
Didalam kamarnya Yohan duduk ditengah jendela sembari memandang bulan. Dia memikirkan apa yang dikatakan Lu Geyi. Klannya memang yang menciptakan tehnik terlarang itu. Tapi tidak ada kemungkinan bila mereka juga memiliki apa yang Yohan cari. Pada akhirnya hanya berpindah tubuh jalan satu satunya. Yohan tersenyum getir, "Aku tidak pernah membayangkan akan mengorbankan diriku sendiri demi orang lain. Kurasa aku sudah gila, ha ha ha ha ha ha ha…"
...***...
Hari pertandingan…
Dilapangan besar tepat ditengahnya ada area pertandingan yang luas. Disekeliling area pertarungan juga ada banyak murid yang menonton pertandingan. Dan ditengah area pertarungan ada Yohan yang menunggu lawannya datang.
"Dasar gigolo!? Lebih baik kau turun dasar pria penggoda!?"
"Kau berada di tempat yang salah! Seharusnya kau berada di rumah bordil!? ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…"
"Dasar tidak tahu malu!? Hanya mendapatkan ketenaran sedikit kau langsung menjadi sombong."
"Kultivasinya hanya sediit lebih tinggi dari kami, tapi dia sudah begitu sombong. Ck ck benar benar tidak tahu diri."
Tapi, belum juga bertanding dirinya sudah dicemoh banyak orang. Namun sepertinya ia tidak peduli dengan omongan orang orang karena, 'Lagipula mereka juga akan mati sebentar lagi.' Pikir Yohan sembari tersenyum samar.
Yohan melirik seseorang yang tak jauh dari pertandingan. Kemudian memperlihatkan smirk kepada seseorang yang memperhatikannya. Orang itu tak lain adalah Lu Geyi.
Orang tua itu ingin melihat Yohan menyelesaikan beberapa tetua yang berkomplot dengan Kang Muron. Tubuh bungkuk dengan tongkat kayu pohon ek ditangannya, dia memperhatikan pertandingan. Dia sudah merencanakan segalanya dengan Yohan saat diperpustakaan.
FLASHBACK
"Rencananya adalah, kau kumpulkan orang orang yang masih setia pada Istana Suci. Bagaimanapun caranya, kau harus membuat mereka menjauh dari pertandingan. Sehingga hanya orang orang yang membrontaklah yang akan hadir nanti." Jelas Yohan singkat.
"Bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Apa lagi? Tentu saja bersenang senang dengan mereka, mudah kan?" Ujar Yohan dengan senyum diwajahnya.
"Sendirian?"
"Xie Wuran juga datang membantu." Ujar Yohan melirik seseorang disampingnya.
Tentu saja Xie Wuran kaget dirinya ternyata dilibatkan juga. Tapi terlibat dalam masalah Sekte sendiri tidak ada salahnya.
Lu Geyi memperhatikan Xie Wuran. Kemudian matanya terbelalak ketika melihat wajah itu, "Kau… kau Xie Wuran? Kau benar benar Xie Wuran?" Tanya Lu Geyi. Matanya masih melotot melihat Xie Wuran. Tapi kemudian matanya berkaca kaca melihat Xie Wuran.
"I iya tetua, ini aku." Ujar Xie Wuran sedikit canggung. Sudah lama dirinya tidak bertemu dengan tetua pertama, Lu Geyi. Sebagai info, Xie Wuran dan Lu Geyi adalah guru dan murid. Lu Geyi dan yang lainnya mengusir Xie Wuran karena sudah tercemar oleh kekuatan Yohan. Tapi meskipun begitu Xie Wuran masih tetap ingin kembali dan membersihkan dirinya dari pencemaran yang diberikan Yohan.
Dan sekarang sepertinya Lu Geyi terlihat menyesal telah mengusir Xie Wuran.
"Baiklah baiklah, bisakah kalian berhenti membuat drama? Sekarang aku sedang membahas bagaimana cara ku memi__ membunuh mereka." Ujar Yohan tidak tahan dengan momen mengharukan guru dan murid. Maksudnya dia tidak suka dengan momen momen seperti ini.
'Dasar perusak suasana!?' Pikir mereka berdua.
SEKARANG
Yohan melirik seseorang yang duduk dikursi barisan para tetua yang ditantangnya. Dia adalah Kang Muran. Melihat wajahnya benar benar membuatnya tidak sabar untuk mencicipi darahnya.
Lawan pertamanya adalah Tetua ke-9, bernama Wei Yangqing. Dia adalah seorang ahli jimat tingkat 5. "Sebaiknya kau menyerah. Aku tidak akan berbelas kasih padamu meskipun kau memohon padaku. Asal kau tahu, aku adalah orang yang kejam, tidak seperti tetua yang lain. Mereka terlalu lembut." Ujar Wei Yangqing memperingatkan. Dirinya terkenal kejam mendidik murid. Makanya para murid sering menyebutnya kejam. Namun kasihannya dia tidak tahu sedang berbicara dengan seseorang yang lebih kejam.
Yohan memiringkan kepalanya bingung, ia bertanya tanya kenapa orang ini bisa begitu percaya diri? Apa karena dia adalah seorang tetua? Mungkin itu salah satunya. "Hmm, jadi kau adalah orang yang kejam ya? Kalau begitu aku ingin bertanya pada tetua ke-9. Lebih kejaman mana, tetua ke-9… atau aku?" Tanya Yohan dengan sedikit senyum diwajahnya.
Tetua ke-9 Wei Yangqing membuat wajah tidak suka dengan pertanyaan Yohan. Dia tidak rela jika harus dibanding bandingkan dengan anak baru yang memasuki dunia atas. Jika ditanya kejaman mana atau lebih hebat mana tentu saja, "Aku!? Kau hanyalah murid nakal yang tidak tahu diri!? Sepertinya aku harus membuat mu sadar diri. Atau, lebih baik kau turun dan beraujud padaku untuk memohon manjadi muridku!?" Ujar tetua ke-9 Wei Yangqing dengan senyuman liciknya.
__ADS_1
Wei Yangqing mengeluarkan kertas kecil berbentuk persegi panjang berwarna kuning dengan tulis merah diatasnya. Mulutnya membacakan mantra yang tertulis dikertas, akan tetapi entah kenapa mulutnya tidak bisa lagi berkata kata seakan ada yang membungkan mulutnya. 'A apa yang terjadi? Kenapa mulutku tidak bisa bergerak?' Pikirnya panik. Jika dirinya kalah diddpan para murid itu akan sangat memalukan.
"Aku tanya, kejaman mana… tetua ke-9 atau aku?" Tanya Yohan.
Ketika Yohan bertanya, mulut Wei Yangqing langsung bisa digerakkan lagi. "Untuk apa kau bertanya lagi? Sepertinya selain tidak tahu diri kau kuga tuli!? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha…" Tawa dan hinaan tetua ke-9 Wei Yangqing membuat para murid yang menonton tertawa lepas. "Ha ha ha ha_" Suaranya tidak bisa keluar dan mulutnya kembali tidak bisa digerakkan. Dari jauh dirinya memandang Yohan yang saat ini senyuman tersembunyi ada diwajahnya.
Kini Yohan berjalan santai menuju Wei Yangqing. Yohan tidak ingin membuang banyak tenaga untuk orang sombong sepertinya. "Aku masih akan tetap bertanya, kejaman mana tetua ke-9 atau aku?" Sekarang wajahnya tepat berhadapan dengan tetua ke-9 Wei Yangqing. Senyumnya yang awalnya terlihat biasa saja sekarang malah terlihat menakutkan. Mata merahnya juga terlihat seperti tatapan iblis.
Suaranya bisa dikeluatkan dan mulutnya bisa digerakkan, namun anehnya Wei Yangqing tidak bisa menjawabnya. Dirinya merasa sangat ketakutan menatap langsung mata Yohan. 'A aku tidak mungkin takut dengan bocah ingusan sepertinya.' Pikirnya ketakutan.
Yohan cepat merasa bosan dengan jawaban yang begitu lama ia tunggu. Itu terlihat jelas diwajahnya yang tidak senang.
JRAT!?
Tidak lama tubuh tetua ke-9 ditebas dengan potongan vertikal. Tubuhnnya langsung ambruk yang mengalirkan begitu banyak darah.
Darah menciprak ke wajahnya yang awalnya bersih. Yohan mengusap darah diwajahnya, dia melihat darah ditangannya yang kemudian menjilat darah diujung jarinya. Dimulutnya darah terasa manis, karena itu bibir tipisnya tersenyum. "Siapa lagi tetua yang akan maju?" Tanya Yohan sembari melihat beberapa tetua yang hadir.
Mereka terlihat kaget Yohan bisa membunuh tetua ke-9 Wei Yangqing denngan mudah. Meskipun Wei Yangqing adalah yang terlemah diantara para tetua, tapi dia masihlah seorang tetua.
Tidak hanya para tetua yang kaget melainkan juga para murid yang awalnya menertawakan, mengejek, mengolok olok, dan menghina dirinya sekarang malah terdiam seribu bahasa.
Sekarang, jika ditanya lebih kejan mana tetua ke-9 atau Yohan… tentu saja jawabannya adalah Yohan.
...~~~...
...-...
__ADS_1
...-...
...SEMOGA SUKA...