
Didalam jurang Yohan masih belum menemukan apa yang dia cari. Meskipun di tempat ini dia merasa sangat familiar dan tidak buta arah, tapi rasanya tempat inilah yang membuatnya semakin menjauh dari tujuannya. Mungkin terdengar aneh, tapi Yohan merasa kalau dia sangat mengenal tempat ini sehingga tidak perlu khawatir untuk mencari arah. Tapi, satu hal yang menjadi masalah. Dia selalu sial berada disini. 'Sebenarnya punya dendam apa tempat ini denganku? Sampai terus terusan membullyku seperti ini?' Pikir Yohan.
Di tengah perjalanannya dia bertemu Jun yang sedang mengistirahatkan kakinya. Disaat itu juga Jun melihat Yohan yang ada disana tidak sengaja bertemu dengan dirinya. Meskipu. mereka saling bertemu tapi tidam sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Suasananya jadi begitu canggung untuk mereka.
"Sial…" Gerutu Yohan sembari duduk diatas batu besar. Namun saat dirinya ingin duduk batu besar itu tiba tiba saja menghilang.
Bruk!?
"Aawh!? Sialan!? Kenapa selalu aku yang sial?" Ujar Yohan kesal. Dia mengusap usap bokongnya yang kesakitan.
Jun menahan senyumnya melihat kekesalan Yohan. Dia memalingkan wajahnya agar tak terlihat oleh Yohan jika dia menertawainya. Untuk menyembunyikannya Jun berpura pura minum adari persedian air di botol kulit yang dia bawa.
Melihat Jun yang meminum air membuat Yohan juga menginginkannya. Akan tetapi air persediaannya habis tak tersisa beberapa hari yang lalu. Dia melihat Jun yang meneguk airnya seperti iklan iklan di TV. Yohan menelan ludahnya sendiri karena tak tahan melihat itu. Tak mungkin bagi dirinya untukbmeminta air pada Jun yang mana adalah musuhnya.
Jun menutup kembali botol kulit airnya untuk nanti. Merasa dirinya diperhatikan dia melirik Yohan diam diam. Terlihat sangat jelas kalau pemuda itu menginginkan airnya. 'Dasar!? Jika kau menginginkannya kenapa tidak memintanya langsung?' Pikir Jun. Ia merasa kesal karena sikap Yohan yang dari dulu tidak mau mengatakan langsung apa yang dia inginkan dan apa yang dia alami. Karena sikapnya yang terlalu tertutup itu yang mrnyebabkan kelonggaran hubungan mereka. 'Tapi, kurasa dia terlalu takut untuk mengatakannya.' pikirnya sekali lagi. Kemudian Jun melempar botol air itu kearah Yohan disaat pemuda itu berpaling kearah lain.
Mendengar ada suara gemericik air Yohan langsung melihat apa itu. Terlihat botol air yang diminum Jun tepat disampingnya. Dia melihat Jun yang juga mepihatnya.
"Minumlah! Sebagai gantinya aku ingin mengajakmu bekerja sama menemukan lereng Xinhai. Hanya sampai menemukan tempat itu kita bekerja sama." Jelas Jun pada Yohan.
"Kenapa kau mengajakku bekerja sama? Aku buta arah dan tidak akan berguna untukmu." Ujar Yohan sembari mengernyitkan keningnya. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Jun. Orang itu tahu jika Yohan buta arah dan tidak akan berguna, tapi kenapa mengajaknya bekerja sama mencari lereng Xinhai? Apa ini hanya alasannya saja untuk memberikan air itu pada Yohan? Tapi sepertinya tidak.
"Tempat ini tidak membiarkanku mencapai tempat tujuan tanpa harus bersamamu. Jadi karena itulah aku mengajakmu bekerja sama. Dan juga, aku tidak berpikir kau akan tersesat di tempat asalmu." Jelas Jun dengan berguman di akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Yohan tidak mengerti.
"Bukan apa apa. Jadi, apa kau ingin bekerja sama denganku?" Tanya Jun sekali lagi. Hampir saja dia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakannya didepan Yohan.
Setelah berpikir ulang, Yohan rasa tidak ada salahnya untuk bekerja sama dengn Jun sementara waktu. Lagi pula setelah sampai di lereng dia tidak akan bekerja sama dengan orang itu lagi. "Baiklah, ayo kita bekerja sama!" Akhirnya mereka sepakat untuk bekerja sama menemukan tempat tujuan mereka yaitu, lereng Xinhai.
...***...
Sementara itu diatas jurang, orang orang yang mengikuti Yohan dan Jun berada dipinggir jurang melihat kedalamannya. Mereka ragu apakah mereka harus loncat ke jurang itu atau menjacari jalan lain menuju dasar jurang. Tapi meskipun mereka mencari jalan lain untuk menuju dasar jurang mereka tidak akan menemukannya. Karena hanya diatas jurang inilah satu satunya tempat untuk menuju dasar, sedangkan disisi lainnya tidak akan tampak jalan lain menuju dasar.
"Bagaimana ini? Apa kita harus loncat ke bawah sana?" Tanya Wen Hao pada yang lainnya.
"Jurang ini terlihat sangat dalam dan tak berdasar. Apa kita masih hidup jika loncat ke dalamnya?" Tanya Linhua takut.
"Siapa yang kau maksud dengan sebutan 'kep*rat'?" Tanya Xiao Yun sengit. Dia tidak terima dengan sebutan yang diberikan Jiangwu pada Jun.
Mereka akhirnya berdebad hal hal kecil dan pada akhirnya. Disamping itu Zhu'er terus melihat kedalam jurang yang begitu gelap dan memancarkan aura tak menyenangkan. "Suamiku." Guman Zhu'er sembari mengingat ajakan tangan Yohan padanya saat jalan bersama. Tanpa basa basi lagi dia mundur ke belakang membuat jarak yang cukup jauh.
Xiao Yun yang yidak sengaja melihat Zhu'er mengambil langkat kebelakang merasa keheranan melihatnya. "Apa yang sedang coba wanita itu lakukan?" Tanya Xiao Yun penasaran dengan apa yang ingin dilakukan Zhu'er.
Karena ucapan Xiao Yun barusan membuat perhatian yang lainnya tersita dan tertuju pada Zhu'er. Salah satunya Wen Hou yang memperhatikan apa yang ingin Zhu'er lakukan. Dia melihat yang Zhu'er lihat, yaitu juraang. Sesaat setelah itu dia baru menyadari dengan apa yang ingin Zhu'er lakukan. "Tunggu! Apa kau ingin melompat ke jurang it__" Belum selesai dengan kata katanya, Zhu'er sudah lebih dulu berlari menuju jurang untuk melompat kedalamnya. Semuanya sontak dibuat kaget dengan tindakan yang diambil wanita yang tidak ada manis manisnya itu.
Tanpa keraguan sedikitpun dia berlari maju kedepan untuk meloncat masuk ke jurang. Dengam kekuatannya Zhu'er memperkuat tubuhnya khususnya kaki untuk mendarat. Hampir sampai ke jurang itu sendiri Zhu'er meloncat tinggi dengan membuat lonjakan dengan kakinya yang sudah diperkuat. Tubuhnya terbang tinggi ke langit yang kemudian akan dijatuhkan ke bawah.
__ADS_1
Semua perhatian didapatkannya.
Mereka tertegun dengan gadis itu yang bahkan tidak terlihat ketakutan sedikitpun diwajahnya. Malahan sangat sangat datar sampai sampai mereka ragu apakah wanita itu memiliki rasa takut atau tidak.
Tubuh yang indah itu tidak lama jatuh ke bawah jurang yang mana adalah tujuannya. Tiba dimana kaki Zhu'er akan memasuki jurang tersebut.
DASSHH
Sayangnya saat dirinya akan memasuki jurang tepat dibawah kakinya ada semacam pelindung berwarna ungu kehitaman yang berkilau berbentuk pintu gerbang yang sangat besar dengan gembok spiritual yang besar. Pintu itu entah sejak kapan ada, akan tetapi sepertinya pintu itu ingin mencegah siapapun masuk. Pintunya sangat sangat kuat bahkan dengan kekuatan Zhu'er sekalipun.
Tidak ingin kalau dengan pelindung ini, Zhu'er mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menembus pertahanan tempat ini. Dia berusaha menghancurkan gembok yang menjadi penghalangnya. Akan tetapi sekuat apapun dia berusaha gembok spiritual itu bahkan tidak mengalami keretakan sedikitpun.
Akhirnya Zhu'er kembali melompat ke yang lainnya berada. "Sepertinya akan sulit untuk menemui suamiku." Ujar Zhu'er membuat ekspresi yang kurang senang dirinya tidak bisa masuk.
Karena tempat ini sepertinya tidak mengizinkan dirinya untuk masuk kedalam dan menjadi mengganggu.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...
__ADS_1