Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : PUNCAK 2


__ADS_3

Tap--tap--tap!


"Ahhh capek!" ia menghempaskan tubuhnya di sofa membuat semua yang ada di situ menoleh, "Rama?!"


"Ai kamu kemana aja! Orang-orang sampe semaput nyariin!" Vina memukulnya dengan bantal sofa.


"Si papa, orang-orang udah pada nyariin!" seru Mutia.


"Ha-ha-ha, abis nyawer biduan ya Ram?" tawa Vian.


Ada hati lega, kesal bercampur jadi satu. Nara menghampiri nya dengan wajah tak bersahabat," kamu darimana aja?"


"Kenapa? Ada yang aku lewatin?" tanya nya membeo.


Gilang tertawa renyah, "si kamvrett--kamvrettt."


"Kenapa sih ngga kasih kabar? Jadi ngga nyariin gini," gadis itu mendengus kesal dan berlalu keluar.


"Nah, marahin aja Ra! Tuman!" imbuh salah satu teman dari kelas IPS.


"Jangan marah, tadi aku cuma dipanggil pak Marwan, disuruh bantuin ambil logistik," ucapnya mengekor mengikuti Nara.


"Maaf ya, habisnya kan tadi kamu ke toilet. Mau bilang otomatis harus masuk ke toilet, disana banyak cewek---yang ada aku dikeroyok cewek, kalo nyelonong masuk!"


"Kenapa ga nelfon?"


"Batre hape lowbath," ia menunjukkan ponselnya yang mati. Nara meloloskan nafas lelahnya, "ya udah, lain kali kabarin dulu."


"Cie! Khawatir nih yee!" ia mencolek hidung Nara.


"Sshhh!" Nara melotot menepis tangan Rama yang mulai berani colak-colek sambalado, "bukan sabun colek!"


"Istirahat gih, yang lain pada bobo siang---apa mau bobo..gohan?" tawanya memiringkan badannya menyenggol Nara. (pacaran)


"Aku cape, biasa tidur siang, jadinya jam segini udah ampir oleng." Jawab Nara.


"Ya udah istirahat aja.ke kamar, atau mau dikelonin? Yuk!" ajaknya.


"Istigfar Ram, masa aa ustadz mesum!" sarkas Vina yang ikut keluar dari Villa.


"Si Vina mah sirik aja dasar jomblo!" ejek Rama.


"Biarin! Daripada punya pacar kaya kamu, lieur!" balas Vina mendesis dengan penuh penekanan dan menepuk jidatnya.


"Lang! Kode! Si Vina minta ditembak katanya!" teriak Rama memanjangkan lehernya, dimana Gilang dan yang lain berada di ruang depan.


"Dorr! " Gilang membuat gerakan seperti sedang memegang senjata dan membidik Vina dari dalam.


Vina hanya memutar bola matanya, "lo berdua samaan gilanya!" sarkas Vina.


"Aku duluan ke kamar deh!" Nara melengos masuk.



Sudah beberapa kali Nara berganti posisi, namun karena disini terlalu berisik, padahal pintu kamar tertutup rapat. Alhasil ia tak bisa terlalu lama memejamkan mata, kelopak matanya mengerjap cantik. Diedarkannya pandangan ke arah ranjang tepat di sampingnya, Vina, Mita dan Rika ternyata ikut tertular virus ngantuk Nara, buktinya kini mereka masih terlelap bertumpukan. Tangan Mita bahkan sampai memeluk perut Nara, pantas saja gadis itu merasa perutnya berat.



Sedikit-sedikit gadis itu mengangkat tangan Mita dan beringsut turun dari ranjang.



Ia berjalan menuju jendela kamar, dimana kacanya mengembun akibat hujan. Rupanya hujan turun cukup deras sesiang menuju sore ini, padahal tadi pagi cuaca masih cukup terik.



Bau air yang membasahi tanah merah dan perkebunan teh memberikan aroma segar tersendiri disini. Nara mengambil ponsel yang sejak tadi ia taruh di meja, nomor pertama yang ia hubungi adalah Rama.


Satu pesan singkat ia kirim lewat whatsapp, tapi sedetik kemudian alisnya mengerut saat melihat hanya tanda centang satu.



"Di cas kali ya?!" gumam Nara.



Ceklek! Nara menoleh saat pintu terbuka, dan ternyata Tasya, "ma--nyenyak banget tidur lo, kok bisa sih pada boci gini. Gue malah ngga bisa, berisik!" ujar Tasya.



"Udah biasa Sya," Nara ikut keluar dari kamar. Pandangannya terhenti melihat anak MIPA 3 yang bergerombol rebutan cemilan sambil ngopi di luar teras.

__ADS_1



"Sya! Buru satu aja lah rasa ayam bawang," pinta Fajar.



"Beli nyuk!"



"Ujan Sya!" kekeh Fajar.



Dengan diiringi lagu yang tak tau kemana arahnya karena campur-campur anak MIPA 3 menikmati suasana kawasan puncak diantara hujan.



"Yank Mut, sini deketan aa biar anget!"



"Ke laot sono lu!" Vian mendorong kepala Yusuf keras dan merebut selimut tipis yang memang sedang diperebutkan, satu selimut dipakai oleh 3 anak yang badannya bongsor jelas saja mereka rebutan, mana gambarnya piyo-piyo.



"Lo berdua bisa diem ngga cup, Vian---ini gue kedinginan!" tembak Tian.



"Jangan ditarik ntar sobek ihhh!" seru Tasya si pemilik selimut.



"Ahhh, udah ngga aman Sya kalo dipake rebutan sama kurawa semua mah! Tuh liat, bentar lagi sobek!" tawa Mery.



"Gabung ah," Nara duduk di samping Tasya.



"Sini-sini ma, sama dedek aja duduknya!" jawab Yusuf.




"Mau pop mie ngga Ra?" tanya Dian menunjukkan mie sejuta umat yang selalu jadi bestie'nya para petualang. Nara mengabsen satu persatu kawannya, terasa ada yang kurang, ingin bertanya takut dikira pacar posesif, taunya malu kaya tadi. Ia mengurungkan niatannya bertanya pada anak-anak tentang keberadaan Rama, membiarkan pemuda itu muncul dengan sendirinya.



"Ra, si Rama mana? Tumben ngga bawa hape, hapenya di cas di kamar," tiba-tiba saja Gilang bertanya membuat Nara menautkan kedua alisnya.



"Loh, kok nanya sama aku? Kan tadi dia bareng kalian ?" jawab Nara.



"Lah, dikira sama kamu, Ra soalnya dari tadi ngga ikut gabung disini," timpal Bayu.



"Paling juga disuruh guru lagi, kalo ngga jalan-jalan atau ngga godain cewek-cewek kaya yang biasa dia lakuin," jawab Nara.



"Ha-ha-ha! Cemburu nih ye!" tukas Rifal mengejek.



"Papa emang biang! Biangnya kadal!" tawa Mutia.



"Ketemu hajar Ra!" tawa Rio.



"Tapi Rama gitu-gitu ngga pernah gombalin cewek di sekolah deh kayanya selain guru! Bener ngga sih?" tawa Dian meminta pendapat yang lain.

__ADS_1



"Bener!" angguk Tasya menjeda ucapannya.



"Palingan guru dia gombalin, mau guru cewek--cowok juga dia gombalin!" lanjutnya.



"Kalo si cupid mah yang cakep-cakep dia gombalin ngga kelewat!"



"Halah, bini si babeh warung kopi juga dia gombalin!"



"Ayam tetangga gue aja dia gombalin!"



"Sat! Mulut lo!" umpatnya tak terima, semua tertawa dengan candaan receh itu, langit yang mulai senja malah semakin menunjukkan mendung nan gelap.



Gilang kembali melihat jam ditangannya, karena hujan yang malah semakin deras akhirnya mau tak mau anak-anak dipukul mundur masuk ke dalam villa.



"Hujan ih, basah ah! Masuk oy--masuk!"



Sudah beberapa jam sejak mereka sadar bahwa Rama tidak ada, batang hidungnya tidak muncul-muncul.



Nara bahkan sudah berapa puluh kali melirik jam di pergelangan tangan. Duduknya saja sudah gelisah tak jelas.



"Kenapa Ra?"



"Engga," Nara menggeleng namun kemudian ia beranjak dan berkeliling villa berharap menemukan Rama, tapi sayang usahanya nihil.



"Lang, kok aneh ya! Udah lama loh Rama ngga ada---" akhirnya ia bersuara juga.



"Duduk dulu, Ra." pinta Gilang.



"Kenapa?" tanya Rifal yang baru saja kembali dari misi rahasia, merokok diam-diam.



"Fal, liat Rama? Dari tadi dia ngga ada." tembak Nara.



"Dari kapan?" tanya Rifal. Kini bukan lagi Nara, Rifal dan Gilang yang mengobrol melainkan Vian, Ridwan dan Bayu.



"Kita cari sama-sama, tapi nanti setelah hujan reda," ucap Gilang, pemuda itu meraih gitar dan memetik senarnya bergantian, sebenarnya pikirannya pun sedang bergelut keras untuk berfikir kemungkinan Rama berada, namun sikapnya yang tenang mampu menutupi rasa cemasnya.



"Coba telfon Vi--" pinta Rifal pada Vian, pemuda itu langsung merogoh ponselnya.



"Hapenya ditinggal," jawab Gilang. Rifal menatap Gilang dan Tian seolah ada yang tak beres.


__ADS_1


"Mau kemana?" Tasya berkacak pinggang menghadang jalan Tian.


"Keluar bentar, cari bapaknya anak MIPA 3, kamu disini jangan kemana-mana, ujan! Makan aja yang banyak, biar nanti aku ngga sakit pinggang kalo mau sun jidat," kekeh Tian.


__ADS_2