
Keesokan harinya Yohan datang kembali ke perpustakaan. Seperti biasa dia akan membaca buku. Kali ini dilantai empat dia akan membaca. Yohan memberikan token murid pada Kakek perpustakaan.
"Kali ini dilantai berapa?" Tanya Kakek Perpustakaan.
"Empat." Ujar Yohan singkat.
Setelah itu Kakek perpustakaan mengeluarkan token lain yang terukir nomor 4. Saat dirinya akan memberikan token itu pada Yohan, tepat setelah Yohan ingin meraih token tersebut ia menarik kembali tangannya membuat Yohan tidak bisa mengambilnya. Karenanya ia mendapat tatapan tidak senang dari Yohan. "Pak tua ini hanya bercanda, kenapa berwajah serius seperti itu?" Ujarnya sembari memberikan token. Dengan secepat kilat Yohan mengambil token tersebut dan berjalan menaiki tangga. "Jika ada buku yang ingin kau cari, kau bisa bertanya padaku~ ke ke ke ke ke ke…"
Namun sepertinya Yohan tidak mempedulikan si Kakek. Dia terus berjalan menuju lantai empat.
"Jarang sekali melihat senior menggoda seorang junior." Ujar seorang pria yang tak lain adalah Kang Muron. Dia tersenyum ramah pada Kakek perpustakaan.
Akan tetapi sepertinya Kakek perpustakaan tidak menyukai kedatangannya. Senyumnya yang awalnya senang berubah menjadi serius ketika melihat Kang Muron, "Ada apa tetua ke dua datang ke tempat penuh buku seperti ini?" Tanya Kakek Perpustakaan dengan nada yang sedikit sinis.
"Junior ini hanya ingin tahu kabar tetua pertama, Lu Geyi." Ujar Kang Muron.
"Aku baik baik saja, terima kasih. Sekarang kembalilah!?" Lu Geyi mengusir Kang Muron secara terang terangan. Kenapa dia tidak menyukai Kang Muron? Itu karena dirinya tahu bagaimana cara Kang Muron menjadi bagian dari Istana Suci hingga naik ke pangkat yang lebih tinggi. Dengan cara licik dan pengkhianatan yang dilakukannya dia mengorbankan tuannya sendiri. Karenanya Lu Geyi tidak ingin berurusan dengan pria licik sepertinya.
"Hmm, Senior mengusirku secara terang terangan tapi menerima murid baru secara terbuka. Apa ini namanya bukan diskriminasi?"
Lu Geyi menatap Kang Muron tajam, "Kalau begitu katakan apa yang ingin kau katakan!" Ujar Lu Geyi.
"Aku lihat senior cukup dekat dengan murid baru itu, kalau boleh tahu apakah senior tahu siapa nama aslinya?"
"Aku tidak tahu, ada pertanyaan lain?"
Kang Muron melirik Lu Geyi dengan sinis. Sepertinya dirinya juga tidak menyukai Kakek tua yang menjaga perpustakaan ini. "Tidak, hanya itu yang ingin aku tanyakan." Ujar Kang Muron sembari memperlihatkan senyum palsunya. Dia kemudian pergi karena dirinya tidak diterima disini.
Setelah orang yang tidak disukainya pergi, Lu Geyi memikirkan apa yang ditanyakan Kang Muron padanya. 'Nama asli? Itu artinya namanya disini hanya samaran. Sepertinya anak muda itu memiliki identitas yang rumit sekali ke ke ke ke ke…' Pikir Lu Geyi.
...***...
__ADS_1
Tidak terasa hari sudah malam dan Yohan tidak mendapat hasil lagi. Dia benar benar kesal dengan pencariannya yang terus gagal. Ketika mengembalikan token lantai empat dan ingin mengambil kembali token muridnya, Lu geyi tidak melepas tangannya hingga beradu kekuatan dengan Yohan untuk mengambilnya. 'Apa apaan pak tua ini? Kenapa tiba tiba seperti ini?' Pikirnya kesal.
Qi miliknya dan Qi milik Lu Geyi beradu melalui token. Keduanya tidak ingin kalah.
Krak
Alhasil token itu retak kemudian hancur karena menampung kekuatan yang terlalu besar. "Hah, menyebalkan. Apa maumu sebenarnya?" Tanyanya kasar. Dia benar benar kesal karenanya.
"Hmm aku hanya ingin bertanya, buku apa yang sedang kau cari?" Tanyanya pada Yohan.
"Untuk apa kau ingin tahu?"
"Mungkin saja pak tua ini bisa membantumu." Ujar Lu Geyi menawarkan bantuan.
Yohan memperhatikan sejenak pak tua didepannya. Lu Geyi terlihat sangat tua dan sepuh. Yohan juga merasakan tingkatan ranah yang sangat tinggi dan lebih tinggi dari para tetua dan ketua Istana Suci yang dirinya ketahui. "Aku mencari tehnik yang bisa membuat tubuh seseorang tidak membusuk. Apa kau tahu tehnik seperti itu?" Tanya Yohan.
"Apakah itu untuk seseorang yang dikenai tehnik terlarang menghidupkan kembali orang yang sudah mati? Menyerah saja. Tidak ada hal yang seperti itu. Dari awal orang itu ditakdirkan untuk mati. Dia hidup kembali juga sudah menentang takdir." Jelas Lu Geyi menjelaskan.
"Yah, pak tua ini bukannya tidak tahu." Ujar Lu Geyi disertai seringaian. Dia melirik Yohan yang sepertinya agak tertarik. "Tehnik terlarang menghidupkan kembali seseorang yang telah mati adalah tehnik dari Klan Guaiwu. Awalnya mereka yang menciptakan tehnik itu. Jadi ada kemungkinan bila mereka juga memiliki apa yang kau cari, bukan? Ah tunggu, apa kau tahu Klan Guaiwu?" Tanya Lu Geyi memastikan. Namun dia melihat wajah anak mudaa didepannya ini terlihat suram mendengarnya.
"Ya, aku tahu." Ujarnya sangat loyo, Tapi sesaat kemudian dia menyeringai sembari menatap Lu Geyi licik, "Apa kau ingin tahu tentangku?" Tanya Yohan dengan senyum Jahatnya.
Lu Geyi tiba tiba merasakan aura yang begitu kuat dari Yohan. 'Bagaimana bisa aura anak ini lebih mengerikan dari Ketua Sekte?' Pikir Lu Geyi tiba tiba merasa sangat penasaran dengan identitas Yohan. Pria tua itu memasang wajah ramahnya, "Apa boleh?"
Senyuman jahatnya semakin terlihat jelas, dia berjalan mendekati Lu Geyi dan berlutut sembari memegangi tangan pak tua itu. Karena Lu Geyi selalu duduk ditempatnya dan hanya mengawasi dari sana. Yohan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sembari berkata, "Ssstt!? Aku hanya akan mengatakan ini pada Kakek penjaga perpustakaan. Kau tidak boleh mengatakannya pada siapapun, janji?" Tanyanya sembari menyematkan jari kelingking.
Meskipun agak rayu tapi Lu Geyi tetap menanggapi jari kelingging pria itu. 'Kenapa sikapnya tiba tiba berubah? Apa ini adalah sifat aslinya? Atau yang sebelumnya adalah sifat aslinya? Dan aku juga merasa dia sedang mempermainkanku.' Pikir Lu Geyi merasa akward.
"Anak pintar." Guman Yohan yang masih bisa terdengar.
Sekarang Lu Geyi benar benar merasa diperlakukan seperti anak kecil.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku adalah Iblis ribuan tahun lalu yang menyerang istana Sucimu, Apa kau percaya padaku? Ketua Sekte sebelumnya, Lu Geyi?" Tanya Yohan masih dengan senyuman diwajahnya.
Sontak pernyataan Yohan membuat Lu Geyi kaget. Tangannya mengepal ingin menyerang Yohan. Namun apa daya, kultivasinya musnah terbakar sebagian karena iblis ini ribuan tahun lalu. Untungnya dirinya masih bisa bertahan hidup sampai sekarang. "Apa urusanmu kemari?" Tanyanya dingin.
"Aku ingin menangkap pengkhianat. Dan aku juga ingin bekerja sama denganmu." Ujar Yohan.
"Apa yang ingin dikerja samakan?"
Yohan bangun dari berlututnya dan berjalan mundur, "Aku tahu Sektemu sudah mulai hancur. Sebagian besar anggota Istana Suci merencanakan pemberontakan bahkan sebagian besar tetua disini juga ikut bergabung dalam pemberontakan itu. Hanya tinggal menunggu waktu untuk kalian hancur." Jelas Yohan yang membuat Lu Geyi semakin terkejut dibuatnya. Sepertinya apa yang dikatakan Yohan itu benar.
Tubuh Lu Geyi bergetar semakin kencang, "BWA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA…" Tawanya tidak membuat Yohan kaget melainkan membuatnya tersenyum licik. Itu artinya rencana berjalan lancar. "Kau baru beberapa hari berada disini dan kau sudah mengetahui permasalahan yang ada di dalam Sekte. Harus kuakui kau sangat hebat,……"
"…… Kau benar, Sekte Istana Suciku sudah tidak sekuat dulu. Ada banyak sekali parasit didalamnya. Aku sendiri tidak bisa melakukan apapun karena kekuatanku tidak sekuat dulu karena seseorang." Ujar Lu Geyi sembari melirik Yohan, "Ketua Sekte yang sekarang juga sudah tidak bisa mendengarkan aku yang mengetahui pemberontakan ini. Aku tidak ingin Istana Suciku hancur karena Kang Muron baj*ngan itu!? Akan kulakukan apapun demi menyelamatkan Sekteku." Ujar Lu Geyi. Suara tuanya yang masih terdengar lantang memancarkan keteguhan hatinya untuk menyelamatkan Sektenya.
Sepertinya dia sudah sangat putus asa melihat dari keadaannya saat ini. Kekuatan musuh jauh lebih kuat darinya sehingga ia tak bisa melakukan apapun. Ditambah lagi tidak ada yang mau mendengarkan orang tua sepertinya.
Yohan memutar kakinya menuju pintu keluar. Lu Geyi ingin memanggilnya namun seperti ada yang menahan suaranya untuk keluar.
Tiba tiba Yohan berbalik dan membungkuk sembilan puluh derajat. Tangan kanannya terlentang seperti menyambut seseorang, dan dia mendongakkan kepalanya menatap Lu Geyi dengan senyum jahat khas dari penjahat gila, "Selamat bergabung, Lu - Ge - Yi-!?" Mata merahnya semakin menakutkan.
Sesaat Lu Geyi ragu apakah keputusannya bergabung dengan iblis ini adalah pilihan yang tepat? Tapi karena Sektenya dipertaruhkan disini maka bekerja sama dengan iblis pun dia akan melakukannya.
Setelahnya Yohan bangun dengan smirk diwajahnya.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...
__ADS_1