
Di sebuah kedai terpencil terlihat Yohan dan seorang pria bertudung misterius sedang saling adu tatap permusuhan. Sangat tidak diduga kalau Xie Wuran dapat kalah dengan mudah di tangan Yohan.
Xie Wuran meneguk araknya dalam sekali teguk. Dia masih tidak rela jika harus bekerja sama dengan orang yang membuatnya hancur seperti ini. Tapi ini lebih baik dari pada menjadi bawahannya. 'Sial sial sial, jika kekuatannya tidak berada di tubuhku mungkin saja aku bisa memenangkan pertarungan itu.' Pikir Xie Wuran masih kesal memikirkan Yohan saat dalam pertarungan mengendalikan tubuhnya sesuka hatinya. Itu semua disebabkan karena kekuatannya berada dalam tubuh Xie Wuran yang mana bisa menjadi senjata dan ancaman.
Kekuatan yang diberikan Yohan bisa membuat kekuatan Xie Wuran menjadi dua kali lipat. Tapi kekuatan itu juga bisa menjadi senjata makan tuan jika Xie Wuran menggunakannya pada Yohan. Karena Yohan dapat mengendalikan tubuh Xie Wuran melalui kekuatan yang ia berikan. Jadi, ini sama saja dengan pemberian cap budak pada Xie Wuran. Sekuat dan setangguh apapun dia tidak akan bisa mengalahkan tuan yang memberikan kekuatan.
"Jangan membuang waktu dengan berbasa basi. Jadi, apa yang kau inginkan?" Tanya Xie Wuran langsung pada intinya.
Sebelum itu, Yohan terus melihat arak yang diminum Xie Wuran. Dia kepikiran bagaimana rasanya. Sudah lama dia menahan diri untuk tidak meminum arak yang berbau manis. "Tidak ada, aku hanya ingin menanyakan beberapa hal penting padamu kemudian menjalin kerja sama." Ujar Yohan sembari meminum teh hitamnya dengan tenang, 'Pahit!?' Gerutunya dalam hati.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Kau bisa menanyakan apapun terkecuali tentang 'tempat itu'. Jangan harap kau bisa menggali informasi dariku! karena aku masih sangat menjaga kesetiaanku!?" Tegas Xie Wuran sembari menatap tajam Yohan. Namun pria itu malah terus menatap arak yang ada ditangan Xie Wuran. 'Kenapa dia terus melihat arak kebahagiaanku?' Pikir Xie Wuran mengalihkan pandangannya dari Yohan ke arak kebahagiaan miliknya, lalu beralih lagi ke Yohan dan berlanjut ke arak kebahagiaan dan begitulah seterusnya. Arak kebagahagiaan adalah arak kelas satu tertinggi yang sudah sangat dikenal kenikmatannya. Sayangnya arak itu bernilai sangat tinggi dan membuat banyak orang tergila gila. "Em, apa kau mau?" Tawar Xie Wuran.
"Tentu saja!?" Jawab Yohan cepat dan sudah mengambil arak yang ada di tangan Xie Wuran.
'Dasar tidak tahu malu.' Pikir Xie Wuran tidak habis pikir.
Saat Yohan ingin meneguk arak lezat yang dinantikannya, tiba tiba seorang tidak dikenal mengambil botol ditangannya. "Wah wah wah, bukankah ini adalah arak kebahagiaan yang sangat mahal? Bocah, ternyata kau cukup kaya, ya? Kalau hanya sebotol arak yang diambil kau pasti bisa membelinya lagi, bukan?" Ujar seorang preman yang mengambil arak milik Yohan. di belakangnya berdiri dua bawahan yang berpenampilan tak jauh norak darinya.
Dari berbagai meja para pengunjung berbisik bisik.
"Lagi lagi preman preman itu membuat keributan. Mereka benar benar tidak tahu malu. Habislah dua orang itu yang berurusan dengan mereka."
"Ssstt jangan keras keras, nanti kita juga kena sial."
Mendengar pembicaraan orang orang sepertinya mereka hanyalah preman kampung yang sok berkuasa. Seringai muncul diwajah Yohan, "Boleh saja, asalkan kau harus membayarnya dengan harga yang setimpal!?" Ujar Yohan.
__ADS_1
"Heh, kau bocah tengik berani meminta harga padaku?" Teriaknya sombong.
"Benar! Dasar tidak tahu malu!?"
"Kau seharusnya merasa tersanjung!?" Ujar kedua orang antek antek bos yang memegang arak.
"Meminta? Aku tidak meminta padamu, tapi memberimu pelajaran seumur hidup!?" Ujar Yohan sembari melirik dingin ketiga preman yang mengganggunya meminum arak yang didambakan.
Seketika bulu kuduk mereka bertiga berdiri karena merinding menatap mata merah yang menakutkan. Tidak lama bayangan mereka sendiri bergerak mengikat dan melilit tubuh mereka. "A apa ini? kenapa dengan bayang bayangku? Bagaimana bisa?" Teriak mereka ketakutan.
"T tolong!?"
"Aagghh!?"
Bayangan hitam yang mengikat mereka menyerang dengan menusuk titik meridian tubuh. Tidak cukup dengan itu, tangan dan kaki mereka juga dipatahkan. Dengan begitu mereka menjadi sampah. Yohan tersenyum senang mendengar mereka berteriak kesakitan. Dia berdiri dan menghampiri mereka bertiga yang kini tergelepar di lantai.
Namun tidak dipedulikan oleh orang yang dipintai tolong. Yohan malah mengambil botol arak yang ada dilantai. Karena sudah bercampur darah mereka jadi terlihat bukan arak kebahagiaan lagi. "Karena kau sudah membayar harya yang cukup setimpal kau boleh mencicipi arak lezat ini." Ujar Yohan sembari menunjukkan botol arak dan menggoyang goyangkannya didepan mereka. Namun sepertinya bukan itu yang mereka inginkan. Mereka hanya ingin Yohan menghentikan penderitaan yang diberikan.
Orang orang yang melihat hal mengerikan ini kabur dari sana. Mereka tak ingin bernasib sama dan menjadi sampah.
"Hm? kenapa kalian hanya diam? Ah iya, aku lupa. Bukankah tangan kalian sudah cacat? Orang jahat mana yang melakukan hal krjam seperti ini pada kalian?" Tanya Yohan memasang wajah polos tak berdosa yang emosi.
Mereka bertiga justru tidak mengerti mengapa pria ini bersikap aneh seperti ini. "T tua n, to long__"
Yohan menempelkan jari telunjuknya ke mulut pria yang meminta tolong, "Sstt sstt sstt!? Tunggu, orang jahat itu kan… aku!? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha h__uhuk uhuk uhuk!?" Yohan tersedak tawanya sendiri karena terlalu jahat. Seketika image kejamnya hilang di mata orang orang. "Aduh, tunggu sebentar!?" Dia meminum arak di tangannya untuk meredakan batuk. "Sampai dimana tadi?" Sekarang terlihat jelas jika pria itu tidak normal.
__ADS_1
"Kau adalah orang jahatnya." Jawan Xie Wuran.
"Benar, aku adalah orang jahatnya. Dan sekarang… eh? Aduh duh jangan mati dulu~" Ujar Yohan melihat orang yang meminta tolong padanya dalam keadaan sekarat.
"To__"
Yohan meraih rahang pria itu kemudian memaksanya untuk meminum arak dari botolnya langsung. "Sebelum mati kau harus meminum ini!?" Setelah selesai dengan satu orang dia beralih ke orang lain yang mengganggunya. Meskipun orang itu sudah mati tapi dia tetap meminumkan arak kebahagiaan pada orang itu dengan wajah penuh senyum.
'Dasar gila!?' Pikir Xie Wuran merasa tindakan Yohan itu aneh dan kejam. Maka dari itu dia sangat membenci orang kejam seperti Yohan. "Jika kau sudah selesai, bisa kita mulai pembicaraan yang lebih serius?" Tanya Xie Wuran sudah lelah menunggu Yohan yang mempermainkan para manusia yang kasihan itu.
Yohan bangun sembari mengibas ngibaskan tangannya sembari berjalan duduk ditempatnya semula, Dia menatap Xie Wuran dengan bingung sembari memiringkan kepalanya dari kenan ke kiri.
Tidak tahu apa yang terjadi dengan Yohan, tapi Xie Wuran ingin cepat cepat kerja sama ini selesai. "Jangan bercanda lagi__"
Brak
Tiba tiba Yohan menggebrak meja sembari berdiri, "Kakek Luan!? Kau pasti datang dari akhirat untuk menolongku, kan?" Tanya Yohan dengan mata yang berbinar binar.
"Kakek… Luan?" Tanya Xie Wuran tidak mengerti.
...~~...
...-...
...-...
__ADS_1
...SEMOGA SUKA...