Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : ANEH


__ADS_3

"Kamu sama yang lain dulu, tunggu di parkiran, aku ke toilet sebentar!" ujar Rama, dan Nara mengangguk mengiyakan lalu berjalan duluan bersama teman lain tiap selasar kelas bersama MIPA 3 lain.


"Sya!" teriak murid IPS dari kelasnya.


"Oy!" sahut Tasya melambaikan tangannya ke arah kelas IPS 4 yang berada di lantai dua.


"Sya! Sini mampir dulu, nih si Adel gelar la pak keripik!" teriak Riki.


"Ah ogah ah! Ntar gue kesana udah abis lagi!"


"Eh beneran, buru sini ntar baliknya gue anter!"


"Bener tapi ya?!" timpal Tasya ingin menghentikan langkah.


"Syaaaa!" seorang gadis lagi muncul di sebelah Riki.


"Ondel---" sapa Tasya.


Tian melesak diantara anak MIPA 3 ia bahkan membelah jalan diantara Mita dan Nara untuk berjalan tepat berada di belakang Tasya. Nara dan Mita sampai saling lirik, "kayanya Tian sama Tasya ada apa-apa deh Ra, liat gelagat Tian," bisik Mita.


"Berisik cel, lo pikir ini hutan teriak-teriak. Jalan mah jalan aja ntar lo kepentok tembok!" Tian menundukkan kepala Tasya dan mengarahkannya agar melihat lurus ke depan.


"Iya ih," dumel Tasya mendelik ketus.


"Lain kali aja Ki, Del!" Tasya menatap sekilas Tian. Nara hanya mengulum senyuman, ia sudah tau dengan hubungan keduanya.


"Yo! Ntar malem gue ke rumah!" Fajar naik ke atas motor bebek dengan knalpot yang sudah diganti jadi racing.


"Om Fal ih, ngga dimana-mana ngantuk terus! Kapan ngga ngantuknya?!" cibir Tasya melihat Rifal yang selalu menguap.


"Ra, kita duluan ya!" seru Dian, Merry.


"Oke!"


"Kalian duluan aja Vin, aku nunggu Rama dulu, tadi ijin ke toilet. Nanti aku nyusul ke warung babeh!" ujar Nara diokei Vina, Rika, dan Mita.


"Rama ke toilet?" tanya Ridwan diangguki Nara.


"Kita nunggu di babeh, Ra." Pamit Bayu.


Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan parkiran sementara Nara masih berdiri tepat di depan motor Rama.


"Kalo emang udah jadian ngapain harus backstreet sih--" senggol Nara pada Tasya, seperti biasa Tasya dan Tian memang selalu berpisah disini, lalu bertemu di ujung jalan.


"Apa sih Ra," Tasya tersenyum dan ketawa tiwi sendiri.


"Gue udah tau kali Sya, anak-anak MIPA 3 juga pasti ngerti kok."

__ADS_1


Tasya menunduk dan menggembungkan pipinya, "tau ya ma? Pasti PaRam ya yang ngasih tau?"


Nara menggeleng, "Rama ngga bilang apa-apa. Gue liat sendiri,"


"Gue sama Tian cuma belum siap aja diledekin temen-temen Ra, apa jadinya kalo kucing sama an jink malah jadian,"


"Ck, sempit banget pikiran lo Sya. Nah apa kabar sama gue?" imbuh Nara.


"Emhh iya sii---ntar aja lah, nanti dimintain peje lagi, tau sendiri MIPA 3 kaya apa?!" keduanya tertawa.


"Ra ! !"


Suara deru mesin motor gede terdengar seiring suara panggilan nama Nara. Tasya dan Nara menoleh menghentikan tawa keduanya.


Meski ia berhelm full face tapi kedua gadis ini sudah dapat menebak jika itu pasti Kenzi itu terlihat dari postur dan perawakannya. Dan benar saja ia membuka kaca helmnya hingga nampaklah separuh wajah bagian mata.


Kenzi, keduanya bergumam.


Kenzi mengedarkan pandangannya ke sekeliling parkiran tak ada Rama disini ataupun teman-teman yang lain selain Tasya.


"Pulang bareng?" tawarnya, Nara melihat Tasya yang juga memandangnya.


Gadis itu menggeleng, "aku bareng Rama," jawabnya singkat wajah Kenzi langsung berubah datar.


"Kenapa sih, Ra ?! Rama lagi, Rama lagi apa sih kelebihan tuh anak?!" bentaknya membuat Nara dan Tasya terjengkat kaget.


"Kasar ih!" gumam Tasya.


"Iya bentar! Ini nemenin Nara," jawab Tasya tak bisa meninggalkan Nara hanya berdua saja bersama Kenzi.


Kilatan mata marah terlihat jelas dari Kenzi. Untung saja Rama segera datang, "sayang," panggilnya lembut dari belakang Kenzi.


Tatapan Kenzi beradu dengan Rama, rahang Kenzi semakin mengeras, pemuda itu menutup lagi kaca helmnya dan menstaterkan motor lalu pergi dengan menggaskan motornya dengan kencang tepat dihadapan ketiganya, bahkan ia menatap penuh pemusuhan saat melewati Tian, tentu saja pemuda dengan badan atletis itu tak takut dengan Kenzi, "apa lo!"


"Kalo gitu aku duluan deh, tuh anak genderuwo udah manggilin dari tadi!" pamit Tasya.


"Bye! Hati-hati Sya!" gadia mungil itu berlari menuju Tian berada. Dati kejauhan Tian mengangguk pada Rama pertanda pamit.


"Kamu ngga apa-apa ?" tanya Rama dan Nara menggeleng.


______________


Esoknya seperti biasa Rama menjemput Nara.


"Ma, pergi dulu!" Nara tergesa berlari membawa serta tas yang kemudian ia gendong. Tapi langkahnya melambat, alisnya berkerut begitu kencang.


"Kok ngga pake seragam?" tanya Nara.

__ADS_1


"Yu naik!" ucap Rama bukannya menjawab.


"Oke deh---" dahinya makin mengkerut seraya memperhatikan baju Rama sampai jok belakang, tak ada waktu untuk berdebat mengingat waktu sudah menunjuk ke arah 7 kurang seperempat.


"Nanya nya nanti aja, sekarang naik jalan dulu takut nanti telat!" seakan tau keheranan Nara, diangguki Nara, "oke."


Selama perjalanan Rama hanya fokus dengan laju motor dan jalanan. Ia sedikit ngebut berhubung sudah hampir kesiangan, ia menyalip kendaraan di depannya dengan epic sampai Nara mengeratkan pelukannya di perut Rama. Ia cukup ahli melakukannya bahkan terbilang luwes seperti seorang pembalap.


"Alhamdulillah!" Nara menghembuskan nafas lega karena akhirnya sampai di depan gerbang sekolah di menit-menit terakhir.


Tapi tiba-tiba saja Rama menghentikan laju motor tepat di depan gerbang sekolah, ia tak memasukkannya sampai parkiran dalam. Sontak saja Nara mengernyit heran.


"Turun disini ya yank," pintanya, Nara menurut saja meski ia kebingungan, "loh kok berenti disini Ram? Biasanya juga kan di dalem?"


Why? What's wrong?!


Ia melebarkan senyuman, "kamu masuk gih nanti telat!" ucapnya meraih tangan Nara dan mengusapnya lembut. Nara benar-benar dibuat tak mengerti dengan sikap Rama, "terus kamu, kok ngga ikut masuk?"


"Aku ngga masuk dulu hari ini," ia beralih mengusap rambut Nara.


"Kamu sakit ? Atau kenapa ?" tanya Nara dengan cepat menangkup wajah Rama dan menempelkan punggung tangan di dahi pemuda itu, namun ia menggeleng .


"Hari ini aku ijin yank," ucapnya ragu seperti terlihat sedang berfikir saat ingin mencari kata untuk menjawab.


"Oh, mau kemana?" tanya nya lagi.


"Ada urusan mendesak, jadi hari ini ngga masuk dulu sekolah. Nanti jangan macem-macem dikelas. Kalo mau apa-apa bilang Gilang, jangan kemana-mana sendirian! Atau nanti bisa kabarin aku," jelas Rama, meski bingung Nara mengangguk patuh, tak ada Rama rasanya aneh saja.


"Ya udah masuk gih, keburu bel. AKU PERCAYA KAMU," ucapnya.


"Pulangnya ku tunggu di warung babeh," Rama mulai memundurkan motornya dan berbalik arah.


Kemudian ia melambai pada Nara yang juga membalasnya, "bye!"


Nara masih diam di depan gerbang dengan wajah yang tak bisa dijelaskan, mungkin terkesan sedih dan bingung saja hingga Rama benar-benar hilang dari pandangan.


Gadis itu memutar badan dan masuk ke dalam sekolah, ia berjalan dengan tatapan nyalang.


Bunyi bel masuk saja tak ia hiraukan dan lebih memilih berjalan santai menuju kelas, gadis itu sibuk dengan pikirannya.


"Rama kok aneh ya?"


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2