
"Apa kau mencariku?" Tanya Yohan dari belakang pak tua yang selalu mengikutinya.
Pak tua itu sontak langsung menghindar dari Yohan yang tiba tiba berada di belakangnya. Dia tidak mengira jika ia tidak bisa merasakan keberadaan pemuda itu. Sepertinya ia harus berhati hati dengan pemuda didepannya ini. Kini dia tidak bisa meremehkan pemuda yang awalnya dia ingin jadikan murid. 'Sepertinya aku tidak bisa memandangnya sebagai pemuda gila biasa. Aku harus berhati hati dengannya.' Pikir Pak tua itu.
"Haaah, aku tidak akan mengatakannya untuk yang ketiga kali. Apa kau mencariku?" Tanya Yohan pada pria tua yang sedang waspada padanya.
"Ti tidak!? Anak muda, kau salah sangka. Aku tidak sedang mencarimu. Lagipula aku tidak mengenalmu sama sekali." Ujar pak tua itu sembari menarik capingnya semakin ke bawah.
Yohan hanya diam mendapat kebohongan yang sudah jelas. Tentu saja jelas, jika pak tua itu tidak sedang mencarinya kenapa dia harus gugup ketika ditanya oleh Yohan? Jelas jelas dia sedang berbohong. Selangkah demi selangkah Yohan mendekati pria tua yang berbohong itu.
Sedangkan pria tua itu bersikap biasa saja, namun sebenarnya didalam hati ia benar benar merasa gugup dan cemas. Tiba tiba saja muncul wajah Yohan di bawah caping dengan senyum jahat diwajahnya.
"Kau bohong, kan?" Tanya Yohan sembari tersenyum jahat dan mata merah yang semakin bersinar terang. "Iya, kan? Cepat mengaku!?" Ujar Yohan sembari berjalan menyudutkan pak tua. Seirama dengan Yohan, pak tua juga mundur karena dirinya semakin tersudut. "Khi khi khi khi khi Aku tahu kau sedang berbohong padaku~ Cepat katakan!?" Yohan benar benar memaksa pak tua untuk mengatakan yang sebenarnya. Apalagi dengan tawa jahatnya yang aneh.
Swosh
Tiba tiba saja pak tua itu mengayunkan pedangnya agar Yohan menjauh padanya. Untung refleks Yohan cepat, jika tidak dia sudah menjadi dua bagian. Terlihat senyuman jahat diwajah pria muda itu. "Jadi kau ingin bermain kasar, ya? Baiklah, aku akan meladeninya dengan senang hati." Ujar Yohan sembari mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanan. Sama seperti pak tua itu, ia juga mengaliri pedangnya dengan Qi pedang.
TING
Dengan sangat cepat Yohan sudah berada di depan pak tua dan mengayunkan pedangnya. Serangannya ini disambut baik oleh pak tua yang dengan sigap menahan serangan Yohan. Pertaruangan mulai terjadi dengan duel yang sengit. Hingga membuat duel itu menjadi tontonan yang menarik perhatian kultivator kultivator hebat di sana.
"Ada apa?" Tanya seseorang yang memegang kipas ditangannya ala tuan muda keluarga kaya.
"Sepertinya ada pertarungan antar master di sana." Seru seorang pria tak lain adalah teman dari tuan muda yang memegang kipas.
__ADS_1
"Pertarungan antar master? Sepertinya menarik, ayo kita lihat dulu!? Baru setelah itu kita pergi ke istana." Ajak pria yang memegang kipas sembari tertawa ceria.
"Haah, baiklah. Ayo kita lihat sebentar." Ujar temannya yang tak punya pilihan lain selain mengiyakan. Lagipula dirinya juga penasaran dengan pertarungan itu.
Disisi lain dari arah kedai makan lantai kedua ada dua orang biksu berpakaian kuning selempangan dan berkalung tasbih layaknya seorang biksu.yang juga memperhatikan pertarungan. "Sancai sancai kenapa orang orang itu bertarung di jalan seperti ini? Mereka mengganggu orang orang yang ada disana." Ujar seorang biksu berkepala botak. Biksu biasanya mengatakan 'Sancai' saat mereka berbicara. Jadi si biksu mengatakan 'Sancai' saat ia bicara.
"Sancai sancai kau benar!? Mereka tidak tahu tempat mana yang cocok untuk bertarung!?" Ujar biksu yang lain yang juga berkepala botak.
Kembali ke pertarungan…
Yohan menggunakan jurus 'Tarian dewa api' untuk melawan si pak tua yang juga memiliki keterampilan pedang yang hebat. Setiap gerakan Yohan mengayunkan pedang seperti mengeluarkan api biru yang mengikuti. Indah namun gagah. Para penonton yang melihat pertarungan merasa terhibur dengan jurus Yohan yang satu ini.
Pak tua itu sebenarnya sedikit kesulitan menghadapi jurus anak muda ini. Di menggunakan jurus pedang 'Seribu satu bunga plum' menghadapi jurus Yohan. Tidak seperti Yohan yang gerakan pedangnya ganas nan indah, jurus ini memperlihatkan keindahan musim semi meskipun musim semi masih jauh. Tampak seperti kelopak kelopak bunga yang berterbangan. 'Aku benar benar salah menilai pemuda ini. Dia lebih dari ' handal' bermain pedang dan bela diri. Dan jurus yang ia gunakan sangat hebat, siapa gurunya?' pikir pak tua penasaran.
Sraat
Seketika caping pak tua itu terbelah menjadi dua karena Yohan membelahnya. Memperlihatkan seorang pria tua berambut dan berjenggot putih panjang dengan mata berwarna biru. Untuk beberapa orang yang mengenal siapa pak tua itu meteka sangat amat terkejut.
Pria tua itu adalah Patriak sekte seribu satu bunga di Kekaisaran Zuo, Luo Zhao Yin. Bagaimana mereka tidak kaget? Patriak sekte imbang melawan pemuda yang tidak diketahui namanya. Dan lagi, pemuda itu tampak masih sangat muda untuk melawan seorang Patriak.
Terdengar bisik bisik dari beberapa warga disana…
"Bukankah dia adalah Luo Zhao Yin, Patriak sekte beribu satu bunga? Kenapa dia bisa imbang melawan pemuda berjubah hitam itu?"
"Mungkin saja pria itu berbuat curang, kan?"
__ADS_1
"Ya, mungkin saja pria muda itu berbuat curang karena tidak mau kalah."
"Shuutt!? jangan keras keras, nanti pria muda itu bisa dengar!?" Ujar yang lain.
'Aku sudah dengar, dasar idiot!?' Pikir Yohan kesal. Dia tidak sengaja mendengar percakapan mereka yang dengan seenaknya menuduh dirinya berbuat curang. "Hmm, jadi kau orang penting ya? Kalau begitu, maaf atas kelancangaku senior!?" Ujar Yohan sedikit membungkuk. Tapi matanya tetap mengarak pada Luo Zhao Yin hingga kembali tegap. "Kalau begitu sampai jumpa lagi nanti…" Ujar Yohan sembari berjalan meninggalkan Luo Zhao Yin. Tapi sedetik kemudian dia berhenti melangkah dan menengokkan kepala ke belakang melihat Luo Zhao Yin, "… dan, jangan mengikutiku lagi ya, se-ni-or!?" Lanjut Yohan yang kemudian melanjutkan kembali langkahnya. Dengan senyum miring dia meninggalkan Luo Zhao Yin.
Berbeda dengan Luo Zhao Yin, ia sangat terhina dengan sikap Yohan yang seperti meremehkan dirinya. Dia benar benar dipermalukan didepan umum. Ini adalah penghinaan terbesar baginya. Tangannya mengepal erat karena kemarahan yang memuncak. Dan dalam sekejap Luo Zhao Yin menghilang dengan jurus peringan tubuh tingkat atas. Orang orang yang menontonpun mulai bubar karena pertunjukannya sudah habis.
"Aku sangat tidak menyangka jika yang bertarung adalah Master Luo!?" Ujar pria muda yang mengipas ngipaskan dirinya dengan kipas.
"Aku juga sangat tidak menyangka dengan hal ini. Jika pemuda itu ikut dalam pertandingan, dia akan menjadi lawan yang sangat tangguh." Ujar pria lain yang bersama tuan muda yang memegang kipas.
"Ya, kau benar!?" Balas tuan muda berkipas yang semakin mengeratkan pegangan tangannya pada kipas.
Di kendai makan tempat para biksu makan. Mereka berbicara sembari menutup mata mereka dengan tangan kanan yang di lebarkan didepan dada. "Sancai sancai, ini sungguh tidak terduga!?" Biksu berkepala botak.
"Sancai sancai, kau benar. Ini sangat tidak terduga. Kurasa aku harus lebih berlatih dengan giat lagi." Ujar biksu yang lain juga botak.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA!?...
__ADS_1