
"Silahkan, Tuan tuan dan nona nona bisa memakai kamar ini. Maafkan kami jika penginapan kami kurang nyaman dan menyeramkan." Ujar pelayan kamar menunjukkan empat kamar pada mereka. Pelayan itu merasa tidak enak karena penginapannya kumuh dan tua. Ini semua karena mereka jarang sekali memiliki pelanggan selama bertahun tahun. Dulunya penginapan ini sering dipakai untuk beberapa orang yang melakukan perjalanan jauh seperti Yohan dan lainnya untuk melewati perbatasan ke negara lain. Tapi setelah jalur baru yang lebih pintas dibuat, desa ini menjadi sepi dan tua.
Banyak dari penduduk desa yang pindah ke desa lain karena kesusahan di desa tersebut. Karena itu desa ini sepi penduduk. Belum lagi hewan buas sering kali memasuki desa dan memangsa penduduk. Kemampuan seni bela diri yang kurang menjadi hambatan. Meskipun sudah melakukan ronda untuk mengusir hewan buas tapi tetap saja mereka tak bisa melawan.
Itulah sebabnya para penduduk mempunyai kantung mata hitam serta wajah pucat disebabkan kurang tidur.
Mereka memesan empat kamar untuk tidur dikamar masing masing. Zhu'er dengan Linhua yang masih takut dengan hantu, dan untuk yang lainnya tidur dikamar masing masing. Jika Yue dia bebas tidur dimana saja karena dia burung.
Dimasa lalu Yohan sering mampir ke penginapan ini. Karena itu dia tetap kekeh ingin menginap disini meskipun yang lain membicarakan sesuatu yang buruk karena penampilan luar penginapan yang menyeramkan. Dulu penampilannya tidak seburuk dan sebobrok ini. Mungkin karena termakan oleh waktu penampilannya menjadi rumah hantu.
Tok tok tok
Seorang pelayan masuk dan membawakan makanan yang dia pesan.
"Ini makanan anda tuan." Pelayan wanita itu menaruh makanannya di atas meja tepat didepan Yohan yang saat ini duduk disamping jendela. "Permisi." Sebelum pergi pelayan itu memperhatikan Yohan begitu lama. Dari penampilannya, pria didepannya ini seperti tuan muda yang kaya.
"Apa?" Tanya Yohan sembari menunjukkan ketidak sukaannya karena terus ditatap.
Mendengar pertanyaan itu pelayan itu agak canggung, "T tidak, bukan apa apa. Hanya saja sepertinya tuan bukan orang biasa. Apakah tuan adalah seorang kultivator?" Tanyapelayan tersebut mengungkapkan rasa penasarannya.
"Tidak, aku hanya pengembara biasa." Ujar Yohan bohong. Sebenarnya dia tahu apa motif pelayan tersebut menanyakan hal ini. Dia pasti ingin meminta tolong padanya untuk membunuh para binatang buas yang mungkin malam ini akan datang. Dan ia sama sekali tidak tertarik jika warga desa mati dimakan monster atau apalah itu. "Pergilah!?" Ujar Yohan dingin. Dia sama sekali tidak berniat menjadi pekerja bakti sosial yang melakukannya dengan ikhlas membantu sesama.
Tentunya mendapatkan jawaban yang tidak sesuai harapan itu sangat menyakitkan. "Baiklah, kalau begi__"
"Tuaann, bagaimana aku harus memulai jurus ini?" Tanya Linhua dengan suara yang cukup lantang. Langsung saja dia mendapatkan tatapan kesal dari tuannya itu.
Pelayan itu kaget setelah mendengar kata jurus. "T tuan benar benar kultivator? Tuan yang terhormat tolong bantu kami. Tolong bantu kami sekali ini saja." Pinta pelayan tersebut sembari berlutut memohon. Melihat wajah dingin Yohan yang menyeramkan membuat si pelayan ketakutan. Mata merah menyala yang mengawasinya seakan itu adalah mata iblis yang siap memakannya. "M mohon bantu kami tuan."
__ADS_1
Setelah dipikir pikir lagi mungkin dia bisa membantu sedikit. Terlalu sayang jika penginapan penuh kenangan ini hancur begitu saja oleh monster. Meskipun untuk beberapa hal Yohan sangat egois, tapi untuk sesuatu yang cukup berharga dia masih memiliki hati. "Baiklah, aku akan___"
ROARRRR
Sebelum menyelesaikan kalimatnya terdengar suara auman yang cukup keras. Suara itu menakuti seluruh penduduk yang kini mulai memasuki rumah. Mereka mematikan semua lampu dan bersembunyi dalam ketakutan beserta kegelapan yang menyelubung.
"I itu, Monster monster itu datang!?" Ujar pelayan itu ketakutan.
Yohan langsung keluar melalui jendela. Dia langsung menuju tempat dimana beberapa monster muncul. Hyena berbulu hitam serta mata yang merah. Diatas punggung mereka juga terdapat tulang tulang yang muncul dari dalam tulang punggung. Meskipun tubuh mereka krempeng tapi serangan mereka cukup kuat. Untungnya para Hyena hitam ini belum mencapai level diatas sepuluh. Mereka masih berada dilevel satu.
Yohan tidak sengaja melihat Jiangwu dan beberapa orang lainnya melawan Hyena hitam. Sepertinya mereka sudah mengerti meski tanpa disuruh. Yohan merasakan aura yang lebih kuat dari dalam hutan. Dia berlari menuju hutan yang mana asal dari aura kuat yang dia rasakan. Dari auranya dapat diperkirakan jika monster ini berada di atah level dua puluh. Atau monster tingkat menengah.
Tepat didalam hutan Yohan menemukan seekor harimau emas. Ukuran harimau itu lebih besar dari harimau biasa. Tubuhnya diselimuti cahaya emas dan di keningnya terdapat berlian berkilau warna merah. Mungkin dia adalah raja dari hutan ini. "Hm? Manusia? Berani sekali kau datang sendirian menemuiku. Apa kau tidak sabar untuk mati atau sudah bosan hidup?" Tanya Harimau itu dengan suara yang begitu berat.
"Hoo~ Kucing kecil sepertimu berani sekali mengancamku. Sepertinya kau harus menerima hukuman, ya?" Balas Yohan dengan senyuman mengerikan diwajahnya plus dengan aura membunuh yang sangat kuat.
Bukannya menjawab Yohan malah tersenyum smirk pada kucing kecil itu, "Sayang sekali, padahal aku menyukai harimau sepertimu,…" Ujar Yohan membuat Harimau mesar didepannya kebingungan. Tanpa mengatakan basa basi lagi dia langsung menyerang harimau emas hanya dengan satu jarinya. "Tapi, aku lebih menyukai yang lebih kecil lagi dan tidak menggigit." Lanjutnya sembari menunjuk monster buas didepannya.
Seketika bayangan hutan menjadi hidup dan membentuk banyak duri panjang. Sayangnya saat ingin menghindar kakinya langsung ditarik kembali oleh bayangannya sendiri hingga tak bisa kabur.
Jleb
"RROOAARRR!?"
Tanpa membuang waktu lagi duri duri itu menusuk tubuh si kucing besar. Bahkan memotong kepalanya yang kini menggelinding ke kaki Yohan.
Di desa juga telah selesai. Mereka akhirnya bisa bernafas dengan lega sekarang.
__ADS_1
Itu adalah malam yang sangat panjang. Karena keributan telah usai
beberapa penduduk desa mulai keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi. Banyak mayat dari para hyena hitam yang bertebaran. Dan disana ada beberapa orang pemuda yang mengumpulkan mayat mayat tersebut.
"A anu, apakah tuan tuan yang membunuh para monster ini?" Tanya seorang wanita pada Wen Hou.
"Benar." Balas Wen Hou singkat.
Mendapatkan jawaban itu mereka senang akhirnya krisis monster ini terselesaikan oleh orang orang asing yang mengunjungi desa mereka. Para penduduk desa semakin banyak berdatangan dan mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya. Setelah banyaknya u apan terima kasih merekabberempat dijamu makanan makanan enak oleh penduduk desa. Meskipun dengan bahan seadanyan karena ladang dan perkebunan mereka selalu dirusak monster monster itu.
Meskipun sudah menolak tapi para penduduk desa tetap memaksa. Bagaimana mungkin mereka tidak memaksa, penderitaan yang berkepanjangan oleh para hyena hitam itu akhirnya berakhir. Jika mereka tidak mengucapkan terima kasih dan menjamu penyelamat mereka itu artinya mereka tidak tahu malu.
Saat semuanya fokus pada apa yang mereka makan, Zhu'er terus memperhatikan sekitar. Linhua yang melihat itu menjadi penasaran, "Ada apa?" Tanya Linhua.
"Yohan!?" Balas Zhu'er singkat. Sontak mereka bertiga langsung menghentikan gerakan makan mereka persis seperti waktu telah berhenti. Bahkan makanan yang sempat berada di mulut Linhua keluar lagi. Benar, mereka melupakan seseorang yang penting.
"Kurasa… kita harus mencari Yang Mulia lebih dulu." Ujar Jiangwu mengusulkan dan mendapatkan persetujuan yang lainnya. Dia merasa tidak enak telah melupakan seseorang yaitu tuannya.
Seseorang yang sedang dikhawatirkan Zhu'er, kini berada didalam hutan. Dia berjalan kesana kemari tapi tidak juga keluar dari hutan. Malahan balik ke titik awal dia berjalan, "Ini dimana?" Tanya Yohan kebingungan. Dia khawatir,…
Apakah dia bisa pulang?
...~~...
...-...
...-...
__ADS_1
...SEMOGA SUKA...