
"Siapa kau?" Tanya Yohan pada Jia Wuxen
"Kau sungguh tidak ingat aku?" Tanya Jia Wuxen heran. Dia tidak percaya kalau pria ini tidak mengingatnya. Padahal mereka baru saja bertemu kemarin. "Huhh, Baiklah. Akan kuperkenalkan diriku secara resmi, namaku adalah Jia Wuxen dari kekaisaran Yan. Apa kau sudah ingat?" Jia Wuxen memperkenalkan dirinya dengan hormat.
"Ah, sekarang aku ingat!? Kau adalah orang yang kukalahkan di pertandingan, benarkan?" Ujar Yohan.
"Be benar!?" Ujar Jia Wuxen. 'Kenapa yang dia ingat saat mengalahkanku?' Pikir Jia Wuxen. Tidak ia sangka akan kalah secepat ini. Sejujurnya dia tidak tahu kalau lawannya begitu gila. Tapi sepertinya di luar arena dia juga gila. Dia berjalan mendekati Yohan untuk duduk disampingnya. Tapi sebelum dia mendekat Yohan menghentikannya.
"Eehh!? Tunggu sebentar!? Jika kau ingin duduk disini kau harus mengatakan 'pangeran Zhen lah yang tertampan' seperti itu!? Cepat!?" Ujar Yohan. Sepertinya dia makin hilang kendali.
Jia Wuxen tidak mengerti mengapa Yohan menyebutkan kata pangeran. Tapi dia menyangka, mungkin karena mabuk Yohan jadi berbicara ngawur. Namun memgatakan kata pangeran itu membuatnya merasa tidak enak, "Kenapa aku harus mengatakan itu?" Tanya Jia Wuxen tidak mengerti.
Wajah Yohan jadi main serius, "Itu karena…… aku memang tampan!? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha……" Yohan kembali tertawa dengan memuji diinya sendiri.
Benar benar, Jia Wuxen tidak pernah bertemu dengan seseorang yang sepercaya diri ini dan segila ini. Entah mengapa dirinya merasa malu berbicara dengan pria ini. Tidak lama pria yang ada dibelakang Jia Wusen membisikkan sesuatu, "Kita pergi saja dari sini. Sepertinya bocah ini abnormal." Bisik Lou xie, sepupu Jia Wuxen.
"Itu tidak mungkin, dia pasti hanya terlalu banyak minum." Bisik Jia Wuxen.
"Apa kau bodoh? Semabuk mabuknya seseorang mana mungkin segila ini?"
"Itu… "
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Yohan yang tiba tiba berada ditengah engah mereka berdua.
Keduanya langsung menjauh dari Yohan. Mereka tidak merasakan kehadiran Yohan sama sekali. Biasanya sehebat hebatnya seseorang pasti bisa mereka rasakan. Tapi pria ini sama sekali tidak bisa dirasakan kehadirannya. "Sejak kapan kau berada disana?" Tanya Jia Wuxen waspada.
"Kapan, ya? Mungkin, baru saja?" Jawab Yohan. Dia tidak terlalu mempedulikan kapan dia mendengar pembicaraan mereka. Toh apa yang mereka bicarakan sama saja. Pasti mereka membicarakannya sebagai orang gila. "Dari pada itu, kapan kau akan memanggilku tampan? A apa kau membenciku sehingga tidak mau memujiku? Hiks… hiks… hu hu hu hu hu hu… " Yohan mulai menangis lagi.
Mereka saling menatap satu sama lain. Keduanya melihat Yohan dengan tidak percaya. 'Apa sekarang dia baru saja menangis? Benar benar menangis? Kurasa dia benar benar gila.' Pikir Jia Wusen. "B baiklah baiklah, aku akan memujimu. 'Pangeran Zhen lah yang tertampan!? Apa kau puas?" Tanya Jia Wuxen. Dia tidak ingin dituding menjadi orang jahat.
"Ppffttt ha ha ha ha ha ha ha… Kau sungguh mengatakannya." Yohan langsung merubah sikapnya. Dia berlari menuju tempatnya duduk semula, "Hei burung bodoh!? Lihat? aku berhasil membuatnya mengatakan aku tampan!? Apa kau juga bisa melakukannya? Tentu saja tidak bisa. Karena apa? Itu karena kau burung!? ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…ha " Yohan langsung tertawa lagi sembari mengejek burung dihadapannya.
"Lou, kau benar. Sepertinya dia gila." Ujar Jia Wuxen. Dia merasa aneh dengan pria dihadapannya ini. Berbicara pada seekor burung? apa dia waras? Setelah itu Jia Wuxen duduk disamping Yohan bersama dengan sepupunya Lou Xie.
Mereka duduk bebarengan di tempat itu. Dengan melihat satu pria gila yang berbicara dengan burung. Alasan dia menemui Yohan ke sini karena dia memiliki sebuah pertanyaan. "Tuan Zhen, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Jia Wuxen. "Siapa kau sebenarnya?" Lanjut Jia Wuxen. Sejujurnya kemunculan Yohan membuat rasa penasaran untuk mereka. Dengan kekuatan sebesar itu, bagaimana mungkin mereka tidak tahu.
Lou Xie tidak mengerti mengapa orang gila seperti ini menjadi pemenang pertandingan. Benar benar tidak ada yang benar dari pria itu. Hanya bermodal tampan dan kuat. Sedangkan yang lainnya tidak ada yang beres. "Jika kau seorang pangeran, apakah kau memimpin suatu kerajaan?" Tanya Lou Xie ingin sedikit bermain main dengan Yohan.
Senyum Yohan pudar ketika mendapatkan jawaban itu. "Maksudmu raja?" Tanya Yohan.
"Ya, apalagi?"
Ini adalah pertanyaan yang menyakitkan untuk dirinya. "Tidak, aku tidak akan menjadi raja. Orang sepertiku tidak akan menjadi raja." Tampak wajah Yohan yang sedih mengatakan itu.
__ADS_1
Mereka berdua merasa kalau Yohan terkadang juga bisa membuat orang lain iba terhadapnya. Lou Xie merasa harus mengalihkan topik agar tidak merusak suasana, "Kalau begitu…" Tapi perkataannya keburu dipotong oleh Yohan.
"Orang itu, dia yang menjadi rajanya. Aku benar benar sangat menyayanginya, tapi teganya dia melakukan ini padaku!? Dia… dia membuatku jadi seperti orang gila!? Gara gara dia aku dikira gila. Hu hu hu hu hu hu hu… Aku membencinya, tapi aku juga menyayanginya hiks… hiks…" Dia mulai menangis lagi.
Kedua orang yang bersama Yohan mengira Yohan mungkin berasal dari keluarga besar. Dan Yohan mengira kalau keluarganya adalah sebuah kerajaan. Mereka mengira seperti itu karena Yohan adalah orang gila. "Bukankah kau memang gila?" Ujar Jia Wuxen.
Mendengar itu Yohan tidak terima, dia melirik Jia Wuxen dan memegang kedua pundaknya. "Tidak!? Aku tidak gila!? Apa sekarang aku terlihat seperti orang gila? tidak, kan? Kalaupun aku gila itu semua gara gara orang itu!? Dia membuatku tidak waras. Kau… tidak berpikir aku gila, kan?" Tanya Yohan penuh harap.
"T tidak. Kau, benar, benar, waras!?" Jia Wuxen benar benar sulit mengatakan pria didepannya ini adalah pria waras.
Perlahan ekspresi Yohan berubah menjadi senang, "Ha… ha ha… ha ha ha… ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…… " Tiba tiba Yohan memegangi tubuh Yue yang ada di bahunya. "Benarkan apa kataku? Aku masih waras!? Mereka, mereka juga bilang aku waras khi khi khi khi khi khi khi khi… kau tidak bisa mengejekku gila lagi burung bodoh!? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…"
Jia Wuxen dan Lou Xie memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Mereka sudah merasa cukup menghadapi orang gila ini.
'Dasar orang gila, quack!?' Pikir Yue yang tubuhnya kini sedang dipegang erat oleh Yohan.
...~~~~~...
...-...
...-...
__ADS_1
...SEMOGA SUKA!?...