Crazy Villain 2

Crazy Villain 2
04. Brengsek


__ADS_3

Linhua menceritakan segalanya pada Yohan, kakek Huang dan paman San Gui. Dari A sampai Z ia caritakan yang sebenarnya. Kakek Huang dan paman san Gui sangat terharu mendengarkan cerita Linhua. Mereka benar benar menghayati ceritanya. Tapi tidak dengan Yohan.


"Haauumm…" Yohan menguap karena bosan mendengar cerita yang begitu panjang. Tidak seperti yang berada di samping kanan kirinya yang sudah berkaca kaca. 'Kapan ceritanya selesai, sih?' Pikirnya bosan.


"Akhirnya aku berhasil kabur dari kejaran bajak laut itu dan bertemu dengan tuan Yohan!?" Jelas Linhua mengakhiri ceritanya.


"Astaga, nak kau sangat kasihan. Aku tidak menyangka anak sekecil dirimu sudah menemui banyak cobaan." Ujar paman San Gui sembari mengusap air matanya.


"Kau tenang saja, Ibumu pasti akan baik baik saja disana." Ujar kakek Huang menenangkan Linhua dengan memberikannya senyuman hangat.


Mereka sungguh sangat baik pada gadis kecil itu. Linhua merasa sangat senang karena bertemu orang baik seperti mereka, hingga…


"Halah lebay!?" Momen mengharukan itu pecah seketika oleh satu orang. Mereka berdua menahan kegeraman mereka pada Yohan yang telah mengacaukan suasana.


"Lin'er, kau tidak usah pedulikan omongan orang gila itu. Kau jangan khawatir!? kami akan membantumu." Ujar kakek Huang.


"Siapa yang kau panggil gila? Aku itu pangeran!? kau tidak lihat aku begitu tampan?" Ujar Yohan kesal karena dirinya terus dipanggil gila.


"I itu benar!? Tuan tidak gila dan dia sangat tampan!?" Ujar Linhua membela tuannya. Mau bagaimanapun dia sudah berjanji untuk menjadi pelayan Yohan. Jadi segila apapun tuannya dia harus selalu berada di pihaknya.


Dari tadi kakek Huang dan paman San Gui heran mengapa Linhua selalu memanggil Yohan dengan sebutan 'Tuan'. Itu membuat mereka ingin bertanya. "Lin'er, kenapa kau terus memanggil Yohan dengan sebutan 'Tuan'?" Tanya paman San Gui.


"Tentu saja karena aku adalah pelayannya tuan Yohan!?" Jawab Linhua dengan sangat polos.


"PELAYAN?!?!?!" Teriak mereka berdua kaget secara bersamaan. Langsung saja keduanya melihat Yohan dengan tidak percaya. Bagaimana bisa ada pemeran utama sebrengsek ini? "L Lin'er, kau tidak perlu memanggil si bre__ maksudku Yohan dengan sebutan tuan lagi. Kau tidak perlu menjadi pelayannya!?" Ujar paman San Gui.


"Ti tidak!? A aku senang menjadi pelayannya tuan Yohan!? d dia adalah orang yang sangat baik!?" Ujar Linhua sekali lagi membela tuannya. Semakin Linhua membela Yohan semakin mereka berdua kasihan padanya. "T tuan, kau mau menolongku menyelamatkan Ibuku kan?" Tanya Linhua dengan tatapan penuh harapan.


"Kenapa aku harus menolong Ibumu?" Tanya Yohan tanpa hati.


Linhua sangat sedih mendengar Yohan tidak ingin menolongnya. Tapi hanya mendengar itu tidak membuat semangatnya pudar. Dia turun dari kursinya dan berlutut untuk membuat Yohan menolongnya. Apapun akan dia lakukan. "Aku akan menjadi pelayan setia seumur hidup untuk tuan!? Asalkan tuan mau menolongku menyelamatkan Ibuku!?" Ujar Linhua sembari menutup matanya. Dia tidak berani menatap mata Yohan. Karena dia tahu pria itu memiliki mata yang memikat.


'Membuat seorang anak kecil menjadi pelayannya, dan…' Pikir kakek Huang.


'Membuatnya berlutut memohon untuk menyelamatkan Ibunya, dia…' Pikir paman San Gui.


'SANGAT BRENGSEK!?' Pikir mereka berdua bersamaan. Mereka melihat Yohan dengan tatapan kesal karena membuat gadis seimut itu berlutut.

__ADS_1


Yohan memikirkan kata kata gadis kecil itu. ' Ibu, ya? Itu terdengar menyakitkan.' Pikir Yohan teringat seorang wanita yang tersenyum lebar di dalam ruangan gelap yang penuh darah. Sadar dengan tatapan tidak mengenakkan dari kedua orang itu, Yohan merasa risih dengan tatapan mereka. Dia bangun dan berjalan mendekati Linhua yang masih berlutut. Kemudian dia juga berlutut satu kaki untuk mensejajarkan tinggi mereka. "Bangunlah!?" Pinta Yohan meminta Linhua bangun.


"Tidak!? Aku tidak akan bangun sebelum kau menolongku!?" Teriak Linhua masih menundukkan kepalanya.


Karena teriakan itu Yohan semakin mendapatkan serangan gaib dari mereka berdua yang ada dibelakangnya. "Jika kau terus duduk berlutut seperti ini, kau tidak akan bisa menyelamatkan Ibumu!?" Ujar Yohan.


Linhua langsung menatap Yohan dengan penuh binar, "A apakah kau akan menolongku?" Tanya Linhua dengan wajah yang penuh sumringah senang.


"Tidak ada pilihan lain." Ujar Yohan.


Linhua sangat sangat senang dengan Yohan yang ingin menolongnya. Dia langsung bangun, "K kalau begitu ayo kita pergi sekarang!?" Ajak Linhua tidak sabar.


"Tenanglah, sekarang sudah malam, kita akan berangkat besok!?" Ujar Yohan.


"Ba baiklah!?" Linhua benar benar sangat senang. Dia tidak bisa berhenti tersenyum sekarang.


...***...


QUACK QUACK QUACK


Pagi ini mereka langsung berangkat setelah berpamitan dengan kakek Huang dan paman San Gui. Karena gadis itu sangat todak abar untuk berangkat. Yohan mendongakkan kepalanya ke atas langit. Disana terdapat burung hitam terbang seakan ingin menunjukkan arah yang benar padanya. Dia tersenyum misterius melihat tingkah burung itu. Tidak lama terasa ada yang menarik bajunya, ketika dia melihat siapa itu ternyata dia Linhua.


"Ya…" Yohan kembali melanjutkan perjalanannya dengan mendengarkan suara burung hitam yang berusaha menunjukkan arah padanya. Dalam perjalanan juga Linhua tidak berhenti bicara dan terus berusaha mengajak Yohan bicara.


"Tuan, apa elemen Tuan? kalau aku angin." ujar Linhua.


Yohan melirik Linhua yang menatapnya penuh harap. "Kegelapan!?" ujar Yohan datar.


"Kegelapan?! Bukankah itu adalah elemen terkutuk? Tuan memiliki elemen kegelapan?" tanya Linhua sekali lagi.


"Ya!?" jawaban Yohan singkat. Itu karena dia malas untuk bicara sesuatu yang tidak penting. Tapi gadis kecil itu selalu mengajaknya bicara seakan dirinya adalah mesin tanya jawab. Lagipula gadis itu mungkin akan sedikit takut padanya setelah mengetahui jika ia memiliki elemen kegelapan. Jadi mungkin dia akan diam.


"Itu… sangat keren!? Itu pasti elemen yang sangat kuat!?" Ujar Linhua sangat antusias. Dia semakin bertanya banyak pada Yohan. Dan seseorang yang ditanya sangat malas untuk bicara.


" Linhua umur tiga belas tahun, kalau umur Tuan?"


"tidak tahu." Yohan memutukan untuk hanya menjawab 'tidak tahu' pada gadis kecil itu agar mulutnya diam.

__ADS_1


"Hmph!? kenapa tidak tahu terus? Aku kan hanya ingin tahu, Kalau tidak tahu terus aku akan berhenti bicara pada Tuan!?" Linhua mulai kesal dengan Yohan. Gadis kecil itu kini mulai kesal dengan jawaban Yohan yang selalu berkata tidak tahu. Padahal hanya untuk menjawab pertanyaan singkat jawabannya itu itu terus. Linhua sangat jengkel dengan pria itu sekarang. Dia berharap bisa dekat dengan Yohan, akan tetapi pria itu memasang dinding besar nan tinggi diantara mereka. Jadi akan sulit untuk menembusnya.


"Kalau begitu syukurlah!?" Yohan merasa senang jika Linhua tidak akan bicara padanya lagi.


1 detik…


2 detik…


3 detik…


"Tuan suka makan apa?" Tanya Linhua lagi setelah beberapa detik ia mengatakan tidak ingin bicara lagi. Tapi sekarang dia bicara terus menerus.


"Ti-dak - ta-hu!?" Kini Yohan yang kesal dengan Linhua.


'Sungguh hari yang melelahkan!? Mendengarkan bocah ini bicara terus menerus membuat kepalaku pusing dibuatnya.' Pikir Yohan yang sudah mulai lelah mendengarkan omongan Linhua. Karena gadis di sampingnya ini terlalu cerewet dan banyak bicara. Saat ini pun dia sedang bercerita entah tentang apa itu.


"Hei, apa kau tidak bisa diam?" tanya Yohan.


Linhua menatap Yohan tidak mengerti, tapi apapun itu yang penting dia senang akhirnya Yohan mengajaknya bicara juga. "Tidak!? kalau aku diam terus rasanya sangat lelah!?" ujar Linhua.


"Lu luar biasa!?" Yohan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Linhua. Kalau banyak diam nanti bisa lelah? Kalau dirinya terlalu banyak bicara itu melelahkan dan menguras banyak tenaga. Tapi ini sebaliknya, karena itu Yohan sedikit kagum dengan Linhua yang akan lelah jika diam terus.


Dalam perjalan memasuki hutan yang terbuhung dengan pelabuhan kumuh. Mereka melihat ada cahaya menyilaukan dari arah jalan keluarnya hutan. Disana terlihat laut yang membentang luas dengan warna biru yang berkilau. Terlihat Linhua segera berlari mencari pelabuhan kumuh yang ada diingatannya. Dia berlari dengan kaki kecilnya yang sudah hampir sembuh. Akhirnya setelah berlari kesana kemari, pelabuhan yang dia cari ketemu.


Tiba tiba muncul begitu banyak orang di sana dengan memakai senjata dengan lengkap. Mereka terlihat sudah menantikan kedatangan Yohan dan Linhua. Apa ini perangkap untuk mereka berdua?


Atau…


Ini perangkap untuk para bajak laut dari penjahat gila?


Sebab Yohan tersenyum sangat jahat kalau dirinya dikepung.


...~~...


...-...


...-...

__ADS_1


...SEMOGA SUKA!?...


__ADS_2