
FLASHBACK
Entah apa yang kulakukan saat ini. Aku memegang kedua pipi anak kecil yang nantinya akan menjadi kegelapan. Matanya yang melihatku dengan polos juga dan wajahnya yang sangat lucu, apa benar dia kegelapan yang itu?
"Jika berbicara dengan seseorang kau harus menatap matanya!?" Ujarku padanya. Ituvkarena sejak tadi dia hanya menghindari mataku saat kita bicara. Tapi anehnya dia malah menangis. Aku begitu panik karena tidak pernah melihat anak kecil menangis. Benar, kegelapan yang sekarang hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa apa tentang dirinya. Sekarang dia tidak mengenaliku yang adalah musuh bebuyutannya. Mungkin ini bisa menjadi kesempatan bagus untuk membunuhnya. Akanbkulakukan dengan cepat. Tapi, kenapa aku memeluknya sekarang?
"S sudah sudah, jangan menangis lagi." Aku menepuk nepuk punggungnya seperti menepuk punggung bayi. Kurasa akulah yang gila karena berani kenepuk malapetaka sepertinya.
Setelah beberapa hari aku selalu bermain dengannya seperti anak kecil sungguhan. Aku baru tahu kalau ternyata dia memiliki senyum yang seceria itu. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang, alasan dia sering menatap kosong danau adalah karena dia kesepian. Bukan karena dia mulai ingat siapa dirinya. 'Mungkin aku bisa merubahnya menjadi keberadaan yang tidak mengancam dunia atau menganggapnya benar benar seperti keluarga? Tidak tidak tidak, apa yang kupikirkan. Suatu hari nanti dia akan mengingat semuanya dan menjadi sosok penjahat yang lebih kejam. Aku tidak boleh terlena dengan wajah polosnya saat ini.' Pikir Jun sembari menatap Zhen tajam.
Tidak lama Zhen melihat Jun yang saat ini melihatnya, "Ada apa?" Tanya Zhen dengan wajah polosnya.
"Tidak ada apa apa, dari pada itu ayo kita ke danau! Malam ini pasti ada banyak kunang kunang disana." Ajak ku sembari memegang pergelangan tangan Zhen. Saat ku pegang, dia tersenyum seperti menahan sakit. Tangannya gemetaran ketika ku pegang. Aneh, padahal aku hanya memegangnya saja. Apa sesakit itu?
Kami sampai di gazebo dekat danau. Seperti dugaanku, malam ini memang musimnya kunang kunang. Ada banyak cahaya yang berterbangan sana sini. Diam diam aku melirik Zhen, dia tersenyum senang melihat kunang kunang. Tanpa sadar aku ikut tersenyum bersamanya. Padahal dulu yang dia perlihatkan hanya senyum jahat yang licik. Tapi sekarang berubah menjadi seperti malaikat.
Beberapa hari kemudian, aku sama sekali belum melihat Zhen setelah malam itu. Dia hilang tanpa jejak meskipun aku menggunakan jurus pelacak ku. Dimana sebenarnya dia? Aku bertanya pada beberapa pelayan yang biasanya bertugas di kamarnya, tapi mereka menjawab Zhen selalu ada dikamar. Meskipun aku tahu mereka berbohong tapi aku tidak bisa berbuat seenaknya. Setelah beberapa hari itu juga dia muncul secara tiba tiba.
Dia berjalan memasuki kamarnya dengan kaki pincang. Eh? Apa yang terjadi? Wajahnya kembali suram seperti dulu. Wajah yang menunjukkan tidak ada harapan hidup untuk besok. Aku berlari ke arahnya dan memegang tangannya sebelum membuka pintu. Dia melihatku terkejut. "Katakan padaku, apa yang terjadi?" Tanya ku buru buru tanpa pikir panjang. Sebenarnya kenapa aku peduli padanya? Dia ingin terluka atau tidak itu urusannya. Kenapa aku bisa peduli? Aku tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku… tersandung batu." Jawabnya tidak lama. Wajah yang pucat dan ada kehitaman di bawah matanya. Apa itu mungkin disebabkan oleh batu? Aku tidak percaya.
"Kalau begitu, ayo kita sembuhkan kakimu." Aku tidak tahu apa yang kulakukan ini benar atau salah. Seharusnya aku membunuhnya tanpa khawatir seperti ini. Tapi aku malah menolongnya tanpa pikir panjang.
Zhen duduk diatas tempat tidur sedangkan aku mengolesi obat ke kakinya. Saat aku memegang kakinya, tulangnya patah. Tapi karena penyembuhan kami cepat jadi kaki yang patah seperti ini akan sembuh dengan sendirinya. Dia bahkan tidak berteriak kesakitan saat aku menekan lukanya.
"Apa tidak sakit?" Tanyaku padanya.
Tapi dia malah tersenyum padaku, "Ini bukan apa apa." Jawabnya tanpa ada keraguan.
Bagaimana bisa anak kecil sepertinya mengatakan patah tulang bukan apa apa. Maksudku, dia bahkan tidak ingat siapa dirinya dan ketika mendapat luka seperti ini dia mengatakan bukan apa apa. Secepat apapun penyembuhannya tapi rasa sakitnya tetaplah terasa sakit. Apalagi dia masih kecil seperti ini. Pasti ada yang sengaja mematahkan kakinya, aku yakin itu.
Beberapa hari aku selalu ke kamarnya untuk melihat keadaannya. Zhen terbaring sakit terkena demam karena dantiannya terluka. Meskipun tidak parah tapi memberikan efek padanya yang masih belum bisa menggunakan kekuatannya. Dan saat ini aku dalam perjalanan menuju ke kamar Zhen. Namun belum sampai kedalam kamarnya aku merasakan Qi hitam dari dalam.
"Apa yang terjadi? Apa kau tidak apa apa? jawab aku!" Tanyaku sembari mengguncang tubuhnya. Dia membuka matanya perlahan, matanya terlihat berbeda dari biasanya. Ada garis lurus di matanya yang merah dengan bawah mata yang kehitaman. Itu mata yang sama persis saat dia melihatku dulu.
"Aku… tidak tahu. Tiba tiba… dadaku sakit… dan kepalaku… rasanya… ingin pecah." Jawab Zhen dengan nafas yang tersengal sengal.
Apa mungkin ini seperti yang aku pikirkan. "Apa sekilas kau melihat ingatan lain?" Ini perkiraan ku saja. Tapi mungkin ini adalah tanda tanda dia akan mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Hah… hah… ya,… ada ingatan… lain… dikepalaku… rasanya… sakit…"
Aku melihat Zhen dengan waspada. Mungkinkah sekarang saatnya aku membunuhnya? Dia sudah mulai mengingat dirinya yang dulu. Aku menyembunyikan belati putih di tangan kananku untuk menusuk jantungnya. Tidak ada kesempatan sebagus ini untuk membunuhnya. Ketika aku ingin menusukkan belati padanya, tiba tiba dia memegang tangan kiriku. Dia melihatku dengan tatapan tidak berdayanya.
"Kakak,… kau… akan tetap… disini… kan?… Aku… sangat kesepian." Dia menatapku seakan sudah tahu segalanya. Padahal dia belum mengetahui semuanya.
Belati ditanganku mulai bergetar. Tidak, tangankulah yang mulai bergetar. Padahal dulu aku bisa dengan mudah membunuhnya. Tapi sekarang rasanya sangat berat hanya untuk menusuknya saja. "Ya,… aku akan ada disini bersamamu." Kenapa aku mengatakan itu? Padahal mungkin saja suatu hari nanti aku akan membunuhnya lebih kejam lagi.
Dia tersenyum senang meskipun menahan sakit yang luar biasa di dadanya.
Perlahan aku menyimpan belati tajam yang ada ditanganku. Mungkin lebih baik aku mencari cara lain untuk membunuhnya. "Zhen, aku akan meredakan rasa sakitnya, kau harus tahan ya?!" Kuletakkan kedua tanganku tepat ke dada Zhen. Lebih tepatnya ke jantungnya. Aku memutuskan untuk menyegel ingatannya dari sana. Karena dia memberikan jantungnya padaku dulu, maka jantungnya pasti menjadi pemicu dia bisa ingat kembali. Aku harus berhasil menyegelnya.
Seperti yang aku katakan padanya, dia menahan sakit yang lebih besar kuberikan padanya. Tanpa berteriak sedikitpun. Dia hanya menahan rasa sakitnya dengan menggertakkan giginya dan berpegangan pada sisi tempat tidur. Segel ini tidak akan mudah lepas walaupun jantungnya hancur dan digantikan dengan jantung lain. Selama aku masih hidup dan dia tidak menyentuh bagian jantungnya yang dulu, maka semua akan baik baik saja.
Setelah kuberikan segel matanya kembali berubah menjadi seperti semula. Dia kembali tersenyum padaku, masih belum bisa dipercaya orang yang dulu sangat membenciku sekarang malah tersenyum polos didepanku. Jika kau yang dulu tahu aku menyegel ingatanmu, kau pasti akan mengutukku dari lubuk hatimu yang terdalam.
...~~...
...-...
__ADS_1
...-...
...SEMOGA SUKA...