
Saat ini Yohan sedang menatap datar gadis di hadapannya. Ralat diatasnya. Gadis cantik yang berambut putih panjang dengan ujung merah, bermata merah dan berkulit putih pucat nan dingin. Yohan memiringkan kepalanya sembari tersenyum menggoda dengan tatapan liciknya. "Apakah kau ingin membunuh ku? Atau kau hanya terlalu merindukanku?" Tanya Yohan.
"………" Gadis cantik itu hanya terdiam mendengar pertanyaan Yohan. Dia hanya menatap datar tanpa ekspresi melihat pria ini.
Sraak
Tiba tiba pintu terbuka dan memperlihatkan seseorang yang membuka pintu. Orang itu adalah Qionglin Dia khawatir dengan Yohan karena dari balik pintu terljhat ada yang sedang menikam pria itu. Tapi setelah dibuka tidak ada siapapun disana selain Yohan dan kucingnya. 'Aku yakin sekali ada bayangan wanita dibalik pintu Tapi kenapa tiba tiba menghilang? apa wanita itu sudah pergi?' Pikir Qionglin heran. "Tadi aku melihat ada seseorang yang menikammu!? Jadi aku segera membuka pintu." Jelas Qionglin.
Yohan menatap wanita didepannya dengan tatapan dingin. 'Pengganggu.' Pikir Yohan. Dia segera bangun dari duduknya sembari mengibas ngibaskan bajunya. "Oh, begitu." Ujarnya singkat dan malas. "Tapi, sepertinya wanita yang kau maksud tidak seberbahaya yang kau pikir. Karena aku bisa mengatasinya sendiri." Sejujurnya Yohan kesal karena Qionglin mengganggunya dengan wanita yang baru saja menikamnya. Yang ia inginkan adalah bersama dengan wanita itu tanpa ada yang mengganggu.
Qionglin tidak tahu apa maksud dari kata kata Yohan. Baginya pria itu terlalu menutup diri untuk orang orang sekitar.
"Apa maksudmu Kakak adalah pengganggu?" Tanya Xinxin tiba tiba datang. Dia tidak terima jika Yohan seenaknya tidak menghargai kekhawatiran Qionglin. Padahal Qionglin sudah jauh jauh mengkhawayirkannya karena tidak datang ke pesta.
'Datang lagi serangga pengganggu yang tidak diundang.' Yohan tidak habis pikir. Dari mana mereka semua datang. "Ya ya, terima kasih banyak karena telah mengkhawatirkanku. Tapi sepertinya kekhawatiran itu tidak terlalu berguna untukku. Karena yang harus kalian khawatirkan adalah orang orang dibawah sana." Ujar Yohan menjelaskan pada mereka. Dia memang yidak terlalu memburuhkan perhatian mereka yang tidak berguna disaat seperti ini. Mereka seharusnya menghiraukan apa yang Yohan peringati tadi siang. Karena pesta ini akan segera berubah menjadi pesta berdarah.
"Apa maksud___"
DUAARRR
Belum sepesai bicara ada sebuah ledakan besar dari luar. Itu terlihat jelas melalui jendela. Qionglin dan Xinxin terdiam karena ledakan itu. Mereka masih belum mencerna semua yang baru saja terjadi.
Dihadapan mereka berdua hanya terlihat Yohan yang yersenyum ramah, "Nah, silahkan!? Pintu keluar ada disebelah sana!?" Ujar Yohan dengan tangan yang mempersilahkan keluar dari kamarnya. Tanpa dijelaskan pun mereka pasti mengerti apa maksudnya.
"Ayo Xinxin!? Kita harus segera pergi dan melihat apa yang baru saja terjadi." Ajak Qionglin sembari pergi melihat situasi. Namun orang yang diajaknya masih berdiri ditempat.
"Apa kau tidak pergi, Nona Xinxin?" Tanya Yohan sembari mendekatkan tubuhnya pada Xinxin. Wanita dihadapannya ini terlihat kesal melihat dirinya.
"Kau!?…" Xinxin menunjuk Yohan sembari menahan amarahnya. Kemudian dia mengepalkan tangannya yang menunjuk Yohan. "Tunggu setelah urusan kami selesai." Ujar Xinxin sembari pergi bersama Qionglin. Mereka akhirnya pergi keluar dari kamar Yohan.
Setelah keduanya pergi Yohan menghela nafas. "Akhirnya pergi juga." Dia kemudian dengan cepat melepas serangan ringan ke atas. Seketika tali yang mengikat Yue lepas semua.
"Akhirnya… aku… bebas!?" Ujar Yue terbata bata. "Apa kau tidak akan menolong mereka?" Tanya Yue heran Yohan masih ada disini dengan santai.
__ADS_1
Yohan mulai tersenyum jahat memperlihatkan sosok aslinya, "Ini tidak akan jadi menyenangkan jika aku menolong mereka terlalu cepat. Setidaknya biarkan mereka berusaha keras dulu, kan?" Ujar Yohan masih dengan senyum jahatnya.
"Dasar jahat, quack!?" Ujar Yue tidak habis pikir.
...***...
DUAARR
Ledakan yang begitu besar dari suatu tempat di pesta membuat para hadirin yang datang panik. Sangat tidak disangka akan terjadi hal seperti itu. Mereka segera siap siaga karena bisa saja setelah ini akan terjadi sesuatu yang lebih mengerikan.
Dan hal itu benar saja terjadi. Keluar prajurit prajurit berbadan besar memakai zirah perak dan tidak memiliki tubuh tetap. Bisa dibilang tubuh mereka seperti cahaya namun bisa disentuh. Prajurit prajurit itu keluar dari dalam tempat yang meledak. Mereka tidak lain adalah…
Warrior of Light
Pembangkitan tentara cahaya yang telah punah. Dan orang yang telah membangkitkan mereka ada Ming Jia Jun. "Tidak sia sia aku mengeluarkan banyak Qi menggunakan jurus ini. Mereka terlihat kokoh sampai tidak bisa dibayangkan untuk dijatuhkan. Tunjukankah padaku pertunjukan yang bagus!?" Ujar Jun dengan senyum ramahnya. Seperti ada semacam benang tipis yang menghubungkannya dengan para prajurit, mereka tiba tiba menyerang orang orang yang ada disana dengan ganas.
"AGRH!?"
"TOLONG AGRH!!"
Semua jeritan itu terdengar dari orang orang yang dibunuh oleh prajurit cahaya. Mereka yang tidak berdaya, lemah, dan lengah dibunuh dengan cepat seperti membunuh semut. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik dan semuanya dipenuhi darah.
"I ini… ini neraka!?" Ujar mereka yang hadir.
Ting
Tiba tiba kepala dari salah satu prajurit cahaya terlempar didekat orang yang baru saja berucap.
"Jangan lengah!? Apa kau juga ingin mati seperti mereka?" Ujar Qionglin yang tiba tepat waktu menyelamatkan orang itu.
"T terima kasih!?"
Jun memperhatikan gadis yang baru saja memenggal kepala prajurit bayangannya. "Gadis itu cukup kuat!?" Ujarnya.
__ADS_1
"Dia adalah Qionglin, murid dari sekte menara giok." Ujar wanita yang ada dibelakang Jun, namanya Xiao Yun.
"Kau mengenalnya?"
"Sedikit. Aku tidak terlalu dekat dengannya di kekaisaran Qi dulu. Tapi yang pasti dia sangat menjunjung tinggi kebenaran." Jelas Xiao Yun sekali lagi.
Jun tersenyum simpul mendengar penjelasan Wanita dibelakangnya, "Singkatnya, dia adalah wanita yang naif, bukan?" tanya Jun.
"…… bisa dibilang begi__" Sebelum menyelesaikan omongannya ada seseorang yang menyela.
"Siapa yang kau bilang naif?" Tanya seseorang yang sudah di atas atap yang sama dengan mereka berdua.
Sontak Yun langsung mundur beberapa langkah menjauh dari prja yang baru saja datang. Dia sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran pria itu.
"Kau sudah datang, Zhen? Ah, tidak tidak…. Sekarang namamu adalah Yohan, kan?" Tanya Jun dengan senyum yang super ramah. "Apa kau sudah mempersiapkan diri untuk membunuhku?" Tanya Jun masih dengan posisi duduknya. Dia hanya melihat Yohan.
"……" Yohan masih terdiam dan melihat dingin Jun.
Sedikit tapi ada, Jun mencium bau seseorang yang menempel ditubuh Yohan. "Jadi kau sudah bertemu dengan wanita itu, ya? Tidak diragukan lagi kau pasti sudah bertemu dengannya. Saat itu aku mencoba membunuhnya didepanmu dengan membakarnya hidup hidup. Tapi mau bagaimana lagi, mayat itu ternyata mempelajari seni tubuh naga yang legendaris. Sungguh disayangkan aku tidak bisa membunuh orang orang yang terus mengganggumu. Tapi kau jangan khawatir, sekarang aku pasti akan membasmi mereka malam ini demi dirimu,…… Adik!?" Ujar Jun disertai dengan senyumnya.
Mendengar itu semua membuat Yohan ingin muntah. Dia tidak pernah membayangkan Jun bisa berkata seperti itu. Dan satu hal yang membuat dirinya marah, "Mayat, kau bilang?" Tanya Yohan dengan mata yang semakin memerah.
"Ah, aku lupa kalau kau memiliki selera yang aneh memilih wanita. Dan aku juga lupa kalau kau……… mencintai mayat hidup yang berjalan."
Tanpa sadar Yohan mengeluarkan aura membunuh yang begitu besar.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...
__ADS_1