Crazy Villain 2

Crazy Villain 2
Prolog


__ADS_3

Di tepi laut terlihat seorang pria tua sedang berjalan jalan dengan tangan berpangku ke belakang dan tubuh yang sedikit bungkuk. Rambut hitam panjang yang sudah kelihatan banyak uban tergerai terbawa angin meskipun sudah diikat. Dia terlihat seperti menikmati angin sore dipinggir pantai.


Namanya adalah Huang Jin Cheng. Dia adalah seorang kultivator kelas atas yang menyendiri di sebuah pulau. Dia biasa dipanggil, kakek Huang oleh penduduk setempat. Dan dia adalah tiang kekuatan di pulau itu. Simpelnya dia adalah orang yang paling dihormati di pulau. Kakinya berjalan diatas pasir yang terombang ambing oleh air laut seperti sesuatu yang ada dikejauhan. "Hm? Apa itu?" Kakek Huang menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas benda apa itu.


Itu adalah, mayat!?


Mata kakek itu langsung melotot ketika melihat ada mayat dipinggir pantai. Kakek Huang langsung melesat menuju mayat tersebut. Dia segera mendekati mayat tersebut ketika jarak mereka semakin dekat. Langsung saja dia berlutut satu kaki dan memeriksa denyut nadinya melalui tangan dan leher orang itu. Ternyata dia masih hidup, namun denyutnya lemah.


"Astaga… bertahanlah!? aku akan mencoba mengeluarkan airnya dulu!?" ujar kakek Huang. Setelah itu kakek Huang langsung meletakkan kedua tangannya diatas dada pemuda tersebut dan menekatnya beberapa kali dengan keras untuk mengeluarkan airnya. Akhirnya setelah beberapa kali dilakukan pemuda itu mengeluarkan airnya beberapa kali.


"Uhuk uhuk!?" matanya masih tertutup rapat menahan rasa sakit akibat luka dalamnya, 'Sialan!? Apa aku mati untuk kedua kalinya? Kenapa aku selalu kalah dari kep**at itu?' Pikir pemuda itu ditengah kesadarannya. Saat membuka mata dia melihat seorang kakek tua tengah mengkhawatirkan dirinya. Dimatanya terlihat mirip dengan seseorang yang dia kenal. "Kakek… Luan…?" ujar pemuda itu terbata bata karena terluka parah. Sepertinya karena belum benar benar sadarkan diri dia jadi berhalusinasi.


Kakek Huang heran dengan siapa kakek Luan itu. "Sepertinya kau salah. Aku bukan kakek Luan." Ujar kakek Huang ramah.


"Bohong!?…Aku… sudah… mati…dan… disini… adalah… akhirat. Kau… pasti… kakek… Luan…,iya…kan? Aku… tidak… menyangka… kau… masih… menyebalkan… seperti… dulu." Ujar pemuda itu keras kepala.


Sejujurnya kakek Huang tidak pernah bertemu dengan orang semenyebalkan ini, 'Apa anak muda zaman sekarang semenyebalkan ini? Lihatlah dia, dia bahkan memelototiku seperti aku adalah musuhnya.' Pikir kakek Huang sedikit kesal. "Nak, kau masih hidup. Jika kau tidak percaya kau bisa mengecek apa kau masih bernafas atau tidak." Ujar kakek Huang sedikit sarkas.


Sepertinya pemuda itu mulai percaya dengan kata kata kakek Huang. Dia masih selamat dari kematian. Tapi kesadarannya mulai gelap. Samar samar suara kakek Huang menjadi tidak terdengar jelas.


Gelap

__ADS_1


Semuanya menjadi gelap dan sunyi.


Didalam kepala pemuda itu terdengar suara yang memanggil manggil dirinya. Namun suaranya terdengar samar dan tidak terlalu jelas. Tapi seiring berjalannya waktu suara itu semakin jelas dan memanggil dirinya. Suara yang penuh dengan warna hitam dan kegelapan yang menyelimuti tubuhnya. "Bagunlah!? Apa kau akan terus berbaring seperti orang bodoh? Bangunlah!? Tidakkah kau ingin membalaskan dendam pada sang matahari yang telah melukaimu? Aku ingin lihat, apa pikiranku tentangnya masih sama atau tidak. Apa? Apa kau akan pura pura mati? Aku tahu kau sudah bangun. Asal tuan tahu, hanya aku yang seti__"


"AGRH DIAMLAH!?" Teriak pemuda itu tiba tiba terbangun dari tidurnya.


Saat dirinya terbangun dia sudah ada disebuah kamar sederhana. Tubuhnya sudah terbapit perban begitu juga dengan kepalanya. Dia melihat lihat kamar itu dan tertangkap oleh matanya seorang kakek tua yang kaget dengan teriakan pemuda itu. "A ah, kau sudah bangun ternyata. Kau terluka cukup parah, jadi kupikir akan butuh waktu beberapa hari lagi menunggu mu siuman." Ujar kakek itu mencoba mencocokkan situasi.


"Tunggu, siapa kau? Dan dimana kakek Luan? Bukannya tadi yang menolongku adalah kakek Luan? Apa, apa kakek Luan sudah kembali lagi ke akhirat? Aku tahu dia menyebalkan, tapi kenapa dia menjadi semakin menyebalkan setelah mati?" Ujar pemuda itu melantur. Dia berbicara seorang yang menolongnya adalah arwah gentayangan yang baik hati.


Kakek Huang tidak tahu situasi apa ini. Tapi dia tahu dengan pasti kalau pemuda disampingnya bukanlah orang biasa. Karena pemuda disampingnya adalah…


Kakek Huang memijat mijat keningnya sendiri karena pusing telah menolong seorang pemuda gila. 'Haaah, bisakah aku memitah waktu kembali? Jika aku tahu dia orang gila aku tidak akan menolongnya seperti ini. Dia bahkan tengah berbicara sendiri sekarang. Sayang sekali, padahal dia masih sangat muda. Tapi otaknya sudah tidak waras.' Pikir kakek Huang sedikit kasihan dengan pemuda disampingnya. Kakek Huang berjalan mendekati pemuda itu dan duduk dipinggir tempat tidur. "Nak, aku yang menolongmu saat itu. Bukan kakek Luan!? Aku yakin, kakek Luan yang kau maksud sudah berada di surga." Ujar kakek Huang sembari tersenyum lembut.


Seketika dimata pemuda itu kakek Huang tampak seperti seorang malaikat. Matanya sedikit berbinar binar melihat kakek Huang.


Sedangkan kakek Huang sendiri memiliki firasat buruk dengan mendapati pancaran mata yang berbinar binar dari seseorang. 'Tiba tiba aku mendapatkan firasat buruk.' Pikir kakek Huang. "Ngomong ngomong, siapa namamu?" Tanya kakek Huang.


"Yohan." Ujar Yohan cepat. Ya, pria tampan itu bernama Yohan. Memiliki rambut hitam panjang beserta mata semerah berlian rubi dan kulit seputih salju. Hidung mancung dan bentuk wajah yang sempurna, juga bibir seksi yang pas untuk 'sesuatu'. Dia memiliki tubuh yang ideal dengan tampang yang menjadi idaman. Tapi sayangnya dengan wujud yang seperti itu dia…… gila.


"Dan kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini?" Tanya kakek Huang lebih detail.

__ADS_1


"Aku…" Tiba tiba Yohan berhenti bicara. Sekarang dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Terkadang dia juga berbisik bisik sendiri seakan berbicara pada seseorang. Kemudian matanya melirik kakek Huang yang memperhatikannya. "Aku… tidak ingat!?" Dengan mimik wajah yang tersenyum cerah dia mengatakan itu dengan percaya diri.


"Benarkah? tapi ekspresimu mengatakan sebaliknya." Ujar kakek Huang yang pastinya tidak percaya.


Yohan kaget dengan kakek Huang yang tidak percaya dengannya. 'Biasanya trik ini akan berhasil pada anak kecil. Kenapa kakek tua ini tidak mempan? Sepertinya aku harus mengubah taktik.' Pikir Yohan. Tentu itu akan berhasil pada anak kecil. Tapi ini orang dewasa, siapa yang akan percaya?


"Emm, kau tahu? Aku… lupa." Ujar Yohan.


"Kau tidak serius, kan?" Tanya kakek Huang semakin tidak percaya.


"Aku sangat serius!?" Ujar Yohan dengan wajah seriusnya.


'Aku merasa seperti dibodohi oleh orang gila.' Pikir kakek Huang. "Huuh, sudahlah… Aku tidak akan menanyakan lebih lanjut jika kau tidak ingin menceritakannya. Kalau begitu aku pergi dulu." Ujar kakek Huang yang kemudian pergi.


Senyum Yohan pudar setelah kakek Huang pergi dan digantikan dengan ekpresi dingin dan menyeramkan. "Kisah menyedihkan seperti itu, tidak perlu untuk diingat." Ujar Yohan penuh dengan kebencian didalamnya. Tepat setelah ia berkata seperti itu, kabut hitam tebal menyelimuti dirinya.


"Benar!? Hal tidak penting seperti itu tidak perlu untuk diceritakan, Tuanku." Ujar bayangan hitam.


...~~...


...SEMOGA SUKA!?...

__ADS_1


__ADS_2