
"Mommy kenapa Dad?" tanya Verrel yang kini telah berusia lima tahun. Bocah tampan dan imut itu memandang bingung melihat ibunya yang sedang sesenggukan ditepi tempat tidurnya. Kedua laki-laki beda generasi itu tengah mengintip kedalam kamar Virranda, dari sela pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Entahlah, Daddy juga tidak tahu. Verrel kembali kekamar ya, lanjutkan apa yang Daddy ajarkan tadi. Urusan Mommy, biar Daddy yang tangani," ucap Joe setengah berbisik pada pria kecil yang sejajar tingginya dengan dirinya, karena saat ini dirinya sedang berjongkok disisi Verrel.
"Baik Dad," sahut Verrel patuh.
"Anak pintar," Joe mengusap pucuk rambut Verrel dan melepas bocah itu pergi kembali kekamarnya untuk belajar.
Ada rasa ragu untuk masuk, tapi Joe tidak bisa membiarkan Virranda seorang diri dengan situasinya sekarang ini. Ia bangkit dari jongkoknya, mendorong knop pintu perlahan hingga terbuka lebih lebar.
"Boleh pria imut ini masuk?" tanya Joe masih berdiri didepan pintu, meminta ijin pada sang empunya kamar, dengan logat meniru Verrel.
Seketika sesenggukan Virranda terhenti, dirinya yang membelakangi Joe langsung berbalik, memperlihatkan wajah sembabnya akibat menangis.
"Dasar menyebalkan!" pekik Virranda kesal, menysakan tangis yang nyaris berubah tawa.
"Aku paling benci, disaat sedang menangis, kau selalu saja memaksaku untuk tertawa. Itu sangat tidak enak tau', menyebalkan!" pekik Virranda lagi dengan nada masih kesal, menahan tawa melihat wajah Joe yang dibuat konyol senada dengan nada bicara pria itu yang selalu meniru putranya bila ingin menggodanya saat sedang bersedih.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya. Ini memang bawaan sejak orok," kilah Joe. "Tapi, bolehkah aku masuk dikamar sang ratu?" tanyanya lagi, dan mengubah mimik wajahnya tidak sekonyol sebelumnya.
Virranda tidak segera menjawab, ia mengambil beberapa lembar tissue diatas nakas, disisi tempat tidurnya, mengusap dan mengeringkan air matanya lalu membuangnya pada tempat sampah dibawah meja riasnya.
__ADS_1
"Masuklah Joe, aku juga ingin bicara padamu" ucap Virranda akhirnya, mempersilahkan Joe masuk dan memberi ruang supaya pria itu duduk disebelahnya.
Joe bergerak mendekat. Seperti gaya Verrel yang manis dan selalu patuh, demikianlah Joe sering meniru gaya anak Virranda itu, supaya bisa mengambil hati ibunya.
Joe duduk berdampingan dengan Virranda, ditepi tempat tidur wanita itu, dan tidak berkata apapun, hanya menunggu apa yang ingin disampaikan oleh ibu dari putra sambungnya itu.
Sementara itu Virranda masih sibuk mengusap air matanya yang masih mengalir tanpa ia dapat tahan, Joe yang melihat hal itu hanya bisa membantu memberikan lembaran-lembaran tissue pada wanita itu tanpa berani bertindak lebih.
"Joe," panggil Virranda, setelah sekian menit ia sibuk dengan dirinya sendiri.
"Eum?" sahut Joe menatap wajah Virranda yang duduk disebelahnya, mengubah posisi duduknya, menghadap pada Virranda dengan kaki kirinya sedikit ditekuk naik keatas tempat tidur dan sedikit menggantung.
"Aku, merindukan Mami dan Papi Joe," ucap Virranda serak dengan suara bergetar masih menahan isaknya yang belum pupus.
Virranda mengangguk pelan, menatap Joe yang tengah menatapnya dalam.
"Iya Joe, aku ingin pulang. Papi sedang sakit, kasihan Mami sendiri mengurus Papi dirumah sakit," setelah berkata demikian, Virranda kembali terisak sedih, ia mengambil lembaran-lembaran tissue yang diberikan Joe padanya.
"Pa-pi-mu sakit? Sakit apa?" ucap Joe canggung saat dirinya meniru panggilan Virranda yang disematkan pada ayahnya.
"Kelelahan, itu menurut bibi Arin Joe, saat dia menelponku setengah jam yang lalu," sahut Virranda dengan suara masih sesenggukan.
__ADS_1
Joe berfikir sejenak, menimbang apa yang harus ia lakukan untuk membantu isteri kontraknya itu kembali ke Indonesia untuk menengok ayahnya yang sedang sakit.
"Bersiaplah malam ini, besok pagi-pagi sekali kita akan ke bandara dan mengambil penerbangan pertama ke Indonesia," ucap Joe kemudian.
"Kita sudah bisa pulang ke Indonesia besok pagi Joe? Lalu bagaimana dengan jadwal penerbanganmu yang padat itu?" tanya Virranda merasa tidak enak merepotkan suami bayarannya itu.
"Aku akan mengurus semuanya malam ini. Kemungkinan aku hanya bisa mengambil cuti satu minggu saja, mengantarmu pada kedua orang tuamu lalu kembali berkerja," jelas Joe.
"Aku bisa pulang sendiri Joe, jangan khawatir. Aku sudah biasa naik-turun pesawat berdua dengan Verrel selama lima tahun belakangan ini," ungkap Virranda yang tidak ingin merusak jadwal penerbangan suaminya itu.
Joe tersenyum, ketika mendengar ucapan Virranda demikian. "Iya, kau benar Mommy Verrel, tapi yang jadi pilotnya adalah Daddy Verrel," ucapnya menimpali sambil terkekeh.
"Kali ini jangan membantahku. Aku akan mengantarkanmu dan Verrel sampai bertemu kedua orang tuamu, barulah hatiku tenang. Setelah itu baru aku akan kembali berkerja," ungkap Joe lagi.
Virranda Laura
Virranda Laura
__ADS_1
Bersambung...👉