
Dua elemen yang paling kuat, cahaya dan kegelapan.
Banyak yang mengira kalau kedua elemen ini perwakilan dari kebenaran dan kejahatan. Tapi sebenarnya jahat dan baiknya kekuatan itu tergantung dengan siapa pemakainya. Khusus untuk kedua kekuatan ini masing masing memiliki pemikirannya sendiri. Karena keduanya adalah kekuatan besar. Banyak dari pemilik kekuatan menjadi tidak terkendali dan menuruti apa yang kedua kekuatan ini katakan. Tapi itu semua kembali tergantung bagaimana pemilik kekuatan menghadapinya.
"Berhenti mengambil wujud itu, kau terlalu menjijikan!?" Ujar Yohan dingin sembari melirik kegelapan.
"Apa? kau tidak suka aku mengambil wujud ibumu? Meskipun wanita jahat itu memiliki wujud yang sama dengan wujud ibumu, tapi bukankah wujud ini tetaplah wujud asli ibumu?"
"Gumpalan kabut sepertimu mana bisa mengerti." Ujar Yohan. Dia merasa sakit jika melihat sosok itu. Karena itu ia mencoba melupakannya dari pada terus mengingatnya. Tapi gumpalan kabut ini malah selalu memakai wujud yang sama sekali tidak diharapkannya.
Mereka berdua saling bertarung satu sama lain. Melanjutkan pertarungan yang tadinya tertunda. Yohan mengaliri pedangnya dengan Qi gelapnya. Begitu juga dengan Jun yang mengaliri pedangnya dengan Qi cahayanya. Pertarungan berjalan sengit.
...***...
Kamar Raja, Ruangan rahasia
Didalam ruangan terlihat seorang wanita berambut merah yang sedang mencari cari sesuatu yang berharga. "Dimana, dimana benda itu? Dimana dia menyembunyikan benda itu?" Ujar Yun sembari mencari sesuatu di rak gulungan dan buku. Dia mencari cari sesuatu yang entah apa itu. Sudah dicarinya ke segala tempat di ruangan itu tapi belum juga menemukan barang yang ia cari.
Tanpa sengaja Yun menyenggol guci putih bercorak bunga dan awan.
PRANNGG
Guci itu pecah karena tersenggol oleh Yun. "Ah, tidak!? Bagaimana i__ni?" Yun melihat ada sebuah gulungan tua yang berdebu didalam guci. Wajahnya berubah menjadi senang karena mendapatkan apa yang ia cari. "Akhirnya!? Aku menemukannya!?" Yun senang nan gembira menemukan benda yang ia cari. Karena penasaran ia mencoba membuka gulungan itu. Namun entah apa alasannya dia sama sekali tidak bisa membuka gulungan itu bahkan setelah menggunakan Qi miliknya untuk membuka gulungan. "Hah? Kenapa tidak bisa dibuka? Ya sudahlah, tugasku hanya untuk menemukan benda ini." Ujar Yun sembari keluar dari ruangan itu.
...***...
"Apa hanya segini kemampuanmu?" Tanya Jun. Dia sudah hampir mendesak Yohan.
Tapi pria itu hanya tersenyum miring, "Kau belum melihat semuanya." Ujar Yohan sembari memperlihatkan wajah jahatnya. Tiba tiba disekitar Jun mencul seperti jarum besar di sekitar lehernya. Dan jumblahnya sangat banyak. Dengan jumblah sebanyak itu seseorang pasti sudah tamat.
Jun tidak mengira kalau Yohan sudah menyiapkan jebakan sebesar ini tanpa diketahuinya. Tapi sayangnya dia tidak bisa menyerah semudah ini. Dia melihat Yun dari jauh. Wanita itu memperlihatkan benda yang ia suruh untuk mencarinya. Dia tersenyum ketika rencananya mencari benda itu berjalan lancar. "Aku senang bisa bertemu lagi denganmu. Tapi kurasa seksrang waktunya berpi__" Belum selesai bicara jarus yang ada di leher Jun menusuk lehernya.
Namun sayangnya jarum itu tidak menusuk Jun melainkan orang lain. Bisa dibilang yang melawan Yohan adalah orang lain yang dibuat mirip dengan Jun. "Wah wah wah, kau kejam sekali. Aku bahkan belum selesai bicara dan kau sudah menyerang duluan. Tapi ya sudah, sampai jumpa lagi!? Adik." Ujar Jun yang kemudian menghilang bersama dengan para prajurit cahaya.
__ADS_1
Dengan menghilangnya Jun dan prajurit bayangannya, mulai terlihat ada banyak yang terluka. Ada banyak juga korban dari kejadian ini.
Yohan berpikir agak mencurigakan Uun pergi terlalu cepat. 'Apa dia sudah mendapatkan yang dia inginkan? Kalau begitu, ayo kita lihat nanti apa yang dia cari disini.'
...***...
Beberapa hari setelah penyerangan itu berlangsung, mereka berhasil membereskan keributan yang terjadi. Butuh beberapa waktu untuk semuanya lembali seperti semula. Dan karena keributan itu juga kelima kaisar berdiskusi untuk menyelesaikan masalah mereka.
Ruang rapat
"Ini sebuah bencana!? Dia benar benar sangat kuat bahkan tanpa prajurit prajuritnya. Apakah mungkin untuk kita mengalahkannya?" Tanya Kaisar Wu Linxu dengan wajah penuh keraguan.
"Bukankah kita memiliki Yohan dipihak kita?" Ujar Qi Tian Juan.
"Apa kau bodoh? Ketika pria itu pergi dia bilang 'adik' pada orang gila itu. Bukankah itu artinya dia memiliki buhungan dengan orang gila itu? Sial, sepuluh tahun yang lalu adiknya dan sekarang kakaknya? Apakah mereka sekeluarga adalah pembuat onar didunia?" Ujar Kaisar Tang Yifan kesal.
Shen Qiu berpikir bahkan belum tentu apa yang dipikirkan Tang Yifan benar. "Tapi, kupikir hubungan mereka tidak baik. Bukankah kau lihat sendiri? Mereka bertarung saat itu." Ujar kaisar Zuo Shen Qiu.
Dari balik ruang rapat terlihat Yohan sedang berdiri di depan pintunya. Dia mendengar semua yang mereka bicarakan. Didunia ini tidak ada yang bisa ia percayai atau percaya padanya. Meskipun sudah mengatakan Yohan berada dipihak mereka tapi tetap saja pada akhirnya mereka akan berpikir bahwa semua ini disebabkan oleh dirinya.
BRAK
Yohan menendang pintu masuk hingga terbuka lebar. Mereka yang sedang menjalankan rapat dikejutkan oleh satu orang. Tapi pria yang menjadi pusat perhatian hanya tersenyum menyukai wajah terkejut mereka.
"Busuk? Jahat? Dan gila? Aku tidak menyangka jika itu yang kalian pikirkan tentang diriku!?" Ujar Yohan sembari menaikkan kaki kanannya ke atas meja, tempat nereka berdiskusi.
Beberapa yang melihat kelakuan Yohan melihatnya dengan sinis.
Yohan melihat orang orang itu balik, "Apa? Tidak suka?" Ujar Yohan dengan senyum jahat menghiasi wajahnya. Orang orang yang melihat dirinyapun merasa kesal. Kalaupun mereka meladeni Yohan yang ada merekalah yang akan babak belur atau lebih parahnya lagi kehilangan nyawa. Jadi mereka memilih diam.
"Kenapa kau masuk ke tempat ini? bukankah kau tahu kami sedang rapat?" Ujar Tang Yifan.
"Rapat? atau membicarakan orang lain?" Ujar Yohan tepat sasaran. Baginya itu bukan terdengar seperti rapat atau berdiskusi. Dia kemudian menurunkan kakinya. Lalu duduk diatas meja tanpa adanya kata permisi.
__ADS_1
"Emm, tuan Yohan, kenapa duduk disitu?" Tanya Jin Cheng heran. Mengapa Yohan duduk diatas meja dan itu tepat disampingnya.
"Apa kau memiliki masalah dengan itu?" Tanya Yohan sembari memelototi Jin Cheng.
Sontak Jin Cheng langsung ketakutan melihat mata merah yang bgitu jelas melotot padanya, "Ah ti tidak tidak, sama sekali tidak ada masalah. Si silahkan duduk dengan tenang." Ujar Jin Cheng sembari mempersilahkan Yohan duduk.
Yohan tersenyum jahat menyukai kepolosan bocah dihadapannya. "Anak pintar!?" Ujarnya dengan senyum mengerikan. Kaisar Jin Cheng adalah kaisar paling muda diantara semua kaisar yang ada. Saat ini umurnya baru menginjak lima belas tahun untuk memegang kekuasaan. Karena itu dia lebih banyak diam.
Entah kenapa Jin Cheng merasa senang ketika di puji pintar oleh pria gila disampingnya. Sejujurnya ini adalah pujian pertama untuknya. Karena sejak kecil tidak ada yang memujinya. Jadi dia senang mendapatkan pujian kecil seperti ini meskipun dari orang gila.
"Jangan tertipu Cheng'er!? Dia hanyalah pria gila yang berbuat seenaknya." Teriak Tang Yifan marah. Dia sungguh tidak suka dengan ketidak sopanan Yohan.
"Oh, benarkah? Lalu kenapa kau tidak menyuruh pelayan membawakanku kursi? Kau pikir aku tiang yang setiap hari harus berdiri seperti mereka?" Ujar Yohan sembari melirik pengawal dan orang orang kepercayaan kaisar yang berdiri di belakang tuannya.
Diantara mereka berdua tidak ada kata akur. Yang satu mudah dikompor kompori dan yang satu suka mengompor ngompori.
"Itu benar!? Tuanku bukan tiang!? Dia butuh tempat duduk. Karena itu, silahkan duduk~" Ujar Linhua dengan senyum cerianya. Dia muncul secara tiba tiba sembari membawa kursi bagus dan mempersilahkan Yohan duduk. Tidak tahu bagaimana caranya Linhua masuk, tapi pasti itu karena seseorang. Shen Qiu memperhatikan kursi yang dibawa Linhua. Entah mengapa itu mirip dengan kursinya.
"Bagaimana bisa bocah sepertimu memasuki tempat ini? Mana para penja__ !?" Sebelum menyelesaikan bicaranya Tang Yifan melihat tiga orang membereskan para penjaga. Salah satunya adalah seorang wanita berparas cantik berlumur darah, berambut putih berujung merah panjang, mata merah, dan memiliki ekspresi datar. Kedua adalah seorang pria berambut putih merpenutup mata kain putih dan memakai hanfu putih. Ketiga seseorang yang memakai caping hitam menutupi wajahnya, ia memegang pedang berlumur darah di tangannya. "K kalian, bagaimana…" Tang Yifan kehilangan kata katanya ketika melihat orang orang aneh yang dibawa Yohan.
Kedatangan mereka selalu membuat perhatian. Contohnya seperti Xuemin yang biasanya tidak melirik wanita cantik sebagai nafsu birahi sekarang melotot pada wanita cantik yang berdiri disamping Yohan. Dan Qing Ci yang tidak bisa berkedip melihat tiga orang pria tampan yang berdiri dihadapannya. Yang pasti satu kata dipikiran mereka…
Gila
"Sekarang… apakah kita bisa mulai rapatnya?" Tanya Yohan dengan senyum seramnya.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...
__ADS_1