Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : TERUSIK


__ADS_3

Matahari akhirnya mau sedikit berbaik hati dengan menguarkan sinar hangatnya untuk bumi pagi ini.


"Pak, saya udah ngga apa-apa, tuh! Liat kan pak, otot baja tulang kawat!" unjuk Rama di tangannya, memang tak dipungkiri pemuda ini tidak loyo, tapi tetap saja tak akan sebesar otot binaragawan.


"Kalau nanti kamu kenapa-napa, sekolah juga yang repot Ramadhan,"


"Bapak nih, do'ain saya yang ngga bener! InsyaAllah pak, saya baik-baik saja," desak Rama memaksa. Mau tak mau pak Marwan mengiyakan permintaan Rama, "kalau ada apa-apa, langsung mundur saja. Saya tidak mau nanti ada kejadian yang tak diinginkan," balas pak Marwan mewanti-wanti, Rama langsung antusias dan mengangguk tegas, "siap pak!"


Nara berjalan di luar villa, seraya membawa sepatunya, acara pagi ini akan diawali dengan senam SKJ.


"Hay Ra, bareng aku yuk!" sepasang kaki bersepatu sneaker hitam berada tepat di hadapan Nara membuat gadis itu mendongakkan kepalanya, "Willy?"


Senyumnya tak kalah hangat dengan mentari, "bareng yuk!"


"Tapi aku---itu!" tunjuk Nara ke arah teman sekelas menjeda ucapannya.


"Mau bareng temen-temen!" lanjutnya.


"Emangnya kita bukan temen-temen kamu gitu?" tanya Dea ikut bergabung bersama 2 lainnya.


Tanpa permisi ataupun ucapan salam, Inggrid langsung menarik tangan Nara yang maaih belum rampung menyimpulkan tali sepatu, "udah---ngga pake alesan! Lagian juga si preman pasar itu udah babak belur kan? Ngga mungkin bangun buat waktu yang dekat," celetuk Inggrid.


"Eh, tunggu! Kenapa kamu bisa tau kalau Rama babak belur?" tanya Nara, alisnya sudah saling bertaut sempurna pertanda ia heran.


Inggrid gelagapan saat sorot mata melotot ia dapatkan dari Gibran dan Dea.


"Ya tau lah, Ra! Anak-anak pada heboh kok!" terang Gibran.


"Yuk Ra!" Willy menarik tangan Nara posesif saat gadis itu belum sempat menjawab dan menolak.


"Tunggu! Nara pacar gue, ngga usah ditarik-tarik! Nara bukan barang," Rama berjalan dengan biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa, tapi tatapan matanya menyiratkan bahwa mereka telah melalui sesuatu sebelumnya yang tak bisa dijelaskan.


Lalu tatapannya beralih pada tangan Willy yang memegang kuat di pergelangan Nara," maaf jangan pernah sentuh-sentuh tangan pacar orang," dengan menekankan kata pacar ia menyeringai pada Willy.


"Ayo yank!" kini malah jadi Nara yang terlihat kebingungan dengan yang sebenarnya terjadi antara mereka.


Sudah seperti barang yang dipindah tangankan, Nara melirik Rama dengan sorot mata meminta penjelasan.


"Yank, liatnya ke depan nanti kesandung batu," ucapnya dengan pandangan lurus.


"Are you oke?" tanya Nara menatap nyalang, melihat lukanya saja belum sembuh betul.


"Seperti yang kamu liat, kalo ada cuma dikeroyok doang mah insyaAllah Rama tidak selemah itu!" ucapnya jumawa dengan berlari-lari di tempat dan meregangkan tangan seperti orang yang sedang pemanasan.


Alisnya terangkat sebelah, dan garis bibirnya tertarik keatas, "oke--oke bapak Rama. Aku percaya!" tapi mata memang tak bisa berbohong, Nara begitu khawatir.


"Udah ngga usah khawatir, kalo aku lemah terus yang mau lindungin sama jagain kamu siapa?" tawanya terkekeh.


"Ya udah tapi kalo kamu cape terus ada yang sakit bilang ya?" pinta gadis itu.




"Gue ngga nyangka tuh anak kuat juga, padahal semalem dia udah hampir koid!" seringai Gibran melihat kepergian Nara dan Rama.

__ADS_1



"Tapi kayanya dia ngga bilang apa-apa sama Nara, buktinya Nara ngga tau apa-apa," ucap Inggrid. Willy menunduk mwlihat rerumputan yang ia tendang dan injak semaunya, ia tau jika Rama bukanlah pemuda dengan mulut ember, ia tau itu.



"Baguslah tuh anak ngga aduan! Seenggaknya kita aman, tau deh kalo si Gilang sama yang lain! " ucap Gibran menggidikan bahu.



"Mereka bukan laki-laki macam itu, justru kita yang harusnya mulai sekarang musti waspada. MIPA 3 ngga akan diem aja, terlebih Rifal sama Tian ada disana kemarin," jawab Willy yang justru berwajah datar.



"Iya juga sii, anak-anak MIPA 3 isinya berandal semua."



Bukannya mengikuti gerakan senam yang seharusnya, anak-anak MIPA 3 malah bergoyang dangdut, ada pula yang hanya diam dan malah menguap manja.



Berkali-kali bu Hilda berdecak, dan berkali-kali juga pak Marwan menjewer kuping beberapanya tapi tetap saja mereka begitu.



"Pa! Udah sehat emangnya?" tanya Muti saat melihat Rama bersama Nara ikut bergabung.



"Udah,"




Tak lama pandangan mereka beralih pada barisan anak-anak MIPA 2, "suth! Mau diserang apa gimana? Gedek banget gua!" ujar Tian menyenggol Gilang, tatapan mereka sungguh tak bersahabat.



"Maunya gue juga gitu Ian. Tapi kita tunggu kata Rama, bagusnya gimana."



"Udah sikat aja lah! Sekali-kali kasih mereka syok terapi!" ujar Rifal, pemuda ini salah satu murid yang malas berolahraga, buktinya ia malah diam dan melakukan peregangan saja tanpa mau mengikuti gerakan senam.



"Jangan sampe Nara tau, berabe!" jawab Bayu.



"Kenapa? Kasih tau aja, biar Nara tau tuh geng anak cub loek tuh kaya gitu kelakuannya, mereka salah milih lawan!" ujar Vian.


__ADS_1


"Rama yang wanti-wanti gitu. Nara ngga usah ikut campur, masalahnya Nara kan tinggal di komplek yang sama, sama mereka."



"Hem, begitu syulittt!" balas Yusuf, sontak saja mereka mendorong punggung dan kepala Yusuf ramai-ramai membuat kegaduhan tersendiri.



Nara tengah mengobrol dan bergerombol bersama anak perempuan MIPA 3, mata Rama tak lepas mengawasi gadis itu, ia tau jika Willy juga tengah memperhatikan Nara saat ini.



"Ram!" mereka menghampiri Rama sesaat setelah acara senam pagi berakhir.



"Suka ngga suka, terima ngga terima. Kita mau kasih pelajaran mereka! Berasa harga diri MIPA 3 diinjek-injek aa bro!" ujar Rifal.



"Mendingan ngga usah deh, daripada jadi masalah repot," Tama yang selalu menjadi air diantara anak-anak luk nut MIPA 3 angkat bicara.



"Kakak pertama, lo ngga usah khawatir. Lu kaya ngga biasa aja Tam," imbuh Vian tangannya tak mau diam mencabuti rerumputan liar yang tengah ia duduki.



"Bukan gitu, masalahnya ini kan di luar. Bukan di sekolah, di kampung orang, jangan nyari ribut!" jelas Tama.



"Mereka yang nyari ribut duluan Tam, masa kita mau diem aja!"



Rama menatap ke arah Willy cs, masih teringat jelas di otaknya dan akan selalu ingat, kejadian kemarin---dengan tanpa berperasaan Willy menyewa segerombol preman sekitar untuk mengeroyoknya yang seorang diri, itu artinya ia telah merencanakan niat jahat ini sebelumnya, lalu apa arti pertemanan yang pernah mereka jalin dulu? Rama tak habis pikir dengan jalan pikiran Willy.



"Dulu, lo boleh nuduh gue semau lo Will, tapi sekarang lo udah ngusik gue," benak Rama.



"Sikat aja! Nanti setelah outbond, bawa mereka ke area kebun teh deket pabrik!"



Tama hanya bisa menthesah berat, sementara yang lain kegirangan, "Yeees! Itu yang kita tunggu dari tadi! Kuy!"


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2