
Didepan rumah kakek Huang sedang dilanda kesedihan karena akan pergi dua orang dari rumah itu, "Apa kau yakin ingin pergi?" Tanya Kakek Huang khawatir.
"Ya, aku yakin ingin pergi." Ujar Yohan dengan percaya diri.
Kakek Huang melihat Yohan dengan malas, "Bukan kau, tapi Lin'er!? Apa kau yakin ingin pergi Lin'er?" Tanya ulang Kakek Huang yang mendapat kekesalan dari Yohan.
"Ya, aku akan mengikuti Tuan kemanapun Tuan pergi." Ujar Linhua dengan senyuman manisnya. Melihat senyuman itu membuat kakek Huang dan paman San Gui semakin tidak tega melepaskan Linhua. Mereka memeluk Linhua erat erat. "Jika anak nakal itu memerintahkan yang tidak tidak jangan dituruti, ya?" Ujar kakek Huang.
"Jika kau dalam bahaya lari saja, jangan pedulikan Tuanmu!? Biarkan saja dia dalam bahaya, lagipula dia kuat." Ujar paman San Gui tanpa rasa bersalah.
"Hei, aku masih disini." Yohan sedikit kesal karena mereka benar benar mengabaikan dirinya. "Ah, sudahlah… Aku pergi, selamat tinggal!?" Karena terlalu kesal dengan mereka Yohan pergi begitu saja.
"Ah, Tu tunggu aku!?" Ujar Linhua dengan terburu buru mengejar Yohan.
"Yohan!?" Terdengar suara kakek Huang memanggilnya dari belakang. Yohan langsung menengokkan kepalanya ke belakang untuk melihat kakek Huang. Disana terlihat kakek Huang tersenyum kecil padanya, "Jaga dirimu baik baik!?" Ujar kakek Huang dengan suara yang hangat.
Secercah perasaan hangat terasa didadanya yang sedang terluka. Sudah berapa lama ada yang mengharapkan keselamatannya selama ini? Mungkin sudah hampir tidak ada. Rasanya sangat senang jika ada yang khawatir dengan keselamatannya. "Ya…" Balas Yohan dengan sedikit senyuman terbaiknya.
Beberapa hari setelah perpisahan…
"Hah… hah… hah… Tuan, kapan kita keluar dari hutan ini?" Tanya Linhua yang sudah tidak kuat lagi berjalan. Dia sudah sangat kelelahan berjalan kesana kemari tapi belum juga bisa keluar dari hutan. Pasalnya sudah beberapa hari ini mereka masih berjalan jalan didalam hutan.
Yohan sendiri tidak tahu ia berjalan kearah mana sekarang. Dia benar benar tersesat. Yohan benar benar tidak bisa mengatakan itu pada Linhua. Tapi sepertinya Linhua mulai menyadari keanehan ini.
Linhua menatap Yohan curiga. Seseorang yang tahu arah seharusnya sudah sampai bahkan hanya berjalan beberapa jam. Tapi ini beberapa hari? Hanya ada satu kemungkinan, "Tuan, jangan bilang kau buta arah?" Tanya Linhua curiga.
"Aku tidak buta arah, aku hanya… kurang beruntung." Ujar Yohan membela dirinya sendiri yang bahkan tidak pantas dibela.
__ADS_1
'Sudah pasti dia buta arah!? ' Pikir Linhua dangan sangat yakin. Sekarang dia ragu dengan keputusannya untuk mengikuti orang ini? Orang yang bahkan tidak bisa membedakan arah jalan.
"Ah, sepertinya disana adalah jalan yang benar!?" Ujar Yohan sembari menunjuk, ke arah yang asal. Ditampah lagi dengan wajahnya yang tidak bisa dipercaya.
"Hah… baiklah!?" Jawab Linhua lemas. Mereka kembali berjalan tanpa arah.
Tiba tiba Yohan berhenti berjalan. Dia mendongakkan kepalanya keatas yang terdapat beberapa bulu hitam berterbangan di udara. Di tangkapnya satu bulu tersebut. Yohan tersenyum melihatnya, karena dia mengenal bulu burung ini. "Keluarlah!? aku tahu kau ada disini." Ujar Yohan.
"Kau memanggilku hanya karena ada perlu saja." Ujar seseorang yang entah ada dimana.
Linhua bingung kemana pemiliki suara tersebut. Ada suara tapi tidak ada pemiliknya. "Kemana orangnya?" Tanya Linhua sembari melihat kesana kemari.
"Aku disini, bocah!?" Ujarnya lagi.
Setelah itu Linhua melihat ke bawah tanah karena suara tersebut berasal dari bawah. Tapi disana hanya memperlihatkan seekor butung hitam.dengan bulu yang cantik dan bermata emas. 'Tidak mungkin kan burung itu yang bicara? apa aku salah dengar?' Pikir Linhua. Tapi tidak ada siapa siapa lagi disana selain dirinya dan Yohan. Apa mungkin Yohan bisa mengubah suaranya menjadi orang lain?
"Kyaaa, bu burung itu bisa bicara!?" Teriak Linhua histeris sembari bersembunyi dibelakang Yohan.
"Quack quack, kau juga bisa bicara!?" Balas burung itu pada Linhua.
"A akukan manusia!? P pastinya bisa bicara!?" Ujar Linhua kesal.
"Aku juga manusia!? pastinya juga bisa bicara!?" Balas burung hitam itu sedikit menggoda Linhua.
"Jangan bohong!? Jelas jelas kau burung!? Mana ada manusia berbentuk burung!?"
"Saat ini aku sedang berbentuk burung, tapi sebenarnya aku manusia!?"
__ADS_1
Linhua sedikit mulai percaya dengan kata kata burung itu. "A apakah itu benar?" Tanya Linhua pada Yohan. Tapi pria itu berjalan menuju burung tersebut yang sedang berbangga diri. Lalu dengan kasar memegang burung tersebut dengan sangat kasar seperti akan mencekiknya. Dia tersenyum bagaikan iblis melihat burung tersebut. Sedang burung itu gemetar ketakutan melihat senyuman Yohan yang menyeramkan.
"He he he he he he ke-te-mu penunjuk jalanku!? ha ha ha ha ha ha ha…" Yohan tertawa senang mendapati burung hitam itu.
Burung itu tampak sangat sangat panik dan ketakutan melihat Yohan, 'Gawat gawat gawat gawat gawat, kenapa aku bisa lupa kalau orang ini gila. Kenapa aku menunjukkan diriku? dasar Yue bodoh!? Haaahh, sudahlah… lagipula bertemu lagi dengannya adalah tujuanku!?' Pikir burung tersebut pasrah dengan keadaannya saat ini.
Linhua bertanya tanya apakah Yohan kenal dengan burung hitam itu? Mereka terlihat akrab dalam hal takut menakuti. "A apa Tuan kenal dengan burung jelek itu!" Tanya Linhua.
"Aku saaangat mengenalnya. Kau jangan khawatir tersesat lagi, karena sekarang kita ada penunjuk jalan disini." Ujar Yohan dengan senyum percaya dirinya.
"Penunjuk jalan?" Linhua bingung dengan apa yang Yohan katakan. Tapi dia akan tahu apa maksudnya nanti. 'Bukannya Tuan yang selalu tersesat, ya? kenapa jadi aku?' Pikir Linhua benar benar bingung.
Beberapa saat kemudian…
Mereka berjalan dengan sangat percaya diri. Sebab apa? Sebab sekarang mereka tidak takut tersesat lagi, karena ada penunjuk jalan yang dapat dipercaya. Yaitu burung bernama Yue. Dia adalah monster level 40 ke atas, Burung berdarah Phoenix. Itu adalah monster jenis burung yang sangat langka. Hanya ada beberapa yang masih hidup dan salah satunya adalah Yue. Burung berdarah Phoenix juga bisa disehut sebagai Raja para burung.
"Aku mengerti kau begitu merindukanku, Quack!? Tapi… kenapa kau harus mengikat kakiku?!" Tanya Yue sembari mengepak ngepakkan sayapnya dengan geram. Kini ia lebih terlihat seperti burung peliharaan dari pada Raja burung. Jika seperti ini, dimana harga dirinya sebagai burung???
"Justru karena aku sangaaaat merindukanmu, jadi aku mengikat kakimu!?" Ujar Yohan.
"Haaah, baiklah!? terserah kau saja!?" Ujar Yue sudah menyerah dengan pria gila disampingnya. Sekarang mereka berdua tidak perlu khawatir dengan arah mana mereka harus berjalan. Karena ada penunjuk jalan yang selalu siap sedia bersama mereka sekarang.
...~~...
...-...
...-...
__ADS_1
...SEMOGA SUKA!?...