan langkah Nara.
Nara menoleh, "i love you!" gerakan bibirnya tanpa bersuara namun semua orang yang melihat bisa mengartikannya.
Kyaaaaaa!
"Cieeeee!" goda Rania dan Vina.
Nara bergegas melangkah menjauh wajahnya sudah seperti cabe paprika merah.
.
.
.
__ADS_1
.