Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : STAY WITH ME, PLEASE!


__ADS_3

"Ya ampunnn---" gumam Vina melirik Rika yang sama-sama menthesah.


"Ya Allah, itu Bayu kenapa?" Mita melongo melihat Bayu sedang duduk di bahu jalan bersama beberapa lainnya dengan luka lebam di dekat mata.


"Pak--pak, bisa tolong dipinggirkan dulu mobilnya disitu?" pinta Vina ke arah posisi Nara. Ketiganya langsung ikut turun dari mobil.


"Tunggu sebentar!" Nara merogoh tasnya dan mengambil dompet.


Ia melongokkan kepalanya ke arah supir taksi online, "pak ini ongkosnya. Maaf ya pak kita turun disini aja, ngga apa-apa saya bayar sesuai aplikasi," ucapku.


"Makasih neng," jawabnya menerima uang dari Nara, lalu mobil pun pergi.




"Bayu!" panggil Nara setengah berlari, sontak saja Bayu tergelonjak kaget melihat Nara. Seperti Nara adalah sosok tak kasat mata yang patut ditakuti.



"Ya Allah Abay, kamu kenapa bisa sampe gini?!" tanya Mita terlihat khawatir.



"Bay, yang lain mana?" tanya Vina.



Nara mengedarkan pandangan di sekelilingnya, mungkin 3 atau 4 orang tengah membubarkan kerumunan warga yang sengaja berkerumun untuk sekedar melihat, mengabadikannya dalam bentuk foto dan video atau memang hendak memisahkan antar remaja yang berkelahi. Sepertinya kejadian ini sudah agak lama, itu terlihat dari sudah tak adanya para pelaku tawuran, hanya menyisakkan sisa-sisa tkp, dan bisik-bisik penonton.



"*Anak muda jaman sekarang mah, ck*!"


"*Yang ditusuk rumahnya dimana*?"


"*Itu yang bawa senjata tajam anak mana aja*?!"


"*Itu da rahnya ya Allah, mana masih anak-anak sekolah*!"



"Rama mana, Bay?" tanya Nara mulai panik demi mendengar ucapan orang sekitar, ditambah kondisi Bayu yang turut terluka.



"Beli dulu plester sama air dulu, Ka!" pinta Vina diangguki Rika.



"Mita, anterin dulu beli obat sama plester buat mereka!" ajak Rika menunjuk Milan, Iko dan 2 orang lainnya.



"Iya ayok," balas Mita.



"Bayu!" sentak Nara karena sejak tadi Bayu hanya diam tak menjawab.



Bayu mendongak melihat wajah Nara ragu-ragu, "Rama lagi bawa Ridwan ke rumah sakit bareng Gilang, Ra.." jawabnya.



"Ha?! Ke rumah sakit?!" bukan hanya Nara yang terkejut tapi pun Vina.



"Si Ridwan kenapa ?!" tanya Vina mewakili pertanyaan Nara.



"Ridwan...." Bayu melirik ke 4 teman di pasar, lalu beralih menatap Nara dan Vina, "Ridwan kena tusuk," jawab Bayu menelan salivanya sulit.



Bayu memejam, dan menthesah kasar, *sorry Ram*.



"Astagfirullah!" Vina dan Nara membulatkan matanya dan menutup mulut yang menganga.



"Rumah sakit mana?!" alis Nara menukik menatap Bayu.



"Rumah sakit Boromeus," jawabnya. Tak lagi tunggu lama, Nara menarik lengan baju Milan, "lo anter gue!" sengitnya galak.



"Tapi teh---" protesnya.


__ADS_1


Nara menatapnya tajam, "lo mau anter atau gue jorokin ke kali?!" ancamnya mendadak sadis.



"Bay?" ia meminta bantuan Bayu, menatap Nara takut.



"Anter aja, nanti bilang Rama kalo gue yang kasih tau!" balas Bayu.



Nara langsung menyetop angkutan umum sesuai arahan Milan. Di sepanjang jalan tangannya saling mencengkram erat, memainkan tali sling tas selempangnya. Seolah angkutan yang ditumpangi berjalan macam siput. Kakinya bahkan menghentak kencang tak mau diam, beberapa kali ia melongokkan kepala ke arah jalanan dan menggigit bibir bagian bawah.



*Bagaimana dengan Rama*? Ia memejam pasrah.



Bangunan rumah sakit sudah terlihat meskipun angkutan umum belum berhenti di depannya, tapi gadis itu sudah tak sabar untuk turun.



"Kang, kembaliannya ambil aja!" ucap Nara.



Nara setengah berlari masuk ke ruang, yang ia tuju adalah ruangan UGD, dimana segala kecelakaan yang membutuhkan pertolongan pertama pasti kesana tujuannya.



Dada Nara sampai naik turun untuk mengatur nafas, bahkan ia sudah benar-benar lemas dan berkeringat melihat seseorang yang dikhawatirkan tengah berdiri menyenderkan badannya di depan salah satu bilik bertirai hijau, bersama Gilang yang duduk di kursi samping pot tanaman tepat sebrang bilik bertirai.



"A!" panggil Milan berjalan menghampiri bersama Nara, membuat Rama dan Gilang menoleh, ia sedikit terkejut melihat dengan siapa Milan datang. Pemuda itu menyampirkan jaket yang biasa ia pakai ke sekolah di bahunya, hanya terlihat beberapa goresan di lengan dan pipinya, and totally semuanya baik-baik saja tidak ada yang terluka dan kurang suatu apapun, "hufft!" Nara menghela nafas lega, bagus! Karena sebentar lagi gadis ini pasti akan menghabisinya.



"Nara, Ram--" gumam Gilang diangguki Rama.



"Yank---kamu ngapain disini?" ia tersenyum bo doh seolah tak terjadi apa-apa.



"Lan, kenapa ayang aa ada disini? Kamu sengaja minta anter sama Milan, yank?" basa-basinya menatap Milan dan Nara bergantian.




Nara menatapnya datar, "udah aktingnya? Kamu tuh ngga jago akting," ucapan Nara itu mematikan senyuman Rama. Lihatlah wajah dengan anak rambut yang dibasahi peluh, beberapa luka goresan yang da rahnya belum mengering dan bercak kotor di bajunya, Nara meneliti itu semua.



"Harusnya aku yang nanya kamu, jadi ini urusan penting kamu?!" tanya Nara. Gadis itu terlihat sangat menahan emosinya, dan mungkin saja sebentar lagi akan meledak.



"Berantem?"



"Ngga bisa pegang janji?" Nara menyerangnya dengan serentetan pertanyaan sumbang.



Rama diam seribu bahasa, ia ingin meraih tangan Nara dengan tangannya tapi gadis itu menepis.



"Tau dari mana kalo aku disini?" tanya Rama. Tapi tak lama kemudian Vina, Bayu dan kedua lainnya menyusul.



"Lang!"



"Kamu *teu nanaon*?!" Vina melihat Gilang dari ujung rambut hingga ujung kaki, Gilang menggeleng.(**ngga apa-apa**?!)



"Ridwan mana?!" Mita terlihat begitu khawatir, sementara Rika hanya bisa diam saja bersama Bayu. Tatapan Rama tajam menatap Bayu, Vina dan Rika seolah meminta penjelasan kenapa Nara bisa berada disini menyusulnya.



"Ridwan masih ditangani di dalem," jawab Gilang.



"Ikut aku," ajaknya keluar dari gedung dan menuju taman rumah sakit.


__ADS_1


Nara mengekor di belakang Rama, kemudian ia menghentikkan langkahnya saat menemukan tempat yang cukup nyaman untuk bicara, "***aku kecewa***."



Rama menghentikkan langkahnya demi mendengar ucapan singkat Nara. Ia memutar badannya dan memangkas jarak antara ia dan Nara, kedua tangan Rama terulur menangkup wajah gadis itu yang kini sudah menunduk menahan rasa kecewa, marah, kesal.



"Kamu liat kan apa yang terjadi sama Ridwan, dan ngga menutup kemungkinan kamu juga bakal ada di posisi Ridwan, masih mau tawuran? *Kalo*...kamu masih bisa ketolong, kalo engga?! Kamu tuh udah janji sama aku Rama! Aku tuh udah kaya cewek be go, mau-maunya di boongin sama pacar sendiri," akhirnya kelopak mata tak bisa lagi membendung lelehan rasa kecewa dan kesal, tak taukah pemuda itu, perasaan Nara sudah seperti apa mendengar dan melihat sisa-sisa kejadian tadi yang melibatkan dirinya.



"Hey--hey, suutt... jangan nangis atuh, iya aku minta maaf," ia mencoba menenangkan Nara yang sesenggukan, ibu jarinya menghapus lelehan air mata Nara, lalu ia menarik Nara ke dalam pelukannya.



"Apa yang kamu dapetin setelah berantem gini? Jabatan---uang, atau suatu kebangaan karena jadi paling kuat?! Dapet apa Rama?" suaranya sudah parau karena terisak cukup dalam.



Rama menepuk-nepuk punggung Nara lembut, sementara Nara membalas itu dengan memeluk pemuda itu, kedua tangannya bertautan erat di bagian belakang kaos hitam Rama, menumpahkan semua kekhawatiran, kekecewaan itu di dada Rama.



"*Sorry*," bisiknya. Rama melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Nara yang sudah sembab, merah dan basah.



Gadis itu menatap Rama dengan sorot mata nyalang, "ternyata aku nggak cukup berarti buat kamu. Buat larang kamu berantem aja aku ngga bisa," parau Nara sambil mengusap air dari hidungnya yang ikut meleleh.



Wajah Rama bergeming dan ia menautkan alisnya, "kok gitu ngomongnya? Kamu sangat---sangat berarti buat aku, Ra," jawabnya meyakinkan Nara.



"Duduk dulu yuk, aku beliin minum ya, sebentar!" Rama menarik Nara untuk duduk di sebuah bangku taman, lalu ia berlari kecil menuju kantin rumah sakit.



"Minum dulu," Rama menyerahkan air mineral kemasan botol yang sudah ia buka segel penutupnya.



Gadis itu meraih dan meminumnya, "makasih."



"Oke, pikiran kamu udah tenang kan. Jangan bilang kaya gitu lagi, kamu tuh orang paling berharga buat aku...maafin aku udah ngecewain kamu, Ra. Tapi beneran, ini diluar dugaan aku sama yang lain. Awalnya aku sama yang lain memang mau ke sanggar, tapi di jalan kita dicegat, ternyata memang udah diikutin dari pasar. Ngga ada niatan buat berantem atau cari masalah, malah aku sama yang lain sempat minta maaf dan menawarkan kata damai. Tapi mereka ternyata udah nyiapin semuanya termasuk senjata tajam, ada indikasi pengen nguasain lahan parkiran di pasar," jelas Rama. Nara menatap Rama lama, mencari kebohongan di wajah Rama.



"Kapan aku pernah bohong sama kamu? Aku memang sering telat bilang, tapi ngga pernah bohong sama kamu, dan ngga mau coba-coba boong juga---kamu percaya aku kan, Ra?" tanya Rama.



Nara menghela nafasnya, "aku percaya." Gadis itu memeluk Rama dan menaruh dagunya di pundak Rama, "jangan pernah bikin aku khawatir lagi, kamu harus selalu baik-baik aja."



Senyum kecil terbit dari wajah Rama, ia mengusap kepala Nara "siap non! Makasih udah khawatir," jawabnya.



"Maafin aku udah buat kamu khawatir. InsyaAllah ini yang terakhir," ucapnya lalu mengecup pucuk kepala Nara, *cup*!



"Aku udah deg-deg'an, aku pikir kamu bakal mutusin aku karena aku berantem." Ujar Rama, sontak saja Nara melepaskan pelukannya.



Dengan wajah yang kembali galak, "oh jadi kamu mau aku putusin?" tanya Nara.



"Ya engga lah...justru aku takut kamu inget sama ucapan kamu kemaren yang ngancem minta putus kalo aku berantem, aku sampe do'a sama Allah, minta biar kamu amnesia sama kejadian semalem," balasnya.



"Jahat banget minta aku amnesia," ucap Nara menatap mendelik dan memukul lengan Rama.



"Emang iya, aku kepikiran sama kata-kata aku semalem. Punya pacar preman kaya kamu bikin aku punya penyakit jantung!" lanjutnya.



"*Don't leave me and stay with me, please*..." ujar Rama.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2