
Keningnya berkerut beberapa lipatan, "ngomong apa?" Nara melengos ke arah teras depan, terpaksa Rama mengekori.
Gadis itu duduk di teras depan yang berbatasan dengan halaman kecil berumput di depan rumah, memandang lurus ke arah rerumputan jepang yang tumbuh sama panjang. Rama ikut duduk di sampingnya.
"Aku mau nanya, kamu kenal Kirana?"
"Kirana? Kirana mana--Kirana Larasati, Kartika Candra Kirana atau---"
"Ck! Kirana yang tinggal disini, katanya temen Inggrid!" jawab Nara, jangan salahkan Rama kalau ia menautkan alisnya, Nara menyebutkan Kirana tinggal disini, sementara saat mengenal Rama, Kirana belum tinggal disini, begitupun Inggrid---saat masih berteman dengan Rama, Kirana belum mengenal Inggrid, bahkan Willy pun belum mengenal ketiga temannya sekarang.
"Engga tau, selain dari Willy aku ngga kenal siapapun disini."
Nara mengangguk paham, lantas kenapa Kirana begitu mengenal Rama?
"Aku pernah kenal satu Kirana, tapi kayanya udah ngga di Bandung," tambah Rama, kini raut wajah Rama berubah--seperti sedang merasakan kecewa.
Pemuda itu menoleh pada Nara, "memang dia bilang apa, apa dia bilang aku pacarnya? Jangan percaya!" Ujarnya.
"Dih geer! Bukan. Katanya dia kenal kamu, dia juga bilang---hati-hati sama Willy cs!"
Ia menaikkan kedua alisnya, "aneh! Hati-hati kenapa, mereka vampir mau nyedot da rah aku kah?" kelakarnya tak pernah serius menanggapi, tapi sejurus kemudian tawa itu menjadi garing, tatapan Rama jauh ke depan.
"Kenapa?" tanya Nara melihat perubahan raut wajah Rama.
"Ngga apa-apa," ia menggeleng.
"Ada yang mau diomongin lagi?" tanya Rama, Nara menggeleng.
"Kirain mau ngomong rindu gitu, ngajak nikah kek!" ia tertawa renyah, dibalas dorongan pelan di kepala Nara, "ah iya! Aku marah, seharian kamu ngga ada kabar! Tau-tau malah datang kesini sama abah--ambu," desis Nara.
"Surprise!" serunya, tapi Nara tak ikut terkejut atau senang, "telat!" sarkasnya.
Rama tertawa, "telat ya?"
"Ya udah, balik ke dalem lagi yuk! Ngga enak, masa dua-duaan di luar--"
Beberapa hari berlalu sejak kedatangan Rama sekeluarga. Nara melipat surat ijin orangtua yang sudah dibubuhi tanda tangan papa dan memasukkannya ke dalam tas.
Hari ini adalah terakhir pengumpulan surat ijin, karena lusa adalah hari H.
Bukan lagi sayup-sayup, pendengaran Nara dijejali oleh suara knalpot motor Rama yang berisik. Mau tak mau kini setiap harinya blok rumah Nara harus kedatangan suara berisik di pagi dan sore hari yang bikin para penghuninya kepingin nyiram air kobokan pada Rama saat melintas.
Nara tersenyum lebar, dengan semangat ia menyambar tasnya dan turun ke lantai bawah. "Ma, pa! Nara pergi dulu, assalamualaikum!" salimnya tergesa, siap menyambut sang arjuna dengan motor bututnya.
Senyum itu tak pernah pudar apalagi saat Rama menyambutnya, "assalamu'alaikum, pagi neng! Atas nama nyonya Rama?" tanya Rama layaknya ojek online. Nara tertawa renyah, "belum jadi loh, mang!" bisik Nara mencondongkan wajahnya, meraih helm.
"Mangga atuh neng, aa udah siap!" Rama menggeser duduknya sedikit lebih depan. Dengan senang hati Nara naik, "udah mang! Berangkat!" serunya. Tak ada kata bersedih selama itu bersama Rama, dan Nara alami itu, berangkat sekolah aja berasa lagi nontonin lenong.
Nara merogoh saku seragamnya, dan menarik selembar uang berwarna ungu saat turun di parkiran sekolah.
"Nih! "ia menyodorkan uang itu pada Rama.
Sontak saja Rama menautkan alisnya, "apa nih?"
"Ongkosnya mang!" Nara menaik turunkan alisnya.
"Bener nih?" tanya pemuda itu.
Tak ada kata jaim dengan tak menerimanya, Rama dengan sukarela menyambarnya lalu menamparkan uang itu ke jok motornya berkali-kali, "lumayan penglaris...." katanya membuat Nara terkikik.
__ADS_1
"Dih, pasangan aneh! Ini nih couple goals-nya MIPA 3," ucap Bayu baru datang bersama kedua temannya yang lain.
.
.
"Guys! Kumpulin kertas ijin oyyy!" teriak Tama.
*Srettth*!
Nara menarik resleting ransel besar, semua peralatan dan kebutuhan untuk study tour sudah memenuhi ruang di ransel hingga terlihat sesak.
Terdengar suara orang mengobrol di lantai bawah saat Nara menyeret tas besar dengan agak kepayahan.
"Lah, kapan sampenya? Kok ngga kedengeran suara knalpot motor kamu?" tanya Nara.
"Iya, aku titip motorku di depan pos satpam." Jawabnya nyengir.
"Loh, kenapa ngga dibawa ke rumah? Biasanya kan dibawa kesini," tanya mamah.
"Ngga apa-apa tan, biar bisa ngerasain jalan berdua aja sama Nara. Ya walau cuma sampe depan doang," jawab Rama.
"Ayo ikut sarapan dulu, Ram!" ajak papa.
"Ya elah, Ram. Ngga usah sungkan! Lagian ni anak juga kan sering ikut makan di rumah lo kan?!" ajak Akhsan sambil menyendok nasi ke mulutnya.
"Dih! Ngga sering, baru kemaren aja kok," jawab Nara. Rama hanya tersenyum menanggapi keluarga Nara, "ha-ha ngga apa-apa."
Karena paksaan keluarga Nara, akhirnya Rama ikut sarapan, "yok! Udah jangan sungkan!" ajak mama Nara yang sudah mendorong badan Rama.
"Ra, ambilin piring buat Rama!" pinta mama. Nara mengangguk, tak hanya mengambil piring saja, ia juga menyendokkan nasi untuk Rama.
"Wah, ini mah lulus langsung nikah kayanya!" goda Akhsan tertawa, yang langsung dihadiahi tendangan kaki di bawah meja oleh Nara.
"Awww! Galak!" jeritnya namun langsung tertawa, Nara hampir saja melemparkan centong pada abangnya itu.
"Nara! Akhsan! Kalian ini, malu ada tamu! Udah kaya kucing sama guguk aja!" ucap papa.
"Makasih," Rama menerima piring berisi nasi goreng.
__ADS_1
"Sama-sama," jawab Nara.
Rama terlihat berbeda dengan stelan casualnya. Gayanya memang urakan, ditambah topi dengan pad ke belakang dan anting hitam tempelan di telinga kirinya menambah kesan keren di diri Rama.
"Ram! Titip adek gue ya! Jagain--dia suka kelayapan!"
Rama meraih tas Nara, tak membiarkan gadis itu kepayahan mengangkat tas ransel.
Dapat Nara lihat kini keadaan kelasnya sibuk sesibuk-sibuknya.
"Cupid ai kamu apa-apaan bawa termos!"
"Takut nanti mau ngopi!"
"Minta atuh Sya, meni pelit ih!"
"Udah ah! Buat nanti disana!" sewot Tasya yang sejak tadi snack miliknya di comot oleh sebagian siswa laki-laki.
"Udah!" Tian menarik kerah baju Rio, "si boncel badannya aja yang kecil tapi makannya mirip orang kesurupan!" ingat betul Tian dengan makanan-makanan itu, iyalah! Karena dialah yang membelikannya tadi pagi. Ada isyarat kesal dari Tasya, gadis mungilnya itu memang hobby ngemil, dan sekarang makanan-makanannya di comot geman sekelas.
"Nanti kubeliin lagi, ngga usah ngambek." gumam Tian berbisik.
"Mama! Ma---dedek bobo bareng mama ya ma!" teriak Yusuf.
"Kamvrettt, lo mah di ketek gue !" Rama menjepit kepala Yusuf ke dalam ketiaknya.
"Yang cewek jangan pelit pop mie lah! Ntar disana bagi gue!"
Nara tertawa melihat kehebohan mereka yang seperti akan pergi bertualang tak pulang-pulang, apalagi meributkan masalah perut.
"Cuyyy! Absen, PaRam! Tolongin gue data anak-anak tuyul!" pinta Tama berteriak dari ambang pintu kelas.
"Rama," senggol Nara saat perhatian Rama masih pada anak-anak MIPA 3.
"Oh, apa Tam?"
"Datain anak-anak tuyul, gue nyari bus MIPA 3 dulu," jawab Tama.
"Oke!!"
Rama bangun dari duduknya, "Yang ngerasa anak manusia diem!" teriak Rama.
"Dedek anak manis pa!" teriak Yusuf.
"Gue anak tetangga!"
"Gue anak kemaren sore!"
"Si boncel anak ingusan, Ram!" teriak Tian yang menggoda pacar gelap-gelapannya itu, karena sejak tadi bibirnya maju saja cemberut.
Bughhh! Tasya memukul punggung Tian.
"Ada----" Rama menghitung anak-anak MIPA 3 yang tak bisa diam.
"Ck! Dahlah pokoknya tak terhitung weh!" thesahnya menyerah.
"Ih kamu mah ngga bener!" decih Nara, gadis itu ikut menghitung dan memastikan jika anak-anak kelas ini ada semua.
.
.
__ADS_1
.
.