Crazy Villain 2

Crazy Villain 2
01. Pemuda gila


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu dan Yohan masih dalam pemulihan. Dia tinggal bersama kakek Huang dan seorang lagi anak kakek Huang. Kini ia sedang berkultivasi untuk memperbaiki aliran Qi nya yang berantakan. Sudah sejak pagi dia melakukan kultivasi. Untungnya waktu yang dia habisnya tidak terbuang sia sia. Semua aliran Qi dalam tubuhnya kembali ke posisinya masing masing dan dia juga berhasil menembus ke tahap selanjutkan ranah Yuzhou.


Matanya perlahan terbuka dan memperlihat sepasang bola mata merah yang cantik. Smirk terlihat diwajahnya yang tampan bak malaikat. "Semua lukaku sudah sembuh total. Apa sekarang saja aku pergi dan balas dendam? Tidak tidak, jika seperti itu apa gunanya aku tenggelam ke laut yang aku benci?" Ujar Yohan pada dirinya sendiri. Dia sedikit kesulitan mengambil keputusan. Dia ingin melakukan pembalasan dendam pada seseorang dengan sangat kejam. "Sudahlah, lebih baik aku menyusun rencana saja dulu."


Tok tok tok


Terdengar suara pintu dan terbukalah pintu yang memperlihatkan seseorang. Dia adalah anak kakek Huang, San Gui. Dia adalah seseorang berbadan bongsor dengan tampang yang sedikit bodoh. "Ah, ternyata adik Yohan sudah bangun. Ini, aku bawakan perban baru" Ujar paman San Gui membawakan perban untuk Yohan.


"Bisakah paman memakaikannya untukku?" Pinta Yohan sembari melepas pakaian atasnya.


"Em, tentu saja." Ujar paman San Gui. Dia berjalan kearah Yohan dan duduk dibelakangnya untuk mengganti perban dengan yang baru. Saat dilepas semua perban itu tampak luka dan bekas luka cambukan yang sangat banyak ditubuh pria itu. "Adik Yohan, kau memiliki banyak sekali, bekas luka cambuk. Pasti sangat sakit, siapa yang berani melakukan ini padamu? Katakan saja padaku, aku pasti akan membalasnya untukmu." Ujar paman San Gui merasa tidak tega melihatnya.


Yohan sedikit terhibur dengan perkataan paman San Gui, "Ppffftt, apa paman sanggup melawan orang yang memberikan luka ini padaku? Yah, percuma juga sih paman ingin melawannya.…" Wajah tersenyum Yohan seketika berubah menjadi dingin dengan tatapan yang kejam, "……Karena jal*ng yang menyiksaku sudah mati." Ujarnya dingin. "Ah, paman tidak perlu khawatir. Ini hanya bekas luka saat aku kecil. Jadi sudah tidak apa apa." Ujar Yohan lagi.


"A ah, i iya." Sejujurnya terkadang paman San Gui sering merasa takut jika berada didekat Yohan. Apalagi jika sikapnya yang tiba tiba berubah seperti tadi, dia jadi seperti orang lain. Seakan dengan sosoknya yang seperti orang lain dia rela menebas apapun baik itu musuh ataupun teman. "Su sudah selesai. Kalau begitu aku akan kembali ke kebun." Ujar paman San Gui sembari melangkah pergi.


Tepat setelah paman San Gui pergi, sesosok bayangan hitam yang hanya setengah badan melayang di udara muncul samping Yohan. "Sepertinya dia takut padamu." Ujar bayangan itu.


"Lalu? Semua orang juga selalu takut padaku. Itu tidak akan ada bedanya. Pada akhirnya semuanya akan pergi menjauh dan hanya akan tersisa aku seorang." Jelas Yohan.


"Tapi setidaknya manusia itu perhatian denganmu." Ujar bagangan itu lagi.


"Jangan mengatakan hal bodoh. Itu hanya simpati sementara saja." Ujar Yohan.

__ADS_1


...***...


Satu dekade kemudian…………… didalam hutan.


"Hah… hah… hah…hah…" terlihat seorang gadis kecil sekitar umur 13 tahun, berkepang dua sedang lari dengan luka disekujur tubuhnya. Sesekali dia melihat ke belakang apakah ada orang yang mengejar atau tidak.


"Berhenti kau bedebah kecil!? Berhenti!?" teriak orang berperawakan besar berotot dan membawa senjata disampingnya. Pria itu sepertinya sedang mengejar gadis kecil yang saat ini sedang berlari dengan kaki yang pincang. Dia tidak sendiri, ada beberapa orang lagi yang ikut bersamanya untuk mengejar gadis itu. Mereka terlihat menyeramkan, apalagi mereka tidak memakai baju dan otot yang besar besar. Disertai dengan senjata ditangan mereka.


Gadis kecil itu berlari dengan kaki yang sudah mulai mengeluarkan banyak darah. "Hah… hah… hah… To tolong!?… tolong aku!?" teriaknya meminta bantuan.


Bruk


"Kyaaa!?" teriaknya ketika tiba tiba menabrak seseorang. "Dasar!? kalau jalan hati hati!?" ujarnya kesal padahal dirinya sendiri yang tidak melihat jalan. Saat dia mendongakkan kepalanya melihat siapa orang yang menabraknya, ternyata dia adalah seorang pemuda tampan nan rupawan. "Ah, e ehem ehem…" gadis kecil itu menarik nafas dalam dalam lalu, "Ka kakak yang tampan, tolong aku!? ada beberapa orang jahat yang ingin mencoba membunuhku!? Kakak yang tampan bisa menolongku, kan?" tanya gadis itu berubah seratus delapan puluh derajat dengan yang sebelumnya.


Orang yang ditambraknya itu adalah Yohan dan dia…… tidak suka anak kecil.


"TERTANGKAP KAU BOCAH!?" Teriak seorang bandit yang mengejar bocah itu.


Sontak bocah yang mereka kejar langsung bersembunyi dibelakang Yohan tanpa aba aba. Dia tidak peduli lagi apa konsekuensinya yang penting dia selamat dari kejaran mereka. Bocah itu bersembunyi dengan tubuh gemetar seperti kelinci yang tertangkap harimau.


"Hei, pria cantik yang disana!? Serahkan bocah ke**rat itu pada kami. Kau tidak ada urusannya dengan ini. Jadi pergilah sebelum ada coded besar di wajahmu yang mulus itu ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…" Pemimpin mereka tertawa karena dia pikir dia berhasil menakut nakuti Yohan.


Begitupun dengan anggota yang lain yang juga ikut tertawa dalam candaan yang kasar itu. "Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…"

__ADS_1


Dan…


Seseorang juga ikut tertawa dalam candaan mereka, "Ha ha ha ha ha ha ha ha ha…" Pria cantik yang mereka takuti juga ikut tertawa bersama mereka. Seketika mereka yang menertawakan Yohan berhenti tertawa dan hanya Yohan seorang yang tertawa.


"B bos, kenapa dia ikut tertawa juga?" Tanya salah seorang anggota.


"Entahlah, mungkin dia sudah tidak waras." Jawab pemimpin mereka yang juga keheranan. Melihat yohan yang terus tertawa membuat pria itu geram dibuatnya.


BUK


Tanpa aba aba pemimpin dari para bandit menonjok Yohan dengan keras hingga sudut bibirnya sobek berdarah. Dia kemudian menarik kerah baju Yohan. Terlihat pria itu masih tersenyum meskipun sudah di pukul. "Bukankah sudah kubilang? Aku akan membuat coded besar di wajah cantikmu. Sekarang, kau akan menyesalinya!?" Ujar pria besar itu sembari tersenyum jahat.


"Benarkah? Wajahku yang akan ada bekas luka atau lehermu yang akan patah? menurutmu mana yang akan lebih cepat? Ha ha ha ha ha ha ha… aku menantikannya ha ha ha ha ha ha ha…" Ujar Yohan yang masih tertawa kecil disela sela ketegangan itu.


Pria besar itu menatap Yohan penuh dengan kegeraman. Amarahnya menggebu gebu hanya mendengar Yohan tertawa. "Dasar bed*bah!?" Pria itu mengepal erat tangannya sembari mengumpulkan energi Qi ke pukulannya. Dia melayangkan tinju besar pada Yohan, namun yang dia pukul hanyalah bayangannya saja. "Apa? kemana si bed*bah itu?" Tanya pria besar itu mencari cari keberadaan Yohan. Tiba tiba di belakang punggungnha merasakan aura dingin nan mencekam. Serta diatas kepala dan dibawah dagunya ada tangan yang memegang.


Yohan tersenyum lebar dan membisikkan sesuatu, "Sssttt!? tenanglah, aku cuma akan mematahkan lehermu. Ini tidak akan sakit, aku jamin." Bisik Yohan yang kemudian…


Krak!?


Semuanya menjadi hening setelah pria besar itu mati dengan tulang leher yang patah.


"Sekarang, siapa lagi yang ingin dipatahkan lehernya?" Tanya Yohan dengan senyum liciknya.

__ADS_1


...~~...


...SEMOGA SUKA!?...


__ADS_2