
"Pada boong lu semua. Bilangnya maen ps di villa sebelah taunya malah pada ngumpul disini!" ujar Vina.
"Iya dan temen-temen lo ini udah ngerujak temen gue! Minggir!" ujar Dea sengak ingin pergi membawa Gibran.
"Ba coth lo! Jangan dipikir gue ngga tau kalo lo berempat yang udah macem-macem duluan sama MIPA 3! Lo semua tau kan sekarang kalo berurusan sama MIPA 3?! Gue giling juga nih! " Vina berujar murka, jangan mereka pikir Vina akan takut seperti Mita, gadis ini cukup bar-bar untuk disebut kalah.
Tatapan Inggrid tajam pada Vina, "apa lo liat-liat?!" sengit Vina.
"Sikat tante Vin!" imbuh Yusuf.
"Udah!" Gilang menepuk jidat Vina dan menariknya untuk menjauh, jangan sampai gadis ini ikut tawuran juga nantinya.
"Yuk balik lah!"
Rifal hanya tertawa, mereka semua menyusul meninggalkan keempat manusia beda kelas itu.
"Camkan, jangan pernah macem-macem lagi sama anak MIPA 3, atau nanti lo semua yang bakal gue ancurin!" ucap Rifal tajam, ia kemudian menyulut rokok dan mengecup pipi Dea, seolah merendahkan gadis ini.
"Aaaa! Najis lo! Br3nk sekkkk!!" tolak Dea segera mengelap pipinya.
"Beuhh om Fal, curi-curi, bilang aja lo nav suu om! Mau juga gue om, sun-sun inde_hoy gitu!" tawa Andy.
"Sun---sun go kong?!" tawa Tian.
"Sono ambil! Gue mah banyak yang kaya begitu di club malam!" jawab Rifal.
Langkah Nara semakin cepat dan setengah berlari membelah jalanan pabrik dan berakhir di perkebunan teh, wajar kah ia marah? Rasanya wajar saja, bukan menghindar---hanya....
"Ra!" Tangannya tertarik oleh Rama yang berhasil menyusulnya.
"Sorry," dengan sorot mata memohon. Nara menatap Rama, dan ia mengingat semua raut wajah Rama tadi saat bicara dan menatap Willy penuh rasa murka dan kecewa.
"Ya." Jawab Nara lalu melepaskan tangan Rama dan kembali berjalan untuk kembali ke villa.
"Ra," Rama kembali mengejar Nara.
"Aku mau balik, aku tau kamu lagi punya urusan sama Willy, sama Gibran---sama Kirana, yang kata kamu ngga kenal itu, jadi aku ngga mau ganggu," Nara menekan dada Rama dengan telunjuknya.
Rama menangkap telunjuk Nara, "oke aku salah, maafin aku udah boong. Ra---jangan kaya gini atuh," Ia mengecup sekilas telunjuk Nara itu.
"Hey, liat aku," Rama menyentuh dan mendongakkan Nara, dan tatapan gadis itu terlihat begitu kecewa, benar kecewa! Inilah pertama kalinya ia merasa dicurangi, dikecewakan terlebih, itu oleh Rama.
"Aku bisa jelasin,"
Nara menggeleng, "ngga perlu. Tanpa harus kamu jelasin pun aku udah tau kalo kamu kenal Kirana, aku emang cewek be go yang percaya aja sama kamu, tapi kuping aku masih berfungsi dengan baik, bisa denger obrolan kamu sama Willy barusan,"
"Ram, aku ngga pernah minta macem-macem sama kamu sampai saat ini. Tapi apa salah aku ngarepin kamu jujur?" terlihat raut kekecewaan itu begitu jelas.
"Kalo saat ini aja kamu udah berani boong, apa kedepannya---" mata Nara menatap dalam ke netra Rama.
"Atau sebaiknya kita akhiri aja hubungan---"
__ADS_1
"Enggak! Please jangan gini, marahin aku Ra, pukul karena aku salah, tapi jangan gini--- " tolaknya cepat memotong ucapan Nara.
"Please dengerin dulu alasan aku, itu cuma masa lalu yang pengen aku lupain, dan rasanya hal itu toxic untuk hubungan kita Ra, yang harus aku buang jauh-jauh."
"Aku pengen pulang, aku capek Ram."
"Oke, aku anter."
"Ngga usah,"
"Nara. Aku anter!" tegasnya. Nara melirikkan matanya ke arah belakang badan Rama yang ternyata anak-anak MIPA 3 sudah bubar jalan.
"Aku bareng yang lain," tunjuk Nara dengan dagunya. Gadis itu menyingkir dari Rama dan malah menempel pada Vina.
"Ra, beneran Tasya nyariin gue tadi?" tanya Tian.
"Iya! Pas dia ke villa sebelah, dia baru sadar lo kibulin, termasuk gue sama yang lain!" bukan Nara yang menjawab tapi Vina.
"Mamposs lo, Tasya kalo ngamuk kaya banteng matador!" tawa Yusuf.
"Si eta teh beneran gitu jadian sama si Tasya," tanya Andy menunjuk Tian.
"Si eta-si eta.." tawa Bayu.
"Engga, cuma mama gue aja suka ngobrol sama mama Tasya, tuh anak suka ngaduin," sahut Tian berbohong.
Bayu menyikut Gilang, dan menunjuk Nara serta Rama bergantian.
"Nah kan! Apa gue bilang, nih anak-anak boong!" teriak Tasya mendelik sinis melihat anak-anak MIPA 3 sudah kembali, tapi tatapannya itu ditujukan untuk Tian.
"Wah, gue ditinggalin. Abis pesta arak ya?!" kelakar Rio.
"Saravvv!"
Sesampainya di villa, Nara memilih langsung masuk ke dalam kamar dan menutupnya.
"Eh, Nara kenapa?" mereka melihat sikap Nara barusan.
"Mama marah, liat dede nonton pelem bok 3p," jawab Yusuf.
"Gelo!" desis Vina tertawa.
"Cupid ih! Mulutnya di sensor kenapa sih!" ketus Muti.
"Kamvrett emang si cupid!" tawa Vian.
"Udah Ram, ngga usah disamperin dulu," pinta Vina.
"Ada apa sih?! Ada yang gue lewatin ya?!" tanya Dian.
Nara menjatuhkan badannya di kasur, dan berguling menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
"Rama boong sama gue," gumamnya. Ia tertawa sumbang, "diboongin kok sakit ya?" tapi kemudian senyumnya itu pudar.
Nara bangun mengambil ponselnya, menscroll demi menemukan nama kontak Akhsan. Dirasa sudah tak ada kegiatan lain lagi selain penutupan, ia memutuskan untuk pulang duluan.
"Hallo, abang?"
"Kenapa cel?"
"Abang jemput Nara bisa ngga? Tapi mau sekarang juga---hari ini juga, pokoknya ngga mau tau, Nara sakit bang! Pengen pulang, jangan tanya Rama atau siapapun. Jemput sekarang!" belum Akhsan menjawab pertanyaan, Nara sudah mematikan sepihak.
Gadis itu segera merapikan semua barang-barangnya, ia membuka pintu kamar lalu menuju kamar mandi untuk mengambil alat mandi yang tertinggal.
"Ra? Mau mandi?" tanya Mita melihatnya menyambar handuk dari gantungan bersama.
"Gue pengen pulang sekarang, udah nyuruh bang Akhsan buat jemput," gadis itu kembali masuk ke dalam kamar. Rama hendak melangkahkan kakinya tapi Gilang dan Vina menahan.
"Tau kan kalo orang emosi tuh ngga bisa dilembutin?"
"Mama kalo marah serem banget." Ujar Yusuf setengah berbisik
"Justru yang pendiem yang marahnya serem," sahut Merry.
"Emangnya lo, kalo marah senengnya acak-acak toilet!" timpal Rifal pada Yusuf.
"Om Fal kok tua!" tunjuk Yusuf berkelakar.
Dirasa hatinya sudah mulai kembali tenang, Nara memilih keluar dari kamar menuju halaman belakang villa seraya menunggu Akhsan.
Gilang yang awalnya hendak ke dapur beralih menghampiri Nara.
"Ada baiknya kamu dengerin dulu penjelasan Rama, Ra---" pemuda bertatto di bahu itu ikut duduk di teras dengan menekuk lututnya.
"Kecewa itu wajar kan? Namanya juga diboongin. Gue bukan malaikat Lang. Gue cuma butuh waktu buat nata hati dulu, biar bisa liat Rama tanpa harus emosi dan berpikir suudzon---"
"Tapi lo open minded kan Ra?" tanya Gilang, Nara menoleh pada pemuda ini dan mengangguk, "iya. Hanya aja gue cuma lagi emosi aja tadi. Diboongin itu ngga enak Lang, tapi gue tetep mau Rama jelasin semuanya sendiri. Tadi itu cuma ekspresi kekecewaan aja---" Nara tersenyum tipis.
"Syukurlah, memang sudah seharusnya Rama sendiri yang kasih tau, positif thinking aja! Gue kenal Rama udah lama, tau dia luar dalem--ngga mungkin ngelakuin itu kalo ngga punya alasan tertentu," Gilang membuang nafas lega.
Alis Nara bertaut, "oh iya. Apa lo juga kenal Kirana?"
Gilang terdiam sejenak, "kenal," jawabnya singkat.
.
.
.
.
Note :
__ADS_1
* Si eta : si dia, si itu.