
"Menurutku, cara ini cukup menarik!?" Ujar Kang Muron menyembunyikan sebagian wajahnya dengan kipas. Dia merasa sedikit familiar dengan Yohan karena mirip dengan seseorang yang sangat dikenalnya. Namun ada beberapa dari tingkahnya yang tidak sesuai dengan seseorang yang dikenalnya. Yaitu Yohan sedikit aneh. Seseorang yang dikenalnya tidak akan tidak akan gegabah seperti ini. Melainkan selalu merencanakan sesuatu dengan matang. Tapi karena masih ada kefamiliaran, jadi untuk memastikan dia harus mengeceknya sendiri.
Ketika Yohan menatapnya dengan mata merahnya, benar benar sama persis. 'Dia memiliki aura yang sama dengan orang itu. Apa mungkin itu dia? Tapi tidak mungkin. Jun sudah memusnahkan segala sesuatu yang bisa membuatnya ingat. Atau Aravest? Tidak tidak, dia hanya makhluk dunia bawah yang tidak bisa keluar ke dunia tengah. Aku pasti salah mengira.' Pikir Kang Muron masih menatap Yohan.
"Apa yang membuat tetua berpikir kalau caraku ini menarik?" Tanya Yohan.
"Saat pengetesan, kau membuat semua bola kristal pecah bahkan yang belum kau sentuh. Itu menandakan tingkatanmu jauh diatas rata rata dengan yang lain. Maka dari itu aku berpikir guru mana yang cocok pada tingkatanmu yang mungkin saja melebihi tetua disini? Tapi kemudian kau mengajukan cara ini. Menurutku ini cara yang pas untuk mencari guru mana yang cocok denganmu." Jelas Kang Muron. Pendapatnya ini disambut baik oleh para tetua dan orang orang yang ada disini.
'Selalu pintar seperti biasa.' Pikir Yohan menatap Kang Muron tajam.
"Tetua Kang ada benarnya. Melihat kultivasi Mo Liang yang sangat tinggi kemungkinan melampaui kultivasi para tetua disini. Baiklah, persiapkan dirimu karena beberapa hari lagi kami akan melawanmu di area pertandingan yang akan disiapkan khusus." Ujar Zhao Ge menyetujui cara yang diajukan. Setelahnya Yohan dan Xie Wuran pergi setelah memberi hormat.
Setelah keluar dari ruangan itu Yohan baru bisa bernafas bebas. Udara didalam benar benar memuakkan baginya.
"APA KAU GILmaksudku apa kau yakin ingin melawan mereka?" Tanya Xie Wuran yang tadinya ingin membentak Yohan dan menyebutnya gila. Mengingat pria ini adalah orang berbahaya membuatnya mengurungkan niat.
"Kalau iya kenapa?" Tanyanya disertai senyum jahat.
"Kau akan habis dihajar oleh ketua dan para tetua. Mereka sangat kuat meskipun tidak terlihat. Ditambah lagi kau hanya bertarung sendirian. Apa kau tidak takut mati?" Tanya Xie Wuran.
Mati? Itu pertanyaan yang aneh bagi Yohan. Dia sudah mati berkali kali untuk apa takut lagi? Tapi ditempat ini dirinya tidak boleh mati karena ada seseorang yang menunggu kepulangannya. "Aku tidak akan mati ditempat menjijikan ini…" Ujar Yohan membuat Xie Wuran kesal.
"Hei, ini bukan tempat menjijikan_"
"Lagipula, aku tidak sendirian." Ujarnya sembari tersenyum licik melihat Xie Wuran. Kemudian pergi masih dengan senyum diwajahnya.
__ADS_1
Matanya membulat ketika sudah mulai mengerti maksud dari perkataan Yohan. Dia mengejar Yohan dibelakang protes padanya, "Apa maksudmu aku harus bertarung bersamamu? Kenapa aku melakukannya? Cari saja orang lain untuk mati bersamamu, tapi jangan aku!?" Sepanjang jalan Xie Wuran terus berbeo karena dirinya akan diseret oleh Yohan menuju masalah.
...***...
Di tengah padang bunga, seorang wanita sedang duduk ditengah banyaknya bunga. Sekelilingnya dipenuhi bunga bunga yang cantik dalam berbagai warna. Dibawah sinar matahari dirinya terlihat sangat cantik apalagi rambut putih kemerahannya yang diterpa angin. Saat ini dirinya sedang menunggu kepulangan seseorang. Sambil mencabuti beberapa kelopak bunga.
Wanita cantik itu adalah Zhu'er. Dalam keheningan menunggu seseorang datang. Ketika dirinya lanjut mencabuti bunga, tangan yang digerakkannya terlihat sedikit membiru. Zhu'er melihat tangannya dengan teliti. 'Sepertinya sudah mulai membusuk.' Pikirnya ketika memperhatikan anggota tubuhnya sendiri.
Entah mengapa meskipun tangannya sendiri sudah mulai membusuk Zhu'er tidak takut sama sekali. Apa karena Yohan sudah menawarkan tubuhnya sendiri sebagai tubuh barunya? Bukan. Sebenarnya Zhu'er sendiri sudah tidak menginginkan lagi tubuh baru. Yang diinginkannya sekarang hanya Yohan berada disisinya ketika waktunya sudah tiba.
Karena saat ini dirinya sedang merindukan pria itu.
...***...
Didalam perpustakaan Istana Suci Yohan sedang mencari sebuah buku dalam deretan teknik. Sudah beberapa hari ini dirinya selalu ke perpustakaan. Dari pagi sampai malam pekerjaannya hanya mendekam didalam perpustakaan membaca buku perlantai. Dia membaca buku bukan untuk mencari jurus atau teknik yang bisa digunakan untuk pertandingan. Melainkan mencari cara untuk menyelamatkan Zhu'er.
Biasanya Yohan membaca buku dibawah lantai, disekelilingnya terdapat tumpukan buku yang menggunung. Hari ini hari ketiga dirinya membaca dan ini adalah lantai ketiga. Tapi hasilnya tetap nihil lagi.
Hari sudah malam waktunya ia pulang. Yohan meletakkan kembali semua buku ketempatnya dan berjala pulang tanpa hasil.
"Apa kau sangat suka membaca?"
Pertanyaan dari seorang penjaga perpustakaan membuatnya berhenti melangkah. Penjaga perpustakaan itu kelihatan sudah sangat sangat sepuh.
Yohan berbalik dan melihat penjaga perpustakaan dari atas sampai bawah. Wajahnya keriput, matanya terlihat tertutupi oleh alis putih yang tebal, tubuhnya bungkuk dengan tongkat kayu dipegangnya. Pakaiannya berwarna lusuh sehingga terlihat seperti kotor. "Tidak terlalu." Jawab Yohan singkat.
__ADS_1
"Tidak terlalu? Sungguh jawaban yang berkebalikan dengan yang kuperhatikan." Ujar kakek perpustakaan. "Kalau begitu, kenapa kau sering membaca buku disini hingga malam?" Tanya Kakek perpustakaan.
"Apa Kakek tua sepertimu selalu ingin tahu urusan orang lain?" Tanya Yohan kesal. Karena Kakek perpustakaan selalu bertanya ini dan itu. Dan dia malas menjawabnya.
Bukannya marah Kakek perpustakaan malah tertawa telah membuat Yohan kesal, "Ho ho ho ho ho ho, astaga~ aku belum pernah bertemu dengan anak muda yang mudah tempramental sepertimu. Ditambah lagi cara bicaramu seperti dari aliran hitam." Ujar Kakek perpustakaan sembari melihat Yohan tajam. Dari atas sampai bawah dia memperhatikan Yohan, "Aku tidak tahu kenapa pria penggoda sepertimu mau bergabung dengan sekte Istana Suci." Ujar Kakek perpustakaan sama dengan apa yang dikatakan orang orang.
"Pria penggoda?" Julukan itu lagi itu lagi yang didapat Yohan. Dia benar benar tidak mengerti mengapa orang orang disini selalu memanggilnya begitu.
"Oh? Bukan? Kalau begitu maafkan aku. Itu karena kau selalu memakai pakaian warna hitam dan wajahmu sangat tampan. Biasanya orang orang dari rumah bordil ada banyak pria penggoda yang memakai pakaian warna hitam. Jadi aku pikir kau salah satu dari mereka." Jelas Kakek perpustakaan.
"Hah, tidak masuk akal!?" Yohan melengos pergi dengan hati kesal. Sekarang terjawab sudah pertanyaannya kenapa semua orang sering mengatakan kalau dirinya adalah pria penggoda.
BRAK
Yohan membanting pintu karena kesal.
"Oh astaga~ dia benar benar pria muda yang tempramental." Ujar kakek perpustakaan diiringi dengan kekehannya diakhir.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...
__ADS_1