
" Hei, gembel!? Apa yang kau lakukan? Bukannya kau adalah korban dari mereka?" Teriak Linhua kebingungan.
"DIAM!? Dan aku bukan gembel!? Jadi tutup mulutmu sebelum aku merobeknya, mengerti?" Tampak senyum jahat di wajah pria itu yang membuatnya tampak seperti para preman di depan mereka. "Asal kau tahu, aku menjebakmu agar memasuki perangkap yang telah kami sediakan untuk mendapatkan hartamu saja." Jelas pria itu.
"Hei, sialan!? siapa yang menyuruhmu mengatakan tujuan kita? Kenapa kau memberitahunya?" Tanya pemimpin mereka.
"Ah biarkan saja!? lagi pula dia akan mati!? buat apa juga terus disembunyikan." Ujar pria yang menahan tangan dan menodongkan pisau ke leher Linhua.
Linhua mengigit bibir bawahnya. Seharusnya dia tidak mudah percaya pada seseorang yang baru dia kenal. Yohan memang mengatakan untuk selalu waspada pada setiap orang bahkan pada teman sendiri. Tapi karena pria itu terlihat seperti gembel persis seperti dirinya dulu. Karena itu Linhua merasa harus menolongnya. Di saat seperti ini dia teringat kata kata Yohan yang saat itu menerima dirinya sebagai pelayannya. 'Aku tidak membutuhkan seseorang yang lemah!? Suatu hari, kau harus membunuh seseorang meskipun kau tidak ingin. Hal pertama yang harus kau patuhi adalah, lindungilah dirimu sendiri meskipun itu harus membunuh orang lain!? Apa kau mengerti, Linhua? ' Pikir Linhua tentang perkataan Yohan saat itu.
Tangannya gemetar membayangkan dirinya harus membunuh seseorang. Dia tidak terbiasa membunuh. Bahkan hewan kecil sekalipun. 'Aku… aku mengerti apa maksud tuan. Dia hanya ingin aku bisa melindungi diriku sendiri saat aku tidak bersamanya. Tapi, mau bagaimanapun… bukankah mereka adalah manusia? Mana mungkin aku bisa membu__" Linhua membelalakkan matanya ketika mereka mengambil secara paksa cincin penyimpanan yang diberikan Yohan padanya. Disana ada banyak sekali barang berharga mmiliknya. "Apa yang kau lakukan? Kembalikan!? Itu punyaku!?" Teriak Linhua marah.
"Oh, benar!? Ini adalah punyamu, ya? Sayang sekali, tapi sekarang ini sudah menjadi milik kami!? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha……"
Linhua menatap orang itu tajam. Dia tidak menyangka ada manusia sepertinya.
"Bagaimana dengan bocah ini?" Tanya seorang dari mereka.
Tampak pria hidung belang melirik Linhua dengan licik, "Kenapa masih bertanya? Kita jual saja dia ke pasar gelap. Aku dengar mereka membutuhkan organ anak kecil." Ujar pria itu sembari tersenyum mengerikan.
Mereka tidak lain hanya iblis yang berbuat kejahatan. Jika mereka masih manusia, maka mereka tidak akan menjual belikan manusia lain. Linhua ingat lagi apayang dikatakan Yohan padanya, "Jika kau masih kesulitan untuk membunuh, bayangkan saja kalau yang kau bunuh adalah serangga menjijikan. Dan…"
"Jangan beri kesempatan pada serangga yang merangkak naik ke kakimu!?" Ujar Linhua mengulang apa yang dikatakan Yohan.
"Hm? apa yang kau__"
__ADS_1
Slash
Dalam sekejap kepala pria yang menahan Linhua terputus dari tempatnya. Kepala pria itu menggelinding ke tempat para preman itu. Mereka semua tercengang dengan apa yang baru saja terjadi. "Apa, apa yang terjadi? Semuanya kuatkan penjagaan dan serang bocah itu!?" Ujar Pria itu tanpa pikir panjang. Tidak lama mereka berlari menyerang Linhua.
Sedangkan Linhua sendiri sedang menenangkan diriya yang baru saja mencabut nyawa seseorang. Linhua beruntung bisa membunuh pria itu karena pria itu menurunkan penjagaannya. Dia menarik nafas dalam dalam untuk menenangkan diri. "Seni pertama naga angin, Angin musim semi." Guman Linhua sembari memperkuat kekuatan kakinya. Dalam sekejap dia melangkah dan tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Semuanya kebingungan kemana Linhua pergi. Tapi tiba tiba…
"Akgh!?" Beberapa dari mereka terluka di bagian vital secara tiba tiba. Linhua menyayat titik vital musuhnya dengan menggunakan angin sebagai pisaunya. Langkah yang tidak bisa dilihat ditambah kecepatan serangan membuat sekilas kemenangan ada di tangannya.
Tapi lawannya ini berada di ranah yang jauh diatas Linhua. Ingin secepat apapun gerakan Linhua tetap saja dia dirugikan dengan pengalaman bertarung dan kekuatan yang cukup besar. Ketika Linhua ingin menyerang pemimpin mereka, tiba tiba saja dia terhempas oleh serangan orang yang akan dia serang. Sepertinya pria itu mulai mengerti pola serangan Linhua.
Bruk
"Akh…" Linhua terhempas ke belakang tepat ke tempat terdapat banyak kotak kayu.
Senyum licik terlihat jelas di wajah pria hidung belang. 'Tampaknya dia mulai kehabisan Qi. Ini kesempatan bagus untuk menyerangnya.' Pikir pria hidung belang. Dengan gerakan yang sangat cepat dia mencengkeram leher Linhua dan mengangkatkan ke udara kosong. "He he he he he he aku tahu kau mulai kehabisan Qi bocah!? Aku tidak tahu jurus aneh apa yang kau gunakan, tapi sayangnya kau tidak akan bisa menggunakan jurus aneh itu lagi. Karena aku akan membunuhmu sekarang!?" Ujar pria itu dengan senyuman kemenangan.
Linhua berusaha lepas dari cengkraman pria jahat di depannya. Tapi sayangnya pada yang dia lakukan sia sia. ' Aku benci mengakuinya, tapi aku begitu bodoh dan naif. Aku juga begitu lemah dan hanya bisa menjadi beban untuk tuan. Apa sebaiknya aku mati ditangan pria hidung belang ini? Tuan pasti akan lebih bahagia, bukan? Dia selalu terlihat suram dan tersenyum jahat setiap hari. Mekipun kadang kadang tertawa sendiri. Kuharap dia bisa tersenyum lebih lembut lagi, pasti master akan sangat tampan jika begitu.' Linhua sudah lemas tidak berdaya.
"Aaagggghhh!?" Terdengar suara jeritan dari seeorang. Berkat jeritan itu Linhua terlepas dari cekikan pria yang mencekiknya.
"Uhuk uhuk!?" Linhua memegangi lehernya yang terdapat bekas cekikan.
Saat melihat ke arah teman temannya, terlihat seorang wanita misterius berambut putih kemerah merahan membunuh habis orang orang itu. Dia adalah Zhu'er dan ditangannya dia memegang tanghulu. Sebenarnya beberapa saat yang lalu dia mengilang karena melihat ada anak kecil yang membawa bawa tanghulu ditangannya. Tanpa pikir panjang Zhu'er langsung mengejar anak itu dan merebut tanghulunya. Tapi setelah ia kembali Linhua sudah tidak ada. Karena penciumannya sangat tajam ia mencarinya dengan mengendus bau Linhua yang tersisa. Dan sampailah Zhu'er di tempat ini.
"Sialan!? Siapa kau?" Tanya pria itu kesal.
__ADS_1
"……" Namun pertanyaannya sama sekali tidak di pedulikan oleh Zhu'er.
Linhua tampak senang melihat penolongnya sudah datang.
"Sepertinya kau sangat ingin mati sehingga tidak ingin membuka mulut!?" Pria itu bersiap untuk menyerang Zhu'er. Belum selangkah dia melangkah dadanya sudah robek oleh wanita itu. Gerakannya begitu cepat sehingga tidak bisa diikuti dengan mata.
Bruk!?
Pria itu ambruk tak bernyawa sekarang.
Linhua merasa senang Zhu'er tiba tepat waktu. Tapi entah mengapa aura yang dipancarkan terasa mematikan dan membuat tidak nyaman. Dia agak ngeri ketika melihat mereka yang tercabik cabik seperti tercabik hewan buas.
Zhu'er berjalan menuju Linhua. Dia berlutut dihadapan Linhua untuk menyamakan tinggi mereka dan menempelkan jari telunjuknya yang penuh darah ke bibir, "Ssssttt!?" Wanita itu tersenyum lembut pada Linhua.
Melihat senyuman wanita itu membut pipi Linhua merona. 'C cantiknya~' Pikir Linhua yang terbengong bengong.
"B baiklah, ssstt!?" Linhua juga menempelkan telunjuknya ke bibir. Dia tersenyum senang karena ternyata wanita ini baik.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...
__ADS_1