
Untungnya keadaan Ridwan tidak begitu parah karena target tusukan hanya menembus bahunya tidak terlalu dalam, setelah sebelumnya Rama sempat menarik tubuh Ridwan dari arah tusukan kalau saja Rama telat barang sedetik, sudah dipastikan Ridwan pun bakal masuk ICU entah dapat tertolong atau tidak, bahkan kini Ridwan sudah bisa kembali tertawa hanya perban saja bekas jahitan yang menempel di bahunya.
____________
Esoknya Rama datang ke rumah Nara, membawa serta sebuah keranjang dan kresek yang ia bawa dari rumahnya.
"Rama, kemana aja?! Kok baru kesini?" sahut mamah yang senang melihat Rama. Macam kekasih yang baru berjumpa dengan belahan jiwa.
"Iya maaf ma, baru bisa kesini lagi," jawabnya tersenyum sopan.
"Dih, mama--" Nara mengernyit geli.
"Oh, ya ma---salam dari ambu sama abah, ini...." Rama menyerahkan bungkusan oleh-oleh dari Ambu dan abahnya.
"Eh, apa nih?! Kok repot-repot sih?!" ujar mamah yang langsung menerima bungkusan kresek putih dan sebuah keranjang dari bambu.
"Wah apa tuh?!" Tak ada angin tak ada hujan, makhluk berjuluk Abang tiba-tiba muncul seperti hantu.
"Ah, sampe lupa! Dimana ada makanan disana ada bang Akhsan!" cebik Nara.
"Sa ae lo boncel," balasnya.
"Wah, thanks ya Ram. Sering-sering kaya gini, besoknya lamaran juga gue restuin!" ujarnya seenak hati.
"Dih, murah banget gue seharga oleh-oleh!" sarkas Nara.
"Sorry ya Ram, bang Akhsan malu maluin," ucap Nara nyengir.
"Ngga apa-apa. Alhamdulillah ko kalo keluarga kamu seneng dikasih yang beginian," ujarnya.
"Gimana ngga seneng orang gratis?"
"Mau jalan?" tawar Rama.
Nara tertawa, rupanya inilah trik Rama, menyuap keluarganya lalu dengan mudah ijin keluarga mengalir begitu saja, sabi---sabi.
Nara mengangguk, "oke aku ganti baju dulu," Rama mengiyakan.
Sesekali terdengar pekikan lebay dari Akhsan, "Ram, sini gabung! Thanks ya, ini enak loh sumpah! Ini tahu apaan namanya?" dengan mulut yang sibuk mengunyah dan penuh dengan tahu.
Nara berdecih, "abang makan tuh jangan sambil ngomong, jijik tau!" sarkasnya.
"Wah! Enak-enak, mungkin ini ya yang orang-orang sebut tahu Sumedang?" timpal papa Nara makan dengan rakusnya sama dengan Akhsan tadi.
Rama tertawa renyah "iya pa, coba juga yang itu. Pasti ketagihan," tunjuk Rama pada keranjang bambu.
__ADS_1
"Nah kalo ini, mamah suka nih! Lumayan bagus buat diet! Empphh legitnya, bilangin sama abah dan ambu makasih, hatur nuhun, thank you!" ucap mama Nara tak kalah senangnya menyantap ubi Cilembu yang nampak menggiurkan dengan lelehan karamel alaminya tanpa tambahan pemanis.
"Alhamdulillah, nanti disampaikan," jawab Rama.
"Ram, kapan-kapan kalo gue pesen boleh kan, sumpah--asli ini enak banget!" ucap Akhsan tak tau malu, Nara sampai memukul punggungnya, "Ih ngarep dotkom!"
"Boleh, insyaAllah nanti kalau pulang ke sana lagi dibawain!" Rama tak kalah antusias karena berhasil merebut hati keluarga Nara.
Nara ijin pergi bersama Rama pada keluarganya, "abang ih! Sisain Nara, Nara juga mau ma!" dengusnya kesal melihat Akhsan yang sudah mencomot kesekian kalinya.
"Udah mama simpenin kok, gih sana! Kamu kalo mau jalan, jalan aja! " ucap mama setengah mengusir membuat Akhsan tertawa tergelak.
"Udah kamu jalan aja. Ram, jaga anak gadis papa baik-baik ya...jangan lupa bawa lagi pulang, jangan dibungkus! Belum halal," Nara sampai melotot tak percaya dengan ucapan papahnya, semudah itu menyerahkan anak gadis kesayangannya pada orang lain.
"Siap pa!" Rama menghormat layaknya seorang tentara.
"Ati-ati Ram, dia galak! Jajannya juga banyak," sahut Akhsan, sontak saja dihadiahi tatapan tajam dari Nara.
"Udah ah! Pamit, assalamu'alaikum!" Nara melengos begiru saja disusul Rama.
"Tungguin dong!!" Rama menyamai langkahnya dengan Nara.
"Asiikkk udah dapet lampu hijau dari camer," seru Rama kegirangan membuat Nara mengernyit tapi pun merasa geli.
"Masih jauh Ram, kita aja masih kelas sebelas." jawab Rama.
"Ralat menuju duabelas, memangnya kenapa, niat baik mah jangan ditunda-tunda, harus disegerakan," ucapnya jumawa.
"Ya masih terlalu dini buat ngomongin masalah begituan," dengusnya.
"Ngga apa-apa lah biar jadi motivasi," ucapnya pasti namun terkesan memaksakan.
"Udah yu! Mau kemana kita hari ini ?" Nara mencoba mengalihkan pembicaraan, karena ia rasa perdebatan ini tak akan berakhir dengan cepat dan ujung-ujungnya ia juga yang akan kalah karena Rama adalah si pemenang lomba debat, ada saja jawabannya.
"Emh, terserah. Mau nya kemana?" bukannya menjawab Rama malah balik bertanya.
"Kalo jenguk Ridwan aja gimana? Jadi pengen tau gimana keadaan nya sekarang ?" celetuk Nara memberi usul.
Tapi Rama malah merengut seperti tak setuju, "kenapa ?" tanya Nara yang sudah memakai helm.
"Kamu khawatir sama Ridwan ?" tanya nya.
Nara mengangguk tak paham maksudnya, "iya lah! Ridwan kan teman aku dia juga sahabat kamu, emangnya kamu nga khawatir gitu?"
Rama menatap Nara, "aku ngga suka kamu khawatir sama laki-laki selain aku, kamu cuma boleh khawatir sama aku, tertawa juga karena aku." Rama mengangguk pasti dengan ucapannya.
__ADS_1
"Dih lebay!" Nara mendorong kepala Rama pelan.
Ia terkekeh, "sejak kapan pacarku ini jadi si pacar posesif kaya di buku novel ?" tanya Nara.
"Jadi ngga suka nih diposesifin?" tanya Rama menaik turunkan alisnya.
Gadis itu menggeleng, "jangan! Cukup jadi Rama ku yang seperti biasanya," jawab Nara sukses membuat Rama tertawa renyah.
Sungguh, Rama yang tertawa seperti ini menambah nilai plus kegantengan-nya di mata Nara.
"Biasanya kan gitu, cewe tuh maunya diposesifin?!" ujarnya sambil naik ke atas motornya.
Nara menggeleng, "cewek siapa tuh?! Yang jelas itu bukan aku," Nara menyusulnya naik lalu melingkarkan tangannya dipinggang Rama.
"Berangkat!" seru Nara, motor pun melaju, Rama melempar candaan ringan membuat keduanya tertawa kecil bahkan tergelak sama-sama.
Gadis ini menatap lurus ke depan sesekali menoleh ke arah Rama yang masih bicara, jika bisa ia meminta pada Tuhan.. jangan pernah biarkan hari ini berakhir. Jangan biarkan ia kehilangan hamba Tuhan yang kini sedang bersamanya. Pemuda yang mampu membuatnya tertawa bahagia meskipun dengan hal sederhana. Benar kata orang, bahagia itu sederhana bahkan dengan melihat bentuk awan saja bila bersama dengan orang yang disayangi saja sudah cukup bikin hati ter-awan-awan, ck! Nara menggelengkan kepalanya yang sudah mulai tak waras.
Motor berhenti di depan gerbang komplek.
"Kirana?" gumam keduanya saling bertukar pandang .
"Hey Ram---Nara..."
"Kamu kenapa Ki?" bukan Rama tapi Nara yang bertanya.
"Ini ban motor gue bocor kayanya, mana tambal ban jauh lagi!" keluhnya berwajah lecek.
Rama terlihat memperhatikan ban motor Kirana yang tampak kempes ia membuka helm nya seperti ingin mampir dan membantu.
Nara sudah menggigit bibir bawahnya menantikan reaksi Rama, gadis itu bergumam... berharap Rama tak akan meninggalkannya demi menolong Kirana macam adegan sinetron yang seminggu ini selalu Nara tonton bareng mama-nya. Nata menggeleng, fix! Kehaluan dan kelebayan sinetron sudah meracuni otak pintar Nara, bolehkah ia egois dengan berdo'a jika Rama akan egois dan tak harus membantu sesama.
"Bisa bantuin gue ngga?" rengeknya memasang tampang kucing kecebur got, sadgirl.
"Sini gue bantu," jawab Rama.
"What?" Nara menaikan alisnya dan melongo sedangkan senyuman terbit dari wajah Kirana.
.
.
.
.
__ADS_1