
Kaki Yohan saat ini tidak bisa bergerak karena melihat sosok yang dia benci selama ini. Sangat tidak disangka kalau ia akan bertemu dengan Jun secepat ini. 'Dia, dia berdiri tepat didepanku. Apakah aku harus menyerangmya? Atau…' Saat ini Yohan tidak tahu harus berbuat apa. Tidak lama ia melihat Jun berjalan menuju dirinya. Tapi naas kaki'nya tidak mau bergerak.
Melihat adiknya yang tidak mengatakan apapun membuat Jun mengambil langkah pertama. Dia berjalan menuju Yohan yang saat ini juga melihat dirinya. Tatapannya sangat berbeda dengan yang dulu. Jika dulu tatapan saat melihat dirinya adalah tatapan penuh kerinduan, sekarang berubah menjadi penuh kebencian. Tepat didepan Yohan, Jun memeluk pria didepannya. "Apa kau tidak merindukanku? Biasanya kau akan langsung memelukku seperti ini dulu." Ujar Jun sembari memeluk Yohan.
Rasanya sangat hangat. Tidak pernah Yohan rasakan kehangatan ini. Selama ini yang dia rasakan hanyalah rasa dingin dari kegelapan. Tiba tiba, sesuatu menyadarkan dirinya. "Sadarlah!? Dia sedang mempermainkanmu!?" Ujar kegelapan. Menyadari itu, Yohan langsung memukul pria didepannya.
Buk
Pukulan telak untuk Jun. Tidak ia sangka jika Yohan akan memukulnya seperti ini. "Zhen, kau sangat kasar. Apa aku melakukan kesalahan hingga kau memukulku seperti ini?" Tanya Jun sembari mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Kesalahan? Ha ha ha, kau serius menanyakan apa kesalahanmu padaku?" Yohan menggertakkan giginya menahan amarah. "Setelah santainya kau menghancurkan hidupku dan membuatku menjadi gila seperti ini? Dan kau masih bertanya apa kesalahanmu? Gara gara kau aku kehilangan dia, gara gara kau juga aku kehilangan mereka, padahal… padahal aku tidak membencimu. Tapi kenapa kau membuatku membencimu?" Dia mengeluarkan semua amarah yang terpendam. Lalu terpikirkan sesuatu olehnya, "Wanita itu… pasti gara gara wanita itu kau melakukan ini? Iya, kan? Kau, kau tidak mungkin melakukan ini padaku kan? Kau pasti telah dipaksa oleh wanita itu untuk melakukan ini. Aku tahu, kau pasti__"
"Itu karena keinginanku sendiri, bukan karena ibu. Dan yang merusak hidupmu adalah dirimu sendiri, bukan aku." Ujar Jun menjelaskan pada Yohan.
"Apa?" Mendengar kenyataannya membuat hati Yohan sakit. 'Jadi, itu keinginannya sendiri. Tidak mungkin, tidak mungkin…' Selama ini ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Jun melakukan semua ini karena asli keinginannya. Tanpa disadari Yohan selalu mengingatkan pada dirinya sendiri kalau itu bukan keinginan Jun. Melainkan orang lain. Tampak asap asap hitam pekat mulai muncul di belakang Yohan. Kegelapan berada disisinya dan membisikkan sesuatu. "**Sungguh bodoh!? Kenapa kau tidak belajar dari masa lalu?Dan kenapa kau masih percaya kalau bukan dia pelakunya? Bukankah kau melihatnya sendiri? Dia adalah orang yang membunuh mereka. Mau berapa kali kau ingin tertipu oleh kebaikan palsu itu? Jangan sampai tertipu lagi.
Dia adalah orang yang membuatmu sampai seperti ini. Orang itu yang membuatmu menderita ratusan tahun, kesakitan, kesepian, putus asa dan bahkan sampai gila. Ingatlah ini baik baik dan jangan pernah lupakan. Raja itulah yang membuatmu hancur**." Bisik kegelapan. Yohan sudah memikirkan itu berkali kali. Kata penjahat memang cocok untuknya. Tapi bukan berarti dia bodoh. Mana mungkin dia menghancurkan hidupnya sendiri. "Ppffftt Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha… " Yohan tertawa mendengar kata kata mereka, kata kata Jun maupun kegelapan.
"Apa kau pikir aku bodoh? Kau pikir siapa yang merusakku sampai seperti ini? Kau pikir aku sampai gila seperti karena siapa? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha……… BUKANKAH ITU KALIAN!?" Teriak Yohan dengan penuh amarah. Yohan melihat Jun dengan amarahnya saat ini.
Setelah itu mereka berdua hanya diam. Jun tidak bisa berkata apapun. Dia tidak sangka kalau adiknya akan berubah seperti ini. Dulu Yohan pasti akan selalu mendekatinya dengan wajah riang. Tapi lihatlah sekarang, dia melihat Jun dengan tatapan penuh kebencian. Tanpa senhaja Jun melihat kucing yang dipegang Yohan, 'Kucing? Ternyata dia masih menyukai kucing. Tapi, kucing itu sedikit aneh.' Pikir Jun. Kucing yang ada dipelukan Yohan menatapnya dengan tajam. Normalnya seekor kucing pasti akan lari disituasi seperti ini. Tapi kucing yang dipelukan Yohan sama sekali tidak merasa takut. Kucing itu malah melihatnya seperti ingin membunuh dirinya.
__ADS_1
"Kau benar, sejak awal kau tidak salah. Seperti yang kau tahu, aku melakukan semua itu karena keinginanku sendiri. Jika kau ingin tahu alasan sebenarnya maka… bunuhlah aku!?" Ujar Jun sembari melentangkan tangannya. Dengan senyum licik yang tidak cocok dengan dirinya.
'Membunuhnya? Aku, membunuh kakak? membunuh Jun?' Tidak bisa Yohan bayangkan dirinya membunuh orang itu.
Jun tersenyum samar, "Kurasa sudah waktunya kita akhiri pertemuan ini dan… kau memiliki kesempatan membunuhku besok!?" Ujar Jun sembari berbalik pergi.
Yohan tidak tahu apa yang dimaksudnya dengan besok. Tapi itu membuatnya penasaran, "Besok? T tunggu!? Apa maksud… mu?" Seketika dimensi putih itu berubah menjadi normal. Seperti biasa berganti dengan orang orang yang berada di sekeliling. "Besok, ya? Aku membunuhnya?" Tidak seperti saat Jun berada didepannya, Yohan tersenyum jahat memikirkan darah orang itu mengalir ditangannya. Dan menikmati manisnya darah itu. Senyum miring terpangpang diwajah tampan pria itu, "Aku menantikan besok, kakak'ku sayang!?" Kemudian Yohan berjalan pulang sembari mengelus elus kucing kecil yang berada dipelukannya.
...***...
Yohan pulang saat semua orang sudah tidur. Wajahnya begitu murung setelah bertemu dengan Jun. Ketika dia membuka pintu kamarnya, terlihat Jiangwu yang sudah ada didepan. Sontak itu membuatnya terkejut. Hampir saja ia berteriak kaget melihat orang itu.
"Itu bukan urusanmu!? Minggir, aku ingin tidur." Ujar Yohan kesal. Namun pria dihadapannya ini sama sekali tidak bergeser sedikitpun. "Bukankah kubilang mingg__" Sebelum selesai bicara Yohan dikejutkan lagi dengan Jiangwu yang mengendus endus tubuhnya, "Apa yang kau lakukan? Hentikan!?"
"Kau bertemu dengan orang itu?" Tanya Jiangwu memastikan.
Yohan melirik ke arah lain. "Ya, apa kau puas? Sekarang minggir!?" Meskipun Yohan sudah mengatakannya berkali kali tapi Jiangwu masih tetap berada di sana.
"Dari mana kau dapatkan kucing itu?" Tanya Jiangwu. Meskipun ia todak bisa melihat tapi dia masih bisa mencium bau binatang. Dan dia bisa merasakan tatapan menusuk dari binatang kecil ini.
"Oh, ini. Aku memungutnya." Entah kenapa jika berada di sisi kucing ini membuat Yohan tenang dan bisa mengendalikan emosinya.
__ADS_1
"Kalau begitu, biar aku menjaganya saat kau ti_"
"Tidak boleh!? Dia hanya milikku!?" Ujar Yohan sembari mengeratkan pelukannya pada kucing kecil itu.
"Aku tidak ingin merebutnya darimu, aku hanya ingin menjaganya."
"Tidak, kata kata itu hanya kata lain untuk merebutnya dariku!?"
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Aku tidak akan tertipu lagi."
"Kapan aku menipumu?"
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA!?...
__ADS_1