Crazy Villain 2

Crazy Villain 2
17. Masa lalu pria buta


__ADS_3

FLASHBACK


"Lihat!? pangeran pembawa sial itu duduk disana lagi. Aku hanya berharap dia tidak memberikan kesialan padaku dengan elemen terkutuknya itu." Ujar seorang pelayan bersama dengan temannya.


"Sstt, jangan keras keras!? Dia bisa mendengarmu nanti." Ujar teman dari pelayan wanita itu.


"Heh, biarkan saja dia dengar!? Lagi pula tidak akan ada yang berani memihak pembawa malapetaka itu." Mereka berdua pergi meninggalkan tempat dimana anak itu berada.


Pertama kali aku melihatnya adalah di kolam bulan biru. Dia selalu duduk sendirian disana ketika menjelang malam melihat keindahan kolam yang memancarkan sinar bulan. Anak itu adalah pangeran kedua dari kerajaan monster. Meskipun dia pangeran tapi hidupnya tidak seperti pangeran. Irang orang selalu takut dan benci padanya. Alasannya hanya satu, dia terlahir dengan elemen kegelapan. Dalam sejarah, siapapun yang terlahir dengan elemen kegelapan dia akan menjadi pembawa malapetaka bagi dunia. Namun karena posisinya yang sebagai pangeran dia tidak bisa disingkirkan begitu saja.


Orang orang selalu melihatnya dengan tatapan yang buruk. Mereka melihat anak kecil itu sebagai iblis. Padahal dia yidak pernah berbuat sesuatu yang buruk. Dia bahkan tidak pernah berani bicara pada pelayan yang statusnya lebih rendah darinya. Pertamuan pertama ini aku mengabaikannya.


Pertemuan keduaku dengannya adalah di taman. Saat itu aku melihatnya sedang mengobati burung yang terluka. Aku heran, bagaimana bisa anak yang katanya disebut sebagai malapetaka mengobati burung kecil? Meskipun cara dia mengobati salah tapi dia berusaha keras untuk menyembuhkan burung kecil itu. Aku merasa bersalah jika terus terusan mengabaikan anak itu. Padahal dia berada tepat didepanku, bagaimana bisa aku sejahat ini pada seorang anak kecil?


Karena itu aku menghampirinya. "Biar aku yang mengobatinya!?" Ujarku pada anak kecil itu. Dia melihatku dengan kedua mata merahnya. Anehnya dia seperti ketakutan melihatku. Apa aku pernah menakutinya tanpa kusadari? Atau, karena aku agak mirip dengan ayahnya? Warna rambut kami memang sama. Begitupun dengan warna mata kami. Karena ciri khas dari rakyat kerajaan monster adalah warna mata kami yang berwarna merah.


Aku melangkah mendekatinya untuk memberitahunya kalau aku bukan raja. Tapi dia segera berlari dariku karena ketakutan melihat sosok ayahnya melalui diriku. Dia juga membawa lari burung yang terluka bersamanya. "Apa setakut itu dia dengan ayahnya?" Ujarku pada diriku sendiri.


"Paman Jiangwu? Paman sedang apa?" Tanya seseorang yang juga sangat mirip dengan raja. Tidak, bisa dibilang dia adalah penerus raja selanjutnya.


Ming Jia Jun


Dia adalah pangeran pertama, semua orang menyukai dirinya. Apapun yang dia lakukan adalah benar dimata orang orang. Tapi menurutku apapun bisa salah jika orang itu melakukan kesalahan. "Aku hanya mencoba berbicara pada pangeran kedua, adik anda." Ujarku.


"Adik?" Tanya Jun padaku. Seertinya dia tidak tahu kalau dia memiliki seorang adik yang selalu dirundung oleh semua orang. Kurasa Ratu tidak pernah memberi tahunya.


"Ya, kalau begitu aku akan pergi." Ujarku sembari sedikit membungkukkan tubuhku dan kemudian pergi.


Setelah aku memberi tahu pangeran pertama tersebar rumor kalau dia menemui adiknya. Dan tentunya itu karena diriku yang memberi tahunya. Kupikir jika itu pangeran pertama yang mendekati anak itu, dia akan sedikit mendapatkan kebahagiaan. Karena beberapa hari ini wajahnya terlihat senang. Tapi beberapa hari ini juga dia mendapatkan luka dimana mana. Meskipun begitu dia masih tetap senang karena tidak sendirian lagi. Tanpa sadar aku ikut senang melihatnya bisa tersenyum.

__ADS_1


Sraaatt!?


"Apa kau tahu apa kesalahanmu?" Tanya seorang wanita canyik berambut hitam. Dia adalah sang Ratu, sejujurnya dia sangat mirip dengan pangeran kedua.


"Ya…!?" Jawabku lirih. Aku tahu kenapa Ratu memberiku hukuman langsung. Itu karena aku memberi tahu pangeran pertama tentang adiknya.


"Dasar, aku pikir kau pengikut yang pintar karena murid pribadi dari tetua Luan. Tapi sepertinya ekspektasiku terlalu tinggi padamu. Haah, lupakan saja. Lepaskan rantainya!?" Ujar Ratu pada bawahannya. Setelah rantaiku lepas dia masih berada di tempat ini. "Ikuti aku!?" Ujar Ratu.


Aku memakai pakaianku luarku agar luka luka yang kudapat tidak terlihat dari luar. Dia membawaku ke suatu tempat yang tidak pernah kuketahui. Kami memasuki sebuah pintu yang memiliki hawa menyeramkan. Didalam ruangan penyiksaan ini terdapat banyak sekali cipratan darah dimana mana. Dan lagi baunya masih segar.


"Lihatlah itu!?" Ujar Ratu sembari bergeser untuk memperlihatkan sesuatu padaku. Aku membelalakkan mataku ketika melihat pangeran kedua, anak itu dirantai disana sini dengan darah dimana mana. Bagaimana bisa dia melakukan ini pada anak sekecil itu? Ratu kerajaan ini, sepertinya sudah gila. "Cambuk dia!?" Ujar Ratu padaku.


Dia memberikanku cambuk khusus untuk mencambuk anak itu. Tepat ketika aku mengambil cambuk itu, anak itu melihatku dengan mata lesunya. Dia sepertinya sedikit kaget melihatku ada disini. Tapi dengan cepat reaksinya menjadi datar. Aku tidak bisa melihat anak ini berdarah.


"Apa yang kau ragukan? Sebagai permintaan maafmu kau harus mencambuk anak nakal ini. Dia sudah berbuat nakal pada Jun'er. Jadi anak nakal ini harus diberi pelajaran. Bukankah begitu, Zhen'er?" Dia mengatakan itu seperti bukan apa apa.


Anak itu melihat ratu dengan tatapan kosong. Emosinya seperti menghilang, "Ya, ibu…" Ujarnya seperti anak penurut.


BRAK


Akhirnya disini hanya ada kami berdua. Dia tetap menatapku dengan tatapan kosongnya. Tapi aku tidak bisa menatapnya lebih lama.


"Maafkan aku!?" Ujar anak itu dengan suara parau. Aku melihatnya yang tiba tiba mengatakan maaf. Dia tidak lagi menatapku, melainkan menatap ke arah bawah. "Maafkan aku… maagkan aku… maafkan aku… maafkan aku… maafkan aku… maafkan aku…" Dia terus terusan mengatakan kata maaf. Aku semakin merasa bersalah padanya. Mungkin seharusnya aku tidak memberitahu Pangeran pertama tentangmu.


Aku menggertakkan gigiku, "Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf!?" Aku benar benar minta maaf. Jika kau ingin balas dendam, maka aku akan menunggumu membalasnya.


Craatt!? craatt!?


Aku mencambuk anak ini. Tapi tidak sedikitpun ia berteriak kesakitan. Malahan aku mendengar suara tawa dari luar. Mereka sepertinya senang melihat penderitaan anak ini. Bersamaan dengan cambukanku dia terus mengatakan kata maaf. Saat itu aku mulai menyadari, kalau Ratu mengajari anak ini mengatakan kata maaf disaat menerima cambukan.

__ADS_1


Akhirnya aku selesai, dan anak ini tidak sadarkan diri dengan darah yang membanjiri tubuhnya.


Bruk


Aku menutup wajahku sendiri dengan tangan, tidak tega melihat hasil perbuatan keji yang kulakukan padanya.


"Maafkan aku… maafkan aku…" Bahkan disaat tidak sadarkan diri dia masih mengatakan kata maaf. Aku bangun dengan memberanikan diriku. Lalu aku memeluk tubuh kecil itu. Aku bisa merasakan luka dimana mana disekujur tubuhnya. Dia gemetar karena ruangan ini sangat dingin, belum lagi dengan luka yang didapat.


"Maafkan aku!?" Kali ini aku yang mengatakan maaf. Aku bangun dan melepaskan semua rantai yang merantai tubuhnya. Lalu menidurkannya dengan benar sembari menyelimuti yubuh kecil ini dengan pakaian luar milikku. Setelah itu aku pergi begitu saja. Tiba di luar ruangan mereka mengatakan sesuatu padaku.


"Tuan Jiangwu, kau melakukannya dengan baik!?"


"Dia memang pantas mendapatkan itu!?" Ujar mereka berdua persis seperti apa yang dikatakan Ratu.


"Kau tenang saja, kami akan menyampaikannya dengan baik pada Yang Mulia Ratu."


Tanpa mempedulikan mereka aku pergi begitu saja. Semua yang keluar dari mulut mereka adalah sampah.


Sudah lama waktu berlalu sejak aku mencambuk anak itu. Aku tidak berani mendekatinya lagi setelah apa yang kulakukan padanya. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menyelamatkannya. Seiring berjalannya waktu dia tumbuh menjadi pria yang tampan. Namun seiring berjalannya waktu juga dia berubah karena perlakuan semua orang padanya. Jika saat pertama kali aku bertemu denganya dia adalah anak kevil yang penakut dan penurut, sekarang dia berubah menjadi pria yang dingin tanpa ekspresi apapun. Meskipun dia masih penurut tapi apapun yang diperintahkan padanya akan langsung dilaksanakan. Meskipun itu harus membunuh sesama. Hal yang paling sering dibicarakan darinya adalah membunuh lawannya tanpa adanya ekspresi apapun.


Lama kelamaan ekspresi datarnya berubah menjadi kesenangan ketika membunuh serta mendengar teriakan kesakitan. Dia seperti kecanduan dengan semua itu. Dan yang paling aku ingat tentang dirinya adalah, dia sering tertawa senang diatas tumpukan mayat yang dia bunuh sendiri.


Orang orang semakin takut padanya. Dan saat itu juga dia mendapat julukan, Pangeran iblis gila.


...~~...


...-...


...-...

__ADS_1


...Semoga suka...


__ADS_2