
"Putramu??" tuan Toshigawa yang berusaha menjaga sikap tenangnya, seketika menegang. Ia mengeluarkan sepasang tangannya dari saku celananya. "Kau sadar dengan apa yang baru kau katakan Kwang?" ungkap tuan Toshigawa penuh penekanan. Hatinya mendadak berdebar, nalarnya benar-benar menolak untuk percaya.
"Aku sepenuhnya sadar Dad. Bocah yang bernama Verrel itu adalah putraku bersama nona Virranda," sahut Ferdinand lebih detail. "Mungkin ini waktunya aku harus terbuka pada Daddy dan Mommy," imbunya lagi.
Mendengar pengakuan Ferdinand untuk kedua kalinya itu, membuat nyonya Toshigawa lemas sembari menahan bobot tubuhnya dengan bertumpu pada lengan suaminya.
Tuan Toshigawa dengan sigap meraih tubuh isterinya, memapahnya kembali menuju ranjang putranya dan mendudukan isterinya disana.
"Bagaimana mungkin anak laki-laki itu putramu, Kwang? Ini tidak masuk akal. Apa kau telah melakukan sesuatu yang melanggar norma agama dan kesusilaan?" sentaknya.
"Seingat Daddy, wanita itu sudah menikah ketika berkerja menjadi asistenmu." ucapnya mengingat alasan penyebab pembatalan perjodohan putranya dan Virranda ketika itu.
"Bagaimana sekarang kau bisa mengaku kalau anak laki-laki itu putranu?" tanya tuan Toshigawa tidak mengerti.
"Aku--, aku pernah membeli keperawanan seorang gadis dari mucikari, dan gadis itu nona Virranda, Dad," Ferdinand nampak malu mengakui hal memalukan itu. Tapi apa boleh buat, hasrat untuk memiliki Virranda kini mengalahkan segalanya. Melihat Virranda bersama Joe saja sudah membuatnya serasa gila.
Plak!
"Daddy tidak percaya! Kau memperlakukan putri tuan Loenhard serupa seorang pela*ur!" pekik tuan Toshigawa marah besar dengan melayangkan satu tamparan kerasnya.
Wajah Ferdinand beralih arah hingga tubuhnya ikut tersungkur dipembaringannya, ia memegang pipinya yang serasa panas dan perih. Luka lebamnya saja masih terasa sakit, kini sudah harus menerima tamparan lagi dari ayahnya. Belakangan ini kedua pipinya sudah dua kali menjadi sasaran empuk tamparan dari ayahnya juga Virranda.
Sementara ayahnya yang tengah duduk menekuk diatas pembaringannya menatapnya nyalang.
Nyonya Toshigawa yang masih kaget mendengar pengakuan mengejutkan putranya hanya bisa tercengang, melihat suaminya melayangkan tamparan kerasnya pada wajah putra kesayangannya.
"Kwang! Apa kau sebrengs*k itu?!" pekik tuan Toshigawa merasa geram.
"Daddy tidak menyangka moralmu serendah itu Kwang! Daddy sudah mendidikmu! Menanamkan nilai-nilai kesusilaan padamu dalam bermasyarakat! Mendisiplinkan dirimu agar menjadi seorang pria sejati! Yang bisa menjaga harkat dan martabatmu sebagai laki-laki!" sesalnya.
__ADS_1
"Tapi kenapa?! Kenapa kau merusaknya dengan kesalahan fatal.seperti itu? Kenapa Kwang?!" pekik tuan Toshigawa yang semakin geram. Ia kembali mengangkat tangannya keudara berniat mendaratkannya lagi pada wajah putranya yang membuat dirinya pagi ini tidak bisa menahan emosinya.
"Tahan Dad! Cukup! Cukup!" lerai nyonya Toshigawa sambil menahan tangis, antara sedih dan kecewa, bercampur jadi satu. Tidak menduga bila putranya memiliki rahasia yang memalukan seperti itu.
"Sebaiknya Daddy ke kantor saja sekarang," nyonya Toahigawa menarik lengan suaminya agar segera turun dari ranjang putra mereka.
Bila menuruti kata hatinya, ingin rasanya tuan Toshigawa menyelesaikan masalah putranya itu saat itu juga. Namun, mengingat pekerjaan, dan janji bertemu tuan Mozes klien perusahaannya, ia memutuskan untuk mendengar apa yang dikatakan isterinya.
"Daddy berangkat sekarang. Mommy, tolong urus Kwang. Daddy benar-benar kecewa, tidak menyangka dibalik sikap terhormatnya yang ia tunjukan dihadapan kita dan semua orang, bisa memiliki tabiat memalukan seperti itu!" ucap tuan Toshigawa dengan napasnya yang memburu, menahan emosinya yang sulit mereda.
"Iya, Dad. Mommy akan mengurus putra kita. Daddy yang sabar." nyonya Toshigawa menyentuh lengan suaminya, untuk menenangkan, walau dirinya saat ini pun sedang kecewa atas perbuatan putranya yang mengejutkannya.
Tuan Toshigawa melirik sekilas pada Ferdinand yang terbaring tidak bergerak dipembaringannya, rasa sesak didadanya membuatnya mendesah berat. Bagaimana bila tuan Loenhard, sahabatnya itu tahu masalah ini? Betapa malunya dirinya. Ia mengepalkan tangannya, ingin rasa melampiaskan rasa kesalnya pada putranya yang bertindak tanpa memikirkan apa akibat dari perbuatannya.
"Kwang! Daddy belum selesai denganmu! Setelah Daddy pulang berkerja, kita akan membereskan kekacauan yang kau buat ini!" ucapnya masih bernada tinggi.
Tanpa menunggu jawaban dari putranya, tuan Toshigawa bergegas keluar kamar diikuti isterinya yang mengantarkannya hingga ke mobil.
Dibawah guyuran air shower yang dingin, yang membuat beberapa luka lebamnya terasa perih, kini hatinya terasa begitu hampa. Ayahnya benar, ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Andai saja--, andai saja ia tidak pernah melakukan hal itu, meniduri Virranda hingga membuatnya hamil, mungkin saja perjodohannya dengan wanita itu tidak akan batal. Dan saat ini, dia pasti sudah bahagia hidup bersama Virranda dan Verrel, batinnya menyesali.
...🍓🍓🍓...
Tangan Virranda meraba-raba sisi tempat tidur disebelahnya, tapi tidak menemukan siapa yang ia cari. Ia buru-buru membuka matanya, benar saja, Joe yang ia ingat menemaninya tidur semalam sudah tidak ada disebelahnya.
Detak jantung Virranda seakan berlari, melihat sisi tempat tidur disebelahnya sudah kosong dan bersih tertata rapi. Tanpa sadar ia melompat turun, menuju kamar mandi. Tapi Joe tidak ditemukan disana, dimana suaminya itu? batinnya. Mungkin suaminya itu sudah pulang ke London tanpa berpamitan dengannya? Tidak! Tidak boleh seperti itu! Batin Virranda lagi.
Dengan setengah berlari, sambil mengatur napasnya yang sudah tidak teratur akibat rasa takutnya ditinggal Joe, Virranda berlari menuju pintu kamar.
Begitu keluar, Virranda langsung tersenyum lega, saat sepasang matanya menemukan Joe sedang didapur dan mengatur sajian diatas meja makan dengan membelakanginya.
__ADS_1
Joe buru-buru membalikan tubuhnya, saat mendengar pintu kamar berderit. Ia menemukan Virranda sedang berjalan kearahnya.
"Sudah bangun?" tanya Joe mengulas senyum hangatnya.
"Heum," Virranda mengangguk dengan senyum terus mengembang. Ingin rasanya memeluk pria itu erat, tapi dirinya terlalu enggan untuk melakukannya. Karena selama ini Joe juga selalu menjaga sikapnya walau mereka sudah menikah enam tahun lamanya.
Melihat Joe tidak pergi kemana-mana seperti dugaannya saat terbangun tadi sudah cukup membuatnya senang. Rasanya, dirinya belum siap melepaskan pria itu pergi untuk menunaikan tugasnya.
"Joe, maafkan aku. Aku terlambat bangun." Virranda menghampiri Joe. "Isteri macam apa aku? Membiarkan suami yang menyiapkan semua sarapan ini," ungkap Virranda merasa malu, menatap sarapan pagi yang tersaji rapi diatas meja. Walau hal itu sudah biasa Joe lakukan selama mereka menikah, tetap saja membuat Virranda tidak nyaman.
"Tidak masalah sayang. Apa boleh aku memanggilmu seperti itu, Mommy Verrel?" tanya Joe meminta ijin.
Virranda cepat mengangguk dengan gerakan rusuh dan mata yang berbinar. "I-iya boleh, aku mau. Aku suka mendengarnya," ucap Virranda membuang rasa malunya jauh-jauh.
Melihat gaya Virranda seperti itu, membuat Joe merasa.gemes. Tapi ia ingat janjinya, tidak akan berlaku lebih sebelum mendapatkan restu dari mertua kilernya.
"Sabar Joe, tahanlah. Kau pasti bisa. Ikuti alurnya, jalani semua prosesnya. Kau tinggal mendapatkan restu ayah mertuamu saja," ucap Joe dalam hati untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Duduklah, kita sarapan bersama," Joe menarik satu kursi, dan menuntun Virranda duduk disana. Setelahnya, ia bergerak cepat kesisi lain meja, menarik kursi satunya lagi untuk dirinya, tepat berhadapan dengan Virranda.
Sebelum memulai sarapan, Joe menyempatkan diri memandang Virranda yang duduk dihadapannya.
"Ada apa?" Virranda menyentuh wajahnya dengan jari-jemarinya. Tiba-tiba saja ia merasa tidak percaya diri mendapat tatapan Joe. "Apa ada yang salah? Atau ada kotoran diwajahku?" ungkapnya dengan raut khawatir, pasalnya dirinya belum sempat mencuci wajahnya karena buru-buru mencari suaminya itu.
"Tidak ada yang salah. Dimataku, kau selalu terlihat cantik. Aku hanya terlalu bahagia, mendapat ijin memanggilmu sayang. Aku masih belum bisa percaya, kalau kau ternyata membalas cintaku." Joe meraih jari-jemari Virranda yang masih meraba wajahnya sendiri, lalu menciumnya lembut.
Hati Virranda serasa meleleh, walau pagi itu suhu diapartemen milik Joe cukup dingin. Sikap manis Joe saja sudah membuatnya melayang-layang dalam angan tak bertepi.
"Inikah rasanya jatuh cinta? Terlalu indah, manis, dan menghangatkan jiwa," batin Virranda meresapi perlakuan manis Joe padanya.
__ADS_1
Bersambung...👉