Crazy Villain 2

Crazy Villain 2
03. Lin Hua


__ADS_3

FLASHBACK


Di sisi dalam pintu seorang gadis kecil mengintip ibunya yang sedang menyiram bunga cantik berwarna putih. Setiap hari dia melihat ibunya yang selalu sedih. Dia tidak mengerti kenapa, tapi dia tidak pernah melihat ibunya benar benar tersenyum padanya. Dia mencoba memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan yang selalu gadis itu pendam. "Kenpa Ibu salu sedih?" Tanya gadis kecil itu dengan lidah cadel di umurnya 3 tahun.


Ibu gadis itu melihat anak perempuannya. Dia tahu anak itu tidak salah apapun, dia tidak ingin menjadi orang tua yang jahat. Tapi, setiap kali melihat anak itu membuatnya marah bercampur sedih. "Aku hanya merindukan kakakmu." Ujar ibu anak itu.


"Kaka? A- Li punya kaka?" Tanya gadis itu girang. Dia sama sekali tak menyangka jika dia akan memiliki seorang kakak. Sejak dulu dia selalu memimpikan mempunyai keluarga lain seperti Kakak atau Ayah. Sama seperti anak anak lain yang memiliki keluarga yang lengkap.


Masih dengan tatapan yang dingin, "…… Ya." Jawab wanita itu singkat. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun.


Gadis kecil bernama A-Li kelihatan sangat senang meskipun itu belum pasti. Dia senyam senyum sendiri karena sangat senang.


Beberapa hari kemudian…


A- Li bermain boneka di depan rumahnya. Disana ada empat boneka kayu jelek yang dimainkan. Empat boneka kayu itu pas seperti sebuah keluarga kecil yang lengkap. Saat ia sedang asik bermain, datang seorang pria berjubah hitam dengan mata yang cantik. A- Li sedikit takut dengan pria itu. Dia terlihat menyeramkan karena menutupi dirinya dengan jubah. Pria itu berlutut satu kaki untuk menyamakan tinggi mereka. Sedangkan A- Li bangun dari duduknya dan menundukkan kepalanya sembari memainkan jarinya. Sesekali dia melirik pria itu.


Pria itu tersenyum padanya. Ini pertama kalinya dia melihat senyum sehangat ini. "Siapa namamu?" Tanya pria itu tanpa basa basi.


"Ibu memanggilku A- Li." Ujar A- Li malu malu.


"A- Li? Itu nama yang bagus. A- Li, aku adalah kakakmu!?" Ujar pria itu tiba tiba.

__ADS_1


Hari ini adalah pertama kalinya dia melihat kakaknya. Tanpa A- Li sadari matanya meneteskan air mata. Dan setelahnya pria itu tampak panik karena melihat adiknya menangis. Dia tidak tahu harus mengatakan apa untuk membuatnya terhibur. Tapi kemudian A- Li berhenti menangis. Setelah itu diasedikit mengobrol dengan pria yang mengaku sebagai kakaknya. Obrolan itu singkat, tapi A- Li sangat senang hanya dengan bicara sebentar. A- Li mengatakan berbagai hal pada pria itu, apapun yang A- Li katakan pria itu akan selalu tersenyum. Tapi ketika A- Li mengatakan soal 'Ayah', senyum pria itu pudar. Itu membuat A- Li takut. Dia takut jika nanti kakaknya akan marah padanya. Karena sepertinya pria itu tidak terlalu suka dengan kata 'Ayah'.


Meskipun tidak suka tapi pria itu itu tetap mempertahankan senyumannya pada A- Li. "Aku akan pergi." Ujar pria itu. Tampak raut sedih di wajah gadis kecil itu. Terasa tangan besar yang hangat mengelus pipi kirinya, "Jangan khawatir, A- Li. Aku akan segera kembali, janji!?" Ujar pria itu sembari mengacungkan jari kelingkingnya.


Dengan ragu A- Li mengaitkan jari kelingkingnya di jari kakaknya. "Janji?" Tanya A- Li.


"Mn, janji!?" Saut pria itu.


SEKARANG


Tiba tiba saja Linhua mengingat kenangan dengan orang misterius yang mengaku sebagai kakaknya. Dia tidak tahu dimana orang itu sekarang. Tiba tiba datang dan tiba tiba menghilang. Pertemuan yang singkat itu membuatnya ingin bertemu lagi. Tidak ada yang Linhua ketahui tentang orang itu selain dia memiliki mata yang cantik dan senyum yang hangat. Namanya bahkan Linhua melupakannya. Dia terlalu takut untuk bertanya pada ibunya. Karena hubungan mereka tidak begitu baik. Tapi itu bukan berarti Linhua membenci ibunya.


Terdengar suara derap kaki yang besar. Tiba tiba seorang pria berbadan bongsong menghampiri Yohan dengan memegangi kedua lengannya. Dia terlihat sangat khawatir, "Kau kemana saja? Bukannya aku sudah bilang untuk selalu berada di belakangku?" Tanya pria itu sedikit terengah engah.


Paman San Gui melihat ada seorang anak kecil dibelakang Yohan. Itu aneh, semua anak kecil ketakutan setiap kali Yohan mendekati mereka. Tapi sekarang ada anak kecil yang mengikutinya? Apa jangan jangan… "Apa kau…"


"Apa yang paman pikirkan? Aku tidak menculiknya!? Kau pikir aku serendah itu menculik anak kecil? Aku itu telah menolongnya dari para bandit." Bantah Yohan.atas tuduhan penculikan.


"Menolongnya? Kau? ppffht ha ha ha ha ha…" Paman San Gui tertawa keras mendengar Yohan menolong orang.


"Ap apa yang kau tertawakan?" Tanya Yohan kesal.

__ADS_1


"Orang gila sepertimu menolong seseorang? Tentu saja sangat lucu ha ha ha ha ha ha…"


"Siapa yang kau panggil gila? Aku masih…"


"Ya ya ya, kau orang waras. Orang waras yang berlarian ditengah kota tidak pakai baju sambil berteriak kalau dia seorang pangeran!? Aku tahu kau tidak gila." Ujar Paman San Gui sembari menepuk nepuk bahu Yohan. Pasalnya Sepuluh tahun lalu belum sembuh dari lukanya Yohan dengan sangat gila membuat kekacauan ditengah kota. Belum lagi dia belum memakai baju dan hanya memakai celananya saja. Sejak saat itu dia dikenal sebagai orang gila. "Sudahlah, ayo pulang!? Ayah pasti sudah menunggu lama." Ajak Paman San Gui.


Linhua mengikuti mereka bertika dengan harapan, mereka bisa membantunya.


PINGGIR LAUT, PELABUHAN KECIL


Di pelabuhan kecil tampak sebuah kapal besar yang kotor. Kapal itu lebih mitip kapal bajak laut. Dan disana ramai dengan pria pria menyeramkan yang berpesta pora. Di atas dek kapal berlari beberapa orang berperawakan besar nan menakutkan menghampiri seorang pria yang tak kalah garang. "KAPTEN!? KAPTEN!?" Panggil salah seorang yang berlari.


"Ada apa? Dimana anak kecil yang mencuri permataku itu?" Tanya seorang pria berkulit hitam yang dipanggil kapten.


"Dia… dia ditolong oleh pria gila didalam hutan!?" Lapor pria itu dengan terengah engah.


"Apa? berani dia. Dimana pria gila itu sekarang?" Tanyanya dengan kesal.


"Ja jangan kapten!? Dia terlihat sepetti seorang kultivator kelas atas. Dia bahkan membunuh Huai dengan mudah."


"Apa? berani sekali dia membunuh anak buahku!? dia hanya seorang pria gila. Apa yang bisa dia lakukan? membunuh kita semua?" Tanya sang kapten yang dijawab keheningan dari semuanya. Tidak ada kemustahilan Yohan membunuh mereka semua. Hanya masalah waktu kapan dia datang. "Apa kalian menjadi sebegitu pengecut, hah? Hanya dengan pria gila kalian takut? Apa kalian lupa kalau aku sudah mencapai ranah immortal? Lihatlah aku akan membunuh pria itu dan membuatnya membayar dengan nyawanya." Ujar sang kapten dengan segala kesombongan yang dia miliki.

__ADS_1


...~~...


...SEMOGA SUKA!?...


__ADS_2