
Nara meloloskan nafas lelah menghadapi Rama, sepertinya kalimat istighfar saja tak cukup mempan untuk menghadapi Rama, apa harus Nara menghafal ayat kursi juga?
"Ya udah yu naik!" pintanya.
"Hari ini aku jadi tukang ojek kamu, aku anter sampe depan rumah!"
Nara menggeleng.
"Sampai depan pintu rumah?" tawarnya lagi dengan alis terangkat.
Nara tetap menggeleng,
"Kalo gitu sampai depan pintu kamar?" tawarnya lagi lebih mengejutkan.
"Eh," Nara melotot, tapi kemudian pemuda ini malah tertawa, "he-he-he, ya udah! Makanya ayo panas nih, aku nungguin kamu dari tadi loh! Kamu lama banget, apa si akang supir angkotnya ngajak jalan dulu sampe kamu lama banget nyampenya?" tanya Rama cerewet.
Daripada pusing mendengar ocehannya, Nara akhirnya mau naik di boncengan pemuda itu, sekali lagi Rama berhasil menaklukkan Nara tanpa harus memaksa gadis ini dengan kekerasan.
Rama tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya saat dengan sukarela tangan Nara memegang di pinggangnya. Gadis yang tadi ia lihat tengah di cafe bersama Willy kini sedang berada di boncengannya. Gadis yang akhir-akhir ini selalu menyita perhatiannya, gadis yang akhir-akhir ini selalu hadir di sela-sela do'anya. Berharap jika suatu hari nanti, ia akan menjadi gadis pujaan hati.
Rama ingat kejadian saat ia mengikuti mobil Willy demi menuntaskan rasa penasarannya,
🌟 Flashback saat di cafe
"Ram--Ram, itu bukannya Nara ya" tunjuk Gilang, setelah sempat kehilangan jejak gara-gara tertutup mobil box, akhirnya ia menemukan jika Willy cs membawa Nara ke salah satu cafe. Tapi yang menjadi fokus utama Rama saat itu adalah tangan Nara yang berada dalam genggaman Willy, ditambah ketiga pasukan minion membawa sebuket bunga, coklat dan tulisan dengan kata i love you. Apakah artinya ia terlambat untuk menyatakan perasaannya pada Nara, apakah Nara membalas perasaan Willy? Arghhhh!
Jika jodoh dekatkanlah, jika bukan maka jauhkanlah!
"Wah Ram! Kayanya Nara lagi ditembak Willy Ram," ucap Ridwan memberikan pendapatnya, siapapun bisa menyimpulkan itu.
"Ha-ha-ha dorrrr!" Bayu membuat tekunjuknya seolah-olah pistol pada dada Ridwan.
"Aaa!" Ridwan memegang dada sebelah kirinya tanda tertembak diikuti tawa Gilang.
"Telat atuh a. Nara keburu di tembak orang!" tanya Bayu.
Rama menyeringai," selama janur kuning belum melengkung Nara masih bisa diperjuangkan," jawabnya.
"Beuh sadis!" ucap mereka bertiga, kemudian mereka kembali melajukan motornya.
Di pertengahan jalan Rama malah menyuruh teman-teman nya itu untuk pulang duluan, sedikit banyaknya pikiran pemuda itu terganggu dengan kejadian barusan, dan memutuskan menanyakan langsung pada Nara.
Tapi rupanya tanpa harus bertanya pada Nara pun, Rama sudah tau jawabannya disaat melihat gadis itu turun dari angkot sepaket wajah mendungnya.
Flashback off
Pagar rumah Nara sudah terlihat, Rama menghentikan laju motornya, "ya udah aku pulang dulu, salam buat camer sama calon kakak ipar!" ucap Rama hendak pamit, Nara mengangguk mengiyakan.
Nara menatap kepergian Rama sampai punggung tegap itu mengecil dan menghilang dari balik tembok komplek, "dih! Aneh, cuman mau nganter dari depan jalan aja trus pulang?" gumam gadis itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, pantesan ngga mau dijemput, sama doi ternyata! Lo pacaran ya?" tembak Akhsan menggodanya.
"Engga ih, apaan sih!" wajahnya tersungging nyinyir level 9.
"Ngaku aja pake bilang mau ke cafe bareng anak komplek segala, jujur aja lagian gue gak marah kok!" lanjut Akhsan, seketika membuat langkah Nara terhenti seperti bus kopaja yang ngerem dadakan.
__ADS_1
"Tumben bang, lo ngga abis geger otak 'kan? Lo ngga abis kecelakaan 'kan? Biasanya kalo ada cowo yg deket sama gue lo ngga suka," sembur Nara dengan mata menyelidik. Sihir apa yang Rama kasih buat si tembok Berlin sampe dia luluh.
"Dih! Bukannya lo selalu pengen gue restuin pacaran 'kan? Sekarang gue restuin kalo lo sama Ram," jawabnya.
"Lo dikasih apa sih bang sama dia sampe luluh? "tanyaku curiga memandang nya menyipit
"Gue curiga deh lo punya bisnis terselubung sama Rama atau lo mau jual gue terus Rama beli? Kaya di cerita-cerita novel?!" tebak Nara menunjuknya sambil mendongak.
"Astagfirullah, suudzon lo. Udah sana! Ganti baju, terus makan!" titahnya sewot.
Nara naik ke atas lalu mengganti pakaiannya, ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Tak terasa ia mulai nyaman dan terlelap.
"Nara! Nara!" samar-samar terdengar suara mama dari lantai bawah, sejenak kesadaran Nara berangsur kembali dari alam bawah sadar.
"Nara ada Willy!" teriaknya membuat mata yang tadinya kesulitan terbuka, mendadak melotot seketika sebesar biji mangga. Kesadaran yang belum sepenuhnya berkumpul kini harus dipaksa terjaga, gadis itu segera turun dari kasur dan mencuci mukanya. Semoga saja tak ada guratan-guratan halus bekas lipatan sprei atau bantal yang membekas di wajahnya.
"Iya ma!"
"Mama udah pulang?" dipijakinya anak tangga satu persatu.
"Ngga tau lupa, 'ga liat jam juga!" jawabnya merapikan baju yang memang cuma pake t shirt dan celana.
"Willy tuh di luar!" ucap Akhsan yang duduk di sofa lalu meraih remote TV demi menonton acara, dipindahkannya channel televisi namun tak jua menemukan acara yang tepat.
Willy terlihat duduk di kursi yang tersedia di teras rumah.
"Will," panggilnya, Nara ikut aku duduk di kursi satunya lagi yang terhalang meja bundar kecil disana, sedikit mepet-mepet biar kalo nanti Willy ngamuk karena udah ditinggal gitu aja di cafe gadis itu bisa segera kabur.
"Ra---"
"Maaf Will, atas kejadian yang tadi siang, aku...." Nara menunduk menyesali tindakannya.
"Ngga apa-apa. Justru aku yang minta maaf, kita baru kenal. Mungkin kamu terkejut ini terlalu cepat, tapi aku serius Ra," jawabnya memotong ucapan Nara.
"Sorry Will, aku ngga bisa. Jujur aja aku ngga punya perasaan apapun sama kamu lebih dari teman," balas Nara hati-hati takut menyinggung perasaannya.
__ADS_1
"Oh," terlihat jelas gurat kekecewaan darinya.
"Iya ngga apa-apa Ra, aku ngerti kok," pemuda itu tersenyum nanar pada Nara.
"Sorry ya Will, sekali lagi," ucapnya benar-benar tak enak, "aku takut kalau dipaksakan itu akan menyakiti perasaan diriku sendiri juga perasaan kamu..." jelas Nara.
Willy mengangguk, "ngga apa-apa, semoga kita masih bisa berteman baik,"
"Kalo gitu aku langsung pulang aja ya," pamitnya diangguki Nara.
Gadis itu menatap punggung Willy yang semakin menjauh, hembusan angin senja mengiringi kepergian Willy dengan wajah sendunya, Nara hanya berharap pemuda berkulit putih itu bisa dapetin gadis lebih baik darinya.
Sejak kejadian di cafe kemarin, Nara selalu berangkat dan pulang bersama Akhsan ataupun Rama yang memaksa memberinya tumpangan. Ia cukup tau diri untuk hal itu, dan hal itu pula lah yang membuat Nara jadi sedikit menjauh dari anak-anak komplek dan lebih sering bersama MIPA 3, tanpa sadar tindakannya ini semakin memupuk kebencian Willy cs pada MIPA 3.
"Gue udah bilang gara-gara cowok preman itu, Nara jadi berubah dan nolak lo Will," ucap Inggrid mengompori sambil menatap penuh amarah ke arah dimana kelas MIPA 3 berada.
"Iya! Lo bener Grid," Dea setuju.
"Kita harus bikin perhitungan buat dia, "usul Gibran mencetuskan ide. Willy yang tengah dilanda kecewa mudah dimasuki fikiran negatif dan hasutan teman-teman nya. Dipukulnya tembok yang tak memiliki dosa dengan kepalan tangannya dan pergi menuju kelas dengan amarah yang sudah menggunung.
Hari ini Rama menariknya ke parkiran untuk mengikuti dan naik ke motornya, ia sengaja menyuruh teman yang lain untuk pulang duluan.
Seperti biasa, Rama akan memasangkan helm dikepala Nara lantas melajukan sepeda motornya dengan kecepatan yang cukup lambat, tidak seperti biasanya ia membawa tanpa Nara.
Terpaan angin dan debu jalanan sudah menjadi makanan Nara sekarang, yang selalu pergi dan pulang sekolah naik motor.
"Liat ngga? Itu---pohon itu Ra! Coba tebak apa perbedaan pohon itu sama aku!" tanyanya ngajakin main tebak-tebakkan. Kepalanya dibuat agak sedikit mendongak ke belakang agar ucapannya terdrngar oleh Nara. Dan gadis itu, sudah tak canggung lagi menaruh dagunya di pundak Rama. Tak tau sejak kapan posisi ini membuatnya nyaman, iya! Gadis itu nyaman bersama Rama, dan satu yang baru saja Nara sadari, Rama bukanlah preman yang bau.
"Ngga tau, males mikir," jawabnya.
Rama tertawa renyah, "Yahhh payah! Kalau pohon itu bisa buat tempat sarang burung," ia menjeda ucapannya.
"Kalau kamu?" tanya Nara.
"Kalau aku bisanya saranghaeo!" jawabnya melepaskan satu pegangan dan menautkan jarinya menjadi love, ia arahkan ke kaca spion agar Nara dapat melihatnya.
Seketika tawa Nara pecah, "mau ku kasih receh ngga buat gombalannya?" tanya Nara.
"Boleh, lumayan buat jajan permen!" balas Rama.
Hanya perjalanan pulang, tapi bisa se-asyik ini bila bersama Rama.
.
.
.
.
__ADS_1