
Didalam kegelapan terlihat Zhu'er yang sedang berjongkok entah melakukan apa. Ia melihat setitik darah ditanah, Zhu'er berkesimpulan jika darah itu milik Yohan. Karena meskipun orang gila itu memiliki penyembuhan yang cepat namun dia adalah pria yang ceroboh. Karena itu dia sering terluka. Untuk lebih memastikan ia berlutut dan mencium bau darah tersebut seperti hewan yang menggonggong.
Ternyata benar saja, itu adalah darah pria gila itu. Setelah mendapatkan bau pria itu Zhu'er segera bangun dan berlari mencari si pemilik bau.
Ggrrtt
Tiba tiba langkah Zhu'er berhenti ketika menyadari kalau tempat ini mulai mengubah struktur jalan disini untuk menyesatkan dirinya. Seketika tatapannya yang biasa datar berubah menjadi menyeramkan. "Berani sekali kau menjauhkan aku dari Yohanku?!" Zhu'er paling tidak senang jika ada yang sengaja menjauhkan dirinya dengan Yohan'nya'. Samar samar ada semacam bayangan hitam keluar dari tubuh dinginnya. Hawanya semakin dingin dan menyeramkan. Seakan akan sosok yang sangat jahat dan kejam akan muncul saat itu juga.
Seketika tempat ini sedikit berguncang dan kembali ke posisi awal Zhu'er mencari Yohan. Setelah itu ekspresi wajahnya kembali datar dan membosankan. Namun kakinya kembali berlari mengejar Yohan yang mana dia sudah tahu keberadaan pria gila itu. Larinya begitu cepat ingin bertemu Yohan.
Sedangkan Yohan sendiri…
Dia sedang memilih jalan mana yang benar diantara dua jalan di didepannya. Saat dia sedang berpikir, ada sesosok bayangan samar transparan anak kecil yang tubuhnya bercahaya berjalan ke arah kanan. Yohan membelalakkan matanya karena sepertinya hanya dirinya yang bisa melihat bayangan itu. Entah itu nyata atau tidak tapi pikiran dan hatinya menyuruh satu hal yang sama, mengikutinya. "Arah sini!?" Ujar Yohan mengikuti bayangan anak kecil itu kearah kanan.
Yohan terus mengikuti bayangan itu hingga sampai di suatu tempat. Yaitu dinding batu.
"Jadi kau berjalan dengan percaya diri dan berakhir dengan jalan buntu? Bagus sekali, ayo kita kembali ke tempat awal!" Ujar Jun sembari berbalik badan.
"Tidak, tunggu!?" Ujar Yohan tiba tiba. Dia menggigit kuku kuku jarinya sembari berpikir keras tentang jalan buntu ini. Yohan sangat yakin jika keputusannya mengikuti bayangan itu adalah benar. Lalu perhatiannya terfokus pada sisi dinding batu yang mana seperti terukir telapak tangan. 'Apakah itu kuncinya? ' Pikir Yohan. Dia mengulurkan tangan kanannya untuk mencocokkan tangannya sendiri dengan ukiran tangan di batu. Saat ukiran itu cocok dengan tangannya tiba tiba saja batu itu ambles ke dalam beberapa inci. Dan tepat setelah itu dinding batu yang didepan mereka retak.
Awalnya hanya retak kecil, akan tetapi retakan itu semakin membesar dan membesar yang akhirnya hancur dan memperlihatkan sebuah pintu besar yang tebal. Pintu itu terbuka sendiri seakan memiliki sistem otomatis. Disana diperlihatkan sebuah lorong gelap tanpa cahaya sedikitpun.
Tap
__ADS_1
"Kerja bagus!?" Ujar Jun tiba tiba sembari menepuk pundak Yohan. Dia berjalan memasuki terowongan sembari membuat cahaya penerang di tangannya.
Sedangkan Yohan sendiri masih tidak percaya jika dirinya benar benar dapat menemukan jalan ke lereng. Ini seperti suatu hal yang tidak mungkin terjadi. "Bagaimana bisa……?" Gumannya pada dirinya sendiri. Sepanjang hidupnya yang buta arah ini dia tidak pernah bisa menemukan jalan yang benar. Tapi ditempat menyeramkan ini dirinya benar benar bisa menemukan jalan menuju lereng xinhai yang semua orang idam idamkan namun tidak pernah tersampaikan.
Jun membalikkan badannya dan melihat Yohan. Tiba tiba…
Jleb
Sebuah pedang panjang menusuk dada Yohan secara mendadak.
Yohan melebarkan matanya ketika melihat pedang menembus dadanya., "Kau, apa yang kau lakukan?" Tanya Yohan disertai tatapan kaget bercampur benci.
"Maaf, tapi kau harus tetap disini." Ujar Jun dengan wajah dinginnya. Dia mengangkat tangannya ke atas sembari memberi serangannya yang berwarna putih menyilaukan. Batu batu berjatuhan dari atas dan hampir mengenai Yohan. Untungnya dengan cepat dia menghindarinyaeskipun dengan luka yang parah.
Brak brak brak
Darah perlahan keluar dari mulut dan dadanya yang terluka. "Hah… hah… hah… hah…" Nafasnya tersengal sengal karena akhirnya dengan susah payah pedang itu tercabut keluar.
KLANG
Dibuangnya pedang yang kini sudah basah oleh darahnya. Saat dirinya akan melepas bajunya untuk mengobati lukanya sendiri, tanpa diduga ternyata pedang itu sudah di lumuri obat pelumpuh yang sangat kuat. Sepertinya Jun sudah menyiapkan jebakan didalam jebakan. Dan kini seluruh tubuhnya tidak bisa di gerakkan sedikitpun. "Ha ha ha… ha… ha…" Yohan merasa bodoh sekarang. Bisa bisa dia percaya pada orang yang pernah membunuhnya meskipun orang itu sudah mengembalikan jiwanya ke masa lalu.
"………"
__ADS_1
Berdiri di depan Yohan seorang wanita yang tidak asing lagi di matanya. Wanita berwajah datar yang membosankan dan selalu aneh setiap saat, Yueyin Zhu. Wanita itu berjongkok dan menatap Yohan yang saat ini tengah terkejut melihatnya yang juga berada di jurang Xinhai. "Yohan sakit?" Tanya Zhu'er yang sering menyingkat omongannya. Wajahnya memang datar sehingga tidak bisa membaca ekspresi wanita itu sehingga sulit untukengetahui apa dia sekarang sedang khawatir atau yang lain. Yohan sendiri juga masih belum yakin apa wanita ini memang benar mencintainya atau tidak.
"Kenapa… kau… disini?" Tanya Yohan yang terputus putus akibat lukanya yang parah.
"Karena aku mencintaimu." Khusus untuk kata yang ini Zhu'er tidak pernah menyingkatnya.
Dari dulu sampai sekarang alasan wanita ini mengikuti Yohan adalah 'Karena aku mencintaimu' tapi apa seseorang yang jatuh cinta bisa mengatakan tiga kata ini dengan wajah yang datar dan biasa saja? Atau karena ada maksud lain dia mengikuti Yohan?
"Ha ha ha ha… ha ha… ha… uhuk!? uhuk!? kau… mencintaiku?… Sungguh? Pria… jahat yang… ingin… menghancurkan… dunia ini?… Apa alasanmu…?" Tanya Yohan sembari menahan sakit di dadanya. Sialnya regenerasinya melambat karena ranah kultivasinya menurun di tempat ini. Sejujurnya Yohan juga mencintai wanita ini dengan tulus meskipun harus melalui efek samping pil khusus yang dia makan dulu. Jika bukan karena efek sampingnya yang konyol, tidak tahu apakah dia bisa merasakan namanya cinta. Tapi sekarang dia bertenya tanya, apakah wanita ini memang sungguh mencintainya atau akan sama seperti Jun yang pada akhirnya mengkhianati dirinya di akhir.
Zhu'er memiringkan kepalanya dengan polos, "Yohan (tidak) percaya?" Tanya Zhu'er singkat. Pertanyaan itu tak diacuhkan oleh Yohan yang masih dalam suasana hati buruk saat ini. Tanpa diduga Zhu'er membuka kancing jubahnya dan juga melonggarkan baju merah yang biasa selaalu menutupi tubuhnya. Dia memperlihatkan lehernya yang putih jenjang pada Yohan.
Tentunya Yohan sangat terkejut melihat Zhu'er yang tiba tiba melakukan hal vulgar didepannya. Tangan wanita itu meraih dirinya sehingga membuat posisinya bersandar dihadapan Zhu'er. Membuat kepalanya menghadap ke leher wanita yang bertubuh dingin ini. Dan tangan Zhu'er masing memegangi bagian belakang kepala Yohan.
"Minum(lah) darah(ku) agar Yohan (sembuh). Karena (aku) juga (dari) klan guaiwu." Ujar Zhu'er singkat dengan senyuman lembut diwajahnya yang biasa datar.
Yohan membelalakkan matanya ketika mendengar Zhu'er mengatakan hal seperti itu, 'Dia,… apa yang dia katakan? Kenapa juga harus disingkat?' Yohan benar benar bingung dan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Zhu'er. Karena setiap kalimatnya selalu disingkat menjadi kalimat tidak jelas.
Sedangkan Zhu'er sendiri sedang berpikir mungkin Yohan sedang terharu dengan apa yang dilakukannya. Makanya saat ini dia tersenyum dengan sangat percaya diri.
...~~...
...-...
__ADS_1
...-...
...SEMOGA SUKA...