
Selepas solat subuh, Nara memutuskan untuk memejamkan kembali matanya, efek mondok di Puncak bawaannya ngantuk terus, wajar saja---disana Nara terkadang tak bisa tertidur pulas. Ia memutuskan untuk seharian berada di rumah.
Mau jalan?
Hari ini aku pengen istirahat deh Ram, ngga kuat cape eung.
Ya udah istirahat aja di rumah, nanti kalo sempet aku ke rumah ya.
Oke.
Begitulah pesan Rama dan Nara. Sebenarnya badan Nara terasa capek sekali, tapi rasa penasaran begitu besar menggelayuti. Ia beranjak menuju lantai bawah dengan stelan olahraga berharap pagi ini dapat bertemu kembali dengan Kirana.
"Ma, Nara lari pagi sebentar ya!" pamitnya menutup pintu rumah.
Ia memulai langkah, sengaja menyusuri blok rumah Kirana. Jangankan melihat gadis itu, pagar rumahnya saja terkunci rapat, seperti tak ada penghuni di dalamnya.
"Apa mereka ngga ada ya? Yah--sia-sia deh, udah capek-capek lari malah ngga ada kan! Dah lah," Nara bergumam memutuskan untuk pulang saja.
Hari ini, nothing special. Seakan kembali pada kebiasaan lamanya yang selalu sendiri dan sepi. Mama pergi bekerja begitupun papa yang ke rumah makan dan konveksi termasuk Akhsan yang ngampus. Rumah kembali sepi, kecuali Bi Asih.
Ting!
Jalan jajan malam yuk! Kujemput jam 8,
Senyum Nara terbit, oke---kutunggu.
Gadis itu segera menyongsong kamar mandi untuk bersiap-siap sebelum sang arjuna menjemput.
Nara memilih pakaian terbaiknya malam ini, sampai mengacak-acak seluruh pakaian yang ada di lemari.
"Kalo pake dress ntar terbang-terbang lagi, kan naik motor!" kembali ia mengaduk-aduk isian lemari bak milkshake. Matanya berbinar melihat celana jeans dan blouse, "ini ajalah! Kaya biasanya,"
"Cie, mau apel ya neng?" seloroh bi Asih.
"Iya, nanti kalo mama keburu pulang tapi Nara keburu pergi bilangin mama Nara jalan sama Rama ya bi," pesannya.
"Okeh neng!"
Nara melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 20.10 WIB.
"Tumben banget ngaret," cebiknya mulai resah, Nara memutuskan untuk menunggu di teras luar.
Beberapa kali Nara memanjangkan lehernya ke arah luar pagar rumah, berharap motor berisik itu melaju ke arah rumah, tapi nihil. Hingga netra Nara mengikuti pergerakan sebuah mobil mini bus sejuta umat yang berhenti tepat di depan rumahnya.
"Eh," Nara melihat dengan tatapan berkerut.
"Sheila!!!!" teriak mereka menghambur keluar dari dalam mobil tersebut.
"Popy---Karin?!!" ucap Nara mengangkat kedua alisnya, "ya Allah!" Nara membuka pintu pagar rumahnya dan menyerbu berpelukan dengan kedua teman semasa sekolah di Jakarta.
"Ya Allah Sheil! Kangen banget kita ih!" teriak mereka excited, berpelukan gemas layaknya anak kecil.
"Kangen kalian juga. Kalian kok ngga bilang sih mau kesini?" tanya Nara membawa keduanya duduk di kursi teras depan.
"Ya elah Sheil, ada tamu tuh dikasih nafas dulu kek, kasih minum dulu, makan gitu!" cibir Popy, gadis berkacamata minus seperti Mita ini memang suka paling heboh kalo soal makanan.
"Iya nih, kita tuh aus loh jauh-jauh dateng ke Bandung. Kasih minum kek gitu, ajak liburan keliling Bandung," ucap Karin ikut berseloroh.
"Ha-ha-ha" Nara tergelak, "iya maaf abisnya gue seneng banget ada kalian disini, kaget gue. Ngga nyangka!" Nara yang awalnya kesal menunggu Rama akhirnya menaruh tas selempang secara sembarang dan masuk ke dalam.
Popy melebarkan pagar dan membiarkan mobil masuk ke dalam portcar rumah Nara.
"Bi! Tolong bikinin minum ya! Ada tamu!" teriak Nara kembali keluar rumah.
Ia kembali dikejutkan dengan keluarnya 3 orang pemuda yang sangat ia kenal, bahkan salah satunya pernah mengisi hati Nara, tapi itu dulu, dan hanya sebentar saja kisah indah mereka terjalin.
"Hay Cheil!" sapa Elvian.
"Cheil, gimana betah di Bandung?! Ngga ada kabar nih!" ujar Martin.
"Hay El, hay Martin...baik. Iya, masih adaptasi---" jawab Nara, tapi kemudian pandangannya jatuh pada pemuda cukup tampan, kalem dalam balutan kemeja navy dan celana panjangnya, dialah Robi---sang mantan.
"Hay Cheil---apa kabar?"
"Baik," jawab Nara singkat, berbeda dengan Rama yang terbilang aktif, mendominasi dan mudah mencairkan suasana, Robi adalah pribadi kalem-kalem menyejukkan, keduanya sama-sama merasa canggung hingga terlibat moment awkward, bagaimanapun Nara pernah menjalin hubungan dengannya, dan memutuskan hubungan pun secara baik-baik.
Hingga Popy dan Karin memecah keheningan, "ekhem, jangan--jangan bakalan terjadi CLBK nih!"
"Cinta Lama Belum Kelar?" tawa Elviant menggoda. Robi hanya tersenyum manis saja.
Kedatangan mereka hampir membuat Nara lupa jika ia memiliki janji dengan Rama. Bahkan sekarang sudah pukul 21.00 malam tapi Rama tak nampak, bahkan keluarganya saja sudah datang sejak tadi dan sekarang tengah bergabung dengan teman-teman Jakartanya.
__ADS_1
Nara kembali melihat ke arah ujung jalan rumah demi memastikan kalau Rama melanggar janjinya malam ini, ia menghembuskan nafasnya lelah, "kayanya Rama ngga datang."
"Sheil! Liatin siapa sih?!" teriak Popy berada di ambang pintu.
Nara berbalik dan menggeleng, "engga."
Nara memeriksa ponsel, tak ada chat apapun dari siapapun, "bahkan chat pun engga." Ada hati yang kembali menghela nafas berat disana, sang jantung kembali berdenyut kecewa.
Teman-teman Nara memutuskan bermalam di rumah.
"Kita tuh sebenernya mau dari beberapa hari kemaren kesini, tapi sekolah lagi sibuk!" ujar Karin memakan kue kering yang disuguhkan.
"Heem, sorry ya Cheil baru bisa kesini. Kasih kejutan yang udah basi!" lanjut Robi.
"Eh, ngga apa-apa. Justru malah bikin kalian repot! Toh ultah aku juga udah kelewat kemaren."
"Oh ya sebentar!" Robi lantas beranjak dari duduknya segera, dan keluar menuju mobilnya.
Tak selang berapa lama ia kembali dengan sebuah boneka teddy bear berwarna coklat muda berpita merah, ukurannya itu loh! Sebesar badan Nara.
"Tadaaa! Happy birthday!" serunya.
"Cieee---"
Akhsan memang tak pernah bisa sedekat saat bersama Rama saat bersama Robi, dan itu memang sejak dulu.
"Mereka nginep ma?" tanya Akhsan.
"Iya, kasian kalo pulang kemaleman. Bahaya,"
"Bilang jangan lama-lama." Sarkasnya seolah tak suka, sontak saja mama menghadiahinya dengan sikutan, "ck! Ngga boleh gitu ah!"
"Tante, om, bang Akhsan. Makasih banyak udah dikasih tempat buat nginep!" ujar Karin.
"Iyee, lain kali ngga usah bawa cowok." Sahutnya terang-terangan membuat suasana tak enak, Nara bahkan sudah mencubitnya.
"Hehe, maaf. Bang Akhsan canda! Kalian hati-hati ya, makasih banget udah jauh-jauh kesini cuma buat kasih kejutan ultah!"
"Aman om, makasih."
"Hati-hati jangan ngebut Rob, makasih banyak ya, kalian masih inget Sheila..sampe repot-repot datang ke Bandung, salam buat keluarga sama yang lain di Jakarta," ucap mama.
"Sama-sama tante, jadi kangen tante deh." Popy bahkan sudah memeluk mama Nara.
"Kalo gitu kita pamit tan, om, bang!" ujar Elvian diangguki yang lain.
"Iya---iya."
"Ahhhhh---ngga pengen pisah. Pindha lagi kek Sheil--ke Jakarta!" Karin dan Popy memeluk Nara.
"Baik-baik ya kalian disana," jawab Nara.
"Dah Sheil--" Nara melambaikan tangannya singkat.
Pandangannya dan Robi bertemu, jika mata Robi seolah menyiratkan kerinduan lain halnya dengan Nara yang tak lagi ada rasa apapun, karena sepenuhnya ada Rama disana.
__ADS_1
Mobil keluar dari halaman rumah Nara dengan lambaian tangan teman-temannya.
Mama, papa dan Akhsan sudah masuk ke dalam sejak tadi, tapi Nara masih disana. Ia bahkan sampai melongokkan kepalanya ke luar pagar demi melihat mobil Robi hilang di ujung jalan. Saat yang bersamaan pula ia melihat sosok gadis melintas sambil berlari pagi.
"Kirana?" gumam Nara di kejauhan dengan menyipitkan matanya demi memastikan penglihatannya benar.
"Kirana!" Nara membuka pagar rumah lagi.
Kirana tersenyum, "hay Ra! Yang tadi tuh siapa?"
"Temen-temenku dari Jakarta. Oh iya dari kemaren aku nyariin kamu tapi kamu ngga ada,"
"Iya, aku ke rumah oma." Baru saja Nara akan membuka kembali mulutnya, tapi ucapan Kirana itu membuat Nara langsung mengatupkan mulutnya.
"Oh ya Ra, gue lupa! Sekali lagi bilangin thanks ya buat Rama, kemaren malem udah mau nolongin gue sekaligus jadi temen curhat gue!"
"Rama?" bibirnya bergumam.
"Oh, iya nanti aku bilangin," jawab Nara menelan saliva sulit, seolah pasokan udara pagi ini tidak tersedia untuknya lagi, dada Nara terasa begitu sesak.
"Kalo gitu aku duluan ya!" Kirana pamit duluan, membuat Nara hanya bisa mengangguk saja tanpa berkata-kata lagi. Dadanya terlalu sesak, dan otaknya terlalu kosong untuk berpikir.
Nara berbalik masuk ke dalam pagar, tapi Kirana kembali memanggil, "eh iya sampe lupa. Kamu nyariin aku ada perlu apa, Ra?"
Nara menggeleng, "engga. Cuma ngga ada temen lari aja. Kalo gitu aku masuk ya!" Nara segera berbalik demi menyembunyikan bibit--bibit air matanya.
"Oke see you!" teriak Kirana.
Tanpa berucap apapun, langkahnya lurus setengah berlari menuju kamarnya.
"Ra, nanti siang kalo keluar---"
"Nara ngga akan keluar ma!" potongnya cepat dan berlalu.
Ketiganya saling pandang, "Nara kenapa?"
Papa menggidikkan bahunya tak tau, "tadi bukannya ngga apa-apa?"
"Ra," mama ingin menyusul Nara tapi Akhsan menahannya, "biar abang aja ma,"
.
__ADS_1
.
.