Crazy Villain 2

Crazy Villain 2
40. Kehancuran suatu negara


__ADS_3

"Ppfftt……" Yue menahan tawanya yang selalu ingin keluar. Tubuhnya bergetar tidak kuat menahan tawa.


Yohan menatap Yue dengan kesal, karena yang ingin ditertawakan adalah dirinya. "Jika kau ingin tertawa maka tertawa saja. Menahan tawamu hanya akan membuatku semakin kesal." Ujar Yohan dengan wajah yang serius. Dia ingat dengan semua yang dia lakukan beberapa saat yang lalu. Membuat kekacauan saat akan mengambulil guljngan kuno dan bertindak seperti orang gila. Yohan sadar dengan yang dilakukannya, tapi anehnya dia tidak tahu mengapa ia melakukan itu. Terkadang dirinya memang sering hilang kendali ketika minum arak atau mulai bertarung. Tapi sangat aneh jika dirinya hilang kendali disaat kedua hal itu tidak dilakukan.


Makanya saat ini Yohan sedang bingung kenapa hal itu bisa terjadi. Dia sadar kalau dia mulai gila saat melihat gulungan kuno dan menyentuhnya. Ajaibnya ia merasakan detak jantungnya di gulungan kuno. Tidak masuk akal tapi nyata.


" Aku akan berpura pura untuk tidak melihatnya quack, tapi akan kuingat sampai mati kwak kwak kwak kwak kwak kwak… " Akhirnya setelah sekian lama ditahan, tawanya pecah.


"Kau!?" Rasanya sekarang Yohan ingin sekali menendang wajah burung kurang ajar itu. Mendengarnya tertawa benar benar membuatnya kesal. Mau bagaimana lagi, bukan kemauannya menjadi orang gila seperti ini. "Diam!? Jika tidak aku akan menutup paruh kecilmu selamanya!?" Ujar Yohan dengan nada yang menekan. Tapi burung itu belum juga kunjung diam meskipun mendapat tekanan dan Yohan. Dengan kesal Yohan melempar alas kakinya ke arah Yue.


Duak


Lemparannya tepat sasaran ke arah wajah Yue. Burung itu meringih kesakitan karena terlempar alas kaki pria itu. "Aduh duh sakit quack, awas kau orang gila!?" Karena tidak terima Yue ingin mencakar Yohan dengan kakinya.


"Apa kau bilang, burung jelek? Aku tidak gila, bleee!?" Yohan menjulurkan lidahnya mengejek Yue.


"Aku juga tidak jelek, bleee!?" Mereka saling mengejek dan mencakar seperti anak kecil umur lima tahun.


Dari kejauhan terlihat ada dua orang pelayan yang berjalan melewati taman.


"Hm? Sedang apa pria itu bertengkar dengan burung?"


"Huss jangan dilihat!? Katanya dia pria gila yang kemarin. Kau bisa kena gigit olehnya."


"Sungguh disayangkan, padahal dia sangat tampan kenapa harus gila?"

__ADS_1


...***...


DUAARRRR


Serangan yang begitu besar hingga membuat sebagian besar istana hancur lebur. Ada banyak kebakaran dimana mana disertai asap hitam. Banyak juga tangisan anak anak yang kehilangan orang tua mereka karena prajurit tak dikenal. Kebakaran, kekacauan, kematian dan malapetaka kini telah terjadi di kekaisaran Yan.


"Larilah Yang Mulia!? Keselamatan anda jauh lebih penting dari apapun!? Saya akan mengulur waktu agar anda bisa melarikan diri. Para kultivator juga akan melindungi anda." Ujar seorang pria paruh baya dengan pedang besarnya bernama Yin Baili.


Yang Mulia yang dia maksudkan adalah Yan Jin Cheng. Dia dengan beberapa kultivator hebat sedang dalam persiapan melarikan diri. Sedangkan yang berada didepannya adalah gurunya sendiri. "Tidak!? Aku tidak bisa membiarkan guru dalam bahaya!? Aku juga akan bertarung bersama guru melawan iblis putih itu!?" Bagi Jin Cheng, gurunya adalah segalanya. Yin Baili sudah seperti seorang ayah baginya, jadi sangat berat untuk melarikan diri disaat seseorang yang penting ditinggalkan.


"Jangan mengambil keputusan yang bodoh Yang Mulia!? Hidup anda jauh lebih penting dari apapun. Jika anda mati disini maka keturunan kekaisaran Yan akan musnah. Ini adalah permintaan terakhir saya!?" Ujar Yin Baili sembari memberi hormat dengan mata yang teguh. Dia tidak bisa membiarkan murid yang di didiknya sejak kecil mati oleh musuh. Seperti seorang ayah, ia juga tidak ingin Jin Cheng mati.


Jin Cheng menggertakkan giginya karena tidak bisa melakukan apapun selain melarikan diri. Dia benci pada dirinya yang lemah dan tidak bisa melindungi orang orang yang penting. 'Seandainya aku memiliki kekuatan yang besar seperti orang gila itu!? Tunggu, orang gila itu memberiku plakat kan?' Pikir Jin Cheng setelah mengingat plakat yang diberikan Yohan padanya.


"Aku pikir dimana kalian bersembunyi, tapi ternyata sedang melakukan drama ya?" Ujar seseorang yang tak asing. Dia adalah Jun, seseorang yang menyerang kekaisaran Yan. Dia mendekat dengan senyum diwajahnya.


"Tenanglah, aku tidak sejahat yang kau pikir. Jika kau memberikanku gulungan yang ada di tangan bocah itu, maka akan kuhentikan kekacauan ini." Ujar Jun. Benar, dia menyerang kekaisaran Yan karena ingin mengambil gulungan kuno. Dia sedang berlomba lonba dengan Yohan mendapatkan gulungan kuno.


Mana ada orang yang percaya kalau Jun bukan orang jahat setelah membuat banyak kekacauan dimana mana. Belum lagi ada banyak korban akibat perbuatannya. "Hmph, simpan saja omong kosong itu untuk dirimu sendiri." Ujar Yin Baili sengit.


Jun melihat Yin Baili dengan dingin. Lalu ia melihat Jin Cheng seperti mencari sesuatu. Dia tersenyum karena apa yang dicari Jin Cheng ada di tangannya, "Apa kau mencari ini?" Tanya Jun sembari mengeluarkan plakat hitam.


Jin Cheng membelalakkan matanya kaget melihat plakat yang ia cari ada ditangan Jun. Pasalnya plakat itu adalah harapan terakhirnya dan itu sudah direnggut oleh pria itu. "Bagaimana bisa? Itu… " Jin Cheng tidak bisa berkata apa apa lagi. Kali ini tidak ada harapan yang tersisa.


Perlahan Jun berjalan mendekat, "Aku tahu plakat ini diberikan oleh Zhen untuk meminta bantuannya. Dia memang baik, saking baiknya ada banyak orang yang memanfaatkannya. Tapi sekarang kalian tidak akan bisa memanfaatkannya lagi." Ujar Jun dengan senyum manis diwajahnya. Sebelum mata berkedip plakat itu hancur berkeping keping dan mengeluarkan Aura hitam yang pekat.

__ADS_1


Sebenarnya mereka tidak mengerti maksud Jun apa. Tapi harapan Jin Cheng sekarang telah dihancurkan. Jun terus berjalan mendekat membuat Jin Cheng takut.


Tanpa aba aba Yin Baili berlari dengan mengayunkan pedangnya. "Hiaaagghh!?" Dia berteriak dengan serangan terkuatnya.


"Berisik!?" Jun mengibas Yin Baili dengan sekali serang.


Duak


Hanya dengan sedikit kekuatan Yin Baili terlempar ke belakang menabrak pohon pohon besar, "Uhuk uhuk!?" Dia mengeluarkan darah merah yang kental.


"Sekarang, berikan gulungan itu padaku!?" Ujar Jun tepat didepan Jin Cheng.


...***...


"Sudah kubilang aku bukan__" Yohan menghentikan ucapannya tiba tiba. Entah sejak kapan dia mulai bisa merasakan kalau salah satu gulungan kuno sudah diambil oleh Jun. Dia bisa mengetahuinya karena detak jantung mulai tidak normal.


"Ada apa?" Tanya Yue penasaran karena tiba tiba Yohan berhenti bicara.


"Aku rasa dia sudah mendapatkan satu lagi."


...~~...


...-...


...-...

__ADS_1


...SEMOGA SUKA...


__ADS_2