
FLASHBACK
Didalam sebuah ruangan yang begitu gelap tanpa adanya cahaya dan hanya diterangi sinar bulan. Sebuah hutan gelap yang tinggi nan lebat. Seorang pria berpakaian serba hutam dengan rambutnya yang hitam cocok dengan langit malam. Disertai mata semerah batu ruby yang cantik.
Dia duduk sembari kekainkan kepala seseorang ditangannya, kepala manusia yang masih bersimbah darah. Dihadapannya ada banyak orang yang berlutut seperti meminta pengampunan pada pria itu.
"Tuan, to tolong ampuni kami!? Kami sungguh menyesali perbuatan kami. Tolong berikan kesempatan sekali lagi." Ujar seorang pria paruh baya yang berpakaian seperti bangsawan. Dia berlutut dengan menempelkan kedua telapak tangannya.
Tapi pria yang hanya duduk manis memainkan kepala pria berambut putih yang kelihatan tua. "Kalian meminta pengampunanku setelah pahlawan kalian kalah ditanganku? Wah wah, bagus sekali. Sungguh sikap yang terhormat, aku suka itu." Ujar pria itu sembari bangun memegangi kepala yang ditangannya. Wajahnya tersenyum senang yang terlihat seperti senyuman iblis. Kemudian dia melempar kepala ditangannya ke hadapan pria paruh baya yang meminta pengampunan.
Kepala itu mengelundung ke hadapan pria tua. Disana memperlihaykan kepala pendekar terkuat pada masa itu. Terlihat wajah ketakutan pada ekspresi kepala itu. Begitupun dengan ekspresi pria paruh baya.
Terdengar suara langkah kaki pria iblis berkedok malaikat. Langkah itu berhenti tepat diatas kepala yang dilempar. Terlihat kaki putih yang memakai gelang lonceng tanpa alas kaki menginjak atas kepala. "Apa kalian ingin menjadi seperti dia?" Tanya pria itu dengan senyum mengerikannya.
Orang orang itu ketakutan tanpa bisa mengatakan apapun.
"Apa? aku tidak dengar!? Aku tanya, APA KALIAN INGIN MENJADI SEPERTI DIA?!" Pria itu berteriak dengan kesal.
Sontak semua orang kaget dan gelagapan, "Ti tidak tidak. Tolong ampuni kami!?" Ujar mereka semua serentak bersamaan.
__ADS_1
"Haah, lupakan saja. Suasana hatiku sekarang sedang buruk, jadi kalian bisa pergi." Ujar pria itu dengan wajah sedihnya.
Tidak ingin membuang kesempatan bagus, mereka buru buru pergi dari genggaman iblis itu. Tapi seperti ini terlalu mudah dan baik. Saat mereka mencoba melarikan diri, benang hitam ada dimana mana bahkan mengikat tubuh mereka. benang itu semakit kencang mengikat tubuh mereka dan…
JRAT!?
Tubuh mereka terpotong menjadi beberapa bagian dan membuat hujan darah dimana mana. Ada beberapa yang selamat dari benang hitam. Jumblah mereka tidak terlalu banyak sekitar dua puluh orang. "Ba bagaimana i ini…" Mereka ketakutan hingga tak bisa mlberkata apa apa. Dibawah hujan darah tersebut memperlihatkan seorang pria yang tersenyum senang melihat semua darah ada dimana mana.
Pria itu melompat di tengah tengah orang orang yang selamat. "Saat kupikir pikir kembali sepertinya aku berubah pikiran. Aku… ingin merasakan darah kalian!?" Sembari menyeringai jahat, pria itu dengan kejam merobek tubuh mereka satu persatu seperti merobek kertas. Teriakan mengerikan memenuhi malam penuh darah itu. Belum lagi setelah merobek mereka pria itu meminum langsung darah mereka dari bagian yang dirobek. "Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha……" Dia tertawa diatas tumpukan mayat.
SEKARANG
Tiba tiba saja Yohan terbangun dari mimpinya yang aneh. Minpj yang mungkin orang dalam mimpi itu adalah dirinya. Tapi anehnya ingatan dia membantai ratusan manusia didalam hutan hitam itu sama sekali tidak ia ingat. Lebih tepatnya ia merasa pernah melakukan itu bahkan ribuan kali, tapi tidak satupun dirinya mengingat kapan melakukannya. Sedangkan dulu tidak ada satu manusiapun yang berani memasuki hutan hitam.
Wanita itu memgangkat tangan kanannya, "Hallo!?" Ujarnya dengan datar.
Yohan langsung memalingkan wajahnya dari wanita itu. 'Aku tahu rasanya jatuh cinta, tapi kenapa perasaan saat melihat wanita ini berbeda? Saat aku mencintai ****** itu rasanya sangat puas, tapi ketika melihat wanita kenapa rasanya berbeda? Saat aku melihatnya, aku merasa seperti mendapatkan kucing besar yang menggemaskan. Dan perasaan didada rasanya sangat hangat dan nyaman. Perasaan seperti dunia akan menjadi milikku dan semua serangga akan binasa.' Pikir Yohan panjang lebar. Dia melirik Zhu'er yang masih melotot padanya.
Meskipun wanita ini menatapnya setajam pedang, namun dimata Yohan tatapan itu seindah bunga musim semi. Sangat hangat dan indah mata memandang.
__ADS_1
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Zhu'er tiba tiba.
Jawabannya sudah pasti, "iy……a tentu saja tidak. Apa yang membuatmu berpikir aku mencintaimu?" Hampir saja Yohan melakukan kesalahan. Tapi sepertinya wanita di hadapannya ini curiga.
Meskipun Zhu'er terlihat seperti tidak perduli apapun dan hanya melakukan apa yang diperintahkan padanya, ditambah lagi dengan dirinya yang terlihat tidak peka. Sebenarnya ia adalah seseorang yang lebih peka dari apapun. Dan pintar dalam menilai situasi meskipun terlihat seperti orang yang serampangan. "Jika kau tidak mencintaiku, maka aku yang akan mencintaimu." Ujar wanita itu tanpa ragu sedikitpun. Terlihat jelas senyum percaya dirinya.
"Berani sekali, ya? Kau mengatakan tanpa rasa takut sedikitpun. Apa kau…… belum pernah merasakan kepalamu putus?" Yohan mengusap usap leher mulus gadis dihadapannya, seakan seperti berharap leher itu didepannya. 'Pasti sangat bagus jika leher secantik ini harus putus dan bernoda darah. Rasa darahnya juga pas__ Tunggu, apa yang kupikirkan? Bagaimana mungkin aku berpikir kalau leher Zhu'er putus? Ini aneh, benar benar sangat aneh.' Pikir Yohan mulai panik. Dia mengaluhkan pandangannya ke arah lain.
Zhu'er tahu kalau saat ini tingkah Yohan mulai aneh, meski biasanya memang aneh tapi sekarang lebih dari aneh. Ditambah lagi, setelah bangun tidur matanya terlihat aneh. Zhu'er segera mengambil sebuah cermin perunggu yang ada di atas meja samping tempat tidur. "Suamiku!?" Panggil Zhu'er dengan nada datarnya.
Yohan mendengar kata asing ditelinganya, ia memutar kepalanya ke Zhu'er dan tanpa sengaja melihat dirinya dicermin perunggu. Disana terlihat kedua matanya berubah menjadi satu garis lurus dan ada kehitaman dibawah matanya. Segera diambilnya cermin itu dar tangan Zhu'er. 'Bagaimana ini bisa terjadi? Apa karena aku melepas segel yang ada di gulungan kuno kedua yang aku dapatkan?' Pikir Yohan. Dia sudah lelah untuk kaget pagi ini. Tapi setelah beberapa saat matanya kembali normal. "Entah kenapa aku mulai tampak seperti monster. Dan lagi, kenapa kau memanggilku 'suami'? Kita bahkan belum menikah." Ujar Yohan masih mengingat sebutan Zhu'er.
"Karena aku mencintaimu!?" Jawab Zhu'er dengan wajah tidak tahu malunya.
"Itu bukan alasan."
...~~...
...-...
__ADS_1
...-...
...SEMOGA SUKA...