
"Hallo jagoan!" satu sapaan dengan suara yang cukup dikenal membuat Verrel mendongakkan wajahnya dari buku komik ditangannya.
Ferdinand melepas kacamata hitamnya, lalu menggantungnya pada leher bajunya. Siang itu, laki-laki itu berpakaian santai saja, menggunakan kaos ketat dan jean's hanya untuk menyambangi Verrel disekolahnya. Bocah itu hanya duduk sendiri, karena teman-temannya sudah dijemput oleh orang tuanya.
"Uncle! Ngapain kesini?" Verrel menutup bukunya dan menatap Ferdinand yang mengambil posisi duduk disampingnya diruang tunggu.
"Mau ketemu Verrel. Dan mentraktir Verrel makan ice cream." ucap Ferdinand sembari mengusap lembut pucuk rambut bocah itu.
"Verrel mau Uncle!" ucap bocah itu bersemangat.
"Tapi--," raut semangat Verrel perlahan memudar.
"Tapi kenapa? Heum?" Ferdinand menatap lekat wajah Verrel.
"Kata Bibi, Verrel tidak boleh keluar dari area sekolah kalau bukan orang rumah yang menjemput Verrel, Uncle." jelasnya dengan suara masih tetdengar sedikit cadel.
"Oh begitu, anak pintar. Tidak masalah ikut pulang dengan Uncle, nanti Uncle antar pulang setelah kita makan ice cream. Mau ya?" bujuk Ferdinand lembut. Ia sungguh-sungguh merindukan bocah itu.
"Heum..." Verrel terlihat berfikir sejenak. "Pesan Daddy, Verrel harus jadi anak yang patuh dan taat pada aturan yang sudah ditetapkan, baik dirumah maupun disekolah. Supaya kalau sudah besar jadi manusia yang berguna dan tidak menyusahkan orang lain," ungkap Verrel mengingat nasihat Joe yang ingin selalu ia patuhi.
"Jadi, kita harus tunggu Bibi dulu datang, Uncle. Kalau Bibi mengijinkan, baru Verrel boleh ikut bersama Uncle." jelasnya lagi.
Ferdinand melirik arloji tangannya, sudah waktunya makan siang batinnya.
"Apa Verrel tidak berasa lapar dan haus? Ini sudah waktunya makan siang. Mendingan Verrel ikut Uncle saja dulu, nanti Uncle antar pulang," bujuk Ferdinand lagi. Kerinduannya pada bocah imut itu membuatnya berupaya untuk bisa membawanya pergi.
"Kalau Uncle lapar dan haus, Verrel masih punya sepotong roti dan sekotak susu. Verrel mau kok berbagi dengan Uncle," ucap bocah itu polos. Ia menarik resleting tasnya, mengambil dari sana benda-benda yang ia sebutkan tadi.
"Ini Uncle, ini roti isi daging. Enak lho Uncle," Verrel membuka kotak makanannya lalu menyodorkan sepotong roti, bekal yang ia bawa dari rumah saat berangkat ke sekolah.
Ferdinand menatap haru pada kepolosan bocah usia lima tahun itu. Virranda dan Joe pasti sudah mendidik putranya itu dengan sangat baik batinnya, bola matanya mulai berkaca-kaca memikirkan hal itu. Sejujurnya, ia sangat tidak rela mendengar Verrel memanggil Joe Daddy, sedangkan padanya, bocah itu malah memanggilnya Uncle.
Untuk mengalihkan perasaannya, Ferdinand langsung menyambar dengan mulutnya, roti yang disodorkan Verrel dengan satu gigitan. "Heumm, enak. Enak sekali!" puji Ferdinand untuk menyenangkan hati bocah itu.
Verrel langsung tertawa senang, melihat Ferdinand begitu bersemangat mengunyah roti yang ia berikan. "Habiskan Uncle!" ucap bocah itu bersemangat. Ferdinand menurut, hatinya menghangat melihat keceriaan diwajah polos anaknya itu.
"Uncle, apa itu tidak sakit?" tunjuk Verrel pada beberapa luka lebam diwajah Ferdinand yang sudah tidak membengkak, namun masih jelas terlihat, telah menyita perhatian Verrel sejak tadi.
"Ini?" Ferdinand menyentuh wajahnya sambil menatap wajah Verrel yang memperhatikan beberapa luka lebam diwajahnya.
__ADS_1
"Heum..." Verrel mengangguk.
"Sedikit. Ini sudah mulai sembuh." dusta Ferdinand.
"Apakah itu karena pukulan Daddy-ku semalam?" tanya Verrel mengagetkan Ferdinand.
"A--eemm...." Ferdinand terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan tidak terduga dari bocah itu.
"Verrel lihat Daddy dan Uncle bertanding, seperti--," kalimat bocah itu seketika terhenti.
"Verrel!" Terdengan suara seorang wanita memanggil. Verrel dan Ferdinand sama-sama menoleh kearah datangnya suara.
"M-mommy! Daddy!" Bocah laki-laki itu seketika berdiri dengan raut senangnya, ia lalu menghambur memeluk ibunya. Sementara Ferdinand turut bangkit dari duduknya, dan berdiri terpaku ditempatnya, ketika melihat Virranda datang bersama Joe.
"Mommy sudah sembuh?" tanya Verrel senang.
"Iya sayang. Mommy sudah sembuh."sahut Virranda sembari mengacak-acak rambut lurus dan rapi putranya.
"Daddy," Verrel beralih memandang pada Joe, pria itu langsung berjongkok untuk meraih tubuh Verrel dan menggendongnya.
"Iya, ada apa jagoan Daddy?" tanyanya menatap wajah anak sambungnya dengan perasaan gemes.
Joe dan Virranda sontak saling berpandangan. Virranda buru-buru menyenggol lengan Joe dengan sikunya, memberi isyarat agar suaminya itu memberi jawab pada pertanyaan putranya.
"Sama-sama jagoan. Itu sudah tugas Daddy, tugas seorang laki-laki sejati." ucap Joe sembari tersenyum lebar, lalu mendaratkan beberapa ciuman pada pipi gembil Verrel.
Ferdinand masih terpaku, menyaksikan pemandangan hangat satu keluarga yang membuatnya iri. Harusnya, dirinya yang berada diposisi Joe sekarang, bukan laki-laki itu, batinnya.
"Kita pulang sekarang, Mommy sudah lapar," ajak Virranda pada kedua laki-laki kesayangannya itu.
"Ayo," sahut Joe.
"Tunggu Mom, Dad," tahan Verrel pada kedua orang tuanya itu. Bocah itu lalu menoleh kearah Ferdinand yang masih memandang pada mereka.
"Unclè! Ayo kita makan ice cream bersama Mommy dan Daddy!" teriaknya. Virranda dan Joe yang semula mengabaikan keberadaan Ferdinand, dengan pura-pura tidak melihat hanya bisa saling pandang satu sama lain.
Ferdinand sedikit gelagapan mendengar Verrel memanggilnya sambil melambaikan tangan kecilnya. Ia buru-buru membereskan kotak makanan Verrel juga sekotak susu yang belum sempat bocah itu kembalikan kedalan tasnya saat memberinya sepotong roti bekalnya.
Dengan langkah cepat, ia menjinjing tas sekolah Verrel dan membawanya pada tiga orang yang tengah menatapnya dengan cara yang berbeda satu sama lain.
__ADS_1
"Verrel, ikut dengan Daddy-mu dulu ya? Momny ingin bicara dulu sama Uncle-mu," ucap Virranda lembut pada putranya.
"Iya Mom," sahut Verrel patuh. Bocah itu kembali melirik Ferdinand yang melihat kearahnya. "Uncle, jangan lupa susul Verrel, kita makan ice cream sama-sama," ucap bocah itu polos.
"Baik jagoan!" sahut Ferdinand sembari tersenyum, menatap putranya yang dibawa pergi Joe dengan tangan mungilnya yang terus melambai kearahnya hingga dirinya menjauh.
Virranda berdecih didalam hati mendengar panggilan yang disematkan Ferdinand persis sama dengan panggilan Joe pada putranya, Verrel.
"Aku harap, ini kali terakhir Tuan bertemu putraku Verrel, jangan mengganggu kami lagi." ucap Virranda datar.
"Kau tidak bisa bicara seperti itu nona Virranda. Verrel, dia putraku, aku berhak atas anakku, juga berhak atas dirimu, ibu dari anakku," tekan Ferdinand menatap lekat wajah Virranda dihadapannya.
"Kata siapa?" sela Virranda. "Verrel anak suamiku!" sambungnya dengan sorot kebencian.
"Aku sangat ingat, wanita yang kutiduri malam itu adalah dirimu Nona." Virranda menelan salivanya, fikirannya langsung teringat hasil sidik jari Ferdinand yang ada di segepok uang kertas itu.
"Setelah kejadian malam itu, aku benar-benar sudah jatuh hati padamu. Aku berusaha mencarimu, tapi tidak menemukanmu. Hingga akhirnya, kau datang kekantorku dan menabrakku disana. Itu sebabnya, tanpa pikir panjang, aku langsung menerimamu berkerja sebagai asistenku waktu itu." jelas Ferdinand.
"Cukup! Aku tidak mau dengar lagi Tuan. Kau tidak punya cukup bukti bila Verrel adalah putramu. Aku pastikan, Verrel adalah anak Joe, hasil dari pernikahan kami," dusta Virranda, berharap pria itu akan menerima pernyataannya itu.
"Hasil test DNA, antara aku dan Verrel, menunjukan bila kami berdua adalah ayah dan anak," aku Ferdinand. Tentu saja Virranda dibuat kaget, bibirnya sedikit terbuka, tidak percaya pada apa yang dikatakan pria itu.
"Tidak mungkin! Kau pasti berdusta Tuan. Bukankah waktu itu aku sudah menolak permintaanmu untuk melakukan test DNA antara dirimu dan Verrel? ucap Virranda.
"Kau benar Nona. Tapi kau ingatkan, satu hari sebelumnya, kita bertiga sempat makan siang bersama. Aku telah mengambil sampel rambut Verrel saat menjemputnya disekolah ini waktu itu. Juga sendok, piring, gelas yang dipakai Verrel sudah disisihkan oleh pelayan restoran atas permintaanku, untuk keperluan test DNA. Jaga-jaga, bila dirimu menolak permintaanku." ungkap Ferdinand membuat Virranda merasa berang padanya.
"Licik! Kau sungguh licik." geram Virranda marah.
"Maafkan aku. Semua yang aku lakukan ini, karena aku mencintaimu, juga Verrel anak kita,"" ucap Ferdinand berusaha membuat Virranda memahami tindakannya.
Namun Virranda yang sudah terlanjur membenci Ferdinand, laki-laki yang telah membuat hidupnya sempat kacau dimasa lalu, demi menutupi aibnya karena perbuatan Ferdinand, ia harus menikahi Joe yang baru ia kenal di cafe, dan terusir dari rumah orang tuannya.
"Berikan tas Verrel padaku," Virranda mengulurkan tangannya kearah tas putranya yang masih dijinjing oleh Ferdinand. Pria itu terlihat ragu, namun ia tetap menyodorkannya dengan perlahan.
"Ku peringatkan! Jangan ganggu kami lagi!" Setelah berkata demikian, Virranda bergegas pergi, membawa tas putranya keluar dari ruang tunggu.
Dua orang petugas sekolah hanya memperhatikan dari jauh apa yang tengah dilakukan Ferdinand dan Virranda diruang tunggu itu, tanpa tahu permasalahan apa yang tengah keduanya bahas.
Bersambung...👉
__ADS_1