Crazy Villain 2

Crazy Villain 2
06. A-ku-kem-ba-li


__ADS_3

Di luar kapal ada Yohan dan Tongwu yang sedang bertarung. Mereka bertarung dengan sangat cepat hingga tidak bisa diikuti dengan mata telanjang. Tapi disisi lain kapal, ada Linhua yang sedang memperhatikan pertarungan mereka berdua. "He hebat!? Mereka seperti ngengat yang betarung. Ah, aku lupa!? Aku harus mencari Ibu dan membebaskannya. Linhua berjalan menuruni tangga kapal menuju bagian bawah kapal yang luas.


"Tolong!? Tolong kami!?"


"Kami ingin bebas dan tidak ingin menjadi budak!?"


"Tolong bebaskan kami!?" Terdengar suara banyak orang yang meminta tolong. Ternyata dibawah sana ada banyak sekali orang orang yang dicap sebagai budak. Linhua segera membebaskan mereka dari dalam penjara kapal. Segera ia mengambil kuncinya yang berada tak jauh dari sana dan membuka pintu penjara kapal. "Nah, sekarang kalian bebas!?" Ujar Linhua.


"Terima kasih!? terima kasih banyak!?" Mereka semua berterima kasih pada Linhua karena telah membebaskan mereka. Dan mungkin Linhua bisa mencari Ibunya dari banyaknya orang orang ini.


Satu persatu mereka keluar, namun tidak ada satupun yang mirip dengan Ibunya. Akhirnya Linhua memutuskan untuk masuk ke dalam penjara untuk menemukan Ibunya. Setelah masuk cukup dalam masih tidak terlihat jejak jejak keberadaannya. Bahkan sampaibmereka semua keluar tidak ada sama sekali. Linhua mulai takut sekarang. Dia mencoba menanyakan pada beberapa orang disana. "Emm, permisi… apa kalian melihat seorang wanita paruh baya yang bernama Peiyun?" Tanya Linhua.


"Kami tidak tahu wanita yang bernama Peiyun, tapi beberapa hari yang lalu ada seorang wanita paruh baya yang terpanah panah dari salah satu anak buah Tongwu. Mayatnya dibuang ke laut untuk menjadi makanan ikan hiu. Apa… dia Ibumu?" Tanya salah seorang disana dengan hati hati. Tapi sepertinya Linhua sangat syok mendengarnya. Dia tidak merespon atau menjawab pertanyaan mereka. Linhua hanya diam tak bersuara. Tidak terasa para budak yang dibebaskannya pergi satu persatu. Mereka tidak tega melihat anak sekecil itu menangis karena kehilangan ibunya.


Di bawah sana Linhua hanya diam tak bergerak. Masih belim bisa dipercaya jika Ibunya sudah tiada. 'Beberapa hari lalu, apakah saat aku melarikan diri? Saat itu, ibu menyelamatkanku dengan mengorbankan dirinya sendiri?' Pikir Linhua. Selama ini dia pikir Ibunya membenci dirinya. Tapi sekarang dia tahu, ternyata apa yang dia pikirkan selama ini salah. Tetesan air satu persatu jatuh dari matanya yang besar. "Hiks… hiks… Huaaa… Huaaaa…" Gadis kecil itu menangis menjadi jadi. Dalam satu ruangan bawah kapal di penuhi tangisan gadis kecil. Seandainya waktu bisa diulang kembali, dia ingin meminta maaf pada ibunya. Tapi sayangnya itu tidak akan pernah terjadi.


...***...


Yohan bertahan dan bertahan mendapat serangan yang bertubi tubi dari Tongwu. Sangat jelas terlihat kalau Tongwu yang memimpin pertarungan.


DUARR

__ADS_1


"Ha ha ha ha ha ha ha… mana kesombonganmu yang tadi? Bukankah kau ingin membungkam mulutku? Kemarilah dan hajar aku!? ha ha ha ha ha ha ha…" Teriak Tongwu senang. Tentu dia senang, ia menghajar orang yang telah meremehkannya beberapa saat yang lalu. Rasanya sangat puas melihat orang yang meremehkan kita dipermalukan balik oleh kita sendiri. Itulah yang dirasakan Tongwu saat ini. Tapi sayangnya yang ia lakukan saat ini bukanlah mempermalukan balik. Melainkan menggali kuburannya lebih dalam dan lebih dalam lagi.


Yohan terduduk bersender di bawah pohon dengan luka yang cukup parah. Tidak lama terlihat Tongwu mendekat padanya dan berlutut satu kaki untuk melihat Yohan lebih dekat. "Bagaimana rasanya? Apakah sakit? Kau tenang saja, aku tidak akan langsung membunuhmu. Aku hanya akan menyiksamu sedikit saja!?" Ujar Tongwu beserta senyum jahatnya.


Jleb


Langsung dengan tangannya sendiri Tongwu menembus dada Yohan mencapai jantungnya. Dia meremas jantung Yohan yang berujung menyakitkan. Jika orang biasa mungkin mereka akan sangat tersiksa. Tapi tidak dengan pria itu.


Sama sekali tidak ada ekspresi diwajahnya. Dia hanya menatap Tongwu dengan tatapan menusuknya. Meskipun jantungnya diremas seperti itu dia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun. Baginya, siksaan ini tidak jauh lebih menyakitkan saat yang ia dapatkan waktu kecil.


"Kenapa? Kenapa kau tidak berteriak kesakitan? Aku tahu, kau pasti sedang berpura pura tidak merasa sakit bukan? Kalau begitu aku akan membuatnya menjadi lebih menyakitkan!?" Ujar Tongwu yang mulai ragu dengan pria muda didepannya.


"Sakit? Aku menjadi kuat berkat rasa sakit. Kenapa aku harus berteriak kesakitan?" Ujar Yohan sembari tersenyum mempesona sembari memiringkan kepalanya.


"AAGGHHH!?" Teriakan Tongwu sangat kencang hingga terdengar oleh orang orang yang ada di kapal.


Melihat Tongwu kesakitan dan berteriak keras sungguh membuat Yohan senang. Dia bangun dari duduknya dan membuang tangan Tongwu yang ia putuskan. "Bagaimana? Sakit? Itu yang aku rasakan saat kau meremas jantungku bodoh!? Yah, lupakan saja. Lagi pula itu tidak terlalu sakit untukku. Aku mulai bosan denganmu, selamat tinggal!?" Ujar Yohan yang kemudian muncul lubang hitam dibawah Tongwu. Lubang hitam itu menghisap Tongwu kedalamnya.


"TIDAK!? APA INI? AAGGHHH!?" Teriak Tongwu kencang yang akhirnya terhisap ke dalam lubang.


Bruk

__ADS_1


Yohan kembali terduduk kebawah dengan darah yang mengalir dari dadanya. Dia tak mengatakan apapun tapi hanya senyuman, "Ha… ha…ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha… haah… kurasa itu sudah cukup membuat'nya' tahu kan?"


...***...


Seorang pria berjubah hitam tiba tiba berhenti berjalan. Dia memutar tubuhnya dengan cepat ke belakang. Hanya sebentar tapi dia seperti mendengar, 'Aku kembali!?' dari seseorang. Dan lagi, suara orang itu tidak akan pernah ia lupakan. "Jadi 'Dia' kembali, ya?" Ujarnya pelan.


"Ada apa?" Terdengar suara seorang wanita yang juga memakai jubah hitam.


"Bukan apa apa. Aku pikir aku mendengar suara seseorang yang aku rindukan." Ujar pria itu kembali berjalan bersama dengan wanita yang bersamanya.


Wanita itu mengernyitkan dahinya, "Didalam hutan yang penuh monster ini, mana ada orang lain selain aku dan Yang Mulia." Ujar wanita itu. Saat ini mereka berdua berada didalam hutan yang bahkan sinar matahari tidak bisa masuk. Hutan yang sangat lebat dan hitam dipenuhi dengan monster monster ganas.


"RRAAAUUURR!?" Terlihat monster berbentuk harimau besar dengan bulu hitam disetai sisik tebal didada dan kepalanya. Monster itu menyerang pria berjubah hitam berniat untuk menerkamnya.


Crass


Dengan sekali serang pria itu menebas monster didepannya menjadi dua bagian. "Yah, mungkin saja ada seseorang yang merindukanku hingga masuk kedalam hutan hitam, kan?" Ujar pria itu menengok ke wanita yang bersamanya disertai smirk diwajahnya.


...~~~...


...-...

__ADS_1


...-...


...SEMOGA SUKA!?...


__ADS_2